
Hari menjelang siang ketika Kiara tersadar dari pingsannya, membuka mata menatap langit-langit kamar lalu memindai sekelilingnya.
Samar dilihatnya bayangan tubuh seorang laki-laki berambut cepak tengah duduk di sofa berselonjor kaki membelakanginya, dengan sebelah tangan menopang kepalanya yang terkulai dan sebelah tangan lagi berada di atas perutnya.
“Hem, masih di sini rupanya. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku dirawat di rumah sakit ini, apa ada yang memberitahunya. Tapi siapa ya?” gumam Kiara bertanya dalam hati.
Krukruuk kruuk ...
Kiara mendekap mulutnya, perutnya berbunyi cukup keras. Jarak mereka cukup dekat, sementara ruangan yang ditempatinya itu begitu tenang hingga bunyi gesekan kain selimutnya pun terdengar begitu jelas.
Rasanya malu jika sampai terdengar olehnya. Matanya melirik pada bahu lelaki di depannya itu, tidak ada pergerakan yang berarti. Kiara tersenyum tipis, sepertinya dia sedang tertidur pulas.
“Ahh, perutku lapar.” Kiara mengusap pelan perutnya.
Ia melihat jam di dinding kamar menunjuk pada angka 1. Sudah siang, Kiara baru ingat kalau sejak pagi tadi belum sempat makan apa-apa. Setelah insiden pagi tadi, Kiara bahkan telah melewatkan sarapan paginya.
Senyumnya mengembang seketika kala pandangannya tertuju pada nakas yang berada tidak jauh darinya. Ada banyak makanan di atasnya, roti dalam wadah kemasan, dan juga berbagai macam jenis buah dalam keranjang rotan.
Melihat itu semua, perutnya kembali protes dan berteriak minta diisi.
Agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan lelaki di dekatnya itu, perlahan Kiara bangun dan menggeser tubuhnya. Satu kaki berhasil menjejak di lantai, lalu kaki berikutnya. Kiara dibuat meringis, menahan ngilu.
Ia lalu merendahkan tubuhnya sedikit, mengulurkan tangan menggapai tongkat yang ditaruh di ujung ranjang dekat bagian kepala lalu berjalan tertatih menuju nakas.
“Apa yang Kau lakukan, Kiara!”
Deg!
Kiara merasakan tubuhnya membeku tiba-tiba, lelaki itu berdiri tegap memandangnya gusar dan dengan langkah cepat berjalan ke arahnya.
“Tetap di tempat tidurmu, Nona. Jangan banyak bergerak jika Kau ingin cepat pulih. Dan jangan lalukan apa pun tanpa ijin dariku!” perintahnya tegas tak ingin dibantah.
“Aku lapar. Aku hanya ingin mengambil beberapa makanan di atas sana dan tidak bermaksud membangunkan tidurmu,” balas Kiara sembari memegang kuat tongkat di tangannya.
Huffh ...
Tak taak ...
“Apa yang Kau lakukan?” ganti Kiara yang bertanya.
Tongkat di tangan Kiara terlepas dan jatuh ke lantai. Tanpa aba-aba lelaki itu langsung saja menggendong tubuhnya dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.
“Turunkan Aku!” pinta Kiara, dengan memalingkan muka. Wajah mereka begitu dekat bahkan embusan napas lelaki itu terasa hangat di keningnya.
Ed merebahkan Kiara kembali ke atas tempat tidur, ia lalu mengambil satu kotak roti dan memberikannya pada Kiara.
“Makanlah.”
“Terima kasih, Mas.” Kiara mulai menyantap makanannya, dan tanpa malu-malu ia sudah menghabiskan tiga buah roti dalam waktu singkat.
Ed tersenyum samar melihatnya, ia mengambil tempat duduk di sebelah Kiara memandang pada perban di pipi dan kaki Kiara, juga luka lecet dan memar di bagian tangannya.
“Apa Kau pikir kami akan dengan mudah percaya begitu saja ucapan perawat itu, dan berharap keesokan harinya melihat Kau pulang ke rumahmu dengan berlari dan mengatakan pada kami semua ‘hai lihatlah, aku baik-baik saja’ Apa seperti itu yang Kau mau?”
