You are the Reason

You are the Reason
Bab 45. Menyesal



El terus memperhatikan Kiara dari bawah tribune penonton, berdiri di pinggir lapangan di antara para penonton lainnya yang kebanyakan berasal dari para pendukung dua tim kesebelasan yang saat ini tengah bertanding di lapangan.


Sudah hampir satu jam El berada di dalam sana, mengawasi Kiara. Mengabaikan dering telepon dari Seno yang sedari tadi gelisah menunggunya di luar gedung.


Empat puluh lima menit babak pertama sudah berakhir, dan kini waktu memasuki babak kedua. Tidak ada satu pun gol yang tercipta selama pertandingan berlangsung. Tidak seperti harapannya akan melihat pertandingan yang menarik, karena melihat antusias dan banyaknya penonton yang memadati tempat itu.


“Ck, payah!” gerutunya melihat permainan di lapangan, merasa kecewa karena sudah membuang waktunya percuma.


El memindai sekelilingnya mencari sosok Rio. Lalu dilihatnya bocah lelaki itu berjalan memasuki lapangan sambil melambaikan tangan ke arah Kiara yang duduk di barisan depan penonton, menautkan kedua tangannya membentuk gambar hati di atas kepalanya pada Rio.


Rio tertawa lebar, seorang rekannya menepuk bahunya dan keduanya berlari masuk lapangan.


Priiit!


Suara peluit wasit menandakan permainan babak kedua dimulai terdengar nyaring, bersamaan dengan ponsel El yang bergetar kembali. Untuk beberapa saat perhatian El teralih.


El segera melihatnya lalu bergerak sedikit menjauh dari pinggir lapangan untuk menerima panggilan telepon.


“Saya sedang dalam perjalanan dan satu jam lagi akan segera tiba di sana. Tolong sampaikan pada pak Isfan untuk menunggu sebentar lagi, terima kasih.” El menutup sambungan teleponnya.


Sambil melirik arloji di tangannya, El tersenyum masam menyadari keterlambatannya datang ke kantor cabang perusahaan Abian Grup dan membiarkan orang-orang di kantor itu menunggu kedatangan dirinya lama.


Hanya karena rasa penasarannya dengan sosok Kiara dan putranya yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama, membuat El melupakan pekerjaannya dan mengikuti wanita itu hingga sampai di tempat ini.


“Gol!”


“Rio yes Rio. Gol, Rio!”


“Satu kosong, yess!”


Sorak kegembiraan dan teriakan lantang terdengar memenuhi stadion saat Rio berhasil mencetak angka. El menoleh dan bergegas kembali melihat pertandingan dari dekat.


Dilihatnya Rio yang memakai baju dengan nomor punggung 7 itu berlari ke pinggir lapangan diikuti rekannya dari belakang sambil berseru lantang mengangkat tinggi tangan ke udara. Dan Kiara yang bersorak kegirangan berlari cepat, turun melewati bangku para penonton menuju lapangan.


“Mama!” seru Rio berlari masuk ke dalam pelukan Kiara yang langsung memeluknya erat.


“Jagoan Mama keren, semangat sayang. Cetak gol lagi buat Mama,” ujar Kiara mencium kedua pipi Rio.


“Siap!” jawab Rio, membuat Kiara terkekeh dibuatnya.


Priit!


Peluit kembali berbunyi, Kiara melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar melihat Rio kembali berlari masuk ke dalam lapangan.


Waktu berjalan cepat, tersisa beberapa menit lagi dan pertandingan akan segera berakhir.


“Putranya hebat, bisa mengecoh lawan dan cetak gol. Keren!” ucap salah seorang penonton di dekat Kiara.


“Iya, Saya beneran gak nyangka. Rio cetak gol sulit seperti barusan, bisa melewati tiga pemain dan berhasil membuat gol. Mantap!” timpal penonton lainnya.


Pujian terlontar dari beberapa penonton, mereka menyalami Kiara karena tahu pencetak gol tunggal itu adalah putranya.


“Terima kasih.” Kiara tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya, ia tersenyum lebar dan kembali berteriak lantang memberikan semangat pada anaknya.


Peluit panjang berbunyi menandakan berakhirnya pertandingan, dengan kemenangan di raih tim kesebelasan sekolah Rio yang berhasil maju ke babak semi final yang akan berlangsung tiga hari lagi.


Setelah berpamitan dengan teman-temannya, Rio berlari ke pinggir lapangan menemui Kiara yang menunggunya dengan merentangkan kedua tangan bersiap menyambutnya dengan pelukan hangat.


Hati Kiara menghangat, diciuminya wajah anaknya itu dengan penuh rasa sayang yang dimilikinya.


“Ma, pinjam hp Mama. Iyo mau telepon papa,” pinta Rio pada Kiara, yang langsung menyerahkan ponselnya.


Saat sambungan telepon terhubung, dengan bangga Rio menceritakan kemenangan tim sekolahnya pada papanya ditemani Kiara yang berdiri di sampingnya terus mengusap rambutnya.


Beberapa saat kemudian setelah puas bicara pada papanya, ponsel di tangannya diberikannya lagi pada Kiara. “Ma, papa mau bicara sama Mama.”


