You are the Reason

You are the Reason
Bab 64. Malu



Kiara tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga nyaris tak mengucap sepatah kata pun dalam perjalanan ke luar kota bersama Wina kali ini. Teringat bagaimana perhatian dan sikap manis yang ditunjukkan El pada Rio tadi pagi, dan hal itu mengganggunya.


Matanya dipejamkan saat gelombang rasa perih kembali menghunjam dadanya. El sudah mengingat masa lalunya dan Kiara tidak bisa menghalangi waktu lagi di mana El akhirnya bertemu juga dengan Rio putranya.


Wina yang berada di sampingnya merasa aneh dan tidak nyaman dengan suasana itu, ditambah lagi baru setengah perjalanan hujan turun cukup deras.


“Pelan-pelan saja nyetirnya, Pak. Nanti kalau kelihatan ada rumah makan di sebelah kiri jalan dekat Pal lima puluh kita mampir dulu, ya Pak. Istirahat makan bentar,” pinta Wina pada sopirnya.


“Baik Non.”


Untung saja Wina tidak menyetir mobilnya sendiri dalam cuaca hujan seperti ini, ada pak Yanto sopir pribadi keluarganya yang bersedia meluangkan waktu di hari libur kerjanya untuk mengantar mereka berdua.


Tentu saja dengan imbalan yang sepantasnya yang Wina berikan padanya tanpa mengurangi rasa hormatnya pada lelaki paruh baya yang sudah lama bekerja pada keluarganya itu.


Jadi Wina bebas untuk mengekspresikan kekesalannya pada Kiara yang lebih banyak melamun ketimbang menikmati perjalanan bersamanya.


“Ra!” panggil Wina pelan, namun tidak mendapat respons.


Ia lalu memiringkan tubuh melipat satu paha menghadap pada Kiara dengan ujung jari terangkat hampir menyentuh wajah sahabatnya itu.


“Hmm!” Kiara menoleh, masih dengan mata terpejam.


“Ish, nyebelin ih. Diem mulu dari tadi, bosan tau!” Wina menarik tangannya, lalu duduk kembali dengan melipat kedua tangan di dada.


Kiara membuka matanya sambil mengesah pelan, “Apa kita sudah sampai, Win?” gumamnya lalu duduk tegak menatap jalanan di sampingnya dari balik kaca mobil yang terlihat berembun terkena air hujan yang baru saja turun.


“Kok hujan, Win. Barusan berangkat tadi cerah,” ucap Kiara mengusap kaca mobil dengan jarinya.


“Masih setengah perjalanan, makanya jangan tidur terus! Hujan kan,” sahut Wina memasang muka masam.


Kiara terkekeh, “Apa hubungannya hujan sama Aku yang tidur di mobil?”


“Ada lah! Kamunya tidur terus makanya turun hujan.”


“Adem Wina, makanya jadi ngantuk. Bawaannya pengen moyoy,” sahut Kiara lalu menggeser tubuhnya memeluk bahu Wina. “Neng Wina jangan ngambek atuh, Neng.”


Kiara mendekatkan wajahnya, memasang senyum semanis mungkin sambil mengedipkan mata yang berhasil membuat Wina tertawa.


“Non, pal lima puluh ya?” sela pak Yanto saat mobil yang dibawanya mendekati arah yang diminta Wina berhenti untuk beristirahat makan sejenak.


“Oke Pak,” sahut Wina kemudian.


Pak Yanto memarkir kendaraannya di depan pintu masuk yang terlihat masih kosong, dan memilih untuk tetap berada di mobil. Sementara kedua orang wanita di belakangnya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah makan.


“Kenapa gak pesan coklat hangat kesukaanmu, cuaca dingin begini malah minum es krim?” tanya Wina sambil melahap makanan pesanannya.


“Lagi pengen aja, jadi ingat Iyo. Dia kan paling suka sama yang satu ini,” cetus Kiara melupakan sejenak beban di hati dan bersiap menyantap es krim pilihannya.


Rasa manis dan dingin itu meluncur masuk dalam mulutnya, senang rasanya bisa menikmati sesuatu yang mengasyikkan dalam hidupnya seperti saat ini. Hal sederhana namun bisa membuatnya rileks dan nyaman.


“Hem, nikmatnya.” Kiara memejamkan mata seraya mengangkat kedua bahunya, seolah merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Wina tertawa keras melihatnya, apalagi saat Kiara men de sah sambil berkata, “Aahh.”


“Hahaha.” Wina mencolek es krim yang tersisa di sudut bibir Kiara lalu mengoleskannya di hidungnya.


Kiara membuka matanya, menghindar dengan menjauhkan wajahnya sambil ikutan tertawa.


Namun tawanya lenyap seketika saat pandangan matanya bertemu dan terpaku dengan sepasang mata coklat milik seorang lelaki tampan yang sedang berdiri di ambang pintu menatapnya sambil tersenyum lebar.


“Astaga, malunya!” Kiara buru-buru memalingkan muka dengan wajah memerah.


Dari ekspresi wajahnya, Kiara bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya lelaki itu. Ia pasti melihat bagaimana Kiara men de sah dan menilik senyumnya, lelaki itu menikmati setiap tingkah laku Kiara.


“Hei, ada apa?” Wina menghentikan tawanya, terkejut melihat perubahan wajah Kiara dan langsung menoleh ke belakang mencari sumber masalahnya dan detik berikutnya ia memekik girang saat mengetahui lelaki yang berjalan mendekati meja mereka adalah Gafhi sang pemilik rumah yang hendak dibelinya.


“Mas Gafhi, kebetulan sekali kita bisa jumpa di sini.” Wina berdiri menyambut dengan mengulurkan tangan lalu mengajak lelaki itu untuk bergabung bersama mereka. “Sepertinya hari ini hari keberuntungan buat Saya karena bisa bertemu Mas Gafhi di tempat ini.”


Gafhi tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya yang putih tertata rapi, “Sepertinya begitu, tapi sebaiknya Saya kembali ke meja Saya sendiri. Saya tidak ingin mengganggu acara kalian berdua di sini,” tolaknya halus.


“Yah, Mas Gafhi.” Wina terlihat kecewa, “Kalau gitu kita ketemu di lokasi saja ya, Mas.”


“Siap!” sahut Gafhi kembali tersenyum sambil mengangkat ibu jarinya, menatap Kiara dan menganggukkan kepalanya lalu berjalan kembali ke mejanya yang berada di belakang mereka.


“Jadi dia pemilik rumah yang mau Kamu beli itu, Win?” tanya Kiara sambil melirik ke belakang.


“Iya, ganteng ya.”


“Ish, Kamu mau beli rumah apa mau cari jodoh?”


“Kalau bisa dapat dua-duanya, kenapa enggak.” Jawab Wina enteng, terkekeh geli.


Astaga, untuk yang kedua kalinya Kiara menoleh pada meja di belakang mereka dan langsung berpaling cepat seraya menegakkan tubuhnya saat mengetahui lelaki itu tengah menatap ke arahnya.


••••••••