
Kantor itu terasa berbeda ketika Kiara datang ke sana, tidak seperti biasanya. Tidak tampak kesibukan yang berarti pagi ini, rekan kerjanya yang lain masih asyik saling bercerita tentang liburan akhir pekan mereka masing-masing.
Kiara yang datang menenteng kotak makanan berisi nasi goreng plus dadar telur favoritnya, berniat sarapan pagi bersama Wina. Namun sahabatnya itu sepertinya belum datang.
Baru saja Kiara sampai dan menaruh tasnya di meja, telepon di mejanya itu berbunyi. Masih dengan tangan memegang kotak makannya, Kiara bergegas mengangkatnya.
“Kiara, Kamu bisa bantu Saya pesankan makanan pagi ini?”
“Maksud Bapak, makanan buat sarapan pagi?” Kiara balik bertanya. “Memang Bapak belum sarapan?”
“Belum, gak sempat. Gak tahu kenapa pagi ini Saya kok pengen makan dadar telur.”
Kiara mengerutkan alisnya, “Beneran pengen atau modus doang ya, tapi sepertinya dia bisa mengendus bau makanan yang aku bawa. Bisa kebetulan gitu,” gumam Kiara dalam hati.
“Ehm, sebentar Pak!” Kiara menatap kotak makanan di tangannya, tampak berpikir sejenak. “Saya ke ruangan Bapak sekarang!”
“Untung aja belum bilang sama Wina, kalau itu anak tahu bisa panjang urusannya.”
Kiara bergegas ke ruangan El, mengetuk pintunya perlahan lalu melangkah masuk ke dalam.
“Ini makanan pesanan Bapak. Semoga sesuai dengan keinginan Bapak,” ucap Kiara lalu menaruh kotak makanan di atas meja kerja El.
El tertegun, lalu menatap Kiara. “Bukannya Aku barusan ya bilangnya sama Kamu, kok bisa langsung ada gini? Belum juga sepuluh menit,” ucap El menunjuk arloji di tangannya.
Kiara tersenyum tipis, “Ya bisa saja, gak ada yang gak mungkin terjadi. Anggap saja hari ini Bapak lagi mujur, baru pesan langsung datang.”
“Gitu?” El mengerutkan kening, heran menatap Kiara lalu beralih menatap kotak makanan di depannya. “Kok bisa ya?”
El lalu membukanya, sudut bibirnya melengkung melihat isi di dalamnya. “Telur dadar,” ucapnya perlahan lalu menoleh pada Kiara.
“Terima kasih.”
Kiara mengangguk, tersenyum kembali. “Sama-sama, Pak. Kalau begitu Saya pamit kembali ke meja Saya lagi,” ucapnya kemudian lalu balik badan meninggalkan ruangan El.
“Kiara!” seru El lagi. “Terima kasih ya.”
Kiara menghentikan langkahnya, masih dengan senyum di bibir siap berbalik menghadap El. Namun senyumnya menghilang saat matanya menangkap bayangan tubuh tegap seseorang yang berjalan cepat ke arahnya.
“Kiara, ada apa?” tanya El melihat wanita itu masih berdiri kaku di muka pintu.
Kiara berbalik cepat, lalu menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa, Pak. Sepertinya Bapak kedatangan tamu pagi ini. Kalau begitu Saya permisi dulu. Selamat menikmati makanannya,” jawab Kiara, lalu bergegas meninggalkan ruangan El diiringi tatapan tajam lelaki yang berpapasan dengannya.
“Tamu? Bukannya hari ini tidak ada pertemuan pagi dengan klien. Kenapa Seno tidak segera memberitahuku soal ini? Ke mana lagi sih itu orang! Apa jangan-jangan memang ada perubahan jadwal,” gumam El menatap keluar pintu.
“Ekhem!”
“Hei Yud, Kamu rupanya yang datang. Aku kira tamu siapa, ayo masuk. Bagaimana ...”
