You are the Reason

You are the Reason
Bab 65. Pertemuan tak terduga



Hari Minggu ini dipastikan akan menjadi hari terpanjang bagi Kiara. Hujan turun semakin deras, sedangkan perjalanan masih panjang. Wina meminta mereka semua bertahan di rumah makan itu sampai hujan sedikit mereda.


Gaafhi sang pemilik rumah yang hendak dibeli Wina sudah berangkat terlebih dahulu, sebelum pergi tidak lupa ia mengundang mereka untuk makan siang bersama sesampainya Kiara dan Wina di sana.


Tentu saja ajakan manis itu disambut Wina dengan gembira, dan sebagai balasannya ia turun dengan membawa payung lebar di tangan demi untuk mengantar Gaafhi agar tak basah kehujanan sampai ke mobilnya.


Kiara tersenyum geli di bangkunya, melihat tingkah Wina yang berusaha menarik perhatian lelaki yang berjalan di sampingnya itu.


Kiara lalu memesan coklat panas untuk dirinya sendiri, sementara pak Yanto memilih duduk di beranda rumah makan sambil menikmati kopi pesanannya.


“Hufh! Basah dikit gapapa, yang penting bisa jalan bareng sama mas Gaafhi.” Wina menepis bulir air hujan yang membasahi lengan bajunya, bibirnya terus saja tersenyum.


“Win, kayaknya hujan gak bakal reda sampai siang kalau lihat langit gelap gitu.” Kiara mengarahkan dagunya ke atas, langit terlihat gelap gulita dan sesekali terdengar petir menyambar meninggalkan jejak cahaya terang di bumi.


“Terus enaknya bagaimana, apa balik aja. Tapi sudah separuh jalan kita. Bentar lagi sampai,” ucap Wina meminta pertimbangan pada Kiara.


“Lah Kamunya gimana, sudah janjian sama pemilik rumah. Ntar mereka nungguin kita lagi,” sahut Kiara.


“Aku terserah Kamu aja, Ra. Kalau masih mau lanjut jalan, ada kemungkinan kita bakal pulang malam. Tapi kalau mau stop sampai di sini, Aku hubungi orangnya.”


Kiara melirik jam mungil di tangannya, lalu beralih menatap jalanan di depannya. Sudah hampir jam sebelas siang, dan mereka masih bertahan menunggu hujan mereda di tempat itu.


“Tanggung sih, lagian kalau pulang juga gak ada Iyo di rumah. Lanjut jalan aja lah,” ujar Kiara.


“Pak Yanto, kalau kita lanjut jalan sekarang saja gimana. Aman gak?” tanya Wina.


“Aman Non, lagi pula hujannya juga tidak sederas tadi lagi. Jadi kita bisa berangkat sekarang,” sahut pak Yanto.


“Baiklah, kita lanjutkan perjalanan.”


Tidak lama kemudian mereka sudah berada di dalam mobil. Kiara mengambil ponsel miliknya dan mulai menghubungi nomor El untuk menanyakan kabar anaknya.


Saat sambungan teleponnya terhubung, suara khas bariton El terdengar menyapanya diwarnai dengan suara tawa dan teriakan protes Rio yang terdengar nyaring di belakangnya.


“Rame banget, pasti seru pertandingannya sampai teriak-teriak kayak gitu.”


“Iya, skornya sama makanya ngotot harus menang. Itu lagi manyun, protes mainnya ketunda.”


Kiara tersenyum mendengarnya, setahunya El tidak terlalu menyukai sepak bola. Ia lebih menyukai basket dan olah raga bela diri. “Hujan deras makanya mainnya ditunda?” tanya Kiara kemudian.


“Gak kok, di sini cerah.”


Kiara mengerutkan kening, “Kok bisa, padahal langit gelap semua. Masa gak hujan?”


“Loh, kalian gak jadi nonton bolanya? Terus Iyo teriak-teriak tadi Mama kira lagi nonton bola,” ungkap Kiara tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya mendengar suara teriakan anaknya.


“Kan Iyo lagi main game sama om El. Pertandingannya ditunda sampai siang nanti, Ma. Itu pun kalau hujan reda,” jelas Rio.


“Gak jadi mantai dong?” ucap Kiara lagi.


“Jadi dong, sorean juga gapapa yang penting tetap bisa jalan. Ya kan, om?”


Terdengar sahutan El menanggapi ucapan Rio, “Mama mungkin pulang telat, Iyo baik-baik di rumah sama nenek. Kalau sudah selesai jalan langsung pulang ke rumah ya, istirahat jangan begadang. Besok kan sekolah,” pinta Kiara pada Rio.


“Oke Ma,” sahut Rio lalu menutup sambungan teleponnya.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat yang dituju, hujan pun sudah mereda.


Ketika hendak turun dari mobil, ternyata di rumah itu sudah ada Gaafhi dan dua orang tamu laki-laki yang sepertinya juga sudah selesai berkeliling melihat-lihat seisi rumah dan kelihatannya juga berminat untuk membeli terdengar dari ucapannya yang langsung mengajukan penawaran harga.


Rumah itu masih berisi lengkap perabotan dan alat rumah tangga lainnya, karena Gaafhi mengontrakkan rumah itu lengkap bersama isinya. Karena satu hal yang mendesak, ia akhirnya harus menjual rumahnya.


Gaafhi yang melihat kedatangan mereka, lalu berjalan keluar berdiri menyambut di ambang pintu meninggalkan sejenak tamunya di dalam rumah.


Wina bergegas menarik lengan Kiara untuk segera turun dan mengikutinya masuk ke dalam rumah.


“Buruan Ra, keburu disambar sama mereka ini rumah. Alamat gak jadi dah Aku punya rumah impian,” cetus Wina tidak sabar.


“Duluan gih, bentar Aku nyusul.” Kiara menelan ludah dengan susah payah, menahan mual dan pusing yang mendadak datang menyerang kepala dan perutnya.


“Kamu kenapa, mual, pusing?” tanya Wina yang melihat perubahan di wajah Kiara. “Lo mabok Ra?”


Kiara menggeleng, “Gak tau, tiba-tiba aja kepalaku pusing.”


“Ya udah, istirahat di mobil aja biar Aku saja yang masuk. Kalau sudah selesai Aku langsung balik,” ucap Wina lalu berbalik meninggalkan Kiara dan masuk ke dalam rumah.


Kiara menganggukkan kepala sembari memijit keningnya yang mendadak pusing lalu mengolesnya dengan minyak angin yang dibawanya. Setelah dirasa nyaman Kiara turun dan berniat menyusul Wina ke dalam.


Di depan pintu nyaris saja ia bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar rumah. Seketika wajahnya menjadi pucat pasi menyadari siapa lelaki yang berdiri di hadapannya itu.


“Ma-af,” ucapnya dengan suara bergetar.


Tubuhnya menegang tiba-tiba, menatap waspada. Dengan langkah cepat ia bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan sorot mata tajam penuh selidik lelaki di belakangnya.


••••••••