
Sesampainya di kantor barunya, El bergegas turun dari mobil bersama Seno yang berjalan di sampingnya.
“Apa Kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku, No?” tanyanya pada Seno, sembari membuka kaca mata hitamnya yang bertengger manis di hidung mancungnya.
El menghentikan langkahnya sesaat, pandangannya menyapu sekitar tempatnya berdiri saat itu.
“Sepertinya petugas taman di kantor ini melakukan tugasnya dengan baik,” sahut Seno seolah mengerti apa yang dimaksud oleh tuannya itu.
“Tepat sekali.” El menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Suasana seperti ini yang Aku inginkan ada di kantor pusat, teduh dan menyenangkan. Bukan hanya pemandangan pagar tembok tinggi dan halaman depan yang gersang,” imbuh El lagi sembari merentangkan tangannya lebar.
Suasana teduh dan asri memang terasa sekali di tempat itu, meski cuaca siang hari itu panas terik. Angin yang berembus halus meliukkan daun-daun lebar tanaman yang berada di pot-pot besar persis di sisi kiri dan kanan dekat pintu masuk.
Banyak pula ragam tanaman hias yang tertata rapi berjajar di setiap sudut bangunan, dan warna hijau begitu mendominasi.
Pandangannya kini tertuju pada taman kecil yang berada tepat di depan pintu masuk kantornya. Ada air terjun mini sebagai tambahan, mengalir dari dinding tembok yang ditempeli batu hias besar. Juga kolam kecil di bagian tengah taman yang banyak terdapat ikan hias di dalamnya.
“No, tunggu sebentar. Aku ingin sekali melihatnya dari dekat,” ucap El lagi.
Tidak ada pagar pembatas yang menghalang, sehingga kakinya dengan bebas melangkah ke dalam sana. Hanya parit kecil selebar tiga puluh senti berbentuk melingkar yang membatasi taman berukuran lima kali tiga meter itu dengan jalan di depannya.
Seketika senyum mengembang di wajah El. “Petugas taman itu layak mendapatkan bonus tambahan, karena di hari pertamaku datang dan menginjakkan kaki di tempat ini sudah menghadirkan pemandangan yang menyejukkan mata.”
Seno tersenyum lebar menanggapinya, “Saya setuju dengan pendapat Tuan. Sebagai penghargaan atas usahanya dalam menghijaukan halaman kantor ini.”
Puas melihat-lihat pemandangan di depannya, El lalu mengajak Seno memasuki kantornya.
Rupanya kedatangan mereka telah ditunggu sejak tadi. Isfan dan beberapa orang yang mengepalai masing-masing divisi di kantor itu berdiri dan berbaris rapi menyambutnya di depan pintu masuk ruang direktur. Sementara sebagian karyawan lainnya tetap berdiri di dekat meja kerjanya masing-masing.
Wina tertegun sesaat ketika melihat El yang berjalan lewat di depannya, ia seolah mengenal wajah itu tapi lupa di mana pernah melihatnya.
“Selamat datang pak Elvan,” sapa Isfan ramah, menjabat tangan El diikuti dengan rekannya yang lain.
“Maafkan keterlambatan Saya datang ke kantor ini, hingga membuat semua orang yang ada di sini harus menunggu lama.”
El menyambut uluran tangan Isfan, lalu balik badan menghadap pada semua orang dan mengatupkan kedua tangannya di dada.
“Perkenalkan Saya Elvan Aksa Abiputra, dan di sebelah Saya saat ini adalah Seno asisten Saya. Untuk beberapa hari ke depan Saya akan bekerja di kantor ini bersama kalian semua. Mohon kerja samanya,” ujar El yang langsung mendapat anggukan semua orang.
El memperkenalkan dirinya dan Seno yang berada di sampingnya, tersenyum balas menyapa semua orang di sana sambil menundukkan tubuhnya sedikit.
“Siap Pak, Kami semua siap membantu dan bekerja sama dengan Bapak.”
“Terima kasih,” balas El tersenyum.
Ia lalu menatap sekeliling ruangan, memindai tempat itu lalu berhenti pada satu meja kosong yang berada paling pojok tepat di samping meja kerja Wina.
“No, apa Kamu melihat meja kosong yang ada di pojok itu?” tanya El berbisik di telinga Seno seraya mengarahkan dagunya.
“Iya, Saya melihatnya Tuan. Tapi, ada apa dengan meja itu?” Seno balik bertanya.
