
"Kantin yuk!"
Ailen yang tengah melipat baju olahraga-nya, menatap Livia yang kini berada disampingnya lengkap dengan seragam putih abunya. Mereka sudah berganti baju beberapa menit lalu, dan kini berniat ke kantin.
"Bentar,"
Kumpulan anak cowok masuk ke kelas, membawa beberapa air mineral dan cemilan, termasuk ketiga cowok itu, Bara, Bintang, dan Bima. Mereka semua sepakat untuk beristirahat dahulu baru berganti baju setelahnya. Namun, Bara dan Bima segera mengambil seragamnya dan bergegas kembali ke luar, sementara Bintang memutuskan untuk beristirahat dahulu ditempat duduknya.
"Minggir!" ucap Bintang yang membawa sebotol air mineral dan berusaha masuk ke tempatnya.
Ailen memiringkan tubuhnya, dan mempersilakan Bintang masuk. Gadis itu pun melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda, ia pun membalikkan badan berencana menaruh seragam olahraga-nya di dalam tas.
Namun, tanpa sengaja ia menyenggol air mineral yang tengah Bintang minum, hingga membuat botol mineral tersebut bergerak dan air yang berencana diminum pun tumpah dan mengenai baju juga celana olahraga cowok itu meski sedikit.
"Lo!"
Bintang sontak berdiri dari duduknya, ia mengelap sudut bibirnya yang basah karena ulah gadis disampingnya. Ailen yang melihat itu spontan menaruh seragam olahraga-nya kembali diatas meja, dan menatap Bintang yang siap meledak saat ini juga.
"Maaf, maaf, A-Ailen nggak sengaja, Bintang."
Tanpa mempedulikan Ailen yang meminta maaf padanya, tangan kanan Bintang yang tengah memegang botol air mineral dengan sengaja melempar setengah isi botol tersebut tepat di wajah gadis itu.
Ailen hanya bisa memejamkan kedua matanya, dan menutup bibirnya rapat, membiarkan air di wajahnya turun dan merambat ke seragam putih-abunya.
Livia yang melihat itu, hanya tercengang ditempatnya.
Ailen menatap seragam putihnya yang basah, juga percikan air di rok abunya. Bersyukur gadis itu mengenakan pakaian double, sehingga pakaian dalamnya tidak terlalu tercetak begitu jelas akibat seragam putihnya yang kini basah.
Jika ada yang lebih marah dibandingkan Bintang saat ini, maka orang itu adalah Ailen. Ia memang tidak sengaja berbuat salah, dengan menyenggol botol mineral milik Bintang, namun cowok itu seharusnya berpikir dua kali untuk melakukan ini padanya sebagai pembalasan.
"Setidaknya kamu masih memakai baju olahraga itu, Bintang, dan kamu masih bisa mengganti baju itu dengan seragam putih-abu. Sementara aku? Kamu pikir nggak, aku mau ganti pake apa?!" kata Ailen tiba-tiba, terpancing emosinya.
Melihat sosok Ailen dengan tanduk merah seperti ini, membuat Bintang jadi salah kaprah. Ia tidak menyangka bila Ailen akan marah kepadanya.
"Ya.. gue kan—"
Ailen pun segera berlalu, tidak berniat sama sekali mendengar penjelasan Bintang yang masih belum selesai. Gadis itu keluar kelas dengan perasaan campur aduk, kepalanya menunduk, merasa tatapan tidak mengenakkan orang disekitarnya. Mungkin mereka memperhatikan penampilannya yang sedikit berantakan.
Ailen menghentikan langkahnya, entah kenapa ia datang ke tempat ini. Tempat yang sama dengan tempat dimana ia berbincang dengan Lintang beberapa hari lalu. Ya, taman depan.
"Ailen?"
Ailen tersentak, ia segera menoleh ke sumber suara. Disana, ia menemukan Lintang sedang bersandar dibawah pohon tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ailen melangkahkan kakinya mendekat.
"Lintang sedang apa?"
"Kayaknya gue deh yang harusnya nanya itu" jawab Lintang sambil terkekeh. Cowok itu melepaskan earphone yang sedari tadi ia pakai, dan meletakkan disaku.
"Ailen boleh duduk?"
"Duduk aja"
Lintang memperhatikan penampilan Ailen, rambutnya juga seragamnya sedikit basah. Pandangannya juga tertuju ke arah langit, diatas sana langit cerah, bahkan sama sekali tidak mendung yang menunjukkan ciri-ciri datangnya hujan.
Lintang mengamati Ailen kembali, gadis itu *** kedua tangannya. Merasa tersadar, tanpa bertanya penyebab penampilan Ailen yang terlihat basah, Lintang memberikan jaket hijau army yang baru saja digunakannya sebagai bantal dan memberikan jaket tersebut kepada Ailen.
Ailen mengernyit, bertanya maksud Lintang dengan raut wajahnya.
"Biar lo nggak kedinginan,"
Meski ragu, Ailen tetap menerima jaket itu. "Makasih, Lintang"
Lintang memperhatikan raut wajah Ailen yang menunjukkan rasa bete, meskipun gadis itu tengah tersenyum kepadanya.
"Butuh hiburan?"
"Hah?"
"Gue tau lo ada masalah, dan gue tau ada suatu tempat yang mungkin bisa bikin lo baikan. Kalo lo mau kita bisa kesana sepulang sekolah,"
"Dimana?"
"Rahasia, mau?"
Ailen diam, gadis itu terlihat berpikir. "Oke deh,"
Lintang tersenyum mendengar jawaban dari gadis itu. Namun, senyumnya memudar kala melihat ulat bulu disamping gadis itu.
