You are the Reason

You are the Reason
Bab 50. Tugas dadakan



Beberapa saat setelah keduanya menyelesaikan makan siang di kantin, Raisha menolak beristirahat di apartemen El dan memilih untuk menemani suaminya itu bekerja di ruangannya.


Saat melewati meja kerja Kiara, El menghentikan langkahnya sejenak. Menoleh mencari keberadaan wanita itu yang tidak ada di tempatnya saat jam kerja berlangsung. Hanya ada Wina dan rekannya yang lain di sana, yang menundukkan sedikit tubuhnya saat bertemu pandang dengannya.


“Ish, ngilang lagi ini orang.” El bergumam lalu melirik arloji di tangannya. “Ehm, Kamu yang bernama Wina kan?”


“Saya, Pak.”


“Tolong dengarkan baik-baik ucapan Saya, siapkan segera semua laporan kegiatan perusahaan selama tiga bulan terakhir. Masing-masing divisi tidak terkecuali. Dua jam dari sekarang semua sudah harus ada di meja Saya. Paham?” ucap El sembari mengedarkan pandangannya, memandang satu persatu anak buahnya yang berada di ruangan itu.


“Paham Pak,” jawab mereka serempak.


“Silah kan lanjutkan pekerjaan kalian. Ingat! Gunakan waktu kerja kalian sebaik mungkin, jangan sampai ada laporan yang masuk ke meja Saya karena salah satu dari kalian bermain-main dengan jam kerja di kantor ini. Paham nona Wina?”


“Paham, Pak.”


“Dan satu lagi, jangan lupa tolong sampaikan juga pesan Saya tadi pada rekan kerja Kamu yang suka sekali meninggalkan mejanya kosong di jam kerja sedang berlangsung!”


“Siap, Pak.”


“Good!”


Raisha yang bergelayut manja di lengan El tersenyum menatap Wina yang menundukkan kepala, ia tidak pernah menyangka kalau El yang biasanya selalu bersikap hangat pada orang di sekitarnya bisa bicara setegas itu pada karyawannya.


“Bye, Wina. Semangat kerjanya ya,” ucapnya seraya melambaikan tangan sebelum berlalu bersama El meninggalkan Wina yang masih terpaku di tempatnya berdiri saat itu.


Hufhh, Wina mengusap dadanya perlahan sambil mengembuskan napas panjang. “Katanya baik banget, hangat, beda sama pak Is. Ternyata sama saja, malah galakan yang barusan lagi.”


Wina lalu bergegas menyampaikan tugas dari El pada masing-masing ketua divisi, dan segera menghubungi Kiara yang masih berada di luar kantor membeli obat di apotek terdekat.


“Ra, buruan balik ke kantor. Ada tugas dadakan dari bos. Ish, dia lihat mejamu kosong langsung naik darah tau!”


“Iya, bentar. Lima menit lagi nyampe, udah di depan kok.”


“Oke.” Wina menarik napas lega, lalu segera kembali ke mejanya dan bergegas mengumpulkan berkas data tugas kantornya yang harus sudah ada di meja bosnya dua jam dari sekarang.


“Win, tugas apaan sih?” Kiara yang baru saja datang langsung melotot melihat tumpukan berkas di atas meja kerjanya.


“Bos minta laporan kegiatan perusahaan tiga bulan terakhir, itu sudah Aku siapin semua tinggal Kamu atur tanggal dan urutannya aja. Biar Aku kerjakan yang lain,” sahut Wina tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar monitor di depannya.


“Siap, laksanakan!”


Wina tersenyum mendengarnya, “Fighting, Kia Rara!”


“Semangat, Win Win.”


Keduanya tertawa lalu mulai fokus pada lembar data di hadapannya, hingga satu jam kemudian data itu sudah beres dan siap berpindah tempat ke meja bosnya.


Sementara itu di ruang kerja El, Raisha duduk bertopang dagu sembari memainkan ponselnya. Sedari tadi ia menunggu El selesai dengan pekerjaannya. Tapi makin sore bukannya cepat selesai, lelaki itu malah makin terlihat sibuk. Sementara ia sudah mulai bosan dan tidak betah hanya duduk diam menunggu saja sejak tadi.


Beberapa kali dilihatnya karyawan El dari masing-masing divisi keluar masuk ruangan menyampaikan berkas laporan seperti yang diminta El pada Wina.


“Sayang,” panggilnya pada El, ia sudah tidak dapat menahan diri lagi. Beranjak dari tempat duduknya dan bergegas mendekati El di mejanya.


