You are the Reason

You are the Reason
Bab 76. Rio demam



Hari berlalu begitu cepat, hubungan Kiara dan El semakin membaik seiring dengan bertambah dekatnya hubungan Rio dengan papa kandungnya itu.


Demikian pula dengan hubungan Kiara dan Ed setelah wanita itu akhirnya membuka hatinya untuk menerima Ed dan berencana dalam waktu dekat akan bertunangan terlebih dahulu sebelum akhirnya memenuhi lamaran Ed untuk mau menikah dengannya.


Lain halnya dengan kisah rumah tangga yang dijalani El dan Raisha yang berujung pada perpisahan. Untuk kedua kalinya dalam hidup El ia menjalani persidangan. Kali ini ia sendiri yang memutuskan tanpa campur tangan papanya.


Bila dulu ia melakukannya pada Kiara saat dirinya mengalami amnesia, kini ia melakukannya pada Raisha yang pada akhirnya harus mau menerima keputusan El untuk berpisah setelah bukti kuat perselingkuhannya berhasil diungkap El.


Saat ini yang ada dalam pikiran El hanya keinginan untuk menebus kesalahan di masa lalunya pada Kiara dan putranya, dengan terus menyayangi dan menjaga mereka meski dari jarak jauh.


El sudah memenuhi janjinya, memberikan miliknya yang terbaik untuk membalas semua kebaikan sahabatnya Ed atas apa yang telah dilakukannya selama ini pada Kiara juga Rio.


Meski sebagian hatinya masih berharap bisa kembali bersama dengan Kiara, tapi sebagian hatinya lega bila melihat kebahagiaan yang kini dirasakan Ed dan Kiara. El tahu benar, Ed sangat menyayangi Rio seperti anak kandungnya sendiri, bahkan sedari kecil Rio sudah bersama dengannya.


Sekarang yang bisa dilakukan El sebelum ia kembali ke kotanya adalah terus berusaha dekat dengan Rio, putranya. Setiap hari selalu El sempatkan untuk bisa bersama Rio, terkadang Kiara pun harus mengiyakan keinginan anaknya itu untuk bermalam dan tidur bersama El.


Semua atas kesepakatan antara Kiara dan El, juga Rio yang dengan tangan terbuka menerima kehadiran El sebagai papa kandungnya. “Sekarang Iyo punya dua orang papa,” ucapnya saat Rio mengetahui kebenaran tentang siapa papa kandungnya.


Berkat kepiawaian Ed mengajak Rio untuk berbicara dengan menceritakan semua tentang siapa papa kandungnya yang sebenarnya hingga Rio bisa menerima El dengan baik, membuat Kiara tak henti bersyukur mengenal lelaki berhati luas itu dalam hidupnya.


•••••


Hari ini Kiara tidak masuk kantor, setelah hampir semalaman ia tidak dapat beristirahat dan memejamkan matanya karena Rio yang tiba-tiba saja mengalami demam tinggi.


Hujan deras yang turun sepanjang pagi hingga menjelang sore hari itu menyadarkan Kiara saat mengingat siang hari kemarin Rio pulang dengan tubuh basah kuyup kehujanan.


Kaos olahraga yang dikenakannya kotor penuh dengan noda lumpur, sementara sepatu olahraga yang ditentengnya juga tidak kalah kotornya.


“Iyo itu main bola di lapangan apa di kubangan lumpur, kenapa semua pada kotor seperti ini?” tegur Kiara yang kala itu baru pulang dari bekerja kaget melihat penampilan putranya.


Bukan hari ini saja Rio main bola sambil berhujan-hujan ria, tapi tidak kali ini yang pulang dengan pakaian kotor penuh lumpur.


“Di lapangan dekat pemotongan sapi, Ma.”


“Kalau tahu cuaca lagi hujan kenapa masih diteruskan mainnya di sana, coba lihat bajunya sampai penuh lumpur begini!” ujar Kiara seraya membantu membuka baju Rio dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Kiara terus menyiram baju kotor Rio, membersihkan lumpur yang melekat di sana. Sementara Rio meneruskan untuk mandi dan membersihkan diri di dekatnya.