“Andai Kamu tahu bagaimana khawatirnya Aku, mendengar Kamu terluka dan pingsan. Aku bahkan tidak peduli mereka melihatku seperti seorang suami yang bersikap gila karena melihat istrinya terluka. Terus saja marah dan memaksa mereka membuatmu cepat sadar dari pingsannya,” jelas Ed, terus saja bicara.
Kiara menghentikan makannya, mendongak menatap pada Ed yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.
“Rupanya Mas Ed yang dimaksud dokter Bobby sebagai suamiku,” gumam Kiara dalam hati.
Seulas senyum terbit di wajah Kiara yang pucat, “Maafkan Aku, karena sudah membuat kalian semua khawatir.”
“Harusnya kecelakaan itu tidak pernah terjadi padamu, kalau saja Evan tetap berada di dekatmu waktu itu. Memantau semua kegiatan yang Kamu lakukan,” ucap Ed dengan nada penuh penyesalan. “Hanya karena membalas telepon dariku, kami hampir saja kehilangan Kamu.”
Kiara sudah selesai makan, sejenak tertegun mendengar penuturan Ed. “Siapa Evan, apa selama ini kalian mengawasiku dari jauh?” tanya Kiara penasaran.
“Evan mantan anak buah om Bian, sahabat El juga. Saat ini ia bekerja padaku, dan Aku juga yang menyuruhnya untuk tetap menjagamu dari jarak jauh seperti permintaan El sebelum ia mengalami kecelakaan dan kehilangan memorinya.” Jelas Ed lagi.
Kiara memalingkan wajahnya, ternyata El masih tetap memperhatikannya meski semua dilakukan melalui sahabatnya Ed.
“Andai tidak ada campur tangan dari om Bian, dan Aku lebih dulu tahu saat kejadian. Mungkin sampai hari ini kalian berdua masih tetap bersama,” ucap Ed lagi.
Kiara menundukkan wajahnya, melipat bibir menahan tetes bening yang sepertinya siap meluncur keluar dari matanya.
“Jika saat itu tuan Bian tidak bertindak cepat, mungkin saat ini paman sudah tidak bersama denganku lagi.” Kiara mengusap sudut matanya yang berair.
Dua orang yang sama-sama berarti dalam hidupnya, dua orang yang paling dikasihinya dan pada akhirnya ia harus memilih di antara keduanya dan melepaskan salah satunya.
“Bagaimana kabar pamanku, apa beliau baik-baik saja?” tanya Kiara teringat keadaan pamannya.
“Beliau dalam keadaan sehat. Aku sudah menyewa perawat untuk menjaga pamanmu selama Kau berada di rumah sakit,” jawab Ed. “Dan Kamu tidak perlu khawatir, lebih baik fokus pada proses pemulihan dirimu.”
Kiara menarik napas lega mendengarnya, “Aku akan segera pulih dan secepatnya keluar dari sini,” ucap Kiara lagi.
“Seperti yang Aku katakan padamu, fokus pada pemulihan kesehatanmu. Tetap berada di rumah sakit ini untuk beberapa hari lagi sampai benar-benar merasa lebih baik!” tegas Ed tak ingin dibantah.
Kiara tersenyum tulus mendengarnya, “Mas terlalu baik pada kami, kita bahkan baru saling mengenal.”
“Aku mengenalmu melalui cerita El padaku, bagaimana kisah cinta kalian harus terhalang restu kedua orang tuanya. Dan Aku melihat sendiri perjuangan kalian untuk meyakinkan mereka.”
“Mungkin kami memang tidak berjodoh, sekuat apa pun ikatan cinta kami, sekuat apa pun usaha kami meyakinkan kedua orang tuanya, toh pada akhirnya kami tetap harus berpisah juga.” Kiara mencoba tersenyum, sambil mengusap perutnya.
“Setidaknya aku punya dia dalam rahimku yang akan terus menguatkan langkahku dalam menjalani hidup ini,” bisik Kiara dalam hati.
“Tersenyumlah Kiara, sambut harimu esok dengan senyum ceria. Hadapi semua rintangan dengan lapang dada, ikhlas, dengan hati damai karena Kamu layak bahagia.”
“Terima kasih, Mas. Begitu peduli padaku.”
Kamu layak bahagia, dan kamu layak diperjuangkan Kiara!
••••••••