
Untuk beberapa saat lamanya Kiara terdiam, mencoba mencerna ucapan lelaki itu padanya. Mereka baru saja bertemu bahkan belum satu jam lamanya, tapi laki-laki di depannya itu sudah meminta bantuan padanya.
Entah bantuan seperti apa yang diinginkannya, membuat Kiara kaget dan penasaran tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Bantuan seperti apa yang Dokter inginkan dari Saya? Kita bahkan baru saja bertemu, tapi Dokter berkata seperti itu seolah-olah sudah mengenalku lama!” cetus Kiara dengan tatapan menyelidik.
“Aku percaya dengan insting yang kumiliki saat pertama kali melihatmu hadir di sini. Aku yakin Kamu orangnya yang bisa kuandalkan dan bisa menggantikan posisiku untuk sementara waktu,” ucap Okta menatap lama pada Kiara.
“Jangan berbelit-belit, jelaskan dengan mudah dan jangan membuatku bingung dengan semua ucapanmu barusan. Kenapa Aku harus menggantikan posisimu saat ini, Aku bukan dokter dan Aku juga memiliki kesibukan sendiri. Aku punya keluarga dan pekerjaan, tidak bisa begitu saja menuruti apa maumu saat ini!”
Lelaki itu tersenyum menanggapi ucapan Kiara, tapi ia harus mengatakan hal itu padanya dan bila perlu ia akan melakukan segala cara untuk meyakinkan Kiara agar mau menuruti keinginannya.
Hanya wanita itu dan putranya yang dilihatnya memiliki kemampuan untuk membuat omanya nyaman dan tenang saat berada di dekatnya.
“Kita memang baru saling mengenal, tapi jujur kukatakan padamu. Aku seolah melihat sosok seseorang yang telah lama kukenal ada pada dirimu, wajahmu tampak tidak asing di mataku.”
Beberapa menit kemudian, Kiara keluar dari ruangan Okta. Ditemani pak Joko yang sengaja datang menjemputnya untuk menemui nyonya Mala sebelum dirinya berpamitan pulang.
Sementara Okta telah terlebih dahulu berada di ruangan omanya, entah apa yang dibicarakannya berdua dengan omanya itu. Dari balik kaca jendela, Kiara melihat wanita itu tersenyum sambil menepuk tangan Okta yang berada dalam genggaman tangannya.
Ragu sejenak saat berdiri di depan pintu ruangan nyonya Mala, Kiara masih tak percaya dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini.
Setelah berbincang lama dengan Okta dan mendengar cerita tentang omanya, dengan mudahnya ia menyetujui permintaan laki-laki itu untuk menemani nyonya Mala selama ia menjalankan tugas sebagai relawan kesehatan di daerah bencana.
Lelaki itu akhirnya berhasil meyakinkannya dengan menunjukkan bagaimana keadaan warga di daerah bencana yang akan didatanginya nanti, hanya satu bulan saja dan Okta akan kembali lagi setelahnya.
“Terima kasih, karena bersedia membantuku. Aku lega karena sudah bertemu denganmu, dan Aku semakin yakin kalau Kamu adalah dewi penolong yang dikirim Tuhan untuk kami.” Kiara kembali mengingat ucapan Okta padanya tadi.
“Tuhan, tidak ada niatan lain di hatiku. Aku hanya ingin membantunya dan membuat wanita itu merasakan ketenangan setelah kehilangan putri kesayangannya,” bisik Kiara dalam hati.
“Ma,” panggil Rio pelan, menarik ujung lengan bajunya. Menyadarkan Kiara dari lamunannya. “Apa Iyo bisa lihat oma sekarang?” tanyanya pada Kiara, yang dibalas dengan anggukan kepala.
“Tapi Iyo harus tenang, gak boleh berisik apalagi berteriak karena bisa mengganggu ketenangan pasien lainnya di rumah sakit ini.”
“Iya. Iyo paham,” sahut Rio dengan suara setengah berbisik.
Kiara mengembuskan napas kuat, perlahan jarinya memutar gagang pintu dan membukanya lebar. Kedua orang yang sedang duduk dan berbincang di atas ranjang itu pun menoleh padanya, dilihatnya nyonya Mala tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya lebar.
“Putriku sayang,” ucapnya lembut, seketika membuat langkah Kiara terhenti saat itu juga.
“Oma!” seru Rio lantang, lupa dengan ucapan mamanya barusan.
Rio naik ke atas ranjang dan langsung berhambur dalam pelukan nyonya Mala yang tertawa lebar mendengar teriakannya, lalu dengan gemas mencium pucuk kepalanya.
Tanpa disadarinya sudut matanya berair, kedua tangannya kini menangkup wajah Rio yang menengadah menatap padanya.
“Oma kenapa menangis?” Rio berlutut di depan nyonya Mala, tangan kecilnya mengusap pelan sudut mata wanita yang masih memeluknya itu. “Mama bilang, Oma tadi jatuh di kamar mandi dan sepertinya pinggang Oma terluka.”
Nyonya Mala menggeleng, menelan saliva dengan susah payah. “Oma gak sakit, sayang. Oma sehat, coba lihat!”
Nyonya Mala mengangkat kedua tangannya yang terkepal kuat, lalu menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan secara berulang.
“Lalu kenapa Oma menangis?”
“Oma menangis karena senang melihat Rio sama mama datang melihat Oma di sini?” ucapnya menjawab pertanyaan Rio.
