You are the Reason

You are the Reason
Bab 35. Hamil?



Beberapa saat kemudian terdengar bunyi sirene dan suara gaduh orang di sekitar tempat kejadian.


Dari dalam mobil keluar dua orang laki-laki berpakaian serba putih. Setengah sadar Kiara masih bisa merasakan tubuhnya berguncang saat diangkat ke dalam mobil, sebelum akhirnya matanya tertutup rapat dan kegelapan kembali menyelimuti dirinya.


Kiara seolah berada di dunia lain, banyak kabut di sekitarnya yang menghalangi pandangan matanya. Panik, Kiara mengibaskan tangan menghalau kabut yang kini mulai menyelimuti tubuhnya.


Matanya perih, Kiara pun memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya melayang ringan di udara dan jatuh terhempas di atas ranjang besar di sebuah kamar yang di dominasi warna putih.


Matanya melihat pada daun pintu yang terbuka lebar, semilir angin bertiup menyentuh kulit lengannya yang terbuka. Perlahan ia bangun dari atas tempat tidur dan beranjak ke luar melihat keadaan sekitarnya.


Seperti mimpi rasanya, ia tengah berada di rumah impiannya dan lelaki itu terlihat mengembangkan tangannya melihat kedatangannya.


“Abang?” Kiara mengucek matanya, dan lelaki itu langsung menghentikan gerakan tangannya.


“Jangan dikucek begitu, nanti matamu bisa iritasi yank.”


“Hah?”


El tergelak melihat mulut Kiara yang terbuka, “Mingkem ih, masuk angin baru tahu.”


“Eh.”


“Hah, eh, oh.”


“Ish, Abang.” Kiara tersipu malu.


Di sini, malam ini Kiara tersenyum bahagia dari balkon atas rumahnya. Duduk berdua di bangku ayunan memandang keindahan langit malam bersama El.


“Abang, coba lihat di atas sana.” Kiara mengarahkan telunjuknya ke langit.


El tersenyum mengeratkan rangkulannya di bahu Kiara yang duduk bersandar di dadanya, “Banyak bintang di atas sana, tapi hanya ada satu bintang yang bersinar paling terang di muka bumi ini.”


“Oh, ya. Bintang apa itu, Bang?” tanya Kiara lalu mengalihkan pandangannya, mata keduanya saling bertemu.


“Kamu bintang di hatiku, cahayamu menerangi jalanku. Menuntun langkahku untuk selalu kembali padamu.”


Semburat merah mewarnai pipi Kiara yang merona, “Gombal,” cetusnya menunduk malu.


“Ish, kok gombal sih. Ya udah, Aku pergi lagi nih. Ntar bakal lama pulangnya,” ucap El pura-pura merajuk, memalingkan muka dengan bibir mencebik.


“Bintang di hati Abang yang akan menuntun langkahmu untuk pulang dan kembali pada Kia,” balas Kiara membuat El tersenyum dikulum.


“Jika inginmu Aku pergi, percayalah Aku akan menjagamu dari atas langit. Seperti udara ada tanpa Kamu bisa melihatnya.”


Bledarr! Malam yang cerah tiba-tiba berubah gelap tertutup awan hitam pekat.


Di langit cahaya kilat berpendar, El tersenyum lalu melepaskan pegangan tangannya di bahu Kiara. Berjalan mundur dengan senyum tak lepas memandang Kiara.


“Abang, jangan pergi! Bagaimana kalau bintangku meredup dan jalanmu terhalang kabut?”


Bledarr, crapp crapp ...


Kilat menyambar bersamaan dengan tubuh El yang menghilang, Kiara menjerit memanggil namanya. “Abang, jangan pergi!”


Kiara tersentak bangun, napasnya tersengal dengan bibir bergetar masih menyebut nama El. Bulir keringat tampak di wajahnya yang pucat.


Matanya mengerjap berulang dan perlahan terbuka lebar memindai sekelilingnya.


Saat kesadarannya kembali pulih sepenuhnya, ia merasakan pipinya basah air mata. Rupanya dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan mantan suaminya dan mereka berdua berada di rumah impian Kiara.


Kiara berusaha bangkit, “Aarghh ...” erangnya tertahan, wajahnya mengernyit saat merasakan sakit pada bagian kepalanya. “Ada apa ini, mengapa tubuhku terasa sakit semua?”


Lagi, Kiara mencoba bangun. Namun ia merasakan sakit di bagian wajah juga kakinya dan nyeri luar biasa hampir di sekujur tubuhnya.


Perlahan kejadian kemarin melintas di benaknya, sadar kalau dirinya kini tengah berada di dalam kamar rumah sakit.


