
Ya Tuhan, aku hamil! Benarkah apa yang didengarnya barusan. Dokter Bobby mengatakan padanya sesuatu yang membuat otaknya berpikir keras.
Kiara tertegun sesaat, antara percaya dan tidak. Tapi melihat wajah serius sang dokter yang menatapnya dengan kening bertaut, membuat Kiara menelan salivanya dengan susah payah.
“A-ku hamil? Du-dua bulan,” ulang Kiara setengah bergumam.
“Ya, dua bulan.” Dokter Bobby tersenyum tipis. “Bukankah hal yang wajar terjadi pada wanita yang sudah menikah, meskipun usiamu terbilang masih sangat muda. Asal Kau menjaganya dengan baik dan janin dalam kandunganmu mendapatkan gizi yang cukup, semua pasti akan baik-baik saja.”
“I-ya, Dok.” Kiara menundukkan kepala, meraba perutnya yang masih rata.
Memang hal yang wajar, menikah lalu hamil dan akhirnya menjalani persalinan dan buah hati yang sekian lama dinanti kehadirannya disambut dengan suka cita.
Harusnya Kiara bahagia mendengar kabar kehamilannya, ada bagian dari El yang kini tumbuh dalam rahimnya. Ingin rasanya menyampaikan berita baik itu pada El.
Tapi apa lelaki itu akan mempercayai ucapannya, amnesia yang dialaminya membuat El tidak dapat mengingat Kiara. Terakhir bertemu ia malah dikira kekasih lelaki lain yang tidak lain adalah sahabat baiknya sendiri.
Andai semua lebih dini diketahuinya, mungkin perpisahan itu tidak akan pernah terjadi. Mereka bercerai saat Kiara tengah hamil muda, dan mirisnya lagi kedua belah pihak tidak ada yang mengetahuinya.
Menyadari kenyataan itu, kepala Kiara mendadak sakit. Rasa sakit yang luar biasa, hingga membuat Kiara menangis sambil memegangi kepalanya.
“Dan Kau juga mengalami gegar otak. Mungkin Kau sudah menyadarinya saat rasa sakit di kepala menyerangmu seperti yang Kau rasakan saat ini,” ucap dokter Bobby melanjutkan bicaranya.
Kiara memejamkan mata kuat, mengatur napas. Perlahan rasa sakit di kepalanya berangsur-angsur menghilang, meski belum pulih sepenuhnya. Kiara pun membuka matanya.
“Ya, sangat tidak nyaman sama sekali Dokter.” Kiara mengiyakan, mengusap pipinya yang basah dan menyentuh perban di kepalanya.
“Saya akan menyuruh perawat memberimu obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Jangan khawatir, akan segera sembuh kembali. Beberapa minggu dari sekarang semua akan kembali seperti semula, Kau akan kembali berjalan dengan baik dan bekas luka di tubuhmu akan segera menghilang.” Dokter Bobby menenangkannya.
Mendengar ucapan dokter Bobby barusan, mengingatkan Kiara pada luka lain di bagian tubuhnya.
Perlahan ia menyibak selimut yang menutupi kakinya, dan melihat perban lain di sana. Kakinya itu mengalami luka sobek yang cukup parah dan harus dioperasi.
Kiara menghela napas berat, apa yang akan dilakukannya sekarang? Tagihan biaya rumah sakit pasti mahal, sementara dirinya tidak punya cukup uang untuk membayarnya.
Dalam beberapa minggu ini atau bahkan dalam waktu yang cukup lama, Kiara tidak akan mampu bekerja dengan luka di tubuhnya seperti itu.
Perusahaan mana yang mau menerima pekerja yang tidak memiliki kemampuan mumpuni, apalagi dalam keadaan hamil seperti dirinya saat ini.
“Jangan terlalu banyak pikiran, apalagi sampai membuatmu stres karena akan berpengaruh buruk pada kehamilan. Tinggallah beberapa hari lagi di rumah sakit ini, jika sudah lebih baik Kau bisa pulang ke rumah kalian dan menjalani rawat jalan saja.”
“Tapi Dok, Saya tidak akan mampu untuk membayar biaya rumah sakit jika tinggal lebih lama lagi di sini. Izinkan Saya untuk keluar dari dini, akan lebih baik bagi Saya untuk tinggal di rumah saja.” Kiara memohon untuk diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Dokter Bobby mengernyitkan alisnya, terlihat bingung melihat Kiara menangis lagi.
“Bukankah semua biaya rumah sakit sudah dibayar lunas oleh suamimu, lalu kenapa Kau menangis dan mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti tadi. Luka operasimu bahkan belum sepenuhnya menutup dengan sempurna!” ujar dokter Bobby heran.
Kiara menurunkan tangan dari wajahnya, sisa air mata masih terlihat jelas di pipinya.
“Apa maksud ucapan Dokter barusan, suami Saya yang mana yang sudah membayar semua biaya rumah sakit?” tanya Kiara bingung, bukankah ia baru saja resmi bercerai dengan mantan suaminya dalam hitungan kurang dari satu bulan.
“Memangnya suami Kamu ada berapa, pakai bertanya suami yang mana segala?” Dokter Bobby balas bertanya sambil memijit keningnya yang mendadak pening.
“Saya sungguh-sungguh tidak mengerti dengan semua pertanyaan yang Dokter ajukan barusan,” ucap Kiara semakin tidak mengerti dengan pertanyaan dokter Bobby padanya.
“Astaga! Saya pikir gegar otak di kepalamu hanya gegar otak ringan saja, ternyata diagnosa Saya salah. Kau bahkan lupa pada suamimu sendiri, dan Kau bertanya suamimu yang mana yang sudah membayar biaya rumah sakitmu?”
“Saya memang mengalami kecelakaan, dan seperti kata Dokter barusan Saya juga mengalami gegar otak. Meski begitu Saya masih mengingat dengan jelas status pernikahan kami, Saya dan suami sudah berpisah bahkan sebelum Saya menyadari kalau Saya tengah hamil.” Kiara menjelaskan.
“Lalu siapa laki-laki itu, yang membuat kekacauan di rumah sakit ini. Datang kemari dan marah-marah pada semua orang saat melihatmu pingsan selama dua hari di sini.”
“Hah! Membuat kekacauan di sini? Siapa nama laki-laki itu, Dok?” tanya Kiara mengulang ucapan dokter Bobby.
“Ya, suamimu itu yang membuat kekacauan sepanjang hari, membuat kami yang bekerja di sini jadi tidak tenang. Dia ...”
Dan Kiara tiba-tiba merasakan nyeri hebat pada bagian kepalanya lagi saat mendengar dokter Bobby menyebut nama lelaki itu, ia memegangi kepalanya dengan wajah pias.
“Kiara!”
Lamat-lamat Kiara mendengar suara seseorang yang dikenalnya berteriak memanggil namanya.
“Apa yang sudah Dokter lakukan lagi padanya!” teriak laki-laki itu marah.
Kiara masih sempat mendengar bagaimana lelaki itu memarahi dokter Bobby hingga kedua orang itu saling adu mulut, tapi detik berikutnya dirasakannya kepalanya berputar.
“Mas ...”
Kiara melihat lelaki itu berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya erat sebelum kemudian pandangan matanya menggelap dan Kiara jatuh pingsan lagi.
••••••••