
Kiara mengembuskan napas lega mendengar suara pintu yang telah tertutup di belakangnya. Kehadiran Yuda kembali di tempat kerjanya saat ini membuatnya gelisah dan hilang fokus.
“Mbak Kiara.” Yuni menyentuh pelan lengan Kiara, membuat wanita itu menoleh padanya. “Saya harus segera menyerahkan berkas ini ke ruangan pak Is. Jadi biar Saya saja yang membawanya ke sana,” imbuhnya lagi seraya mengambil berkas dari tangan Kiara.
“Eh, maaf. Hampir saja Aku lupa, Yun."
“Sekali lagi Saya minta maaf sudah buat Mbak Kiara luka kayak gini,” ucap Yuni terus mengulang permintaan maafnya.
“It’s oke, Yun. Udah sana, nanti keburu ditunggu pak Is.”
Yuni tersenyum menganggukkan kepala, lalu bergegas ke ruangan pak Is. Begitu pula dengan Kiara yang segera kembali ke ruangannya lagi.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Wina yang heran melihat luka di tubuh Kiara.
“Jatuh gak sengaja nubruk Yuni di lantai atas pas mau balik turun ke sini tadi,” sahut Kiara.
“Sakit gak, nih.” Wina menyentuh lengan Kiara yang terlihat lebam biru.
“Ish, enak Win. Malah nagih pingin jatuh lagi,” ujar Kiara mendelikkan matanya. “Udah tau sakit, pakai nanya lagi. Gak lihat apa lengan biru gini,” desis Kiara lalu berjalan mengambil kotak obat yang tergantung di dinding ruangan.
“Baru juga sembuh Ra, dah sakit lagi. Paling juga jalan sambil melamun makanya nubruk Yuni,” cibir Wina.
Wushh!
Satu gulungan kapas tebal melesat dan hampir mengenai wajah Wina, untung saja ia berhasil menghindar dan langsung terkekeh melihat wajah Kiara yang berubah masam.
“Yang mau sakit terus-terusan itu siapa coba. Gara-gara dia nih Aku jadi jatuh kayak begini,” rutuk Kiara sembari mengoleskan obat merah di lengannya.
“Dih beneran ngelamun aja nih anak. Dia siapa sih, bukannya tadi Kamu bilang tubrukan sama Yuni. Jadi memang benar gara-gara Yuni kan?”
“Bukan Yuni, tapi laki-laki itu!”
“Pak Elvan atau tamunya?”
“Ya tamunya itu, pemicunya kan dia.”
“Dih, mamanya Iyo makin gak jelas. Jatuh gitu doang gak sampai gegar otak kan, Ra. Sampai nyalahin tamunya pak El segala," sahut Wina seraya mendorong bahu Kiara dengan ujung jarinya.
“Winaa!” jerit tertahan Kiara memanggil nama Wina.
“Ya Saiyya!”
“Teman sakit bukannya simpati malah diledekin terus,” rajuk Kiara.
“Kasihan sih sebenarnya.” Wina nyengir. “Sini Aku bantu obati lukanya. Makanya fokus Non, jangan melamun sambil jalan. Nabrak kan, untung orang. Kalau yang ditubruk besi gimana?”
“Besinya bengkok Aku tabrak! Akunya semaput di rumah sakit," sahut Kiara asal.
Wina mengulum senyum mendengarnya, ia lalu mengambil kotak obat dari tangan Kiara. Wanita itu hanya diam dan memejamkan matanya saat Wina menempelkan plester kecil di keningnya.
Waktu berjalan begitu cepat, kesibukan terlihat jelas di meja kerja Kiara. Sedikit kesusahan saat harus menggerakkan tangan kanannya, membawa dan menyerahkan laporan kerja ke bagian lain.
Tapi hal itu tidak menghambat kinerjanya, Kiara tetap semangat meski terkadang wajahnya terlihat meringis menahan nyeri pada siku lengannya.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Kiara lega setelah menuntaskan semua pekerjaannya, lalu mulai membereskan meja kerjanya bersiap untuk pulang.
Kiara tersenyum menanggapinya, “Sekarang waktunya kita pulang!” seru Kiara setelah selesai membereskan barang-barangnya.
