You are the Reason

You are the Reason
Chap 18 – Trik Rahasia



Bima mendribble bola basket itu beberapa kali sebelum akhirnya ia lemparkan pada Bintang yang kini tengah menunggu bola operan darinya.


"Tangkap, Bin!"


Hup!


Dengan gesit Bintang mulai berlari, mencoba menghalangi beberapa lawan yang menginginkan bola itu bagaikan predator menginginkan mangsanya.


Namun, seketika gerakannya terhenti saat bola matanya menangkap dua manusia yang sangat familiar sedang berjalan beriringan sambil sesekali tertawa menuju area parkiran sekolahnya.


Jarang sekali Bintang melihat Kakaknya itu berjalan bersama seorang gadis seperti itu. Ya, Lintang tengah berjalan dengan Ailen dan mereka menuju tempat dimana parkiran mobil berada.


Bintang nampak terkejut, saat seseorang membuyarkan lamunannya dengan cara mengambil bola yang kini berada digengganmannya. Namun, sebelum ia benar-benar mengejar lawan mainnya. Bintang sempat menatap ke arah semula, dan terkekeh kecil dibuatnya.


"Jadi, tipe lo gadis pelayan seperti itu kah?" ucap Bintang sambil tersenyum miring.


***


Ailen menatap ke arah sekitar dengan mata yang tak berkedip, bahkan mulutnya kini sempurna membentuk huruf O. Ia tidak menyangka masih ada tempat seperti ini dikota Jakarta. Ya, tempat yang indah dimana danau hijau membentang luas dengan taman rumput disampingnya. Bahkan, ada pohon beringin disebelah barat, tepat didepannya ada sebuah tiang dengan ring basket diatasnya. Namun, Ailen tidak menemukan keberadaan bola jingga sebagai pelengkap.


Beberapa anak kecil pun tengah berlarian disekitar taman, juga dengan beberapa orang kasmaran yang sedang berbincang. Momen seperti ini memang sangat tepat, mengingat indahnya sunset dari matahari yang perlahan tenggelam di ujung danau.


Ailen memandang tempat ini dengan takjub, hingga tak menyadari pergelangannya kini ditarik oleh Lintang menyusuri jalan taman hingga tiba di samping danau.


"Duduk," ucap Lintang, melepaskan genggaman tangannya dan mulai mendudukkan dirinya diatas rumput.


Ailen menurut.


"Gimana? Suka tempatnya?"


Ailen mengangguk. "Banget! Sejak kapan kamu tau tempat kayak gini?"


"Udah dari kecil sih. Dulu, gue sering mampir kesini bareng sama Bintang, yah sekedar main basket disana" kata Lintang antusias sambil menunjuk Lapangan basket kecil itu dengan dagu.


"Oh ya? Kalian masih sering kesini?"


Senyum di bibir Lintang perlahan memudar, pandangannya beralih ke depan menatap luasnya danau. Lintang menggeleng pelan.


"Gue bahkan lupa, kapan terakhir kali gue dateng kesini bareng dia."


Ailen yang mendengar itu, mendadak bungkam. Sepertinya ini bukan topik yang tepat untuk dibicarakan disaat seperti ini.


"Umm, terus Lintang sendiri masih sering kesini?" tanya Ailen, lebih tepatnya meralat pertanyaan sebelumnya.


"Gue kesini kadang kalo ada masalah aja sih, Len. Maka dari itu gue ngajak lo kesini, karena gue punya suatu trik rahasia."


"Trik rahasia? Apaan?"


Lintang tidak menjawab pertanyaan Ailen barusan. Cowok itu mengalihkan pandangannya ke bawah, mencari sesuatu disana. Lintang tersenyum tipis saat menemukan beberapa batu kecil, ia mengambil kerikil tersebut. Setelah menimang-nimang kerikil itu perlahan, Lintang pun melempar batu tersebut dengan sekuat tenaga dan..


Plup.


"Ini trik rahasianya,"


"Melempar batu?"


Lintang mengangguk, dan mengarahkan beberapa batu kerikil kepada Ailen.


Ailen pun mencoba menirukan apa yang Lintang lakukan barusan, satu dua batu dilempar Ailen dengan kuat, hingga batu ketiga barulah Ailen merasakan sensasi dari trik Lintang itu. Rasanya menyenangkan, beban dihatinya serasa menghilang, tenggelam bersama dengan batu yang ia lempar.


"Mau mencoba sesuatu yang lain?"


"Apa?"


"Bermain basket."


Dan sore itu, Lintang menghabiskan waktunya bersama dengan Ailen bermain bola basket. Untungnya Lintang selalu membawa bola jingga itu dalam mobilnya.


Awalnya Ailen hanya melihat, namun setelah dibujuk oleh Lintang beberapa kali, Ailen pun akhirnya mencoba memainkan bola jingga itu. Satu dua kali gagal, Lintang dengan sabar mengajari Ailen cara memasukkan bola basket dengan benar.


"Wah, ternyata kamu jago ya main basketnya, kayak Bara."


"Duh, jangan disamain sama ketua basket dong. Gue mah nggak ada apa-apanya."


Kini, mereka tengah beristirahat dibawah pohon beringin, pandangan keduanya masih tertuju ke ujung danau, dimana matahari perlahan mulai tenggelam.


"Tapi serius lho, kenapa Lintang nggak masuk tim basket aja?"


Lintang mengendikkan bahu. "Gue main basket cuma sekedar hobi aja."


"Hobi?"


Lintang mengangguk. "Lagipula, gue nggak boleh sampe terlalu capek."


"Kenapa emangnya?"


"Keringat gue mahal, Len."


Ailen tertawa pelan. "Emm ..., tapi, Lintang mau nggak ngajarin Ailen main basket? Minggu depan aku tes basket soalnya."


"Karena lo yang minta.. gue jawab iya, jarang lho gue ngasih bimbel gratis kayak gini"


Ailen terkekeh. "Serius Lintang?"


"Iya, tapi ada syaratnya."


Ailen menghela gusar. "Kenapa sih cowok suka banget main syarat-syaratan. Nggak Lintang nggak Bara, sama aja. Syaratnya apa emang?"


"Pulang bareng sama gue setiap pulang sekolah, itu aja syaratnya."


***To Be Continue***