You are the Reason

You are the Reason
Bab 63. Happy weekend



El menggenggam erat bendel berkas kedua yang diberikan Seno padanya. Berkas riwayat kelahiran Rio dari rumah sakit di mana ia dilahirkan.


Satu kenyataan baru menyentak dadanya, El merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Bibirnya bergetar saat membaca tulisan nama di atas kertas dan tanpa sadar mengejanya tanpa suara.


Untuk sesaat ia terdiam, tertegun menatap deretan tulisan yang tertera di sana hingga akhirnya El menyadari ada sesuatu yang terlewatkan dari pengamatannya selama ini.


Usia pernikahannya dengan Kiara memang terbilang muda, hanya berkisar lima bulan saja dan Kiara telah mengandung Rio sebelum perpisahan dengan Kiara terjadi.


Rio lahir tujuh bulan setelahnya. Saat menjelang persalinan, Kiara menuliskan nama sang suami dengan inisial E Aksa AP yang El yakini adalah namanya. Bukan E Saputra seperti nama Ed.


Setitik harapan tampak di depan mata, ada kemungkinan besar kalau Rio adalah putra kandungnya. Tapi El butuh kejelasan dari Kiara untuk meyakinkan hatinya kalau semua yang baru saja diketahuinya itu memang benar adanya.


“Terima kasih Tuhan,” bisiknya kemudian dengan perasaan senang juga sedih bercampur jadi satu. Senang karena mengetahui kalau ia memiliki anak dari Kiara, sedih karena sudah melewatkan banyak hal bersama wanita itu juga putranya.


Bagaimana Kiara dulu menjalani kehamilannya, apa ia baik-baik saja atau larut dalam kesedihan karena perpisahan mereka ditambah duka harus kehilangan paman yang sangat disayanginya pergi untuk selamanya.


Bagaimana perasaan hati Kiara saat melahirkan tanpa seorang suami di sampingnya, saat suami lain mengusap kepala sang istri dan mengucapkan banyak doa yang akan menguatkan perjuangan mereka dalam melahirkan sang buah hati. Sementara Kiara harus berjuang dan menjalani semuanya seorang diri.


El mengusap kasar wajahnya, lalu mengacak rambut kepalanya. Mengingat hal itu membuat penyesalannya pada Kiara semakin bertambah saja. “Aarggh!” teriaknya kecewa pada dirinya sendiri.


Amnesia yang dialaminya membuat ia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin hari ini ia masih berkumpul dan hidup bersama dengan Kiara.


Kalau saja ia mau mendengar ucapan Kiara waktu itu, mencoba mempercayainya sedikit saja, mungkin perpisahan di antara mereka tidak terjadi dan ia bisa mengetahui kehamilan Kiara lebih dulu.


Sekarang ia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. El meraih ponselnya dan bergegas hendak keluar kamar, namun gerakan Seno lebih cepat.


“Tunggu Tuan!” Seno berdiri di ambang pintu, merentangkan kedua tangannya lebar menghadang langkah El untuk turun dan pergi menemui Kiara di rumahnya. “Kedatangan Tuan yang tiba-tiba dengan alasan menuntut penjelasan soal siapa papa kandung Rio, tentu akan mengejutkan nona Kiara dan orang-orang yang berada di sana.”


“Aku hanya ingin mendengar langsung darinya, siapa papa kandung Rio sebenarnya. Benarkah tulisan nama di surat kelahiran Rio ini adalah inisial namaku. Dan apa benar seperti dugaanku kalau lelaki yang dipanggil Rio papa itu adalah Edgar sahabatku?”


“Tuan harus lebih bersabar dan bisa menahan diri. Kalau sikap Tuan seperti ini yang ada nona Kiara akan menjauhi Tuan dan kemungkinan terburuk Tuan tidak dapat bertemu dengan Rio lagi.”


“Itu tidak akan terjadi lagi! Tidak akan kubiarkan orang lain memisahkan Aku dengan putraku seperti yang terjadi pada pernikahanku dulu dengan Kiara.”


