
Raisha melepas pegangan tangannya di lengan El. Ia lalu beranjak turun, namun tetap berdiri di tepi ranjang agar dekat dengan El. Melipat kedua tangannya di dada dengan wajah ditekuk.
Ed mendelik melihatnya, lalu menggerakkan tangannya meminta Raisha untuk bergeser dan segera menjauh dari sana. Tapi wanita itu mendengkus dan memalingkan wajahnya.
“Kiara memang istrimu, El. Kalian sudah menikah beberapa bulan yang lalu dan tinggal bersama,” jelas Ed, ia menghela bahu Kiara dan mendorongnya mendekati tempat tidur El.
“Jangan percaya El, wanita itu hanya ingin mengacaukan rencana pernikahan kita.” Raisha kembali bicara.
“Diam!” sentak El menatap tajam Raisha. “Please, Sha. Aku minta Kamu keluar dari kamarku sekarang juga, dan biarkan dia menjelaskan semuanya padaku.” El beralih menatap Kiara.
“Ish, kenapa Kamu jadi bentak Aku gitu sih. Aku tunanganmu, El. Apa Kamu lupa, Aku yang ada di samping Kamu. Aku yang selalu menemani dan menjagamu, merawatmu saat Kamu sakit dan terluka, bukan dia!”
Ed berjalan memutar dan dengan cepat menarik lengan Raisha, “Kamu dengar, bukan. Cepat keluar sebelum dia marah dan menendangmu keluar!” sentak Ed.
“Ish! Iya, Aku keluar.” Raisha keluar kamar dengan muka masam sambil bersungut, diikuti Ed dari belakang meninggalkan Kiara dan El hanya berdua di dalam kamar.
“Yakinkan suamimu,” bisik Ed di telinga Kiara, sebelum meninggalkan kamar El. “Dan Aku akan mengawasi wanita itu agar tidak mengganggu selama kalian bicara berdua.”
“Terima kasih, Mas.” Kiara mengangguk dan tersenyum kecil.
Hening sesaat, hingga kedua orang itu beranjak keluar dari dalam kamar. Di ambang pintu, Ed menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh pada Kiara sebelum melanjutkan langkahnya kembali.
“Ck! Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Edy?” tanya El mengarahkan dagunya pada punggung Ed yang berjalan keluar kamar.
“Edy? Oh, mas Edgar. Dia temanku. Sahabat Abang juga,” jawab Kiara seraya mengulas senyum, lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang El.
“Teman? Kenapa sikapnya seperti itu padamu, begitu perhatian dan peduli. Bahkan sikap seorang teman baik sekalipun tidak akan berlebihan seperti yang ditunjukkannya padamu,” balas El dengan nada tak suka.
“Abang cemburu?” Kiara tersenyum lebar, hatinya berdesir melihat tatap mata tak suka El pada sikap Ed.
“Apa Abang sudah mulai mengingat Kia? Abang pasti gak suka dan marah kan melihat ada pria lain dekat-dekat dengan istri Abang,” ucap Kiara masih dengan senyum di bibirnya.
“Hah, cemburu katamu? Bagaimana bisa Kamu berpikir Aku cemburu pada Edy,” balas El dengan kening berkerut, lalu melipat tangan di dada. “Aku sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, jadi hentikan omong kosongmu itu.”
“Dan jangan memanggilku seperti itu lagi. Aku bukan Abangmu. Dan apa pula maksudmu mengaku-ngaku sebagai istriku, melihatmu pun baru hari ini.” El melengos, memalingkan muka seperti sedang merajuk.
Kiara mengulum senyum mendengarnya, ditatapnya wajah tampan itu. Ingin sekali rasanya menyentuh wajah itu dan mengusap rambut ikalnya yang masih dibiarkannya panjang hingga menyentuh bahu.
Hatinya sedikit lebih lega. Meski belum bisa mengingat dirinya, setidaknya laki-laki itu masih peduli padanya.
“Abang,” panggil Kiara lembut.
