
Keesokan harinya Kiara terbangun dengan kepala yang masih berdenyut nyeri dan tenggorokan perih. Masih dengan selimut menutup hingga sebatas pinggang, Kiara mencoba membuka mulut dan bersuara.
“Aaa ... ekhem aaa ...” Kiara menepuk dadanya, suaranya mendadak hilang. “Aaa, uhuk uhuk.”
Kiara mengusap lehernya, sakit sekali. Seperti ada benda yang menyangkut di sana. Ia kemudian turun dari ranjang, mengambil air minum di gelas besar yang ada di atas nakas dan langsung meminumnya.
Glek glek ...
Air segar membasahi tenggorokannya, membuat rasa perih itu sedikit berkurang. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum dirinya bersiap berangkat ke kantor. Kiara pun kembali naik ke atas ranjang.
Ceklek!
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, Kiara menoleh dan tersenyum lebar melihat Rio yang langsung naik ke atas ranjang memeluk leher Kiara dan mencium kedua pipinya kuat hingga meninggalkan jejak basah di sana.
“Muachh! Pagi Mama,” sapa Rio lalu menangkup wajah Kiara.
“Pagi sayang,” balas Kiara dengan suara serak, sambil mengusap pipinya, “Dih, cium basah lagi.” Kiara mencebikkan bibirnya.
Rio terkekeh melihatnya, tangannya lalu mengusap pipi mamanya.
“Leher Mama kok panas?” tanya Rio menempelkan tangan di leher Kiara. “Suara Mama juga kok kayak gitu, Mama demam ya?”
Kiara menggeleng, “Mama gak demam, sayang. Hanya pusing dikit kepalanya, sama rada sakit dikit tenggorokannya. Dikiitt aja,” jawab Kiara seraya menyatukan telunjuk dan ibu jarinya rapat.
Tangan kanan Rio menempel di kening Kiara dan sebelah tangannya lagi menempel di keningnya sendiri. “Beneran leher Mama panas, apa itu yang buat suara jadi hilang?”
“Hem.”
“Iyo pijitin kepala Mama, ya. Biar enakan,” ucap Rio lalu memutar tubuh dan duduk di belakang Kiara dengan bertumpu pada kedua lututnya, dan langsung memijat kepala mamanya.
“Tangan ajaib tangan ajaib, hilangkan pusing kepala dan sakit tenggorokan Mama!”
“Eyy, pakai mantra segala.”
“Hihihi, itu kan bisa-bisanya Iyo saja Ma.”
“Gitu ya, boleh juga.” Kiara tersenyum lebar mendengarnya.
“Iyo gak sekolah hari ini?” tanya Kiara sambil memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Rio di kepalanya.
“Libur Ma, kan hari sabtu.”
“Kiara tertawa pelan, “Oh iya, Mama lupa.”
“Dih Mama, pakai lupa segala.”
“Dih Iyo, namanya juga lupa.” Keduanya tertawa bersama, Kiara menahan tangan Rio di bahunya, menengadahkan wajah dan dengan satu tangannya menarik wajah putranya dan dengan cepat mencium kedua pipinya.
Rio memeluk leher Kiara dari belakang, balas mencium sayang pipi mamanya.
“Sudah sayang, makasih ya. Pusing kepala Mama langsung hilang,” ucap Kiara meminta Rio berhenti memijat kepalanya.
“Yes, tangan ajaib berhasil.” Rio mengepalkan tangannya dan mencium buku jarinya, membuat Kiara tertawa lalu mengecup sayang pucuk kepala anak lelakinya itu.
“Sekarang Mama mau siapin sarapan buat Iyo. Anak Mama mau maem apa?”
“Nasi goreng spesial pakai dadar telur, Ma. Hem, pasti enak.” Rio menjilat bibir membayangkan nasi goreng buatan mamanya.
“Dadar telur?” tanya Kiara yang langsung diangguki Rio.
