You are the Reason

You are the Reason
Bab 68. Keinginan Rio



Kiara menghela napas, menatap Rio yang telah tertidur lelap. Wajah polos Rio terlihat begitu damai, hingga Kiara tidak tega untuk membangunkannya.


“Tidurnya nyenyak banget,” ucap Kiara setengah kecewa, ia berharap putranya itu terbangun saat mendengar kedatangannya.


Kiara berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Di betulkannya letak selimut di kaki Rio yang sedikit berantakan, tertindih kakinya yang memeluk guling.


“Kelelahan habis main bola terus langsung berenang di pantai tadi. Pulang-pulang bawaannya ngantuk, pingin tidur saja.”


“Apa Iyo sudah makan?”


“Sudah, habis magrib tadi Aku ajak makan di cafe depan gang sekalian jalan-jalan beli camilan. Gak lama minta pulang, ngantuk katanya.”


Kiara menatap bungkusan makanan ringan dan minuman kaleng yang ada di atas meja, sebagian ada yang terbuka dan ditaruh di dalam wadah toples kaca. Sebagian lainnya masih utuh dan berada di dalam kantung plastik besar.


Kiara bisa menebak, itu semua makanan ringan kesukaan anaknya. Terbayang bagaimana riuhnya suara Rio saat ia berbelanja dan El yang dengan senang hati menuruti semua keinginannya.


Kiara menolehkan wajahnya, menatap ke arah lelaki yang tengah berdiri bersandar pada daun pintu yang ada di belakang punggungnya.


“Seharusnya Bapak tidak usah terlalu memanjakan Rio, apalagi sampai harus menuruti semua keinginannya!” tegur Kiara.


El menegakkan tubuhnya, menatap Kiara untuk sesaat lamanya. “Aku, memanjakan Rio?” ucapnya menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan kening berkerut.


“Ya!” sahut Kiara cepat. “Cukup satu macam saja dan tidak perlu membeli sebanyak itu,” imbuh Kiara seraya menunjuk makanan di atas meja.


“Lalu menurutmu, siapa yang harus Aku manjakan? Kamu?” sahut El lagi.


“Kamu!” ucap Kiara tak suka, berdiri mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya.


“Kalau Kamu menginginkannya, dengan senang hati Aku bersedia melakukannya.”


“Kurang ajar!” umpat Kiara geram, “Aku tetap akan membawa anakku pulang!” ucap Kiara lalu membuka selimut Rio hendak membangunkannya.


“Besok pagi lebih baik!” cegah El berdiri di dekat Kiara, menahan tangannya untuk membangunkan Rio.


“Tidak! Aku tetap akan membangunkan anakku!” ucap Kiara keras kepala, menepis tangan El kuat. Ia kesal mendengar ucapan lelaki itu barusan dan berniat menentangnya.


“Kuminta dengan sangat, tolong jangan ganggu kedamaian tidurnya malam ini. Apa Kamu tidak melihat bagaimana pulas tidurnya, bahkan kita yang dari tadi berbicara keras di dekatnya tidak membuat tidurnya terusik.”


Kiara menoleh menatap pada Rio, dan membenarkan ucapan laki-laki itu dalam hati.


“Besok pagi-pagi sekali Aku sendiri yang akan mengantarnya pulang.”


“Bapak tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini,” cetusnya tiba-tiba, dan sebelum Kiara menyadarinya lelaki itu kembali memegang bahunya.


“Aku mengerti, sangat mengerti!” sahut El tegas.


“Apa yang Bapak mengerti, Bapak tidak tahu apa-apa!”


“Kamu merasa bersalah pada Rio, hari Minggu ini seharusnya Kamu bisa menemani putramu. Tapi karena janjimu pada sahabatmu, membuatmu harus meninggalkannya pergi bersamaku. Dan hal itu membuatmu marah, marah pada dirimu sendiri juga marah padaku. Apalagi saat mengetahui Rio senang dan nyaman tinggal bersamaku, Kamu tidak mau mengakuinya.”


“Terserah kalau Kamu bilang Aku ngawur atau semacamnya, tapi Aku akan tetap melarangmu membangunkan Rio dan membawanya pulang malam ini.”


“Aku tahu Kamu orang yang paling berhak atas diri Rio, tapi Kamu lihat bagaimana ia tidur nyenyak dan damai malam ini. Apa Kamu tega merampas kedamaian itu darinya?”


Kiara melemah, menatap sekali lagi pada wajah damai putranya yang terlelap tidur. Ucapan lelaki itu memang benar adanya, ia tak boleh merampas wajah damai itu malam ini.


Dikecupnya perlahan pipi dan rambut kepala Rio, sebelum Kiara menjauhi tempat tidur dan berjalan keluar kamar.


“Aku pulang,” ucapnya lirih.


“Pulanglah,” sahut El terdengar lembut di telinga Kiara. “Tak perlu bersedih, besok pagi Aku sendiri yang akan mengantar Rio pulang ke rumahmu.”


Kiara menghentikan langkahnya sejenak, di ambang pintu ia kembali menoleh menatap wajah putranya yang tertidur.


El yang mengerti bagaimana perasaan Kiara saat ini, berjalan mendekatinya. “Maaf, kalau ucapanku tadi menyakiti hatimu.”


Kiara tersenyum samar, mengangguk kecil lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Mata El terus mengawasinya hingga menghilang di balik pintu.


Malam itu matanya sulit sekali terpejam, sudah hampir jam satu malam dan Kiara hanya sibuk membolak-balikkan badannya.


Kiara bangun dan melihat dari balik korden jendela kamarnya, mengintip korden kamar El yang sudah tertutup dan lampu kamarnya yang tadi terang sudah berganti dengan lampu kamar yang redup.


Kiara akhirnya berpindah tempat dan memilih tidur di kamar Rio, sambil memeluk erat guling kesayangan putranya itu membayangkan wajah damai Rio hingga akhirnya ia pun terlelap.


Paginya Kiara terbangun saat mendengar celoteh riang Rio yang sudah kembali pulang.


“Selamat pagi, Ma.” Rio mencium kedua pipi Kiara yang membalasnya dengan balik mencium seluruh wajah putranya itu.


“Mama kangen, sayang.” Kiara menangkup wajah anaknya, mengabsen kembali wajahnya dengan kecupan.


“Sama, Iyo juga kangen sama Mama.” Rio tertawa geli. “Kapan-kapan kalau Iyo jalan bareng om El lagi, boleh ya Ma?”


Kiara langsung menautkan alisnya, “Memang Iyo mau jalan ke mana lagi sama om El.”


“Om El mau ngajak Iyo berenang Minggu depan, katanya ajakin Mama ikut bareng kita nanti.”


“Hari Sabtu sore kan papa Ed datang, memang Iyo gak mau jemput papa di bandara. Terus Minggunya jalan bareng sama papa?”


“Oh iya, hampir saja Iyo lupa.” Rio meringis, “Tapi kalau kita rame-rame berenang bareng papa sama om El kan lebih seru, Ma.”


Kiara langsung terdiam, entah apa yang terjadi saat dua lelaki itu bertemu nanti. Kiara tidak berani membayangkannya, pasti seru seperti ucapan Rio barusan.


"Iyo pengen kita liburan bareng lagi sama papa kayak biasanya, kalau om El ikut bareng kita pasti makin seru."


••••••••