“Ish, coba Kamu perhatikan baik-baik. Apa Kamu gak lihat bunga yang ada di mejanya, itu kan ...”
Seno lalu teringat pada bunga yang ada di taman depan kantor, lalu tersenyum dan balas berbisik pada El.
“Mungkin saja seperti dugaanmu, No.”
Keduanya malah sibuk saling berbisik, hingga menimbulkan tanda tanya dan rasa penasaran pada mereka yang melihat keduanya.
“Ekhem!”
El menolehkan wajahnya, menatap Isfan dengan kening berkerut. “Ada apa?”
Isfan meringis, ia sebenarnya penasaran dengan apa yang dibicarakan kedua lelaki di dekatnya itu.
“Maaf, sepertinya ada yang ingin pak Elvan tanyakan pada kami di sini. Silah kan, Pak.”
El berdeham sejenak sebelum memulai bicaranya, menegakkan bahu dan menatap sekilas ke arah meja di pojok ruangan lantai gedung kantor yang dipijaknya itu.
“Mengapa ada satu meja yang dibiarkan kosong tak berpenghuni di kantor ini? Apa memang tidak ada pemiliknya atau ada alasan lain hingga orang yang harusnya berada di sana berhalangan hadir di kantor ini. Ada yang bisa menjelaskannya pada Saya?” El tiba-tiba saja menanyakan hal itu dan menatap satu persatu wajah-wajah di hadapannya.
Seno menutup mulutnya rapat, terkejut mendengar pertanyaan El. Ia tidak menyangka tuannya itu akan menanyakan hal itu. Semoga saja ia tidak bertanya juga tentang bunga yang ada di atas meja kosong itu.
Wina yang berdiri persis di sebelah meja kosong yang dimaksud El itu pun mengangkat tangannya dan bersuara.
“Ini meja kerja Rara, sejak pagi tadi Rara sudah meminta ijin pada pak Is untuk bekerja setengah hari saja. Tubuhnya memang kurang fit tapi Rara tetap memaksakan diri datang untuk bekerja,” jelas Wina.
“Apa benar seperti itu pak Is?” tanya El menoleh pada Isfan yang berdiri di samping kirinya.
“Iya, benar pak El. Saya juga sudah menawarkan obat padanya dan memintanya untuk segera pulang dan beristirahat,” ucap Isfan membenarkan ucapan Wina.
“Hem, perhatian sekali.” El manggut-manggut, tersenyum melihat kepedulian karyawannya pada sesama rekan kerjanya.
Beruntung ia masih bisa menahan diri untuk tidak bertanya tentang bunga di atas meja sana, karena orang yang harus menjelaskan padanya tak berada di sana.
“Baiklah kalau memang seperti itu alasannya, Saya bisa memakluminya. Saya salut dengan kepedulian kalian,” ucap El yang langsung disambut dengan tarikan napas lega Wina yang mengetahui alasan Kiara sebenarnya.
Isfan lalu memberi isyarat pada rekannya yang lain untuk segera membawa El ke dalam ruang kerjanya sebelum lelaki itu bertanya banyak hal yang lain.
“Silah kan masuk, pak El. Kami sudah menyiapkan ruang kerja Bapak,” ucap Tony kepala divisi keuangan, membuka lebar pintu dan mempersilahkan El untuk masuk.
“Baiklah kalau begitu, silah kan lanjutkan pekerjaan kalian lagi.” El memasuki ruang kerjanya bersama Seno yang setia berjalan di sampingnya.
“Bisa Saya minta data seluruh karyawan di kantor ini?” tanya El pada Tony setelah ia duduk di belakang meja kerjanya.
“Baik, akan segera Saya siapkan untuk Bapak.” Tony bergegas meninggalkan ruangan El, sementara Isfan sudah kembali ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruang kerja El yang baru.
Sementara di tempat lain, Kiara tengah bergelung dengan selimut tebal di dalam kamarnya. Tenggorokannya seperti diiris-iris dan kepalanya berdenyut nyeri. Badannya terasa sakit semua, apalagi setelah tadi terus berteriak dan berpanas-panasan di pinggir lapangan.
Setelah meminum obat pereda nyeri ia mencoba beristirahat dan memejamkan matanya.
“Aku tidak boleh sakit, aku harus tetap sehat. Obatnya hanya lah tidur dan beristirahat,” ucap Kiara bertekad untuk tidak menyerah dengan rasa sakitnya.
••••••••