
Di kantin kantor Kiara memilih meja yang berada paling pojok, terlindungi dari pandangan mata banyak orang-orang di sekitarnya.
Tak dihiraukannya El yang berjalan di belakangnya, dan memilih meja tidak jauh darinya. Ia masih kesal dengan sikap yang ditunjukkan El padanya tadi di luar.
“Katanya gak ngikutin, tapi milih meja dekat banget.” Kiara mencebikkan bibirnya, menoleh sekilas pada El yang tengah memesan makanannya.
“Jangan-jangan dia kali yang pura-pura amnesia, biar bisa bebas dan dekat sama perempuan lain. Dasar buaya darat!” Kiara membuka botol minumannya dan menegaknya hingga bersisa setengahnya saja.
“Hei, ngomel gak jelas. Kesal sama siapa, sih?” tanya Wina heran. “Udah, gak sayang apa sama pita suaranya. Tuh mau hilang loh gara-gara sewot mulu,” imbuh Wina lagi.
“Biarin, abisnya bikin kesel aja bisanya!”
“Kesel sama siapa sih?” tanya Wina lagi.
“Bukan siapa-siapa,” sahut Kiara, menundukkan wajah seraya memutar botol plastik minuman di atas meja.
“Mulai gak jelas kan nih cewek. Lama-lama Aku jadi ikutan kesel loh gara-gara Kamu, Ra!” Wina menatap horor pada Kiara.
Kiara mengangkat wajahnya, balas menatap Wina beberapa saat lamanya dan detik berikutnya perlahan bibirnya mulai tersenyum dan berakhir menjadi tawa.
“Dih, mamanya Iyo mulai eror nyengir gak jelas! Cubit nih ya bibirnya,” ucap Wina mulai mendekatkan jarinya ke wajah Kiara.
“Jontor dong bibir Aku dicubit,” balas Kiara menepis tangan Wina.
“Masih bisa ngomel gak kalau bibirnya jontor Aku cubit, hem?”
“Bisa lah, yang penting masih ada suaranya hahaha!” keduanya pun tertawa bersama, dan Wina berhasil membuat sahabatnya itu sedikit melupakan kekesalan hatinya.
El yang duduk tidak jauh dari meja keduanya tidak lepas terus memperhatikan perubahan emosi Kiara.
Lalu lalang karyawan lain yang lewat di depannya, menyapa sambil setengah menundukkan badan pun hanya dibalasnya dengan anggukan kepala. Matanya tetap fokus menatap pada Kiara yang duduk membelakanginya.
Saat tatapan keduanya bertemu tanpa sengaja, Kiara langsung melengos dan dengan cepat membuang pandangannya ke arah lain. Dan El hanya tersenyum tipis melihatnya.
Tidak berapa lama pesanan mereka datang, tanpa banyak bicara lagi Kiara langsung menyantap makanannya.
Suasana kantin terlihat ramai lengang, masing-masing sibuk dengan makanan di mejanya. Hingga suasana berubah ramai saat mereka semua dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita muda yang berdiri di depan pintu masuk kantin.
Wanita itu terlihat begitu mengagumkan, berpenampilan menarik, membuat berpuluh-puluh pasang mata lelaki bahkan wanita yang ada di kantin itu melihatnya dengan sorot mata kagum yang kentara. Tidak terkecuali dengan Wina di mejanya.
Terdengar suara bisik-bisik pujian saat wanita itu dengan gaya jalannya yang luwes melenggang masuk.
Rambut panjangnya yang tergerai bebas di bahunya yang terbuka, bergerak indah terkena sapuan angin yang berasal dari kipas besar yang terpasang di setiap sudut ruangan dan di atas plavon kantin. Sudah mirip sekali dengan iklan sampo yang tayang di televisi.
“Sayang!” serunya terdengar manja, lalu berhenti pada satu meja di mana seorang lelaki tampan tengah menikmati makan siangnya.
El mendongak, terkejut menatap kehadiran wanita cantik yang berdiri di hadapannya itu.
“Surprise!” ucap Raisha tersenyum lebar, lalu mendaratkan bokongnya di kursi berhadapan dengan El.
El mengusap mulutnya dengan tisu, menatap Raisha dengan kening berkerut.
“Kenapa, kaget lihat Aku nyusul Kamu ke sini? Aku libur tiga hari, dari pada bengong gak jelas di rumah mending ke sini lihat kantor baru Kamu. Sekalian jalan-jalan,” ucapnya santai.
“Di mana kopermu?”
