
Kiara menyesap minuman coklat panas yang baru saja selesai dibuatnya, keningnya mengernyit tak suka. Coklat yang biasanya manis itu kini terasa pahit di lidahnya. Apa tadi ia lupa menaruh gula di dalamnya?
“Jangan muntah, tolong.” Kiara menutup mulut dengan telapak tangannya, perutnya kembali bergolak.
Sepanjang pagi hari tadi ia terus saja mengalami mual, tak ada makanan atau minuman lainnya yang dapat bertahan lama di dalam perutnya. Hanya minuman coklat panas itu satu-satunya yang terasa nyaman masuk di tenggorokannya dan tidak membuatnya mual.
“Huuhh!” Kiara menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.
Lambat laun rasa mual itu perlahan menghilang dan perutnya kembali normal meski kini terasa perih. Sudah beberapa hari ini ia mengalami mual di pagi hari dan rasa tidak nyaman di bagian perutnya.
Dengan langkah malas Kiara memeriksa rak lemari gantung di dapur rumahnya. Kosong! Tidak ada apa-apa di sana, hanya tersisa garam dan bumbu dapur yang sebagian sudah mengering dan layu. Sementara tempat gula yang dicarinya sudah dipenuhi semut kecil dan basah isinya.
Teringat kembali saat berada di rumah Ed, semua bahan makanan tersedia lengkap di rak gantung lemari dapur juga di dalam lemari pendingin. Berbanding terbalik dengan keadaan di rumahnya saat ini.
“Ish, cukup hidupku saja yang pahit. Jangan pula minumanku ikutan pahit,” ucap Kiara tersenyum kecut sembari menggoyang tempat gula, dan menyendok isinya.
“Begini jauh lebih baik rasanya.” Kiara meneguk habis minumannya setelah sebelumnya membuang terlebih dahulu semut kecil yang mengapung di atasnya.
Duduk dengan kedua kaki menekuk di atas kursi, pandangan Kiara berputar melihat sekelilingnya. Ia menggeleng tak percaya melihat keadaan rumah yang sudah lama ditinggalkannya itu.
“Jangan cuma dilihat saja,” ucap El, tiba-tiba saja lelaki itu sudah berada di sana. Berdiri di depan pintu, memegang celemek di tangannya.
“Rak itu tidak akan pernah bersih kalau hanya dipandangi saja, yank. Gunakan celemek ini biar pakaianmu tetap bersih,” imbuhnya lagi, lalu melempar celemek di tangannya pada Kiara.
Kiara menolehkan wajahnya, terkekeh geli mendengar ucapan El. Tangannya bergerak cepat menangkap, “Hap! Siap laksanakan, Abang.”
Kiara melihat tangannya yang kosong, seketika senyumnya memudar. Wajahnya terangkat, matanya berputar mencari keberadaan El di tempat itu. Namun lelaki itu langsung menghilang, bahkan bayangannya pun tidak terlihat ada di sana. Kiara terpaku di tempatnya berdiri saat itu.
“Ya Tuhan.” Kiara mengusap wajahnya perlahan, “Bantu aku melupakan dirinya. Tolong hapuskan ingatanku tentang dia,” bisiknya pelan.
Kiara menghela napas panjang, menengadahkan wajah menatap langit-langit dapur rumahnya. Hidupnya kini terasa sepi, ia harus membiasakan dirinya hidup tanpa El ada di dekatnya.
“Mengapa begitu sulit untuk melupakan kamu. Aku juga ingin hidup tenang dan melanjutkan hidupku tanpa harus selalu mengingat kamu.”
Kiara memejamkan mata, menahan untuk tidak menitikkan air mata. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menangis lagi untuk lelaki itu, meski semua terasa sulit untuk dilakukan.
Kiara sempat berharap, di hari pertama sejak tiba kembali di rumahnya El akan menelepon dirinya. Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.
Kenapa juga El harus menelepon dirinya? Kiara bertanya pada dirinya sendiri dan menertawakan kebodohannya. Mengingat namamu saja tidak, apalagi berharap El akan menghubungimu.
Don’t expect more! Kiara mengingatkan dirinya.
Sungguh berat rasanya membunuh harapannya pada El, mantan suaminya. Ya, Kiara tersenyum getir. Mereka kini telah resmi berpisah, setelah putusan pengadilan ditetapkan, El bahkan tidak bersedia menemuinya untuk terakhir kalinya. Lelaki itu benar-benar telah menghapusnya dari hidupnya, dan di sebelahnya Bian tersenyum puas memandangnya.
Kresek kresek ...
Kiara mengerjapkan mata, terlonjak kaget saat melihat plastik sampah di dekat pintu bergerak-gerak.
