
Kiara memilih duduk di sofa ruang keluarga berdampingan dengan Rio, memasang tripod di atas meja terlebih dahulu sebelum membalas sapaan Ed padanya. Masih sempat didengarnya suara deru mobil El di luar sana yang pergi meninggalkan rumahnya.
Sejenak ia menarik napas, duduk dengan tenang lalu memasang senyum menatap wajah lelaki di depannya itu.
“Baru pulang kerja? Banyak kerjaan ya, kok sampai sore banget pulangnya.”
Kiara meringis, “Gak kok, udah dari tadi pulangnya. Cuman belum ganti baju aja, belum mandi juga.”
“Oh, ya udah kalau mau mandi. Biar Aku ngobrol sama Rio dulu,” sahut Ed.
“Gapapa, lima menit lagi. Masih capek juga,” balas Kiara tersenyum, lalu perhatian keduanya kini beralih pada Rio.
“Hei jagoan Papa, bagi dong es krimnya. Makan sendiri aja sampai gak ingat nawarin sama Papanya,” seru Ed melihat Rio yang tengah asyik menikmati es krim di samping Kiara.
Kiara lalu mengangkat dua cup kosong bekas es krim dari atas meja, memperlihatkannya pada Ed yang langsung terkekeh dibuatnya.
“Itu yang di tangan Iyo gelas ke berapa?” tanyanya pada Kiara.
“Ke tiga, Mas. Katanya sih ini gelas terakhir buat hari ini,” sahut Kiara seraya melirik gemas pada Rio yang sukses membuat Ed tersenyum lebar.
“Itu tuh cup kecil, Ma. Makanya cepat abis, beda sama yang ini.” Rio mendekatkan gelas di tangannya pada Kiara.
“Besok-besok Mama belikan yang emberan deh biar puas makannya, sampai lupa nawarin papanya.”
“Emang Papa mau? Ambil aja sini kalau mau, masih banyak kok di kulkas.” Rio menyendok satu suapan besar ke mulutnya, lalu mengulurkan gelas di tangannya pada Ed yang menatapnya seraya menyapukan lidah di bibirnya.
“Mau pake banget, sayang. Tapi kan jauh, gimana Papa ambilnya coba?” ujar Ed mencebikkan bibirnya, membuat Kiara tersenyum geli melihatnya.
“Makanya Papa cepetan pulangnya, nanti Iyo sisain deh es krimnya buat Papa.”
“Janji ya, gak bakal dihabisin kalau Papa pulang nanti.”
“Janji tapi kalau gak khilaf ya. Abisnya es krim ini tuh enak banget, Pa. Rasanya begitu nyaman di lidah,” ujar Rio lagi.
“Hahaha.”
“Uhuk uhuk!” Kiara ikutan tertawa hingga ia terbatuk, membuat Ed terkejut dan langsung mengalihkan perhatiannya pada Kiara yang masih menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Iya, Papa baru nyadar wajah Mama kelihatan pucat, suaranya juga serak. Kamu masih sakit, Ma. Sudah ke dokter apa belum?” tanya Ed meneliti wajah Kiara yang memenuhi layar ponselnya.
“Cuma flu biasa, dibawa istirahat juga bentar baikan kok. Ya udah, Aku pamit mau bersih-bersih dulu. Biar Mas ngobrol sama Iyo dulu, ya.” Kiara berpamitan hendak ke belakang.
“Mama sakit tuh, Pa. Barusan pulang kerja juga diantar sama om Doger,” cetus Rio yang sudah menyelesaikan suapan terakhirnya dan menaruh gelas kosongnya ke atas meja.
“Om Doger?” ucap Ed dan Kiara bersamaan sambil menatap ke arah Rio, yang langsung mendapat anggukan kepala bocah lelaki itu.
Kiara urung bergerak dan memilih duduk kembali di samping Rio, “Om Doger siapa yang Iyo maksud, apa om yang bicara sama Iyo di luar tadi?” tanya Kiara penasaran, apa jangan-jangan El yang dimaksud anaknya itu karena barusan lelaki itu yang mengantarnya pulang dan Rio sempat berbincang cukup lama dengannya di luar tadi.
“Iya, om Doger itu sudah! Iyo kan gak tau namanya, lupa tanya sih tadi. Tapi waktu pertama kali ketemu Iyo di tempat mang Asep, om itu pesan es doger. Ya udah Iyo panggil om Doger aja,” jawab Iyo dengan polosnya.
Astaga Iyo!
“Jadi sebelumnya Iyo sudah pernah ketemu sama om Doger itu? Astaga! Kan, Mama jadi ikutan latah panggil dia kayak Iyo.”
Rio terkekeh geli seraya menutup mulutnya, sementara Ed menatap kedua orang di depannya itu dengan kening berkerut. “Om Doger siapa sih, Papa kenal gak nih sama om yang satu itu?”
Kiara langsung terdiam mendengar pertanyaan Ed, dan Rio menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Iyo gak tau, kan gak pernah ikut ke kantor Mama. Katanya sih teman kerjanya Mama di kantor,” jawab Rio.
“Oh, teman kerjanya Mama.”
