You are the Reason

You are the Reason
Bab 56. Takut



Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, ketika Kiara terbangun oleh suara batuknya sendiri. Tangannya meraba lehernya, tenggorokannya terasa kering dan ia butuh air untuk pelepas dahaganya itu.


Perlahan matanya mengerjap, tersenyum tipis menatap bungkusan obat juga buah dalam wadah piring yang ada di atas meja riasnya.


Sepanjang pagi hingga siang hari ini yang ia lakukan hanya tidur dan terus bergelung dalam selimut hangat, terbangun hanya untuk makan dan minum obat saja juga melakukan kewajiban utama lainnya. Bahkan saat Rio dijemput oleh pelatihnya di rumah kemudian berpamitan padanya untuk pergi bertanding bola, Kiara masih lelap tertidur dan Rio hanya mencium kedua pipi mamanya itu


Perlahan ia bangkit, menyibak selimut lalu duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya tinggi. Tangannya terulur meraih air di dalam gelas besar di atas nakas, lalu meneguknya perlahan.


Disekanya lehernya yang berkeringat, sepertinya ia butuh mandi segera karena punggungnya pun basah oleh keringat dan pakaian yang dikenakannya terasa lengket di badannya.


"Arrghh!" Kiara merentangkan kedua tangannya lebar, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya kini terasa jauh lebih baik setelah beristirahat total, minum obat dari dokter dan tidur yang cukup meski batuknya masih terdengar sesekali. Istirahat kerja selama tiga hari yang didapat dari dokter kemarin malam dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Kiara untuk memulihkan stamina tubuhnya.


Kiara berjalan mengambil handuk dalam lemari, dan tanpa sengaja matanya menatap sweater biru milik El yang biasanya tergantung rapi di lemari namun semalam dipakainya dan kini tergeletak jatuh di bawah ranjang.


Kiara berjongkok meraih sweater itu dan sejenak menatapnya lama, salah satu barang milik El yang tersisa dan masih terus bersamanya karena Kiara menyukai warnanya dan sweater itu juga salah satu baju kesayangan El yang masih ada padanya. Hmm, perpisahan itu tak membuatnya harus membuang semua kenangannya bersama lelaki itu, toh sampai hari ini masih ada replika El yang akan terus ada bersamanya dan akan terus mengingatkannya pada lelaki itu. Tiada lain Rio putranya.


“Hemm,” Kiara mengembuskan napas, duduk sejenak seraya memejamkan mata teringat pada tatapan mata El yang menghangat saat berbicara dengan Rio dan tatapan terluka penuh rasa bersalah saat bicara padanya.


“Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapimu kini,” gumam Kiara mengesah gusar, memikirkan bagaimana ia harus berhadapan dengan El setiap hari nanti di kantor. Baru bertemu saja kehadiran lelaki itu sudah mengusik ketenangannya bekerja di sana, apalagi saat mengetahui kalau lelaki itu adalah bos baru di kantornya.


Tapi saat mendengar pengakuan tiba-tiba El sungguh sangat mengejutkan dirinya, ia takut El akan mencari tahu hal yang sebenarnya tentang Rio meski Kiara tidak pernah sekalipun mencantumkan nama ayah kandung pada data diri putranya itu dan hanya menuliskan namanya saja sebagai orang tua tunggal untuk putranya.


Orang-orang di sekitar mereka hanya tahu kalau Edgar adalah papanya Rio, karena lelaki itu yang selalu ada bersama mereka. Hanya orang terdekatnya saja yang mengetahui cerita sebenarnya termasuk Wina sahabatnya, meski Wina tidak mengetahui kebenaran kalau El adalah mantan suaminya.


Teringat sahabatnya itu, Kiara langsung berdiri dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas berniat menghubunginya.


Baru saja ia mengetuk nama Wina, ada panggilan masuk lainnya dan Kiara harus mengesampingkan dulu teleponnya pada Wina.


Kiara menautkan alisnya melihat pada nama yang tertera di sana. Sejenak terdiam, setengah ragu untuk mengangkat panggilan itu. Namun ponsel di tangannya itu terus bergetar menunggu jawaban darinya.