“Hai,” sapa seseorang, mengejutkan Kiara.


Kiara menoleh, tampak seorang perawat wanita berdiri tidak jauh darinya sedang mengecek kantung infus di atas kepalanya.


“Bagaimana kabarnya hari ini, apa sudah merasa jauh lebih baik?” tanya perawat itu ramah.


Kiara menggeleng lemah, “Badan Saya sakit semua, Suster.”


Kiara meraba wajahnya, ada perban yang membalut kepalanya hingga menutupi keningnya. Pelan-pelan Kiara bangun, menggeser tubuhnya mencoba untuk duduk.


Baru saja Kiara menggerakkan tubuhnya sedikit, perawat itu sigap menahan tubuhnya dan menyuruhnya untuk tetap berbaring.


“Jangan banyak bergerak dulu, luka di kaki Ibu belum sepenuhnya sembuh. Ibu juga baru saja siuman, setelah dua hari lamanya Ibu tidak sadarkan diri.”


Perawat yang bernama Safira itu lalu membetulkan letak bantal Kiara, dan membantunya berbaring kembali.


“Ibu? Perawat ini memanggilku Ibu.” Kiara meringis, ia belum terlalu tua untuk dipanggil dengan sebutan ibu.


Usianya bahkan belum genap dua puluh tahun saat ini, walau pun ia tidak menampik fakta kalau dirinya sudah menikah di usia yang masih sangat muda dan belum memiliki keturunan.


“Panggil Saya Kiara saja, Suster.” Kiara yakin usia Safira jauh di atasnya.


“Baiklah Kiara,” sahutnya sambil tersenyum ramah, ia bisa merasakan kalau Kiara tidak nyaman dengan panggilannya barusan.


“Apa benar dua hari Saya tidak sadarkan diri, Suster. Lalu siapa yang sudah membawa Saya ke rumah sakit ini?” tanya Kiara penasaran, menyadari kalau ia pingsan selama itu.


“Mobil ambulans yang membawamu kemari. Ada orang yang menghubungi pihak rumah sakit dan mengabarkan tentang kecelakaan yang terjadi padamu,” jelas Safira, ia lalu memeriksa tekanan darah Kiara.


Tiba-tiba Kiara teringat pada pamannya dan mengkhawatirkan keadaannya. Dua hari lamanya ia pingsan dan dirawat di rumah sakit, lalu bagaimana dengan pamannya yang hanya tinggal seorang diri di rumah.


“Suster, sebelum kecelakaan terjadi Saya sedang dalam perjalanan untuk wawancara kerja dan meninggalkan paman Saya sendirian di rumah. Bisakah Suster membantu menghubungi paman Saya? Saya khawatir sekali,” ucap Kiara sebelum Safira pergi.


“Baik, akan Aku lakukan untukmu. Setengah jam lagi dokter akan berkeliling dan memeriksa keadaanmu. Berikan saja nomor telepon pamanmu padaku, dan Aku akan segera menghubungi beliau.”


“Terima kasih, Suster.” Kiara lalu memberikan nomor ponsel pamannya pada suster Safira.


Setengah jam kemudian dokter Bobby datang memeriksanya bersama perawat lain.


“Ini Ibu yang kemarin jadi korban kecelakaan itu ya?” tanya dokter Bobby pada perawat yang berdiri di sampingnya itu, sambil terus memeriksa Kiara.


“Iya, Dok. Ibu Kiara namanya,” jawab perawat itu.


“Untung saja kandungannya kuat. Dan syukurlah kalian berdua bisa selamat,” ucap dokter Bobby kemudian setelah memeriksa bagian perut Kiara.


Deg!


Untuk beberapa saat lamanya Kiara mencoba mencerna ucapan dokter Bobby.


“Ap-pa maksudnya, Dok Ada apa dengan kandungan Saya?” tanya Kiara sambil mengusap perutnya yang rata.


“Ibu harus lebih berhati-hati, usia kandungan Ibu masih rentan sekali.”


Dokter Bobby ganti terkejut menyadari kalau pasien wanita di depannya itu tidak mengetahui keadaan dirinya yang tengah hamil muda.


Ia lalu menjelaskan pada Kiara kalau wanita itu tengah mengandung, dan usia kehamilannya memasuki usia delapan minggu.


“Aku ha-mil?”


Selanjutnya Kiara tidak mendengarkan lagi dokter Bobby yang masih terus berbicara padanya. Pikirannya berkecamuk, menyadari keadaan dirinya yang hamil bahkan sebelum ia berpisah dengan El.


••••••••