You are the Reason

You are the Reason
Bab 31. Akhir kisah kita



Kiara menatap lembut laki-laki yang duduk setengah berbaring di dekatnya itu, masih mencoba untuk terus membuat El mengingat kenangan tentang mereka berdua.


Kiara terus bicara, bercerita tentang semua peristiwa yang mereka lalui bersama. Sampai hari di mana pamannya sakit dan mereka berdua kembali ke rumah paman Ardian, lalu El pamit ke kota hampir dua bulan lamanya namun tak ada kabar beritanya.


Lelaki di dekatnya itu hanya diam mendengarkan semua ceritanya, tanpa menyela sedikit pun. Sesekali terlihat memijat keningnya dengan wajah mengarah ke lain, tidak mau menatap Kiara. Tapi Kiara tak peduli, meski lelaki itu menyuruhnya pergi sekali pun ia akan terus bertahan.


Hari ini Kiara mencoba segala cara untuk meyakinkan El dan berusaha membuat lelaki itu dapat mengingatnya kembali.


Kiara berharap bila El bisa mengingatnya kembali, mereka akan terus bersama. Meski harus kembali berhadapan dengan Bian setelahnya, tapi jika bersama dengan El semua akan mudah jalannya. Itu adalah harapan terbesarnya.


“Abang, lihat Aku.” Kiara menyentuh dagu El membuat lelaki itu menoleh padanya.


Kiara menyibakkan rambut panjangnya, menggulungnya perlahan lalu mengikatnya ke atas. Matanya terus tertuju pada El, menatapnya tak berkedip membuat lelaki itu jengah dibuatnya.


“Apa yang ingin Kamu lakukan?” sentaknya gusar kala jemari tangan Kiara beralih membuka kancing bajunya di bagian atas, hingga terlihat bahunya yang putih mulus.


Untuk sesaat lamanya Kiara memejamkan matanya, mencoba menguatkan hatinya. Tanpa terasa matanya mulai basah, ia mencengkeram benda mungil yang melingkar di lehernya.


“Hentikan! Apa Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, sampai harus membuka pakaianmu di hadapanku. Bertindak bodoh dan mempermalukan dirimu sendiri!”


El memalingkan wajahnya, jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya. Hal yang tidak pernah dirasakannya saat berdekatan dengan Raisha.


Wanita di hadapannya itu terlihat begitu rapuh, memandangnya dengan berurai air mata.


El mengetatkan rahangnya, ia marah sekaligus kasihan padanya. Ia tidak tahan melihat wanita itu menangis di depannya, dan ia marah pada dirinya sendiri yang berusaha menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh itu masuk dalam pelukannya.


“Memang apa yang Abang pikirkan tentang Aku? Aku toh tidak melakukan hal bodoh seperti yang Abang ucapkan barusan. Aku hanya minta Abang melihat padaku,” ucap Kiara lagi.


“Tidak! Kancingkan bajumu. Aku tidak akan pernah mau melihatmu dalam keadaan terbuka seperti itu,” desis El menggelengkan kepala kuat.


“Abang, tatap Aku sekali ini saja. Aku mohon,” pinta Kiara dengan suara bergetar, ia menggigit bibirnya menahan tangis.


Kiara tidak tahu hal apa lagi yang bisa meyakinkan El dan mengingatkan lelaki itu pada dirinya. Mungkin hanya ini jalan terakhir yang bisa ia lakukan, suatu hal yang tidak pernah terpikirkan akan dilakukannya meski mereka telah menikah dan hidup bersama.


“Abang ...,” suara Kiara kini bercampur dengan isak tangis. “Lihat Aku, Abang pasti kenal dengan benda ini.”


Kiara melepas kalung yang melingkar di lehernya itu, membuka liontin yang berisi foto El yang tengah memeluk dirinya dan memperlihatkannya pada lelaki itu.


El tertegun sesaat lamanya, ia seolah melihat bayangan dirinya di sana bersama Kiara. Tapi sekali lagi, ia benar-benar tidak bisa mengingat satu pun kenangannya bersama Kiara.


“Cukup. Hentikan Kiara!” teriak El lantang, membuat kedua orang yang sedari tadi berdiri di luar kamar langsung menoleh.


Kiara tersentak kaget mendengar suara keras El, tangisnya pecah seketika. Tangannya terkulai lemah, kalung di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh di atas ranjang tepat di samping El.