“Iya, Iyo mau pakai dadar telur. Kata nenek itu menu favoritnya Mama,” jawab Rio yang sontak membuat Kiara terdiam sesaat lamanya.
Berbagai kenangan tiba-tiba melintas di benaknya, teringat bagaimana dulu setiap harinya Kiara selalu membuat dadar telur untuk bekal makan siang suaminya. Ups, mantan suami tepatnya!
“Ma, kok bengong?”
“Ya?” Kiara tersadar dan mengerjapkan matanya. “Oh, Mama baru ingat kalau dari tadi belum lihat nenek.”
“Nenek ada kok, barusan tadi Iyo lihat lagi di kamar.”
“Kalau begitu Mama buatin sarapan Iyo dulu ya, Iyo mau main dulu atau temani Mama masak?”
“Iyo temani Mama aja,” jawab Rio.
Beberapa saat kemudian tampak kesibukan di dapur rumah Kiara. Setengah jam kemudian sarapan pagi telah siap di meja lengkap dengan coklat hangat kesukaan keduanya. Kiara tersenyum senang melihat Rio makan dengan lahap, pipinya terlihat berisi khas anak-anak seusianya.
Setelah selesai menemani Rio sarapan pagi, Kiara pun bersiap untuk berangkat ke kantor. Hari masih pagi, jarum jam menunjuk pada angka 8.
Kiara bersiap turun dari kamarnya di lantai 2, setelah terlebih dulu berpamitan dengan Rio dan neneknya di kamarnya.
“Kamu gapapa, Kia. Kalau memang sakit kenapa tidak ijin saja,” ucap ibu Lastri yang mengantar Kiara sampai di teras rumahnya.
“Kalau gak tahan mending ijin pulang cepat saja, dari pada tambah parah nanti.”
“Iya, Bu. Kia pamit dulu ya.”
“Hati-hati.”
Saat menapakkan kaki di halaman rumahnya, angin dingin menerpa kulit tubuhnya. Kiara merapatkan kerah bajunya, menggosok tangan secara berulang lalu menempelkannya di leher.
“Hem anget,” bisiknya pelan, lalu bergegas berjalan menuju mobilnya.
Langit berwarna biru terang dan matahari bersinar cukup terik pagi itu. Tampaknya hari ini cuaca akan cerah, meski ramalan cuaca menyebutkan bahwa pada siang hari akan turun hujan disertai angin kencang.
Entah lah, akhir-akhir ini cuaca memang sulit untuk diprediksi. Seperti pagi ini langit terlihat begitu cerah, namun tiba-tiba di siang hari nanti bisa berubah gelap dan turun hujan demikian juga sebaliknya.
Sesampainya di kantor saat turun dari mobilnya, kepalanya terasa berputar dan wajah Kiara terlihat pucat pasi. Sejenak Kiara bersandar pada pilar besar di depannya, memejamkan mata sejenak mengusir rasa pening yang kembali datang menyerbu.
Perlahan matanya terbuka, menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya. Senyum mengembang di bibirnya, dan hatinya menghangat melihat pemandangan asri di depannya.
Ia pun berjalan ke taman dan berjongkok cukup lama di sana. Tangannya bergerak lincah mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar taman.
Berada di sana, dikelilingi berbagai macam bunga yang sedang bermekaran membuat suasana hati Kiara menjadi ceria dan itu berpengaruh pada tubuhnya. Sakit kepalanya tak lagi dirasakannya dan Kiara asyik merawat tanamannya. Hingga tak terasa sudah hampir memasuki jam masuk kantornya.
“Tangan ajaib tangan ajaib, tumbuh dan berkembanglah dengan baik setiap hari. Tebarkan kesegaran dan wangimu pada semua orang yang melihatmu setiap hari,” ucap Kiara sambil menyirami tanaman di depannya, teringat mantra yang Rio ucapkan padanya tadi pagi.