“Tuan juga harus menjaga perasaan Rio, selama ini yang selalu ada di sisinya hanya nona Kiara dan keluarga kecilnya juga tuan Edgar yang dianggap Rio sebagai papanya.”


El terduduk di tepi ranjang, menatap nanar berkas di tangannya. “Kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini, No?”


“Ya, Tuan. Saya tahu sekali bagaimana perasaan Tuan saat ini,” ujar Seno perlahan duduk di samping El. “Tuan ingin sekali berlari ke sana dan memeluknya, meluapkan rasa suka cita Tuan karena mengetahui kalau Rio adalah anak kandung Tuan.”


“Lalu kenapa Kamu melarangku ke sana menemui mereka?”


“Ck! Tuan harus bermain cantik,” ujar Seno mengedipkan matanya, yang sukses membuat El menjauhkan tubuhnya dan memandang Seno dengan sorot mata bertanya yang kentara.


“Maksudmu?” tanya El, Seno menghela napas lalu mulai bicara.


•••••


Hari yang ditunggu telah tiba, Kiara bangun lebih awal untuk membantu mempersiapkan kebutuhan Rio sebelum ia berangkat ke luar kota bersama Wina sahabatnya.


“Pakai jaket gak, Ma. Kata om El, abis nonton bola mau ajak Iyo main ke pantai.”


“Kaki Iyo kan masih sakit, selepas nonton bola Iyo sebaiknya langsung pulang ke rumah. Istirahat, besok Senin kan sudah harus masuk sekolah lagi.”


Rio membuka lemari pakaiannya, mengambil celana pendek warna hitam lalu beralih mengambil peralatan berenang di keranjang besar yang ada di samping lemari pakaiannya.


“Kaki Iyo udah gak sakit lagi kok, Ma. Kemarin dipijitin sama om jadi enakan,” jawab Rio kemudian.


“Kalian berdua itu kalau jalan ngapain aja sih, sampai bisa pijit kaki Iyo segala?” tanya Kiara heran.


Rio tergelak mendengarnya. Setengah berbisik ia berkata di telinga Kiara, “Sstt, rahasia laki-laki.”


“Ish!” Kiara mencebik, “Gak boleh rahasia-rahasiaan sama Mama. Ayo cerita ngapain aja kemarin jalan sama om sampai pulang ketiduran.”


“Nanti Iyo ceritain, sekarang Iyo lagi sibuk.”


Kiara tersenyum mendengar jawaban Rio, lalu mengacak gemas rambutnya. “Dih, anak Mama sok sibuk ih. Dah ah, Mama mau siap-siap juga.”


“Ma, botol minum Iyo jangan lupa bawa.”


“Iya, bentar Mama ambilin.” Kiara keluar kamar lalu kembali lagi dengan botol minuman di tangannya.


“Bawa bola gak ya?” Rio berpikir sejenak menatap bola plastik yang berada di tangannya, lalu detik berikutnya ia berpaling pada Kiara. “Ma, pinjam hpnya bentar.”


Tanpa menunggu jawaban, Rio langsung meraih ponsel Kiara yang berada di atas meja belajarnya, lalu menghubungi seseorang.


“Iyo bawa tas ransel lumayan gede, bisa kan om dibawa kalau naik motor?”


Dan selanjutnya Rio berteriak senang, sambil mengepalkan tangannya. “Yes, bisa main bola di pantai deh.”


Kiara menautkan alisnya, menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai ke belakang telinga. Menghentikan sejenak gerakan tangannya memasukkan botol minuman ke dalam tas ransel putranya lalu berdiri tegak setelah mendengar ucapan Rio padanya.


Apa ia tidak salah dengar barusan. “Om El ajak Iyo jalan naik motor?” tanya Kiara.


Rio mengangguk kuat, “Ho oh. Seru kan, Ma. Lebih seru dari pada naik motor sama mbak Kinan.”


Kiara meringis mendengarnya, “Ish, beda dong sayang. Motor om El itu motor gede, sedangkan motor yang dipakai mbak Kinan buat jemput Iyo pulang sekolah itu motor matic biasa. Pasti beda sensasinya,” ungkap Kiara mengingat kebersamaannya dulu dengan El saat jalan berboncengan berdua.