El tidak dapat menahan dirinya lagi, ia langsung meraih Kiara dan memeluknya erat.


Sementara di luar kamar, Ed menghadang langkah Raisha yang bergegas hendak masuk ke dalam kamar sesaat setelah mendengar teriakan El.


“Aku harus menghentikan wanita itu mengusik hidup El yang sudah tenang,” ucap Raisha sembari berusaha menerobos masuk dari hadangan tubuh tegap Ed yang menghadang di pintu masuk kamar El.


“Tetap diam di tempatmu berada saat ini atau Kamu akan menyesal karena berani melawan ucapanku,” balas Ed dengan nada penuh ancaman.


Dengan wajah masam ia berjalan menjauh dan duduk kembali di salah satu sofa tidak jauh dari kamar El berada dengan tetap memasang telinganya baik-baik.


Ia terkekeh dengan bibir mencibir sinis. Mungkin saja sebentar lagi ia akan mendengar teriakan El lagi dan melihat Kiara berlari keluar kamar sambil menangis meraung, pikir Raisha dalam hati.


Ed mengerutkan kening dan menggelengkan kepala melihat ke arah Raisha yang senyum-senyum sendiri.


Ia lalu bergegas mendekati pintu. Dari celah pintu yang terbuka Ed menarik napas lega saat melihat El memeluk Kiara yang menangis.


“Aku tahu Abang masih mengingatku dan peduli padaku,” bisik Kiara dalam pelukan El.


El meregangkan pelukannya, tersenyum tipis. Ditatapnya dalam mata bulat jernih di depannya itu.


“Aku hanya tidak tahan melihat wanita menangis di depanku. Dan Aku memelukmu hanya untuk menenangkan dirimu. Bukan berarti Aku peduli padamu,” balas El lalu menggeser tubuhnya menjauh saat dilihatnya Kiara sudah lebih tenang.


“Kalau Abang tidak peduli padaku, jangan buat harapanku padamu melambung tinggi.”


El tersenyum miring, menatap Kiara melalui ekor matanya.


“Aku mungkin akan melakukan hal yang sama pada wanita lain jika Aku melihat mereka menangis di depanku,” jawab El.


“Bibir boleh berdusta mengatakan hal seperti itu, tapi hati tidak dapat berbohong. Aku tahu Abang memang peduli dan masih mengingatku sebagai istrimu,” sahut Kiara.


Ya Tuhan ...


El memijit keningnya yang berkedut nyeri, pening sekali. Sedari tadi wanita ini terus-menerus berkata kalau dia istrinya.


“Bagaimana Aku bisa mengingatnya, kalau Aku sama sekali tidak pernah mengenalnya.” El mengusap kasar wajahnya, pandangan keduanya kini bertemu.


“Pikiran boleh berubah-ubah, karena kita manusia biasa. Tapi Aku mohon, jangan khianati janji suci pernikahan kita. Kita sudah berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka,” ucap Kiara menatap lekat mata El.


“Cukup! Tolong berhentilah, Kiara. Aku tidak bisa melakukannya lagi.” El balas menatap mata Kiara. “Aku tegaskan sekali lagi padamu. Aku tidak mengenalmu, jangan mengarang cerita di sini. Aku juga tidak pernah menikah denganmu. Satu-satunya wanita yang akan menikah denganku adalah Raisha, tunanganku!”


Deg!


“Abang ...”


Suara Kiara hilang ditelan isak tangisnya yang kembali terdengar, hatinya sesak karena sampai akhir usahanya lelaki itu hanya ingat pada wanita lain dan bukan dirinya.


Kali ini El bergeming di tempatnya, berusaha kuat untuk tidak terpengaruh dengan tangis Kiara.


Harapan Kiara pupus seketika, ia mengaku kalah. Disekanya matanya yang basah, perlahan Kiara turun dari ranjang.


“Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku, menemani hari-hariku dulu. Kamu bagian terindah dalam hidupku. Selalu dan akan terus seperti itu,” bisik Kiara dalam hati.


Dipandanginya lekat wajah El untuk terakhir kalinya, merekam semuanya dalam ingatannya.


“Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu, dan Aku akan terus melakukannya sebisaku. Ini akhirku, akhirmu, akhir kisah kita. Dan kita sudah mengakhirinya di sini.”


••••••••