Wina lalu bangkit berdiri, mengambil tasnya yang tegantung di belakang kursi berjalan mendekati Kiara. Ia merangkulkan lengannya di pundak Kiara, lalu beriringan berjalan menuju parkiran.
“Win, kayaknya Aku pulang naik angkot aja deh. Coba Kamu lihat tangan Aku, bengkak gini. Makin ngilu, baru terasa sekarang.” Kiara menunjukkan sikunya yang bengkak.
“Kasihan, ya udah mobilmu biar aja parkir di sini. Biar Aku saja yang antar Kamu pulang,” ucap Wina lalu menggamit lengan Kiara.
Ciitt!
Astaga!
Kiara menahan napas seraya memundurkan langkahnya, sementara Wina hanya bisa bengong dengan mulut terbuka menatap sosok yang kini berada di hadapan mereka berdua.
El duduk di motor besarnya, menghadang langkah keduanya. Perlahan ia membuka kaca helmnya, menatap pada Kiara dan luka di lengan juga plester di keningnya.
“Bapak mau ngapain di sini pakai acara ngehadang jalan kita segala?” tanya Kiara.
“Aku lihat lenganmu terluka tadi, jadi biar Aku saja yang akan mengantarmu pulang. Lagi pula rumah kita searah," ucap El, dan tanpa meminta persetujuan Kiara lelaki itu langsung saja mengulurkan helm lain di tangannya pada Kiara.
“Gak, Pak. Saya pulang bareng sama Wina, silah kan kalau Bapak mau pulang duluan." Tolak Kiara. “Win!” Kiara menyenggol kuat lengan Wina.
“Eh!” Wina tersadar dan langsung menutup mulutnya. “Silah kan, Pak. Memang sebaiknya seperti itu, Kiara pulang bersama Bapak. Kan rumah Bapak searah, tinggal nyebrang malah.”
"Lah, kok malah bicara kayak gitu. Maksudmu apa sih, Win. Bukannya tadi kita dah sepakat pulang bareng?" protes Kiara.
Wina bergerak cepat seolah tak mendengar ucapan Kiara. Sebelum ia mendengar lebih banyak lagi protes dari Kiara, Wina mengambil helm dari tangan El lalu memasangkannya di kepala Kiara.
“Untuk kali ini Aku tidak bisa menggendongmu seperti kemarin,” ucap El yang sukses membuat Wina kembali melongo.
“Astaga, omg. Sepertinya banyak berita yang terlewatkan selama mereka bertetangga,” pikir Wina dalam hati.
“Biar Saya pulang bareng Wina saja, Pak. Ya kan Win, tadi kan Kamu dah janji." Kiara melepas helm di kepalanya, dan menyenggol keras lengan sahabatnya itu.
Tapi Wina yang mendapat tatapan tajam dari bosnya itu seolah kode untuknya, langsung bereaksi cepat dengan menahan tangan Kiara dan memasangkan kembali helmnya. Tangannya mendorong bahu Kiara dan menyuruhnya untuk duduk di boncengan El.
“Wina!” Kiara menepis tangan Wina, namun jarak terlalu dekat dan tiba-tiba saja ia sudah duduk di atas motor El yang langsung menghidupkan kembali mesin motornya.
“Aku hampir lupa Ra, kalau sore ini Aku harus ke rumah tanteku buat ambil pesanan kue mamaku.” Wina lalu meminta maaf pada Kiara. “Aku gak mau tau, pokoknya Kamu harus cerita semuanya nanti malam. Semuanya!” bisiknya di telinga Kiara.
“Aku mau turun!” Kiara bersiap menurunkan satu kakinya, tapi El yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya langsung menaikkan gas motornya hingga wanita itu membatalkan niatnya.
“Pegangan yang kuat, Kia!” ucap El sebelum melajukan motornya. “Duluan ya Win,” imbuhnya lagi lalu menutup kaca helmnya.
“Hati-hati, Pak. Pegangan yang kenceng, Ra!”
Kiara mendelik sebal, menatap horor pada Wina. “Lihat saja pembalasanku nanti,” desisnya benar-benar kesal.
Dilihatnya Wina terkekeh sambil mengacungkan ibu jarinya ke udara. Untuk yang kedua kalinya, Kiara tidak mampu lagi menolak tawaran El untuk pulang bersamanya.
••••••••