You are the Reason

You are the Reason
Bab 27. Memohon



Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kiara hanya diam membisu di samping Bian yang terus memandang lurus ke depan. Berkas yang tadi diberikan lelaki itu padanya tergeletak di tengah-tengah mereka, menjadi pembatas duduk di antara keduanya.


Pikirannya kini dipenuhi bayangan wajah pamannya yang keadaannya semakin bertambah parah, dan dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi.


Kiara memijit keningnya yang terasa berdenyut, kepalanya pusing hingga tanpa sadar terdengar helaan napasnya yang berat. Sedari tadi ia terus berpikir keras, bagaimana cara agar bisa secepatnya mendapatkan uang dalam jumlah yang besar dan dalam waktu singkat untuk biaya operasi pamannya.


“Ekhem!” Bian berdeham, lalu mengambil berkas di sampingnya dan menyodorkan pada Kiara dengan wajah terus menatap lurus ke depan.


Kiara bergeming, menegakkan tubuhnya lalu menoleh sesaat pada Bian, “Jika harus berpisah dengan suamiku tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya, jangan harap Saya mau menandatangani berkas ini!”


“Dan membiarkan pamanmu harus meregang nyawanya karena putri yang sejak kecil diasuhnya lebih mementingkan perasaannya sendiri ketimbang keselamatan hidup pamannya, sementara ada hal yang bisa Kamu lakukan untuk menyelamatkan nyawanya.”


Kiara memalingkan wajahnya menatap keluar kaca jendela mobil, kedua tangannya saling bertaut. “Aku akan mencari cara lain tanpa harus mengorbankan nyawa pamanku juga pernikahanku!”


Mobil sudah memasuki halaman parkir rumah sakit, sementara Bian masih belum bisa membuat Kiara menuruti keinginannya.


“Keras kepala!” Bian mendengkus, “Tanda tangani berkas ini, dan Kamu tidak harus repot memikirkan biaya operasi dan perawatan pamanmu.”


Bian meletakkan berkas itu di pangkuan Kiara, tapi Kiara menepisnya dan secepatnya membuka pintu mobil, berlari keluar menuju ruang perawatan pamannya. Tangisnya pecah melihat keadaan pamannya yang terlihat semakin melemah.


“Yuda, cepat ikuti wanita itu. Dan lakukan seperti yang kuperintahkan padamu. Kali ini dia tidak akan bisa lolos lagi!”


“Siap Tuan!”


Bian bertindak cepat, tanpa sepengetahuan Kiara ia perintahkan Yuda untuk langsung mendatangi bagian administrasi rumah sakit dan mengurus semua hal yang berkaitan dengan operasi paman Kiara.


Satu jam kemudian terlihat kesibukan di ruang rawat paman Ardian. Atas permintaan Bian, paman dipindahkan ke rumah sakit besar di kota yang lebih lengkap fasilitasnya dan langsung dilakukan observasi untuk menjalani operasi.


Kiara menangis antara bahagia dan kecewa jadi satu. Saat ini ia tidak punya pilihan lain lagi, semua sudah diambil alih Bian. Ia tahu apa yang harus dihadapinya setelah ini. Ia juga tahu risiko apa yang kelak akan diterimanya setelah semua yang dilakukan Bian untuk pamannya.


Seminggu setelah operasi, keadaan paman berangsur-angsur membaik. Melihat senyum di wajah pamannya lagi, Kiara hanya mampu menyimpan luka hatinya di dalam hati.


“Terima kasih untuk semua yang Papa lakukan pada paman,” ucap Kiara tulus pada Bian.


Kiara tidak mungkin menampik pada semua yang telah dilakukan Bian untuk pamannya. Semua biaya perawatan pamannya selama masa pemulihan dibiayai oleh Bian. Bahkan kamar yang diberikan untuk pamannya adalah kamar yang terbaik, Bian juga menyediakan perawat khusus yang terus menjaga paman selama dua puluh empat jam non stop.


Andai lelaki itu tidak cepat bertindak mungkin saja hal buruk akan benar-benar terjadi pada pamannya. Dan Kiara tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya lagi.


“Untuk yang terakhir kalinya, ijin kan Kia bertemu dengan bang El. Setelah itu Kia berjanji akan tanda tangani surat ini,” ucap Kiara memohon pada Bian sebelum dirinya menandatangani berkas gugatan cerai El padanya.


Mereka berdua kini sedang berada di bangku taman rumah sakit yang ada di depan ruang inap paman.


“Kiara janji, setelah hari itu Kia akan benar-benar menghilang dari kehidupan abang. Selamanya.”


•••••


Malam itu Kiara mulai berkemas, menyiapkan keperluannya selama waktu yang diberikan Bian padanya untuk bisa bertemu dengan El.


Kiara tersenyum tipis memandang kartu nama bertulis alamat El berada.


“Ternyata kamu berada di sana bang,” bisiknya sambil menggenggam erat kertas di tangannya.


Setelah berhasil meyakinkan Bian dan berjanji akan menandatangani surat gugatan cerai setelah dirinya bertemu dengan El, akhirnya dengan berat hati Bian mau menuruti permintaan Kiara.


“Aku tidak akan segan-segan mencabut semua fasilitas yang sudah Aku berikan untuk pamanmu dan mengembalikannya seperti dulu lagi kalau sampai Kamu berani melanggar janjimu!” ancam Bian pada Kiara.


“Aku sudah berjanji, demi apa pun akan Aku tepati.”


Kiara menguatkan hatinya. Apa pun yang akan terjadi pada rumah tangganya nanti, ia bertekad akan menemui El dan membuktikan semua ucapan Bian padanya.


“Aku beri waktu dua hari untuk melihatnya, setelah itu jangan pernah berpikir untuk menemuinya lagi.”


Malam kian larut, jam di dinding menunjuk angka sebelas. Kiara mengesah lirih, matanya beralih menatap wajah damai pamannya yang kini tertidur di dekatnya.


Melihat paman tersenyum dan dapat tertidur pulas tanpa harus menahan sakit sepanjang hari seperti sebelum operasi, membuat Kiara menahan tangis dalam hati.


Perlahan tangannya terulur membetulkan letak selimut dan menariknya hingga menutupi dada pamannya.


“Paman harus tetap sehat, cuma paman satu-satunya yang Kia miliki saat ini.” Kiara menghapus sudut matanya yang berair.


Kiara memilih berbaring di sofa panjang sambil terus memandangi wajah pamannya. Sepanjang malam matanya sulit terpejam membayangkan pertemuannya kembali dengan suaminya esok hari.


Ya, suaminya. Suami yang tidak mengingatnya lagi, yang tega membiarkan dirinya melalui semuanya sendiri. Kiara menangis tak bersuara mengingat semua kebersamaannya dengan El.


••••••••