You are the Reason

You are the Reason
Bab 77. Khawatir



Untuk yang ke sekian kalinya Kiara menghela napas panjang, sembari membetulkan letak gaun yang dikenakannya. Menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Lalu detik berikutnya Kiara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang hingga menimpa tumpukan baju yang tadi dicobanya namun tak sesuai dengan keinginannya.


Kalau tak ingat bahwa undangan makan malam bersama seluruh karyawan dan beberapa relasi dari perusahaan Abian Grup itu diadakan untuk merayakan ulang tahun perusahaan yang ke tiga, juga sekaligus sebagai ajang untuk El berpamitan karena harus kembali memimpin perusahaan di kantor pusat, rasanya Kiara enggan untuk hadir di sana dan lebih memilih untuk berleha-leha saja di kamarnya.


“Kalau tahu begini mending Mbak ikut saja kemarin bareng adikmu,” ujar Kiara mengembuskan napas panjang, menyesal sudah menolak tawaran Ed untuk ikut bersamanya bermalam di villa keluarga.


Apalagi akhir pekan seperti saat ini, Kiara hanya berduaan saja dengan Kinan di rumah karena ibu Lastri menginap di rumah saudaranya sementara Rio sudah sejak semalam ikut bersama Ed dan rombongannya pergi memancing dan bermalam di dangau dekat villa keluarga papanya itu.


Kinan yang sedari tadi berdiri mengawasi sambil sesekali memberikan pendapatnya, tersenyum menyadari kalau kakak wanitanya itu sama sekali tidak puas dengan penampilan dirinya kali ini.


“Tapi acara kali ini kan buat ngerayain ultah perusahaan, masa Mbak Kia gak datang?”


“Iya tau, tapi harusnya acaranya bukan malam ini. Minggu depan, gak dadakan kayak gini. Masa baru dikasih tau siang tadi?”


“Ya kan Mbak Kia bilang tadi sekalian acara perpisahan pak El yang pulang besok,” balas Kinan.


“Coba Kamu bisa temani Mbak datang, kan jadi ada temannya gak sendiri kayak sekarang.”


“Kalau Kinan gak ada janji temu sama teman buat bahas program magang kuliah, pasti Kinan temani Mbak Kia ke sana.”


“Ya udah gapapa, selesaiin aja urusannya. Nanti Mbak telpon Wina buat jemput ke sini,” ujar Kiara kemudian.


Kiara bangkit lalu mencoba gaunnya kembali, sampai Kinan teringat pada salah satu gaun yang ada di lemari pakaiannya.


“Sebentar, semoga kali ini sesuai dengan keinginan Mbak Kiara. Kinan ambil dulu di lemari,” ujarnya langsung keluar kamar dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa satu buah gaun cantik berwarna rose gold.


“Itu kan ...” Kiara termangu sesaat lamanya.


“Iya, ini gaun hadiah dari mas Ed sewaktu Mbak Kiara diterima kerja untuk pertama kali. Tapi urung dipakai karena waktu itu gak sedang di badan Mbak Kia. Dan Mbak memberikannya pada Kinan, sampai hari ini Kinan juga gak pernah mencoba untuk memakainya karena Kinan tau mas Ed memberikannya untuk Mbak Kia.”


Kiara tersipu malu, teringat pada tubuhnya yang berisi setelah melahirkan Rio. “Ternyata Kamu masih menyimpan gaun ini dengan baik,” ucap Kiara menatap gaun di tangan Kinan. “Mbak bahkan sudah lupa dengan gaun ini.”


“Mas Ed pasti senang kalau tau Mbak memakai gaun pemberian dia malam ini,” ujar Kinan lagi.


“Tapi Mbak kan sudah memberikannya memberikannya padamu. Gaun ini milikmu sekarang,” sanggah Kiara.


Kinan menggelengkan kepala, ia memberikan gaun di tangannya pada Kiara lalu menghela bahu wanita itu lembut. “Mbak coba pakai sekarang, biar Kinan yang telpon mbak Wina buat datang menjemput.”


“Baiklah, Mbak coba sekarang.”


Dan sepertinya gaun itu memang terbuat untuk Kiara, warnanya sangat pas dengan kulit tubuhnya yang putih. Membalut sempurna memperlihatkan bentuk pinggang Kiara yang kini ramping.