"Len, disamping lo ada—"
"AAAaaaa!" teriak Ailen saat menyadari keberadaan hewan kecil itu disampingnya. Tanpa sadar, gadis itu memeluk Lintang dan membuat keduanya terjatuh karena Lintang yang kehilangan keseimbangan akibat ulah yang Ailen lakukan.
***
Sorakan para siswa seketika terdengar saat bunyi bel yang menggema seantero sekolah berbunyi tiga kali, sebagai pertanda kegiatan pembelajaran telah usai atau dengan kata lain siswa diperbolehkan pulang.
Kebisingan yang terjadi dikelasnya itu membuat Ailen akhirnya terbangun dari tidur singkatnya, ia mengerjapkan matanya, menatap teman-teman dikelasnya yang tengah membereskan buku atau bahkan sudah ada yang diambang pintu.
"Awas!"
Ailen menoleh, ia mengernyitkan dahinya menatap Bintang yang berdiri disampingnya.
"Gue mau keluar" jelas Bintang, melihat Ailen yang sama sekali tak bereaksi.
Ailen bangkit dari duduknya dan memberikan cela untuk Bintang keluar dari tempatnya. Gadis itu terkesiap seketika, melihat wajah Bintang mengingatkan tentang ajakan Lintang beberapa jam lalu yang akan mengajaknya ke suatu tempat sepulang sekolah ini.
Dengan gerakan cepat Ailen membereskan buku-buku pelajaran yang masih berserakan di meja dan memasukakkannya ke dalam tas miliknya.
"Ngapain lo disini?" tanya Bintang ketus, saat melihat Lintang yang tengah berdiri di depan kelasnya.
"Gue—"
"Apa? Lo mau minta maaf soal kejadian semalam? Udah deh nggak usah muna! Gue tau lo sengaja!"
Lintang nampak santai, ia sebenarnya sudah menduga sikap Bintang kepadanya saat berniat menunggu Ailen di depan kelas 11 IPA 4. Pasti cowok itu akan memancing keributan lagi. Tapi, Lintang sama sekali tidak menyangka jika adiknya itu akan kege-eran seperti ini.
"Hei, whatsapp, Bro! Ada apa nih rame-rame?" tanya Bima dengan gelagatnya yang sok asik sambil menepuk pundak Bintang.
"Ini nih ada—"
"Lintang?" ujar Ailen yang baru saja keluar dari kelasnya, lalu menghampiri cowok itu yang nampak terlihat santai.
"Nunggu lama ya? Maaf,"
"Nggak kok, gue baru disini."
Bintang meneguk salivanya, ekspresinya berubah drastis. Drama yang baru saja terjadi didepannya, menyadarkan Bintang sekilas bila Lintang datang ke kelasnya tidak untuk bertemu dengannya, apalagi meminta maaf seperti apa yang barusan ia ucapkan.
'Bego! Bego! Bego!' umpat Bintang dalam hati. Rasanya ia ingin memaki dirinya sendiri atas perbuatan konyol yang ia lakukan tadi, mau ditaro dimana wajahnya saat ini.
Persetan dengan semua hal tersebut, yang jelas ia ingin segera pergi. Bahkan, harus pergi.
"U-udah jam segini, pasti yang lain juga udah nunggu disana. Gue mau cabut dulu."
Lintang berdehem pelan, mencoba menahan tawanya yang mungkin bisa meledak saat ini juga. Jujur saja, baru kali ini ia melihat secara langsung bagaimana ekspresi Bintang saat tengah salah tingkah.
Bintang pun membalikkan badannya sembilan puluh derajat dan berjalan ke arah timur, mencoba tetap bersikap cool meski rasa malu sudah melanda dirinya sejak tadi.
"Bin, lo mau kemana? Lapangan basket kan disana." ujar Bima santai, sambil menunjukan arah yang berlawanan dengan langkah Bintang saat ini.
'Kampret!'
Bintang berhenti dan berbalik. Ia menatap tajam ke arah Bima, lalu sempat menatap Lintang yang kini tengah berakting sedang membaca sebuah tulisan yang terpampang di jendela kelasnya.
"Kenapa? Gue bener kan?"
"Ah, itu.. Argghh!" geram Bintang akhirnya. Ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi, dengan langkah cepat ia segera berlari ke arah yang ditunjuk Bima barusan. Masa bodo dengan apa yang dipikirkan Lintang saat ini, yang jelas Bintang ingin pergi saat ini juga.
"Bin, tunggu gue dong!" teriak Bima dan berlari mengejar Bintang yang berada di depannya.
Bara dan Livia tercengang melihat aksi kedua sahabatnya yang tengah berlarian di Koridor yang mulai lenggang layaknya serial kartun Tom&Jerry, saat mereka berdua baru saja keluar dari kelas.
"Kenapa mereka lari-larian gitu?" tanya Livia, yang dibalas kekehan kecil yang terlontar dari mulut Lintang.
Livia menatap Ailen mencoba mencari jawaban, namun gadis itu hanya menggeleng sambil mengendikkan bahu sebagai jawaban ia juga tidak tahu.
"Aneh banget," ujar Livia.
"Oh iya, Len. Sorry ya gue nggak bisa antar lo pulang hari ini."
"Nggak apa-apa, Bro. Selo aja, ntar gue yang antar Ailen pulang,"
Bara mengerutkan dahi, menatap Lintang yang berdiri tepat disamping Ailen. Jujur, ia baru sadar dengan keberadaan cowok itu. Bara menoleh lagi, menatap Ailen meminta penjelasan.
"Sore ini, Lintang mau ajak Ailen ke suatu tempat dulu, Bar. Boleh kan?"
Bara tidak menjawab, ia hanya menarik napas sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada, menatap curiga ke arah Ailen dan juga Lintang secara bergantian.
"Kalian.. lagi PDKT?"