“Mama kok tahu om El punya motor gede, padahal baru pagi ini loh diantar ke rumahnya.”


Kiara gelagapan mendengar pertanyaan Rio, untung saja suara motor El terdengar dari luar rumahnya dan Rio yang mengetahuinya langsung berlari keluar melihat dari balkon kamar mereka.


El turun dari motor besarnya, tersenyum melambaikan tangan ke arah Rio yang menatapnya dengan sorot mata kagum.


“Wih keren! Ma, Iyo mau tempat om El dulu.” Rio langsung berlari keluar kamarnya sebelum Kiara sempat berbicara.


Dari atas balkon kamarnya Kiara menatap pada El yang tersenyum lebar menyambut Rio dengan pelukan, wajah bahagia El terlihat jelas saat kedua mata mereka bertemu pandang. Kiara memalingkan wajahnya ke arah lain, sementara El langsung sibuk mengajak Rio masuk ke dalam rumahnya.


Dreet dreet, ponselnya bergetar mengalihkan perhatian Kiara dari pemandangan di bawahnya. Ada panggilan masuk dari Ed seperti biasanya.


“Hei Ma, belum berangkat?”


“Bentar lagi nunggu dijemput Wina,” jawab Kiara, lalu berjalan masuk kembali ke dalam kamar Rio.


“Iyo mana kok gak kelihatan?”


“Ada, lagi main tempat tetangga. Nanti jam sembilan kan mau ke stadion lihat pertandingan.”


“Main ke tempat tetangga? Tumben pagi-pagi gini. Panggilin dong, Ma bilangin Papa kangen mau ngobrol. Mumpung lagi libur,” pinta Ed pada Kiara.


“Aduh!” Kiara menggigit bibirnya, “Mana itu bocah lagi main tempat El lagi.”


“Tetangga sebelah mana, sih. Kalau jauh biar nanti aja deh nelpon lagi.”


“Gak jauh kok, tetangga baru depan rumah. Tutup dulu deh telponnya, bentar biar Aku panggilin anaknya.”


“Oke, sepuluh menit Aku telpon lagi.”


Dan sebelum Ed menutup sambungan teleponnya, suara klakson mobil Wina terdengar memanggil Kiara.


“Aku dah dijemput Wina nih, gimana Mas?”


“Ya udah, Aku telpon nanti malam saja sepulang Kamu dari luar kota. Hati-hati di jalan, bilang sama Wina jangan ngebut bawanya.”


“Iya Mas. Aku pamit jalan dulu ya, bye.” Kiara menarik napas lega, ia lalu mengambil tas jalannya lalu berlari kecil menuruni anak tangga rumahnya.


“Ibu, Kia pamit jalan dulu. Sudah dijemput Wina,” pamit Kiara pada ibu Lastri yang berada di kamarnya.


“Hati-hati di jalan,” sahut ibu Lastri yang masih mengenakan mukena sedang mengaji.


“Iya Bu,” balas Kia lalu mencium punggung tangan ibu Lastri.


“Win, tunggu bentar! Aku panggil Iyo dulu di rumah depan,” pintanya pada Wina.


“Oke.”


Sebelum Kiara berpaling, El dan Rio keluar dari dalam rumahnya. Dan Wina yang menyadari kalau rumah depan yang dimaksud Kiara adalah rumah El langsung melebarkan matanya, dan tanpa peduli pada Kiara ia keluar dari mobilnya.


“Pagi Pak El,” sapanya pada El yang tersenyum melihatnya berjalan keluar sambil merangkul bahu Rio. “Eh, sudah akrab aja sama Iyo.”


Kiara menahan napas, tak ingin berlama-lama di sana ia pun berpamitan pada Rio. “Iyo, Mama pergi dulu ya.”


“Iya Ma,” sahut Rio dan El bersamaan, Wina terkikik mendengarnya tak peduli pada lirikan tajam mata Kiara padanya.


“Happy weekend, hati-hati di jalan Ma.” lagi-lagi Rio dan El bicara bersamaan, membuat Wina makin tergelak dibuatnya.


••••••••