You are the Reason

You are the Reason
Bab 40. Kusebut namamu



Huuhhh! Kiara menghela napas panjang, mengusir bayangan buruk masa lalu yang membuatnya terluka dan hingga saat ini masih belum bisa melupakan mantan suaminya.


Di hadapannya, Ed duduk di tepi ranjang terus mengusap rambut kepala Rio putranya yang masih tertidur.


“Besok pagi Aku berangkat,” lanjut Ed lagi. “Setibanya di sana, Aku akan segera menghubungi kalian.”


Kiara menganggukkan kepalanya, “Mas pasti akan sibuk sekali di sana, lebih baik Mas fokus dengan pekerjaan. Kami di sini akan baik-baik saja,” ucap Kiara, yang langsung mendapat tatapan tajam mata Ed.


“Kalau Kau keberatan Aku menghubungimu, jangan halangi Aku untuk bertemu dengan Putraku!” ujar Ed penuh penekanan.


Ish, Rio putraku. Meski Rio memanggilmu papa, dan kamu yang selalu ada di dekatnya bukan berarti kamu memiliki hak penuh untuk mengatur hidup kami.


“Kami hanya tidak ingin mengganggu waktu kerjamu juga kebersamaanmu dengan kedua orang tuamu.” Kiara memalingkan wajahnya dari tatapan tajam mata Ed. “Lagi pula Aku juga tidak pernah menghalangimu bertemu dengan Rio,” imbuh Kiara lagi.


Seketika suasana di dalam kamar Rio menjadi canggung tiba-tiba. Ed menarik tangannya perlahan dari kepala Rio, ia tahu Kiara masih trauma dengan perlakuan dari orang tua El padanya.


“Aku tahu Kamu belum bisa melupakan perlakuan buruk mereka padamu. Tapi orang tuaku berbeda, mereka tidak pernah membedakan status sosial. Tidak menghalangi Aku untuk terus bersama kalian, dan mereka juga sayang sama Rio.”


“Ya ya ya, terserah Mas saja.” Kiara mengalah dan memilih untuk membangunkan Rio, “Sebaiknya Aku bangunkan Rio, sudah mau magrib juga.”


Kiara berjalan memutar dan menepuk lembut pipi anaknya. “Iyo, bangun sayang. Mau magrib loh, mandi dulu yuk.”


Rio mengerjap, membuka matanya perlahan dan tersenyum saat melihat Ed ada di dekatnya.


“Papa,” ucapnya manja lalu memiringkan badannya memeluk pinggang Ed.


“Eh, kok malah anteng. Ayo, udah Mama siapin handuknya.” Kia menjawil pipi Rio dan tertawa melihat putranya melengos tak suka.


“Ayo bangun jagoan Papa, mandi dulu sana. Sudah sore banget, Papa juga mau pulang.” Ed mengacak rambut Rio yang menguap lebar dan malah menaruh kepala di atas pahanya.


“Masih ngantuk,” jawab Rio malas.


“Ayo, bangun. Mandi dulu biar segar. Tuh, sudah ditunggu sama mama.” Ed menghela bahu Rio, dan membuatnya duduk.


“Tapi Papa jangan pulang dulu. Tunggu Iyo selesai mandi,” pinta Rio pada Ed.


“Iya, deh. Papa tungguin.”


Ed lalu keluar kamar berjalan menuju ruang tamu rumah Kiara, sambil menunggu Rio selesai dengan dirinya lalu berpamitan pulang.


“Papa kenapa lama perginya? Bulan depan Iyo mau ada seleksi buat lomba, berarti Papa gak bisa hadir lihat Iyo main.” Rio memeluk pinggang Ed menengadahkan wajah menatap sedih, seperti tak rela ditinggal papanya lama.


Dari balik pintu rumahnya, Kiara mendengarkan percakapan keduanya di teras rumah.


Bagaimana Ed membujuk Rio untuk tetap semangat dan tidak bersedih hati meski mereka berjauhan, karena sang papa akan selalu mendukung dan menjaganya meski dari jauh.


Lagi pula dua bulan bukan waktu yang lama dan akan cepat berlalu bila sang jagoan memiliki banyak kegiatan.


“Iyo anak yang baik, pintar, kuat, kesayangan Papa. Jaga mama baik-baik, dengar semua apa kata mama. Tidak boleh membantah apalagi sampai membuat mama menangis sedih,” pesan Ed sambil berjongkok di depan Rio seraya memegang kedua bahunya.


Rio mengangguk patuh, “ Iya, Pa. Iyo janji, Iyo akan jaga mama baik-baik dan gak akan buat mama sedih apalagi menangis.”


“Good!” Ed mengusap rambut Rio sayang, “Sekarang Iyo masuk, istirahat. Besok sekolah lagi kan, Papa juga harus pulang.”


Untuk terakhir kalinya sebelum Ed pulang, ia memeluk erat bocah lelaki kesayangannya itu. Melambaikan tangan lalu berbalik.


Sempat matanya melirik pada Kiara, lalu berbicara tanpa suara. Aku pulang, dengan gerakan bibir terbaca, tersenyum kecil melihat wanita itu keluar dan memeluk bahu Rio.


“Papay Papa, hati-hati di jalan. Salam sayang Iyo buat oma dan opa di sana,” ucap Rio melambaikan tangannya.


Ed tersenyum lebar, menatap keduanya. “Oke sayang.” Ed berjalan mundur, sambil terus melambaikan tangannya.


“Aku sayang kalian,” bisiknya dalam hati lalu berbalik dan melangkah cepat berjalan memasuki mobilnya, menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan dua orang yang sangat disayanginya itu.


“Yuk kita masuk,” ajak Kiara menghela bahu Rio, mengajaknya masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil yang dikendarai Ed perlahan menjauh.


Ed memukul setir mobilnya, dan memilih untuk menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan. Untuk sesaat lamanya ia hanya terdiam, menyandarkan punggung dengan mata terpejam. Kepalanya kini dipenuhi bayangan wajah Kiara, dan semua kebersamaan yang mereka lalui selama ini.


“Apalagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu melihatku, sekali saja! Ya, sekali saja dan melupakan dia dari hatimu.”


Sementara itu, di tempat lain di sebuah gedung pencakar langit di dalam sebuah ruangan dalam waktu bersamaan, El memandang jauh keluar dengan tatapan kosong. Hampa seperti hatinya saat ini.


Tangannya menggenggam erat kalung dengan liontin berisi gambar dirinya dengan seorang wanita. Bukan gambar wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, tapi gambar wanita lain yang kerap hadir dalam mimpinya dan mengganggu tidur malamnya.


El membuka liontin di tangannya, menatapnya lama. “Kiara,” bisiknya lirih.


Kiara, Kiara, dan nama itu terus terucap dari bibirnya secara berulang.


••••••••