You are the Reason

You are the Reason
Bab 43. Kembali



Kiara berjalan tergesa, tidak dipedulikannya lagi tubuhnya yang basah kuyup dan pakaiannya yang kotor terkena cipratan air hujan. Hanya tinggal beberapa meter saja, dan ia sudah bisa mencapai mobilnya.


“Waktu delapan tahun ternyata tidak membuatmu mampu untuk bisa mengingatku lagi, meski ada milikku yang kau simpan selama ini. Mungkin memang benar kalau hanya aku yang selalu mengingatmu, tapi kamu bahkan tidak peduli dan ingin mencari tahu tentangku.”


Kiara menggenggam liontin di tangannya, tanpa terasa air matanya mengalir di pipi. Hujan turun semakin deras, mengaburkan pandangannya. Kiara merasakan tubuhnya menggigil dan tungkai kakinya lemas seketika.


Tiba-tiba saja Kiara merasakan seseorang menarik lengannya kuat, membuatnya meringis dan membalikkan badan. Dengan mata membulat sempurna dan mulut setengah terbuka, Kiara menatap tak percaya pada sosok lelaki di hadapannya itu.


El berdiri di depannya dengan payung mengembang di tangannya, melindungi tubuh mereka berdua dari derasnya guyuran air hujan.


Tubuh mereka berdua saling bersentuhan, dan tangan lelaki itu masih berada di lengannya. Bahkan kini naik mengusap pipinya yang basah dan menyibak rambut lepek yang menutupi sebagian wajahnya.


“Aku pikir Kamu wanita dewasa yang bisa berpikir jernih, tidak bermain-main pada saat cuaca buruk seperti ini.” El menatap tepat pada manik mata Kiara.


“Apa maksud ucapanmu!”


“Apa Kamu tidak melihat berita kalau hari ini akan turun hujan. Kamu menggigil kedinginan, kenapa tidak memakai mantel dan malah berpakaian tipis seperti ini?” ucap El menatap pakaian Kiara yang basah.


Meski ramalan cuaca sudah memberitahukan kalau hari ini akan turun hujan dengan intensitas tinggi, tidak menyurutkan langkah Kiara untuk tetap berbelanja di tempat itu dan mengabaikan kemungkinan kalau ia akan basah kuyup kehujanan.


“Aku ...”


Kiara menghentikan ucapannya menyadari arah pandangan mata lelaki itu pada tubuhnya.


Seketika wajahnya merah padam menahan malu. Dengan cepat Kiara mengangkat kantong plastik di tangannya, berusaha menutupi bagian dadanya yang basah.


“Kamu!” serunya gusar, mendelik tak suka. “Dasar pria me sum, berhenti menatapku seperti itu!”


Tapi sepertinya terlambat, lelaki di hadapannya itu pasti sudah melihatnya. Blus yang dipakainya terbuat dari bahan sutera dan melekat kuat di tubuhnya, hingga terlihat tembus pandang dan memperlihatkan dengan jelas pakaian dalam yang dikenakannya.


“Aku?” dengus El dengan sudut bibir terangkat. “Terserah apa pun penilaianmu padaku!”


Ia tidak peduli dengan ucapan Kiara, tangannya menggenggam jemari wanita itu. Dan sebelum Kiara menyadarinya, payung lebar di tangannya itu sudah berpindah ke tangan Kiara.


“Pegang ini!” perintah El dan dengan gerakan cepat ia melepas mantel panjang yang dikenakannya dan memakaikannya di tubuh Kiara.


Kiara berusaha menepisnya, tapi tekanan kuat tangan El di bahunya menghentikan gerakannya.


“Pakai ini, kecuali kalau Kamu ingin terus jadi tontonan gratis mereka semua di sana!” Ucap El seraya memiringkan wajahnya, mengarahkan dagunya ke sekelompok lelaki yang berdiri berjajar di sepanjang koridor mall.


“Apa Kamu tidak menyadari banyak pasang mata liar yang menatapmu seolah ingin melahapmu. Apa Kamu tidak melihatnya, atau Kamu memang sengaja ingin menggoda mereka!”


Kiara menolehkan wajahnya, melihat pada mereka yang berdiri menatapnya dari jauh dengan tersenyum miring.


Kiara menelan ludah dengan susah payah, menyadari kebenaran ucapan laki-laki itu padanya tentang para pria di sana. Tapi tidak dengan kata-kata terakhirnya!


El mengambil kembali payung di tangan Kiara dan menatapnya intens.