“Ish, ngagetin aja!” Kiara tersenyum masam melihat dua ekor cecak saling berkejaran dan masuk ke dalam plastik sampah.
Ia lalu mengibaskan tangannya, mencoba menghapus bayangan El dari pikirannya. Ia harus move on dan melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang mantan. Saat ini tujuan utamanya adalah mencari pekerjaan, demi kelangsungan hidup dirinya dan paman.
Kiara sudah melakukannya, menyebar lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Berharap ada yang akan berbaik hati dan menerima dirinya bekerja.
Ya, tidak akan ada yang mau memberi cuma-cuma bila ia hanya berdiam diri menyesali nasib tanpa melakukan apa-apa.
Diambilnya celemek yang terlipat di rak lemari dan mulai memakainya. Dengan cekatan tangan Kiara bergerak, membersihkan isi dalam lemari. Membuang barang yang tidak terpakai lagi, dan menaruhnya di tempat sampah.
“Kia, Kiara.” Suara serak paman memanggil namanya. Kini keadaan paman sudah jauh lebih baik, dan sudah kembali tinggal di rumah bersama Kiara.
“Ya, Paman.” Kiara melepas serbet di tangannya lalu bergegas mendatangi pamannya yang tengah berbaring di sofa sambil menonton berita di televisi.
“Paman butuh sesuatu?” tanya Kiara sambil membetulkan letak selimut di kaki pamannya.
“Ponselmu dari tadi berbunyi terus,” jawab paman menunjuk ponsel Kiara yang berada di samping televisi. “Coba diangkat dulu, siapa tahu penting.”
“Oh.” Kiara menoleh ke arah ponselnya, “Kia gak dengar, Paman.”
Kiara memeriksa ponselnya, lalu melihat panggilan tak terjawab beberapa kali dari nomor yang tak dikenal. Ia lalu duduk di sebelah pamannya.
“Kia gak kenal nomornya, Paman.”
“Coba di telepon balik saja, siapa tahu orang dari perusahaan yang sudah Kamu masukkan lamaran pekerjaan kemarin.” Paman memberi saran.
“Baiklah, Paman. Kia coba telepon balik,” jawab Kiara, lalu menekan nomor tak dikenal tersebut.
“Halo,” terdengar sahutan dari seberang telepon saat panggilan sudah tersambung.
“Maaf, saya bicara dengan bapak siapa ini. Saya lihat nomor bapak terus-terusan menghubungi saya dari pagi tadi,” tanya Kiara.
“Benar ini dengan nona Kiara Larasati, bisakah nona datang siang ini ke kantor kami di jalan ...”
“Saya catat alamatnya, pak.” Kiara menyambar kertas dan pulpen di atas meja lalu mencatat alamat.
“Terima kasih banyak, pak. Saya akan datang ke kantor bapak siang ini, terima kasih.”
Kiara mendekap ponsel di dada, tersenyum lebar pada pamannya yang menatapnya penuh tanya.
“Bagaimana, apa benar orang dari perusahaan seperti yang Paman bilang?” tanya paman.
Kiara mengangguk kuat. “Kiara dipanggil untuk wawancara kerja siang ini, Paman. Kalau lulus besok Kia sudah bisa langsung kerja,” jawab Kia bersemangat.
“Semoga wawancaranya berjalan lancar, dan Kamu diterima bekerja di sana. Doa Paman selalu menyertai langkahmu,” ucap paman mengusap rambut Kiara.
“Terima kasih, Paman. Doa dan dukungan Paman sangat berarti buat Kia,” jawab Kiara tersenyum tulus. “Sekarang Kia mau siap-siap dulu biar gak telat datang ke sana,” imbuh Kiara lagi.
Tidak lama kemudian Kiara telah siap dengan dirinya, berpamitan pada paman lalu bergegas ke luar rumah.
“Taksi!” seru Kiara.
Terburu-buru Kiara berlari menuju taksi pertama yang terlihat di seberang jalan. Kakinya terantuk batu di pinggir jalan, dan jatuh terjungkal.
“Ya Allah!” serunya saat merasakan nyeri pada siku lengannya dan lututnya yang berdarah.
“Hati-hati Mbak!” teriak sopir dari seberang jalan.
Kiara bangkit berdiri, tertatih menyeberang jalan. Kakinya terpeleset saat hak sepatu yang dipakainya patah dan Kiara kembali terjatuh, tepat saat ada mobil yang melaju ke arahnya.
Terbelalak, tidak sempat lagi bergerak untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba saja Kiara merasakan tubuhnya terlempar, disusul suara jeritan terdengar, lalu perlahan kegelapan datang menyelimutinya.
••••••••