Kiara menahan napas. Jarinya perlahan menggeser ikon warna hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu di telinganya. “Halo,” ucapnya pelan hingga nyaris tak terdengar.


“Mama!” teriakan lantang Iyo menyambutnya, Kiara spontan menjauhkan ponselnya.


Setengah tak percaya menatap sekali lagi nama yang tertera pada layar ponselnya, lalu tersadar dan dengan cepat membalas sapaan anaknya itu.


“Iyo?”


“Iyo cetak gol lagi, Ma. Yeayy!” sorak Rio putranya dari seberang telepon.


“Oh ya?”


“Skornya sekarang masih dua kosong, Ma. Iyo satu, gol satunya yang cetak Desta.”


“Belum, Ma. Baru babak pertama, tapi doa’in tim Iyo menang ya Ma.”


“Pasti sayang,” jawab Kiara cepat.


“Ya udah, Iyo mau main lagi. Makasih ya Om,” ucap Rio samar terdengar, lalu menghilang dan berganti dengan suara riuh orang di sekitarnya.


“Iyo!” Kiara memanggil putranya.


“Jangan khawatir, Aku yang akan menjaga dan mengantarnya pulang nanti.” Suara bariton di seberang sana menjawab panggilannya.


“Kamu! Eh, Bapak ...”


“Iya, Aku. Kenapa kaget seperti itu?”


“Gak perlu antar Rio pulang, biar Aku yang akan menjemputnya ke sana.”


Kiara mengambil keputusan cepat, hal yang ia takutkan bisa saja terjadi. Ia tak ingin El mendekati putranya alih-alih akan mengambilnya dari sisinya. Big no! Kiara tidak akan membiarkan hal itu terjadi padanya setelah apa yang dilakukan laki-laki itu padanya.


“Jangan memaksakan diri, Kamu sedang sakit. Lebih baik pergunakan waktu istirahat doktermu sebaik mungkin biar cepat pulih dan bisa bekerja kembali seperti biasa,” balas El tegas. “Jangan takut, Aku tidak berniat menculik putramu. Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat dan memberinya dukungan karena orang tuanya tidak dapat hadir memberikan dukungan padanya saat ia bertanding bola hari ini.”


Kiara mengetatkan pegangan tangannya di ponselnya, “Jangan coba-coba mengancamku dan jangan macam-macam dengan putraku. Sedikit saja Kau lukai putraku, Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan akan kubuat Kau menyesal seumur hidupmu!”


“Hei, jangan panik seperti itu. Aku tidak sedang mengancammu, bagaimana bisa Aku melakukan hal itu padamu dan juga putramu. Orang yang paling berarti dalam hidupku dan bahkan sampai detik ini masih begitu Aku cintai.”


“Omong kosong! Menjauh dari putraku,” seru Kiara emosi, lalu menutup teleponnya cepat.


Drett drett ... ponselnya bergetar kembali dan Kiara langsung mengangkat telepon dari Wina.


“Ada apa, Ra. Aku telpon balik Kamunya sibuk terus dari tadi?” tanya Wina setelah berhasil menghubungi Kiara.


“Win, sejak kapan bos keluar kantornya tadi?”


“Kalau gak salah lihat jam dua siang tadi, nyetir sendiri sih. Katanya ada urusan penting di luar, tapi gak bareng sama asistennya.” Wina menjelaskan, lalu sedetik kemudian ia berseru lantang. “Hei, bagaimana Kamu bisa tau kalau bos lagi keluar kantor siang ini, jangan-jangan kalian janjian berdua di luar ya. Ngaku lo!”


“Sotoy lo! Udah lah, Aku tutup telponnya.” Kiara melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang dan bergegas mandi, bersiap menyusul Rio di stadion.


“Ra, Kiara! Ish langsung ditutup lagi telponnya. Ada apa sih?” Wina menatap layar ponselnya lalu beralih menatap ruang direksi yang berada tepat di depannya. “Hem, apa ada hubungannya kepergian bos dengan pertanyaan Kiara di telpon tadi?”


••••••••