“Kenapa nekat menerobos hujan, tidak bisakah menunggu sedikit lebih reda. Kamu bisa sakit karenanya,” ucap El lagi, kali ini ada nada khawatir yang terdengar jelas.


“Apa pedulimu, Aku bisa mengatasinya. Hujan deras sekalipun tidak akan membuatku jatuh sakit,” kilah Kiara sembari menepis tangan El dari wajahnya, dan berusaha menjauhkan tubuhnya.


Tapi lengan kokoh itu malah menarik pinggangnya, membuatnya tubuhnya kembali merapat. Kiara langsung menyilangkan tangannya di dada.


Ya Tuhan, jangan buat aku lemah di hadapannya. Ia tidak ingin terlena dengan perhatian semu lelaki itu dan terjerat oleh masa lalu yang hanya akan membuatnya kembali terluka.


“Lepaskan!” Kiara berontak berusaha melepaskan diri. “Tidak sepantasnya Anda memperlakukan Saya seperti ini, dan jangan sok peduli pada Saya. Anda bukan siapa-siapa Saya!”


“Oh ya?” Lelaki itu kini meraih dagu Kiara dan menatapnya lama. “Wajahmu memerah, jantungmu berdebar lebih cepat, dan tubuhmu tak berhenti menggigil meski Aku sudah melepaskan pelukanku. Apa Kamu tidak bisa melupakan Aku dan masih beranggapan kalau Aku adalah suamimu?”


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi El, lelaki itu melipat bibir dan memejamkan matanya sesaat. Rahangnya terlihat mengeras, tidak menyangka akan mendapat satu hadiah dari Kiara yang membuat panas wajahnya.


El melepaskan pelukannya, membiarkan wanita itu mendorong kuat dadanya dan berlari cepat menuju mobilnya. Memutar kunci dengan tangan gemetar.


“Kiara,” bisik El menyebut nama Kiara.


Kiara mengepalkan tangannya kuat, sesak oleh rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata mendengar ucapan El padanya.


Masih sempat dilihatnya lelaki itu berdiri di tengah hujan terus mengawasinya, sebelum ia menyalakan mesin mobilnya dan berhasil berputar melaju meninggalkan halaman parkir mall.


Tiinn!


Suara klakson mobil yang melaju ke arahnya menyadarkan El. Ia mundur beberapa langkah membiarkan pengendara lain melewatinya, lalu berbalik menuju mobilnya kembali.


El menelepon asistennya segera, mendadak membatalkan undangan makan malam dari klien yang baru tadi sore diterimanya dan meminta Seno untuk datang mewakilinya.


“Akhirnya aku menemukanmu,” gumamnya pelan sambil mengusap wajahnya yang basah. “Aku berhasil menemukanmu lagi.”


El membuka amplop coklat yang tersimpan dalam saku jasnya, berisi potongan kertas buku nikah miliknya. Di sana awal segalanya dimulai saat ingatannya perlahan kembali beberapa tahun yang lalu.


Ia lalu berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya dengan Kiara hingga akhirnya mereka harus berpisah.


Ia harus terus berpura-pura amnesia agar bisa mengetahui semua yang terjadi padanya setelah kecelakaan yang menimpanya.


Dadanya sesak, tatapan terluka wajah Kiara saat mendengar ucapannya tadi melintas di benaknya menerobos masuk dalam ruang kosong hatinya.


El menangis, setengah mati ia berusaha menahan diri untuk tidak berlari memeluk Kiara saat melihat wanita itu lagi ada di depan matanya.


Melihatnya berlarian menerobos hujan, El khawatir bila wanita itu sakit nanti, karena ia tahu Kiara rentan sekali dengan air hujan.


El juga marah, tidak suka melihat mata lelaki lain menatap wanitanya dengan tatapan mendamba.


Wanitanya? Mereka bahkan sudah berpisah.


“Aargghh!” El mencengkeram kuat rambut kepalanya.


Mata itu terlihat banyak menyimpan luka, meski ia melihat rindu yang tersirat saat mata mereka bertemu.


Tapi kali ini Kiara justru mengacuhkannya dan berlagak seolah tidak mengenalnya, padahal ia tahu gerak tubuh wanita itu saat ada dalam pelukannya masih sama seperti dulu saat mereka masih bersama.


“Ya Tuhan, saat ingatanku kembali aku sadar kalau aku sudah kehilangan dia. Aku sudah mengecewakannya.”


••••••••