Okta perlahan bergeser menjauhi keduanya, lalu berjalan mendekati Kiara yang masih terpaku di tempatnya berdiri saat itu. Tangannya terangkat menyentuh lembut bahu Kiara, membuat wanita itu menoleh padanya.
“Berikan waktu sebanyak mungkin untuk Nona Kiara dan putranya saat bersama oma, layani mereka sebaik mungkin. Cepat beritahu Aku bila mereka butuh sesuatu,” perintah Okta, sebelum berjalan kembali ke ruangan kerjanya.
“Siap Tuan muda!”
Sementara itu di dalam ruangan, Kiara duduk di kursi tepat di samping kiri tempat tidur nyonya Mala dan Rio berbaring di sisi kanannya. Memperhatikan keduanya yang tengah asyik bercanda dan tertawa, Rio membuka gallery ponselnya dan memperlihatkan foto masa kecilnya saat berada dalam gendongan mamanya.
Sesekali nyonya Mala mencubit gemas pipi Rio, dan bocah lelaki itu memajukan bibirnya.
“Dih Oma, Iyo kan sudah gede. Jangan dicubit terus pipinya!” protes Rio pura-pura merajuk, membuat Nyonya Mala terkekeh dibuatnya.
Sebuah kecupan sayang mendarat di pipi Rio sebagai gantinya. Pemandangan di depannya itu membuat mata Kiara menghangat. Ada air yang menggenang di pelupuk matanya, ia tidak menyangka pertemuannya dengan nyonya Mala akan berlanjut dengan janjinya pada Okta untuk menemani omanya itu sementara waktu.
Tapi bagaimana kalau ia tidak bisa memenuhi janjinya untuk terus menemani nyonya Mala selama satu bulan ini, sementara pekerjaannya di kantor begitu menyita perhatiannya.
Apa yang harus dilakukannya untuk bisa membuat wanita itu merasa tenang saat ia sedang bekerja dan tidak bersamanya, karena Kiara takut nyonya Mala akan kembali menghilang seperti yang terjadi sebelumnya.
“Anakku,” panggil nyonya Mala, wanita itu tersenyum dan menatap Kiara lama.
Kiara termangu sesaat, sudah dua kali ia mendengar wanita itu memanggilnya seperti itu. Apa ia mengingatkan wanita itu pada anaknya yang sudah tiada? Kiara bertanya dalam hati, bagaimana ia harus membalas panggilan itu padanya.
“Iya Oma,” jawab Kiara akhirnya.
“Maaf kalau Oma sudah merepotkanmu, melibatkanmu dengan masalah kesehatan Oma.” Jarinya yang kurus namun terawat baik itu perlahan menggenggam tangan Kiara.
Kiara menggeleng kuat, “ Kia senang sekali bisa membantu Oma di sini,” ucapnya kemudian.
“Terima kasih,” sahut nyonya Mala tulus.
Beberapa menit berikutnya, Kiara berusaha menyembunyikan gundah hatinya agar suaranya tetap terdengar wajar seperti semula.
Ia acap kali mendengar nyonya Mala mengucapkan pertanyaan yang sama pada Rio, dan putranya itu pun menjawabnya dengan sabar meski beberapa kali terlihat menepuk keningnya sendiri sambil terkekeh geli.
“Oma, ini udah yang ke lima kalinya Iyo jawab pertanyaan yang sama dari Oma.”
“Masa sih, bukannya Oma baru saja bertanya. Iyo salah hitung kali,” sanggah nyonya Mala sambil menggaruk keningnya.
“Ya udah, deh. Ganti pertanyaan lagi saja ya, Oma.”
“Iyo, biar Oma istirahat dulu sayang. Nanti lagi mainnya,” sela Kiara sembari melirik arloji di pergelangan tangan kanannya.
“Apa kalian tidak jadi menginap di sini?” tanya nyonya Mala tiba-tiba, wajahnya terlihat muram.
Kiara terkesiap, tidak siap mendengar pertanyaan yang dilontarkan nyonya Mala padanya.
“Maaf Oma, besok pagi Iyo harus sekolah pagi. Cuman sampai jam sepuluh saja, dan Mama juga harus pergi kerja besok. Bagaimana kalau Oma saja yang menginap di rumah kami, dan hari Minggunya kita bisa main bareng sama mbak Kinan dan nenek?” cetus Rio tiba-tiba, membuat Kiara langsung menyetujui ide dadakan putranya itu.
“Benar apa kata Iyo, bagaimana kalau Oma yang menginap di rumah kami. Biar nanti Kia yang minta izin sama dokter Okta,” timpal Kiara membuat rona di wajah nyonya Mala berubah cerah.
“Oma mau!” jawabnya terlihat antusias.
Kiara langsung menyampaikan idenya pada Okta, dan lelaki itu pun langsung menyetujuinya dengan catatan nyonya Mala akan menginap di rumah Kiara tiga hari setelah menjalani rawat inap di rumah sakit sekaligus memulihkan cedera pinggang yang dialaminya saat terjatuh di kamar mandi mall waktu itu.
Satu masalah teratasi, Kiara bisa menarik napas lega. Setidaknya ada ibu Lastri yang menemani nyonya Mala di rumahnya. Selain itu juga untuk memudahkan Kiara dan orang di rumahnya, Okta menempatkan seorang perawat khusus untuk membantu mengurus segala keperluan nyonya Mala selama berada di rumah Kiara.
••••••••