Kiara terlihat manggut-manggut, sesekali tertawa kecil. “Iya, hati-hati.”


“Iya, cuman flu biasa kok. Bentar juga sembuh, aman lah.”


Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan El yang masih berada di sana. Ada rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata saat melihat Kiara dan Rio tersenyum bahagia berbicara di telepon dengan laki-laki yang dipanggil Rio papa.


“Tuan.”


El mengalihkan pandangannya, matanya menangkap sosok Seno yang kini berdiri di dekatnya.


El menarik napas dalam teringat tujuannya semula datang ke kota ini. Ia melirik sekilas pada Kiara yang masih berada di pinggir lapangan bersama Rio.


“Kita kembali ke kantor sekarang,” ucapnya kemudian, berjalan keluar gedung mendahului Seno menuju mobilnya.


Dari pinggir lapangan Kiara menolehkan wajahnya menatap kepergian El. Sejak tadi ia sudah tahu kalau lelaki itu berada di sana dan membuntutinya. Tapi ia berusaha bersikap biasa saja dan seolah tidak melihat kehadirannya.


Sepanjang perjalanan El lebih banyak berdiam diri, matanya terus menatap keluar kaca jendela mobil. Pikirannya dipenuhi bayangan wajah Kiara dan putranya.


Perasaannya terganggu mendapati wanita itu terlihat bahagia apalagi saat mendengar sekilas Rio bercengkerama di telepon dengan papanya yang sudah pasti adalah suami Kiara saat ini.


“Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan saat ini. Bagaimana bisa aku terus memikirkan dirinya yang jelas-jelas sudah menikah lagi dan memiliki seorang putra.” El mengusap kasar wajahnya.


Setelah tubuhnya pulih pasca kecelakaan yang dialaminya dan harus kehilangan sebagian memorinya, El langsung bekerja dan bergabung di perusahaan papanya.


Hari-hari dilaluinya dengan bekerja, dan Raisha yang selalu hadir menemaninya. Hingga akhirnya El memutuskan untuk menikah dan menerima Raisha sebagai istrinya. Sampai hari di mana ia bisa mengingat kembali semuanya dan menyadari kenyataan kalau ia telah berpisah dengan wanita yang dicintainya.


Dreet ... ponselnya berbunyi, matanya menatap nama di layar lalu mengembuskan napas sebelum mengangkatnya.


“Berapa lama perginya, kenapa gak kasih kabar dulu kalau mau berangkat ke sana. Sampai hari ini Aku masih tetap istri sahmu! Apa Kau begitu tidak menyukai kehadiranku di dekatmu sampai-sampai kabar kepergianmu pun harus Aku dengar dari orang lain,” berondong Raisha saat sambungan telepon darinya terhubung.


“Bahkan untuk berbicara denganmu saja harus melalui sekretarismu,” keluh Raisha lagi.


“Maaf,” jawab El singkat.


“Aku bicara panjang lebar dan Kau hanya menjawab satu kata?”


“Semua serba mendadak, papa memintaku untuk segera datang dan mengurus kantor cabang di Sola. Maaf belum sempat memberitahu Kamu,” jelas El. “Sekarang kamu ada di mana?” tanya El kemudian setelah mendengar suara lain di samping Raisha.


“Lagi di jalan bareng teman, mau ke lokasi pemotretan. Apa Kamu bakalan tinggal lama di sana?”


“Belum tahu, bisa iya bisa juga tidak.”


“Ya sudah, kalau begitu Aku nginap di rumah mamaku saja.”


“Kenapa gak nginap di rumah papa saja, mamaku pasti senang kalau Kamu menemaninya di sana. Mama kesepian dan Kamu tahu itu!”


“Malas! Siapa juga yang bakal betah tinggal di sana kalau setiap hari selalu diatur-atur dan selalu membahas hal yang itu-itu saja, menyebalkan. Belum lagi aturan yang dibuat papa, yang jelas-jelas bertentangan dengan jam kerjaku. Bagaimana Aku bisa betah dan nyaman tinggal di sana?” rutuk Raisha pelan namun masih terdengar jelas di telinga El.


“Jangan menyalahkan orang tuaku, seharusnya Kamu bisa bersikap lebih dewasa menghadapi sikap mama dan papa dan bukannya selalu menghindar seperti ini. Mereka hanya ingin segera menimang cucu dari kita, itu saja. Dan Kau selalu punya seribu satu alasan untuk mengelaknya!”


“Bukankah sejak awal menikah kita sudah sepakat untuk menunda kehamilan dan kalian semua menyetujuinya. Lalu kenapa sekarang berubah? Karierku sedang berada di puncak, dan Aku tidak ingin usaha yang sudah Aku rintis sejak lama harus kandas dan berakhir hanya karena masalah anak!”


“Mau sampai kapan, Sha?”


“Sampai Aku siap.”


Dan perbincangan mereka selalu berujung dengan pertengkaran oleh sebab yang sama.


“Bye.” Raisha memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


El mengesah pelan, menaruh kembali ponsel dalam saku jasnya. Menyesali keputusannya menikahi Raisha, dan kembali memikirkan ucapan Edgar tentang Kiara. Tiba-tiba saja ia teringat pada sahabatnya itu dan berniat menghubunginya.


••••••••