
Wina mengulum senyum melihat Kiara yang baru keluar dari dalam ruangan bosnya, berjalan gontai kembali ke meja kerjanya.
“Gimana laporannya tadi, beres gak?”
“Hem.” Kiara menganggukkan kepalanya.
“Lah, kalau beres kenapa lemas gitu jalannya?” tanya Wina lagi, penasaran dibuatnya.
Kiara menoleh, mendengkus sebal. “Kenapa Kamu gak bilang kalau bos baru kita itu dia.”
“Dia? Maksudmu pak Elvan?” tanya Wina bingung.
“Ya!”
“Dih, memang kenapa kalau bos baru kita itu dia. Ada yang salah, emang kita bisa milih siapa yang kita mau bakal jadi pimpinan kita di perusahaan ini? Ngaco deh.”
“Hem, sepertinya ada rahasia tersembunyi di antara kalian berdua yang tidak Aku ketahui. Ayo buruan cerita,” berondong Wina makin penasaran.
Kiara melengos, mengibaskan tangannya. “Gak ada!” sahutnya tanpa menghiraukan pertanyaan Wina padanya. “Sudahlah, mending lanjut kerja lagi aja.”
Mendadak suasana di ruangan yang biasanya ramai dengan celoteh dua wanita muda di sana itu menjadi hening seketika. Kiara terlihat menyibukkan diri kembali dengan menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Wina menghela napas menatap sekilas pada Kiara, ia maklum jika sahabatnya itu sedang tidak ingin membicarakan hal yang barusan dipertanyakannya hingga pada akhirnya ia pun melakukan hal yang sama dengan Kiara.
Tapi Wina tidak terbiasa dengan suasana hening seperti ini. Tak tahan hanya duduk diam, Wina pun menoleh dan mulai membuka suara.
“Ra, Aku gak suka ...”
“Win, maafin Aku ...”
Ucapan keduanya terhenti begitu saja, Wina berdiri dengan mulut setengah terbuka demikian pula dengan Kiara yang urung melanjutkan bicaranya.
“Ish, Aku duluan yang bicara.” Wina mengarahkan telunjuknya ke dada. “Aku gak suka diem-dieman kayak gini. Kalau Kamu gak mau cerita soal tadi, Aku juga gak bakal maksa.” Wina melanjutkan bicaranya.
“Sudah?” tanya Kiara yang langsung diangguki Wina. “Sekarang giliran Aku yang bicara. Win Win, Aku minta maaf sudah buat Kamu penasaran.”
“Gitu doang?”
“Ya.”
“Astaga, Ra. Kirain mau bicara apa,” cetus Wina melebarkan mata.
Kiara mengulum senyum, “Lain waktu Aku pasti cerita sama Kamu.”
“Oke, Aku tunggu hari itu tiba.”
“Makasih ya, Win.” Kiara tersenyum tulus.
“Oke,” jawab Wina seraya mengedipkan matanya.
Mendadak Kiara merasakan hatinya perih tiba-tiba, teringat kemesraan sikap Raisha pada El di kantin siang tadi tepat di depan matanya.
Apa-apaan ini? Perasaan apa lagi ini! Kiara mengesah gusar, heran dengan reaksinya sendiri. Bukankah ia sudah melupakan rasa cintanya pada laki-laki itu dan melupakan kenangan pahit kisah mereka.
Mengetahui kenyataan kalau El adalah atasan barunya di kantor ini tidak lebih mengejutkan dari pada melihat Raisha muncul di dekatnya. Hanya dengan melihat El bersama wanita itu lagi membuat hatinya kembali terusik dan luka lama itu seolah terbuka kembali.
Saat ini mereka hanya dua orang asing yang dipertemukan kembali dalam keadaan yang sudah jauh berbeda. Masing-masing memiliki kehidupannya sendiri-sendiri, tidak ada alasan bagi Kiara untuk merasakan perasaan seperti itu lagi pada El.
Ia wanita mandiri saat ini, bukan lagi wanita muda yang hanya bisa menangis sedih menyesali nasibnya saat masalah datang padanya seperti delapan tahun lalu.
Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan, jadi lebih baik ia memusatkan perhatian dan konsentrasi pada pekerjaan dari pada memikirkan mantan dan perempuan yang bersama dengannya itu.
