
Pagi itu Rio pulang ke rumah dan menangis terisak sembari memeluk erat pinggang mamanya. Kiara belum pernah melihat putranya itu menangis seperti itu, tentu saja hal itu membuat dirinya cemas.
“Iyo kenapa menangis, sayang?” Kiara mengusap rambut kepala anaknya, “Apa Iyo jatuh semalam, atau badan Iyo ada yang sakit?”
Rio menggeleng kuat, tangisnya malah menjadi. “Papa ...” suaranya tersendat, diselingi isak tangisnya yang kuat.
“Papa kenapa? Apa yang terjadi sama papa Ed, cerita sama Mama?” tanya Kiara dengan hati was-was, karena sejak kepulangan Rio dan Ed semalam lelaki itu belum menghubunginya lagi.
“Bukan ...” Lagi-lagi Rio kembali menggeleng, sambil mengusap sudut matanya yang basah ia mendongak menatap pada Kiara. “Mama ... Papa El mau pergi jauh. Katanya lama baru kembali lagi,” sahut Rio dengan bibir bergetar.
Kiara menahan napas, ia memang tidak memberitahu Rio perihal rencana keberangkatan El yang akan kembali ke kotanya. Ia tak ingin mengatakannya karena tahu akan membuat anaknya itu sedih.
Tapi kepergian El menimbulkan kesedihan mendalam hingga membuat Rio merasa sangat kehilangan, Kiara sama sekali tidak pernah menduganya, karena pikirnya keduanya belum lama bertemu.
“Dari mana Iyo tahu kalau papa El mau pergi?”
“Tadi Iyo main ke rumah papa, tapi papa gak ada. Kata bik Ani, papa pergi. Papa sudah gak tinggal di rumah itu lagi.”
Kiara berjongkok, bertumpu pada satu kaki memegang bahu anaknya. Mendadak rasa haru menyelimuti hatinya melihat wajah sedih Rio dan bola matanya yang basah air mata. “Papa harus segera kembali ke kotanya. Kalau urusan pekerjaannya sudah beres, papa pasti balik lagi ke sini dan menemui Iyo.”
“Tapi, kenapa papa gak pamit sama Iyo kalau mau pergi lama. Kalau tau seperti itu, Iyo gak akan ikut bermalam di villa. Iyo akan menginap bersama papa.”
“Kita doakan saja ya, sayang. Semoga pekerjaan papa cepat selesai dan bisa kembali secepatnya lagi ke sini,” hibur Kiara lagi.
Setelah berbagai bujukan dan pengertian diberikan Kiara pada anaknya itu, perlahan Rio berhenti menangis dan kembali tenang. Ia kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi sampai tiba waktu makan siang.
Kiara yang berniat mengajak Rio makan siang bersama, tersenyum kecil melihat putranya itu tengah tertidur membelakanginya. Tak tega melihat Rio yang terlelap, Kiara berniat membetulkan letak selimut di tubuh anaknya itu.
Namun Kiara dikejutkan dengan suhu tubuh Rio yang terasa panas. Lalu tak lama kemudian terdengar igauan Rio yang memanggil nama papa El nya secara berulang.
“Iyo, bangun sayang. Ini Mama, Nak!” ucapnya seraya meraba dahi dan leher Rio, lalu punggungnya yang terasa basah oleh keringat.
Perlahan mata Rio mengerjap, mulutnya setengah terbuka. “Mama.”
“Iyo bangun ya, sayang. Kita ganti bajunya dulu,” ucap Kiara kemudian, menyadari leher dan punggung putranya itu bersimbah peluh.
Setelah mengganti pakaian dan memberinya air minum, Rio kembali membaringkan tubuhnya.
“Iyo mimpi apa, sayang?” tanya Kiara sembari duduk di tepi ranjang, diusapnya lembut rambut ikal putranya itu. Suhu tubuhnya kini berangsur normal, dan sepertinya Rio ingin melanjutkan tidurnya dan melewatkan makan siangnya untuk beberapa saat.
“Iyo mimpi jalan-jalan sama papa El, kita jalan sambil gandengan tangan. Tapi tiba-tiba papa lepaskan genggaman tangannya, terus pergi sendiri sambil melambaikan tangan. Iyo mau lari ngejar, tapi papa jalannya cepat banget. Iyo panggil-panggil papanya langsung menghilang,” tutur Rio menceritakan mimpinya barusan.
Ya Tuhan, meski mereka baru bertemu tapi ikatan di antara keduanya begitu terasa. Perasaan seorang anak pada papa kandungnya tidak dapat ditutupi, apalagi El sangat menyayangi Rio dan perhatian yang diberikannya selama mereka bersama membuat hubungan antara papa dan anak itu makin erat.