Entah karena merasa bersalah dan takut membuat marah mamanya, Rio enggan meminta diberi air panas seperti biasanya bila habis bermain hujan. Akibatnya Rio menggigil kedinginan dan malam itu mulai bersin-bersin, dan saat menjelang tidur tubuhnya mengalami demam.


El yang kala itu sedang bersantai di balkon atas kamarnya, heran melihat dokter Rendra yang datang ke rumah Kiara. Seingatnya di kantor tadi, wanita itu baik-baik saja. Lalu siapa yang sedang sakit?


El turun ke lantai bawah, bertanya pada asisten rumah tangganya yang sedang berada di dapur menyiapkan makan malam untuknya. “Rio jadi makan malam ke sini gak, Bik?”


“Rio demam?”


“Iya Tuan.”


Tanpa banyak bertanya lagi, El berlari menyeberang ke rumah Kiara. Dilihatnya dokter Rendra sedang bersiap untuk pulang setelah selesai memeriksa Rio yang kini sudah tertidur lelap.


“Bagaimana keadaan putra Saya, Dokter?” El langsung menanyakan keadaan Rio, membuat dokter berkacamata itu menatap heran pada El yang datang tiba-tiba lalu beralih menatap Kiara yang tengah berjalan bersamanya keluar dari kamar Rio.


“Bukannya Anda yang waktu itu demam dan menyebut nama ...” jarinya menunjuk ke arah Kiara, lalu senyum terbit di bibirnya. “Jadi kalian berdua ini orang tua dari Rio,” ujarnya lagi.


“Ehm, Dia ...” ucapan Kiara menggantung di udara, setelah El memotong bicaranya.


“Ya, Saya papa kandung Rio. Dan Kiara mamanya Rio,” jelas El cepat.


“Ehm, putra Anda baik. Hanya perlu istirahat dan untuk sementara waktu jangan biarkan ia bermain hujan dulu. Saya sudah memberikan obat untuk menurunkan demamnya, semoga besok keadaan Rio jauh lebih baik lagi,” ucap dokter Rendra lalu berpamitan pulang, membuat El menarik napas lega mendengarnya.


“Aku dengar lusa Kau harus kembali ke kantor pusat,” ucap Kiara di ambang pintu, berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada menatap El yang sedang membetulkan selimut di tubuh Rio.


“Jika keadaan Rio belum membaik, Aku akan menunda keberangkatanku lusa. Toh papa sudah ada di sana dan bisa menggantikan posisiku untuk sementara waktu.”


Kiara menghela napas, lalu berjalan mendekat. Berdiri di sudut ranjang menghadap El, “Pulanglah, jangan biarkan orang tuamu harus menunggu kepulanganmu. Di sana tenagamu pasti sangat diperlukan,” ujar Kiara.


El menoleh, lalu tatapan matanya berubah sendu. “Kamu ingat, malam itu juga Kamu menyuruhku pulang untuk menemui mamaku yang sedang sakit. Dan setelah itu Aku tidak pernah kembali lagi sampai kecelakaan itu terjadi. Dan pada akhirnya kita berpisah setelahnya. Aku tidak ingin itu terjadi lagi padaku, biarkan Aku di sini sampai Rio pulih,” pinta El.


“Rio akan baik-baik saja, lagi pula demamnya juga sudah mulai turun setelah minum obat dari dokter Rendra.”


“Aku akan tetap di sini sampai anakku pulih kembali,” ulang El menegaskan keinginannya.


“Baiklah kalau itu maumu,” ucap Kiara mengalah. “Sudah malam, sebaiknya Kau pulang ke rumahmu. Biar Aku yang akan menjaga Rio.”


“Izinkan Aku menemaninya malam ini, sebelum Aku kembali ke kota. Please?”


Dan sebelum Kiara menjawabnya, mata Rio mengerjap lalu terbuka. “Papa,” suara lirihnya membuat El menoleh padanya.


“Ya sayang,” balas El beringsut mendekati putranya.


“Badan Iyo tadi panas. Habis main bola hujan-hujan,” adunya pada El seraya memegang keningnya sendiri.


El tersenyum lebar, “Biar Papa sekarang yang temani Iyo tidur, biar Mama istirahat di kamarnya.” Dan tanpa meminta persetujuan Kiara lagi, lelaki itu merebahkan tubuhnya di samping putranya dan berbaring miring memeluk Rio erat.


••••••••