El bergeming, masih dengan sikap yang sama dan tetap berpaling muka.
“Abang El sayang,” panggil Kiara, kali ini lebih lembut dan mesra.
“Abang.” Kali ini Kiara bangkit dan perlahan naik ke atas ranjang. “ Ini benaran Kiara, istri Abang.”
Kiara meraih tangan El, namun lelaki itu menepisnya pelan dan menggeser tubuhnya bergerak menjauh.
“Maaf, Kamu pasti salah orang. Aku tidak merasa pernah menikah denganmu.”
“Aku tahu Abang sekarang belum bisa mengingatku karena kecelakaan itu, yang membuat sebagian memori Abang hilang hingga Abang tidak bisa mengingat kebersamaan kita selama ini.”
El terkekeh mendengarnya. “Maksudmu, Aku mengalami amnesia dan kehilangan sebagian ingatanku. Dan Kamu beranggapan kalau Aku sekarang sudah bisa mengingat pada yang lain tapi tidak bisa mengingat dirimu, begitu?”
Deg!
“Ya! Kamu memang tidak bisa mengingat diriku, istrimu sendiri. Sementara hal lainnya masih melekat kuat dalam ingatanmu. Kamu bahkan masih dapat mengingat mantan tunanganmu Raisha!” jerit Kiara dalam hati.
“Tapi Aku akan terus berusaha meyakinkanmu sampai akhir, walau waktu untuk semua itu hanya tersisa sedikit saja. Agar saat kita berpisah nantinya, tidak akan ada rasa sesal di hati karena telah berusaha meyakinkanmu.”
“Walau pada akhirnya nanti kenyataan pahit harus aku terima. Melihatmu tertawa dan bahagia bersama wanita lain di depan mataku, membuatku menyadari kalau hadirku selama ini memang tidak banyak berarti bagimu. Tidak ada setitik pun ingatanmu tentangku yang melekat di dalam pikiranmu.”
Rasa sesak di dalam hatinya membuat Kiara ingin menangis, tapi ia mencoba untuk menahan diri dan tidak peduli terus saja berbicara. Bercerita saat mereka berdua harus pergi dari rumah dan akhirnya pulang ke rumah paman Ardian.
Tapi El sama sekali tidak dapat mengingat hal itu, dan tetap tidak mempercayai semua ucapan Kiara.
“Kamu pantas menjadi seorang penulis, pandai berimajinasi dan mengarang cerita!” ucap El menanggapi cerita Kiara.
“Hah!” Kiara bengong seketika.
“Sudahlah, hentikan bicaramu. Jangan berusaha mengingatkan sesuatu hal yang tidak pernah Aku lakukan sebelumnya, hanya membuat Aku muak dan semakin tidak percaya padamu. Lebih baik Kamu pulang dan tinggalkan tempat ini,” ucap El lagi.
Tapi Kiara tidak putus harapan, “Aku bawa sesuatu buat Abang.”
Kiara lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makan milik El yang biasa dibawanya saat bekerja.
“Apa lagi itu, jauhkan dari hadapanku. Mengapa baunya seperti ini.” El mengibaskan tangannya mengusir aroma yang menguar dari makanan yang dibawa Kiara.
“Maaf, Aku membuatnya pagi tadi sebelum berangkat kemari.” Kiara meringis melihat reaksi El. “Ini dadar telur bekal makan siang Abang kalau bekerja. Setiap hari Kia selalu masak dadar telur ini buat Abang,” jelas Kiara.
“Bagaimana bisa Aku memakan makanan seperti itu.” El menggeleng kuat. “Berikan saja pada kekasihmu Edy di luar sana, dia pasti menyukai makanan yang Kau bawa itu!”
Astaga bang El!
“Aku istrimu, Bang! Bagaimana Abang bisa berpikir kalau Aku kekasih pria lain?” ujar Kiara tersenyum getir. Bagaimana mungkin El malah berpikir kalau Ed adalah kekasihnya.
••••••••