“Selesai.” Kiara pun memetik beberapa tangkai bunga dan mendekatkannya di hidungnya.
“Wanginya,” bisiknya menghirup aroma wangi bunga. Ia pun berbalik dan melangkah pergi dari taman dengan beberapa tangkai bunga di tangan.
Jedug!
Aoww! Kiara meraba keningnya yang membentur sesuatu yang cukup keras di depannya, perlahan ia mengangkat wajahnya.
Astaga!
“Ab ... Ehm, Kamu!” serunya terkejut menatap lelaki yang berdiri tegap di depannya itu.
El mengernyitkan dahi, mengusap dadanya yang terbentur kening Kiara. Menatap lurus pada wanita itu lalu beralih pada bunga di tangannya.
“Ngapain Kamu pagi-pagi sudah ada di taman ini? Berani-beraninya Kamu petik bunga itu,” tegurnya mengarahkan telunjuknya pada bunga di tangan Kiara.
El ingat sekali bagaimana Kiara begitu menyukai bunga dan bermimpi punya rumah impian yang dikelilingi banyak tanaman bunga.
“Yeay, ini bunga kan Saya yang menanamnya, Saya juga yang merawatnya. Dan Saya sudah mendapat ijin dari pimpinan untuk menghias halaman kantor ini dengan taman buatan Saya,” balas Kiara sewot. “Jadi, Saya berhak memetiknya kapan saja.”
“Rupanya Kamu petugas taman di kantor ini?” ucap El menahan diri untuk tidak tertawa, ia gemas melihat Kiara yang merengut dan sewot padanya.
“Apa sih, petugas taman apaan? Lagian ngapain juga pagi-pagi datang-datang sudah bikin emosi orang!”
Dih, dia beneran ngambek! El berusaha bersikap wajar, hanya dengan berpura-pura tidak mengenal Kiara maka ia bisa dekat dengan wanita itu lagi.
Kiara memandang El, menelisik dari atas kepala hingga ujung kaki. Rambut ikal sebahunya sudah dipotong rapi, dan lelaki di depannya itu terlihat makin matang dan bertambah tampan saja. Tanpa disadarinya pipinya merona menyadari kalau ia tengah mengagumi mantan suaminya itu.
“Jangan menatapku seperti itu, Aku takut Kamu nanti jatuh cinta padaku.”
Kiara mendelik tak suka, “Nih orang makin gak jelas, sok kenal sok akrab!” dengusnya sebal, menutupi rasa malunya.
“Uhuk!” El tersedak, hampir saja tawanya meledak. Kiaranya sudah banyak berubah, lebih cantik dan bertambah judes.
Ekor matanya menangkap bayangan tubuh Seno yang berjalan ke arahnya. Ia masih ingin berbincang dengan Kiara dan tidak ingin wanita itu mengetahui statusnya di kantor itu.
“Tuan, ini data yang ...” Seno menghentikan langkahnya dan mengatupkan mulut rapat saat mendapat tatapan tajam El yang berjalan ke arahnya dan langsung menghadang langkahnya.
“Tapi Tuan, ini sudah masuk jam kerja. Apa tidak sebaiknya ...”
“Seno!”
Kiara melengos melihat tingkah kedua lelaki di depannya itu, “Tau ah, mending masuk ke kantor!”
“Silah kan Kiara,” ucap El yang langsung berbalik dan mundur selangkah memberi jalan pada Kiara. “Seno mundur! Beri jalan pada nona Kiara,” perintahnya lagi pada Seno yang bingung dan hanya bisa mengikuti perintah tuannya.
“Siap Tuan! Nona, silah kan lewat.”
“Dih, apaan sih kalian.” Kiara melangkah cepat meninggalkan keduanya.
Seno hanya bisa mengusap tengkuknya, dilihatnya tuannya berdiri tersenyum-senyum sendiri memandang kepergian Kiara.
••••••••