“Orang gak akan percaya kalau Mbak Kia sudah punya anak seusia Iyo apalagi melihat Mbak memakai gaun seperti ini. Aahh, Kinan jadi merasa rendah diri kalau jalan bareng dengan penampilan Mbak seperti ini.”


“Tapi tidak untuk sahabatku yang satu ini, Kamu terlihat cantik dan muda bestie meski sudah memiliki seorang putra!” ucap Wina yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu berjalan memutari tubuh Kiara seraya memuji penampilannya.


“Aku sungguh merasa tersanjung,” sahut Kiara dengan senyum dibuat-buat.


Kinan tersenyum melihatnya, “Kalau begitu Kinan juga mau siap-siap, tapi sebelumnya Kinan mau foto dulu.”


Dan mereka bertiga berfoto bersama, lalu Kinan meminta Kiara untuk berfoto sendiri sambil bergaya dengan gaun barunya. “Bye-bye kakak-kakak Aku yang cantik, Kinan mau siap-siap dulu.”


“Bye Kinan,” sahut Wina melambaikan tangannya pada Kinan yang berlari kecil menuruni anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai bawah.


“Sudah siap, kita berangkat sekarang!” ujar Wina lalu menggandeng tangan Kiara, berjalan beriringan menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah Kiara.


“Tumben sepi rumah pak Bos?” tanya Wina setelah mereka berdua berada di dalam mobil.


“Dia sudah pindah ke apartemennya, rumah itu sudah kembali sama pemiliknya. Sekarang yang tinggal di sana hanya asisten rumah tangga pak Danu saja,” jelas Kiara.


“Gak terasa tau-tau udah dua bulan saja kita kerja bareng bos, berasa kenal sudah lama.” Wina menyalakan mesin mobilnya, menatap sekilas pada rumah di depannya. “Kalau kemarin-kemarin ada yang bisa diintip dari balkon rumah, sekarang mah gak bisa lagi.”


Wina meringis saat mendapat pukulan tangan Kiara di bahunya, “Memangnya Aku tukang ngintip!”


“Emang.”


“Ngawur ih! Enak aja bilangin Aku suka intipin ...” suara Kiara terhenti ketika matanya menangkap pesan singkat Ed di layar ponselnya.


Senyum mengembang di wajahnya yang merona seketika saat membaca tulisan Ed di sana. “Cantiknya calon istriku 😍😍”


“Hem, Aku gak nyangka aja akhirnya setelah sekian lama kalian jadian juga. Salut sama mas Edgar yang sabar nunggu mamanya Iyo terbuka hatinya, apalagi sejak kedatangan pak Elvan. Aku pernah berpikir kalian bakal balikan lagi loh,” ujar Wina disela perjalanan mereka.


“Hubungan kami sudah berakhir sejak lama dan sekarang kami sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Tapi biar bagaimana pun juga, ada Rio di antara kami. Hanya saja Aku masih memiliki kekhawatiran bila mengingat sikap papanya El padaku, bagaimana kalau papanya tahu tentang Rio?”


“Bukankah yang kutangkap dari ceritamu kedua orang tuanya begitu menginginkan cucu dari pernikahan anaknya, mungkin kalau mereka tahu El memiliki anak dari pernikahannya denganmu dulu sikap mereka akan berubah melunak padamu.”


“Aku tidak ingin berandai-andai, tapi Aku juga tidak bisa menghilangkan rasa khawatirku jika nanti mereka mengetahui soal Rio.”


Wina tersenyum seraya menepuk jemari tangan Kiara yang berada di pangkuannya, “Tenang, Ra. Kalian tidak sendiri, ada kami yang selalu ada buat kamu dan Rio. Ada mas Ed juga yang terus menjaga kalian berdua, dia pasti tidak akan membiarkan orang lain menyakiti kalian lagi.”


“Iya, Aku percaya itu.”


Dan saat kakinya melangkah masuk ke dalam gedung acara yang sedang berlangsung, Kiara melihat seorang lelaki yang tak lain adalah Yuda berada di samping El sepanjang acara berlangsung. Dan tiba-tiba saja rasa khawatir itu kembali menghinggapinya.


••••••••