“Ma, Iyo boleh telpon papa El? Iyo mau ngucapin selamat jalan,” pinta Rio meraih tangan Kiara.
Sementara El yang tengah duduk di tepi ranjang di dalam kamarnya sambil memainkan ponselnya, tersenyum menatap gambar dirinya dan Rio yang tengah bermain bersama di lapangan bola.
Ia yang tidak begitu menyukai permainan bola kaki itu dibuat berlari ke sana ke mari melayani permainan Rio, apalagi saat berdiri di bawah tiang gawang. Beruntung ia tidak harus menggeser gawang karena sepakan kaki Rio kini selalu tepat mengarah ke gawang yang dijaganya.
Tanpa sadar El tertawa mengingat cerita Kiara tentang Rio dan kegemarannya pada olahraga yang satu itu, hampir semua barang miliknya kebanyakan bergambar pemain bola idolanya.
Mengingat hal itu, ingin rasanya ikut serta membawa Rio bersamanya, tapi itu tak mungkin dilakukannya karena pasti akan membuat Kiara bersedih karenanya.
Perlahan diusapnya gambar Rio yang kini menjadi wall paper di ponselnya, bertepatan dengan vc dari nomor Kiara yang mendadak menghubunginya. Tak lama kemudian wajah menggemaskan Rio dengan senyum lebar memenuhi layar ponselnya.
“Papaa!”
El sejenak terdiam, menatap wajah anaknya itu. “Ya sayang,” sahutnya dengan hati membuncah diliputi rasa sayang yang teramat dalam.
“Papa berangkat jam berapa, kenapa gak kasih tau Iyo kalau mau pergi. Kan Iyo bisa nginap bareng papa semalam,” rajuk Iyo menyampaikan protesnya karena El tak memberitahu perihal kepergiannya padanya.
“Pesawat jam empat sore, sayang. Maaf Papa gak sempat kasih kabar sama Iyo, jangan ngambek ya jagoan Papa.”
“Dimaafkan, Pa.” Rio terkekeh, “Iyo gak ngambek, Iyo sayang Papa.”
Ya Tuhan, El berusaha menahan diri. Ingin rasanya berlari ke sana dan memeluk putranya itu.
Lalu percakapan antara papa dan anak mengalir lancar, El yang pada akhirnya harus meminta maaf pada Rio karena tak sanggup menahan sedih hatinya kala harus berpamitan dengan putranya itu. Entah kapan mereka akan kembali bertemu lagi, tapi El berjanji akan sering menghubungi Rio.
“Selamat jalan Papa, jaga diri baik-baik di sana. Jaga kesehatan juga, jangan lupa makan ya Pa. Hihihi itu tambahan pesan dari mama,” ucap Rio terkikik sembari menutup mulutnya.
“Iyo juga, jaga kesehatan. Nurut apa kata mama, jangan nakal ya sayang.” Hampir saja El menangis di depan Rio, tapi sekuat tenaga ia berusaha menahannya tak ingin terlihat lemah di hadapan putranya itu.
Saat ponsel beralih ke tangan Kiara, tidak banyak kata terucap. Hanya tatapan mata yang bicara dan itu sudah mengungkapkan banyak arti untuknya.
“Selamat jalan, jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan terlalu lelah, ingat kesehatanmu juga!”
El mengangguk, “Kamu juga, titip Rio untukku. Jaga baik-baik dia, kalau ada apa-apa segera hubungi nomorku. Sampaikan juga salamku untuk Ed, maaf Aku tidak sempat berpamitan dengannya.”
Dan sambungan telepon itu pun berakhir. Tak pernah terbesit dalam hatinya akan semudah itu mendapatkan hati dan kepercayaan Rio padanya, setelah semua yang terjadi pada dirinya juga Kiara.
Rio tak pernah menyalahkan sikapnya pada mamanya, tak pernah bertanya kenapa ia meninggalkan mereka berdua tanpa dirinya. Rio menerima kehadirannya tanpa banyak bertanya, dan El sangat bersyukur akan hal itu dan sangat berterima kasih pada Ed sahabatnya yang punya andil besar dalam mendekatkan dirinya dengan Rio putranya.
Saat jarum jam menunjuk angka 2, El bergegas bangkit. Di bawah Seno sudah siap menunggu.
El melangkah perlahan, berdiri sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam mobil. Menatap langit, mengembuskan napas berat. Ia merasa sebagian hatinya tertinggal di kota ini, pada hati dan jiwa dua orang yang paling berarti dalam hidupnya kini.
••••••••