Dan Ed tidak menanyakannya lagi, ia memilih untuk menyudahi perbincangan sore itu apalagi tidak lama kemudian azan magrib berkumandang.
Malamnya ketika Wina datang ke rumahnya berniat ingin melihat keadaannya, berubah panik saat mendapati Kiara berbaring dengan tubuh demam.
“Ini gak bisa dibiarin, kita ke dokter sekarang. Badan Kamu panas banget, Ra. Dan batukmu juga dari tadi gak berenti.” Wina mengulurkan tangan meraba leher dan kening Kiara.
“Aku cuman butuh istirahat dan tidur yang cukup, Win. Besok pagi juga sudah baikan lagi,” tolak Kiara.
“Gak! Pokoknya kita ke dokter sekarang,” tegas Wina tak ingin dibantah.
Wina lalu membuka lemari, mencari baju hangat untuk Kiara. Ia langsung mengambil sweater biru yang ada di gantungan dan langsung menyerahkannya pada Kiara.
Kiara menoleh dan mulutnya langsung mengucap protes. “Jangan pakai yang itu, Aku gak mau. Pakai yang warna abu-abu aja, Win. Aku taruh di rak paling atas, kelihatan kok.”
“Yang ini?” Wina mengeluarkan sweater abu-abu dan membuka lipatannya. “Ini lehernya rendah, Ra. Pakai kancing pula, ribet. Mending pakai yang biru, bagian lehernya tinggi. Kamu gak perlu pakai syal lagi buat nutupin leher Kamu. Udah deh nurut sama Aku, lagian itu warna kesukaan Kamu juga kan?”
“Tapi Win ...”
Kiara akhirnya hanya bisa menurut saja saat Wina memakaikan sweater itu di badannya, dan setelah itu membantu Kiara berdiri.
“Ej, ada inisial namanya toh. EL AA, lucu juga. Tapi kok bukan KL ya, itu kan inisial namamu Ra. Kiara Larasati, bukan EL AA.” Wina terkekeh.
Kiara mencebik, “Makanya pakai yang abu-abu aja.”
“No! Kamu kelihatan cantik pakai baju biru ini, jadi gak pucat amat gitu.”
“Ish, jadi ke dokter gak nih!”
“Ya jadilah, memang Kamu mau sakit terus. Bisa bangun kan, Ra?”
“Bisa.”
“Ayo dah Aku bantu,” ucap Wina seraya mengulurkan tangan memeluk pinggang Kiara.
Kiara memegang kuat lengan Wina, kakinya terasa lemah saat berdiri. Terhuyung ia berjalan keluar kamar dipapah Wina, meski begitu Kiara menguatkan diri dan berhasil sampai dan duduk di dalam mobil Wina.
“Mobilmu gak kelihatan, di mana Ra?”
“Masih di kantor, Aku pulang diantar bos tadi.”
“Oh gitu. Rio sama neneknya gimana, apa mereka bawa kunci cadangan?”
“Biasanya sih bawa, tadi pamit mau ngaji dah Aku suruh bawa kunci rumah juga.”
“Neneknya Rio bawa hp gak biar Aku telpon dulu?” tanya Wina yang langsung diangguki Kiara.
“Bawa, telpon pakai hp Aku aja Win.”
Setelah menghubungi ibu Lastri yang sedang menemani Rio belajar mengaji, mereka pun langsung meluncur menuju tempat praktik dokter Mega.
Saat dalam perjalanan pulang kembali ke rumahnya, ponsel Kiara bergetar. Ia segera meraih benda pipih yang berada di dalam tasnya itu dan mengernyitkan dahi melihat nomor baru yang sepertinya sudah berulang kali menghubunginya malam itu, terlihat dari panggilan tak terjawab dari satu nomor yang sama.
Penasaran, Kiara mencoba menjawabnya. “Halo, maaf Saya berbicara dengan siapa ya?”
“Syukurlah, akhirnya Kamu mengangkat panggilan telepon dariku.” Ucap suara di seberang sana menjawab sapaannya. “Aku sudah menepati janjiku padamu.”
“Hah! Janji apa?”
“Cepat sembuh,” imbuhnya lagi.
“Halo, ini siapa sih. Janji apa coba?” Kiara mengulang pertanyaannya, namun lelaki di seberang sana sudah memutus sambungan teleponnya.
“Siapa yang telpon, Ra?” tanya Wina.
“Dih, gak jelas!” rutuk Kiara. “Gak tau siapa, janji apa coba kenal juga enggak.”
Saat tiba di rumahnya, dilihatnya mobilnya sudah berada di dalam garasi rumahnya. Entah sejak kapan, matanya lalu memindai sekelilingnya mencari sesosok bayangan di baliknya.
“Apa jangan-jangan dia yang barusan telpon tadi?” gumam Kiara, lalu melihat kembali ponselnya.
Dengan cepat Kiara mengirim pesan singkat, “Terima kasih sudah mengantar mobilku sesuai janji Bapak sore tadi.”
Ting! Mata Kiara membulat sempurna saat mendapat balasan cepat.
“Sama-sama.”
Tidak salah lagi, memang dia orangnya. Dan Kiara langsung mengetikkan nama kontak ‘Om Doger’ pada nomor baru El di ponselnya.
••••••••