Kiara menghentikan langkahnya sejenak, masih sempat didengarnya El menyapa tamunya ramah. Menyebut namanya dan memintanya segera masuk sebelum lelaki itu menutup kembali pintu di belakangnya.
“Bukannya El sudah bisa mengingat semuanya, dan dia tahu bagaimana sikap Yuda pada kami sebelumnya. Tapi kenapa dia masih bisa bersikap seramah itu padanya?” pikir Kiara dalam hati.
“Dan kenapa laki-laki itu tiba-tiba muncul kembali di sini, apa dia sedang memata-matai kami. Apa tuan Bian sudah tahu kalau aku bekerja di perusahaannya?”
Berbagai pertanyaan kini berkecamuk dalam kepalanya, ini kali kedua mereka bertemu tanpa sengaja dan hal itu membuat Kiara gelisah.
Ketenangannya tiba-tiba terusik, selama ini ia juga tidak menyangka kalau perusahaan tempatnya bekerja kini adalah salah satu anak cabang perusahaan Abian Grup milik Bian Abiputra papa El.
Sementara di dalam ruang kerja El, kedua laki-laki itu tengah menyantap sarapan paginya.
“Aku seperti merasakan sesuatu, seolah lidahku terbiasa menyantap makanan ini. Padahal ini pertama kalinya Aku makan masakan Kiara,” ucap El tersenyum menunjuk makanan di depannya.
Yuda mengusap bibirnya dengan tisu, sejenak menatap wajah El. Lelaki di hadapannya itu tersenyum lebar dan sikapnya kini jauh lebih hangat dari biasanya.
“Maksud Tuan, wanita tadi yang memberikan kotak makanan ini pada Tuan?” tanya Yuda pelan.
El mengangkat wajahnya, tersenyum balas menatap Yuda. “Iya, dan Aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda saat melihatnya. Ish, Aku bahkan sudah mulai tidak waras. Bisa-bisanya memikirkan istri orang lain,” ucap El tertawa hambar.
“Uhuk!” Yuda tersedak makanannya, dengan cepat menyambar botol air minum di depannya dan langsung menegaknya. Seketika itu juga Yuda menyudahi makannya dan langsung menutup kotak makannya.
Jadi benar dugaannya tadi, wanita itu adalah mantan istri tuan mudanya. Hampir saja ia tidak mengenalinya setelah sekian lama, karena wanita itu telah banyak berubah. Dan sepertinya sampai detik ini El masih belum bisa mengingat hal itu.
“Hei, jangan bereaksi seperti itu. Ya Aku tahu itu salah. Tapi Aku tidak bisa menahannya, Yud. Asal Kamu tahu, saat Aku melihatnya Aku merasakan perasaan sedih, terluka, dan rasa yang tidak dapat Aku ungkapkan dengan kata-kata. Apalagi saat tahu ia memiliki seorang putra yang begitu menyayanginya,” ucap El melihat reaksi Yuda, setengah mati ia berusaha bersikap seperti biasa seolah ia masih amnesia agar Yuda tidak menyadarinya.
“Hmm, jadi wanita itu juga sudah menikah lagi dan sekarang sudah memiliki anak.” Yuda bergumam dalam hati.
“Tuan, kedatangan Saya kali ini bukan hanya menyampaikan kabar dari Tuan besar saja. Tapi juga ada hal penting lain yang harus Tuan tahu, dan hal ini berkaitan dengan nyonya.”
Keduanya kini sudah duduk di sofa, Yuda mengeluarkan amplop yang dibawanya dan memberikannya pada El.
“Apa ini?” tanya El.
“Tuan bisa melihatnya sendiri isinya,” sahut Yuda.
El membukanya perlahan, mengeluarkan isinya lalu menaruhnya di atas meja. Keningnya berkerut makin dalam saat melihat gambar yang terpampang di hadapannya.
••••••••