Namun sekuat apa pun ia mencoba mengenyahkan bayangan itu dari kepalanya, malah justru semakin terpatri jelas dalam pikirannya. Dan hal itu membuat Kiara lelah dan berpengaruh pada tubuhnya.
Saat jam pulang kantor tiba wajah Kiara terlihat semakin pucat. Wina yang menyadari hal itu berinisiatif mengantar Kiara pulang dengan mobilnya, karena khawatir melihat sahabatnya itu kelelahan dan menyetir mobilnya dalam keadaan sakit.
Lagi-lagi Kiara menolaknya dengan alasan ia baik-baik saja dan bisa pulang dengan membawa mobilnya sendiri.
“Seharusnya Kamu istirahat saja di rumah, Ra.”
Kiara tersenyum tipis, menggelengkan kepala seraya membenahi meja kerjanya.
“Aku gapapa, Win. Cuman lelah dikit aja,” jawabnya menenangkan sahabatnya itu. “Lagi pula Aku juga sudah minum obat barusan,” imbuhnya lagi seraya memperlihatkan bungkusan obat di tangannya.
Wina menghela napas, selalu begitu. Percuma membujuk sahabatnya itu karena dia tahu Kiara akan tetap berkeras menolak tawarannya untuk pulang bersamanya.
“Ya udah, Aku duluan. Kamu hati-hati di jalan,” ucap Wina saat mereka sampai di tempat parkir dan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu juga, hati-hati nyetirnya. Jangan ngebut,” balas Kiara tersenyum seraya melambaikan tangannya.
Kiara lalu berjalan menuju mobilnya yang berada di seberang. Baru beberapa langkah, wajahnya mengernyit. Gelombang itu datang lagi dan kepalanya terasa berputar. Kiara menghentikan langkahnya, memejamkan mata untuk beberapa saat lamanya. Tangannya berpegangan pada mobil yang ada di depannya.
Tiin tiin tiinn ...
Astaga!
Kiara terlonjak seketika, alarm mobil yang disentuhnya berbunyi nyaring membuatnya terlonjak dan mundur beberapa langkah tanpa melihat ke belakang. Hingga ia merasakan tangan seseorang menahan tubuhnya.
Kiara berbalik dan kembali terkejut melihat El berdiri di depannya dengan wajah tegang.
“Kamu lagi!” Kiara tersentak dengan kehadiran El di dekatnya, lalu tersadar kalau lelaki yang tengah berdiri menatapnya tajam padanya itu adalah atasannya di kantor.
“Kamu Kamu, apa Kamu lupa siapa Aku!” tukas El mengingatkan Kiara, yang langsung membuat wanita itu merengut sebal.
“Aku yang akan mengantar Kamu pulang!” ucap El tegas, sedari tadi ia melihat dari jauh Kiara yang menolak diantar pulang Wina.
“Gak!” tolak Kiara. “Minggir, Aku bisa pulang sendiri.” Kiara menghalau El agar menyingkir dan memberi jalan padanya.
“Jangan konyol, menyetir dalam keadaan sakit dan berada di bawah pengaruh obat bisa membahayakan dirimu sendiri juga pengguna jalan lainnya.”
Kiara tak peduli, ia melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Angin sore berembus cukup kencang menggoyangkan batang pohon besar di sekitar tempat itu. Tak terasa tubuhnya menggigil merasakan hawa dingin yang menusuk hingga menembus tulang.
“Aku hanya sakit flu biasa, bukan sedang menderita sakit parah. Aku masih sangat sadar dan bisa mengendalikan diri ...”
Kiara tidak dapat meneruskan kata-katanya saat tubuhnya kembali bergetar dan menggigil kedinginan.
El bergegas menghampirinya. Kiara ingin sekali menghindarinya tapi tubuhnya terasa lemah.
“Ck, dasar keras kepala!” desis El yang masih terdengar jelas di telinga Kiara. “Berjalan saja susah, bagaimana bisa Kamu menyetir mobil dengan tubuh menggigil seperti itu.”
“Sudah Aku bilang, Aku hanya sakit flu biasa. Jadi biarkan Aku pergi dan men ...”
El mendekatkan wajahnya, menatap tepat pada manik mata wanita di hadapannya itu.
“Jangan membuatku marah, sekarang pilih salah satu. Berjalan sendiri ke mobilku atau Aku yang akan menggendongmu ke sana!” desisnya di telinga Kiara dengan telunjuk mengarah ke mobilnya.
•••••