
Kiara yang takut cedera di kaki Rio bertambah parah setelah terjatuh di pertandingan bola sore itu, langsung membawa Rio ke rumah sakit.
Pergelangan kaki putranya itu membengkak, dan Rio terlihat meringis kesakitan saat berjalan.
Beruntung setelah diperiksa dokter, tak ada cedera serius yang dialami Rio seperti kekhawatiran Kiara. Kaki Rio hanya terkilir biasa akibat bersentuhan keras dengan kaki pemain lawan.
Namun tetap saja hal itu membuat sedih Rio, akibat cedera kakinya dokter melarangnya untuk bermain bola selama satu minggu ke depan hingga kakinya pulih kembali. Akibatnya, Rio tidak bisa tampil membela tim sekolahnya dalam laga final yang akan berlangsung dua hari ke depan.
Sejak pulang dari berobat itulah, Rio terlihat murung tidak seperti biasanya. Sepanjang hari itu Rio lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di balkon atas kamarnya, tidak mau makan apalagi minum obatnya.
Bahkan telepon dari papanya yang biasanya selalu ditunggunya tidak membuatnya kembali ceria. Ucapan Ed yang mengatakan akan pulang lebih cepat Minggu depan pun hanya ditanggapinya dengan anggukan pelan saja.
“Kenapa manyun gitu mukanya, jadi ilang kan gantengnya.” Ed menggoda Rio, berusaha membujuk bocah lelaki itu setelah mendengar semua cerita Kiara.
“Biarin!” jawab Rio mencebikkan bibirnya.
“Dih! Jadi nambah 5 senti dong manyunnya,” goda Ed membuat Rio merengut mengerucutkan bibirnya.
“Papa gak asyik!” balas Rio, melengos menatap ke arah lain.
“Siapa bilang Papa gak asyik? Papa asyik-asyik aja kok di sini,” balas Ed lagi.
“Papa ih!”
“Hei jagoan! Coba lihat Papa punya sesuatu buat Iyo,” ujar Ed lalu memperlihatkan jersey pemain bernomor punggung 7 idola Rio lengkap dengan tanda tangan di bagian dadanya.
“Coba dilihat sayang, Mama yakin Iyo pasti suka. Keren ih!” timpal Kiara yang sedari tadi duduk menemani Rio sambil berusaha membujuk putranya itu untuk makan dan minum obatnya.
Rio menoleh, memperhatikan benda di tangan Ed. Sedetik kemudian senyum di bibirnya mengembang dan matanya berbinar ceria. “Iyo mauu!” serunya kemudian sambil mengulurkan tangannya.
Ed terkekeh melihatnya, “Iyo mau? Nanti Papa bawakan buat Iyo lengkap sama sepatu bolanya.”
“Beneran ya, Pa.”
Ed mengangguk cepat, “Kalau begitu Iyo harus nurut apa kata Mama. Sekarang Iyo makan terus minum obatnya, biar lekas sembuh.”
“Oke Pa! Iyo mau makan sekarang,” ucapnya kemudian. “Ma, Iyo mau ayam gorengnya!”
“Yes i am!” sahut Kiara cepat, lalu mengambil makanan yang sudah disiapkannya sejak tadi di dalam kamar Rio dan menaruhnya di atas meja kecil di hadapan Rio.
Ed mengedipkan matanya, “Gitu dong, ya udah Papa tutup dulu teleponnya. Ada meeting siang ini, bye sayang.”
“Terima kasih ya, Mas.” Kiara berbisik tanpa suara, tersenyum tulus menatap lelaki yang berada jauh di seberang benua sana.
Kiara menutup teleponnya, menarik napas lega melihat Rio yang mulai menyantap makanannya.
Baru beberapa suapan, Rio menghentikan acara makannya. “Tapi tetap aja Iyo besok gak bisa main bola,” ucapnya sedih, menatap kakinya yang dibalut perban.
“Tapi anak Mama masih bisa hadir di sana, kasih semangat buat teman-teman.”
“Tapi siapa yang antar Iyo ke sana? Mama kan harus ke luar kota bareng tante Wina,” ujar Rio mengingatkan Kiara.
Astaga!
Hampir saja Kiara lupa dengan janjinya pada Wina yang sudah sepakat akan menemaninya melihat rumah yang akan dibelinya di luar kota yang berjarak dua jam perjalanan dari tempat tinggalnya kini.
“Aduh, gimana ya. Hampir saja Mama lupa? Apa sebaiknya Mama telpon tante Wina aja kali ya, minta diundur aja jalan ke sananya.”
“Jangan, Ma. Kasihan tante Wina kalau harus ditunda lagi, ntar malah gak jadi beli rumahnya.”
Kiara menghela napas, “Terus Iyo sama siapa?”
“Bentar deh, Kasih waktu lima menit buat Iyo mikir dulu.”
Kiara mengulum senyum melihat Rio yang mengangguk-anggukkan kepala sambil mengetukkan jarinya di atas meja.
Sementara itu, di bawah sana tepatnya di seberang rumah Kiara terlihat kesibukan. Tampak mobil pengangkut barang berhenti di sana dan bersiap menurunkan barang-barang bawaannya.
Seseorang turun dari sebuah mobil yang berada persis di belakangnya, memakai jean yang sobek di bagian lututnya dan kaos navy lengan panjang tengah berjalan membuka pintu pagar rumah yang terkunci.
“Aha! Iyo punya solusinya,” ujar Iyo tersenyum cerah, bangkit berdiri menuju pagar balkon rumahnya.
Belum sempat Kiara bertanya, didengarnya Rio berteriak memanggil seseorang di bawah sana.
“Om Doger! Ngapain di sana, Om pindah rumah ya? Wah, tetanggaan dong kita!”
Lelaki di bawah sana mendongak, mengangkat wajahnya tersenyum lebar menatap ke arah Rio yang melambaikan tangan padanya lalu balas mengangkat kedua ibu jarinya.
“Om Doger!” gumam Kiara mendengar ucapan Rio barusan.
Kiara tersentak, lalu bergegas mendekat. Matanya membulat sempurna melihat pemandangan di bawahnya. Apa lelaki itu solusi yang disebutkan Rio tadi?
••••••••