“Hmm,” sahut El tanpa mengalihkan wajahnya dari berkas di hadapannya.


Raisha berjalan memutar, lalu berdiri tepat di belakang El tersenyum menatap pundak lebar El yang di balut kemeja putih lengan panjang yang dilipat hingga siku.


“Kamu kan tau kerjaan Aku banyak, itu saja belum tentu bisa selesai hari ini.” El membalas ucapan Raisha sambil terus membolak-balik file di tangannya.


“Kalau semuanya Kamu yang kerjakan, kapan waktumu buat Aku. Terus asistenmu Seno kerjanya apa, dari tadi gak kelihatan?”


“Seno Aku suruh buat kerjain tugas yang lainnya. Memang Kamu ada perlu apa nanya Seno?”


“Ya tumben aja gak kelihatan. Biasanya itu orang selalu nempel dekat Kamu. Udah kayak perangko,” desis Raisha di dekat telinga El.


“Ish, geli tau!” El mengusap kasar telinganya, embusan napas Raisha membuatnya bergidik tak suka.


Raisha terkekeh melihat telinga El yang memerah, “Heran, masa digituin aja geli.”


El menghela napas, ia enggan menanggapi ucapan Raisha yang pada akhirnya nanti bisa berujung pada pertengkaran.


“Mending Kamu balik duduk di sofa itu lagi, dari pada mutar-muter gak jelas di belakang Aku!” ucap El lagi, lalu kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


“Apa kedatanganku kali ini mengganggu waktu kerjamu lagi, apa kehadiranku di dekatmu tidak berarti sama sekali buatmu. Sampai-sampai Kamu tidak peduli denganku. Sepertinya kertas-kertas di depanmu itu lebih berharga dari pada istrimu sendiri!” rajuk Raisha dengan wajah cemberut.


Kesal sedari tadi hanya duduk diam menunggu, Raisha lalu duduk di atas meja tepat di sisi kanan El. Dengan gerakan lembut ujung jarinya menyentuh kepala El, menyibak rambut yang menjuntai di kening suaminya itu.


Ia suka sekali melihat rambut ikal bergelombang milik El yang kini dipotong pendek dan tertata rapi, meski sebenarnya ia lebih suka melihat rambut panjang sebahunya dulu yang selalu diikat ke belakang.


Astaga!


El menoleh sekilas pada Raisha, seraya memundurkan wajahnya hingga jemari wanita itu menggantung di udara.


“Sekarang pun Kamu tidak suka dan selalu menghindar saat Aku menyentuh rambutmu,” ucap Raisha tersenyum kecut sambil menautkan jari ke atas perutnya.


Ya Tuhan ...


El memijit keningnya, untuk sesaat lamanya ia hanya terdiam mendengar ucapan Raisha. Sentuhan lembut tangan Raisha di kepalanya tidak serta-merta membuatnya tersentuh atau bahkan menggetarkan hatinya.


“Kenapa diam? Benar kan sekarang-sekarang ini Kamu tidak suka Aku mendekatimu, Kamu selalu menghindar kalau Aku menyentuhmu. Bukan salahku sepenuhnya kalau sampai detik ini kita belum bisa punya anak,” ucap Raisha lagi.


“Aku ...” suara El tercekat di tenggorokan.


“Aku hanya ingin menjaga perasaanmu di depan orang tuamu, dan berdalih dengan mengatakan kalau Aku ingin menunda kehamilanku.”


Raisha menghela napas sesaat, mengangkat bokongnya menjauh dari meja kerja El sebelum kembali melanjutkan bicaranya. “Bagaimana mau punya baby kalau Kamu saja tidak bisa membuatnya,” dengus Raisha lalu berjalan kembali ke sofa.


Deg!


“Maafkan Aku,” ucap El menatap Raisha dengan sorot mata bersalah.


El sadar sepenuhnya kesalahan bukan pada Raisha, tapi ada pada dirinya. Keinginan memiliki anak begitu besar tapi sepertinya hanya tinggal rencana saja.


Bukan karena alasan Raisha yang ingin menunda kehamilannya , tapi juga karena dirinya yang tidak bisa lagi melakukannya dengan Raisha.


Gairahnya terhadap wanita itu solah ikut mati bersama dengan memorinya yang perlahan akhirnya kembali, dan ia mengetahui alasan di balik perpisahannya dengan Kiara karena campur tangan papanya juga Raisha saat ia mengalami amnesia kehilangan sebagian memorinya saat kecelakaan itu terjadi.


••••••••