“Haruskah Kau tanyakan hal itu dulu?” gerutu Raisha menghela napas dalam. “Bahkan kabar diriku pun sepertinya bukanlah sesuatu hal yang penting untuk Kau tahu.”
El menelan ludah, merasa bersalah. Biar bagaimana renggangnya hubungan mereka berdua, Raisha masih tetap istrinya.
“Biar Aku pesan makanan untukmu, Kamu pasti belum makan siang.” El lalu menyebut salah satu menu yang tersaji di kantin itu yang langsung diangguki dengan cepat oleh Raisha.
Sementara di mejanya, Wina masih terus mencuri pandang ke arah Raisha dan El.
Wina mengguncang lengan Kiara tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang disebutnya bidadari itu.
“Tapi kok duduknya bareng sama pak bos ya, apa dia bidadarinya bos kita?” gumam Wina, menyadari Raisha yang duduk satu meja dengan El.
“Apa sih, bidadari apaan?” Kiara mengacuhkan ucapan Wina, dan tetap melanjutkan makannya.
“Ish!” desis Wina berpaling menatap Kiara. “Asli itu cewek benaran cantik banget, udah kayak boneka Barbie.”
“Boneka Barbie kayak gimana sih Win?” tanya Kiara mengangkat wajahnya dari makanan di depannya, ganti menatap Wina.
‘Astaga! Seriusan Kamu gak tau boneka Barbie kayak gimana?”
“Enggak,” jawab Kiara memasang wajah polosnya. “Kamu kan tau anak Aku cowok, mainnya bola sama robot-robotan. Ada juga sih mainan yang lain, tembakan yang pelurunya bulat kayak kerupuk koin. Sakit lah Win, kalau kena bidik.”
Kiara malah bercerita soal mainan yang dipunya Rio anaknya. Tentu saja hal itu membuat keki Wina yang mendengarnya.
“Kamu tau gak sih, Ra. Kalau Kamu itu orang yang ngeselin, cueknya kebangetan. Masa Barbie aja gak tau.”
“Memang gak tau, bukan hal yang penting juga. Jadi kenapa Aku harus tau?” goda Kiara dengan menahan tawa.
“Haish!” Wina kesal, meraih gelas minumnya lalu meneguknya hingga tandas tak bersisa.
“Hahaha.” Kiara tak dapat menahan tawanya lagi, apalagi melihat Wina yang mengerucutkan bibir dan melirik sebal padanya.
“Gitu aja ngambek. Ntar cepat tua loh,” ucap Kiara masih tersenyum, seraya menyesap minumannya.
“Dih, siapa juga yang ngambek.”
“Senyum dong, jangan cemberut gitu.”
“Hmm.” Wina melengkungkan bibirnya dengan mata setengah terpejam.
“Hiyy, malah geli lihatnya eh.”
“Hihihi.” Wina pun tertawa mendengarnya. “Dikit-dikit geli, senyum manisnya gini malah bikin geli.”
“Udah cepetan makannya, Win. Aku mau balik kantor lagi aja, masih banyak kerjaan yang ketunda.”
“Iya bentar,” jawab Wina kembali melanjutkan makannya.
Kiara tersenyum melihatnya, sesekali ia ikut menyantap menu kentang goreng pilihan Wina di atas meja.
Diliriknya jam mungil di pergelangan tangannya, masih ada waktu setengah jam lagi hingga jam istirahat berakhir.
Matanya lalu berputar melihat sekelilingnya, dan berhenti pada satu meja yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berada.
Dan pemandangan di depannya itu membuat dadanya panas tiba-tiba. Dilihatnya El tengah tertawa senang mendengar cerita wanita di depannya. Saat wanita itu menoleh, Kiara dengan jelas melihatnya dan kenangan menyakitkan delapan tahun lalu kembali melintas di kepalanya.
“Uhuk uhuk!” Kiara cepat-cepat meraih gelas minumnya dan meneguk isinya.
Suara batuk Kiara mengalihkan perhatian El yang kini beralih menatap ke arahnya.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Wina khawatir.
“Ehm, Aku gapapa Win. Cuman kesedak doang barusan,” ucapnya berusaha bersikap biasa.
Diletakkannya gelas di tangannya itu ke atas meja dengan tangan bergetar. Kiara kaget melihat reaksinya sendiri, untung saja tidak ada yang melihatnya seperti itu.
Mengapa Kiara bereaksi seperti itu, bahkan setelah delapan tahun berlalu. Hanya dengan melihat kehadiran wanita itu kembali hatinya seperti teriris dan terluka lagi.
••••••••