You are the Reason

You are the Reason
Bab 42. Bertemu kembali



“Iyo, ntar kalau dah nyampe rumah, gak usah cerita soal om tadi ya. Sama nenek apalagi sama mama,” ujar Kinan di sela perjalanan pulang ke rumah.


“Memang kenapa gak boleh cerita, omnya baik loh mau kasih kado kalau Iyo ultah nanti.”


Ciiiitttt!


Jedug!


“Mbak Kinan apaan sih, berenti mendadak kayak gini. Kaget tau!” Rio mengusap keningnya, helm yang dipakainya berbenturan dengan helm yang dipakai Kinan karena mbaknya itu mengerem mendadak motornya.


“Tadi Iyo bilang sama Mbak, cuman ngobrol biasa sama si om. Kenapa sekarang bilang mau kasih kado ultah segala buat Iyo?”


“Ish, Iyo cuma canda tadi gak beneran juga.”


“Dengar apa kata Mbak ya, jangan bicara terlalu akrab sama orang asing apalagi baru kenal kayak si om tadi. Bahaya, gimana kalau ada yang berniat jahat sama Iyo, kan berabe urusannya.”


“Apaan sih, Mbak. Curigaan mulu, gak baik tau berburuk sangka sama orang lain.”


“Ish, Mbak kan cuman ngingetin. Hati-hati!”


“Iya, Iyo bakal hati-hati. Ayo jalan lagi!” Rio menepuk bahu Kinan.


“Ish, sakit tau!”


Rio terkekeh mendengarnya, “Nanti Iyo traktir es doger deh.”


“Kasep Iyo, udah lewat kali?” sahut Kinan. “Nih bocah ya, tadi aja dekat mang Asep gak mau nawarin. Giliran dah jauh aja baru nawarin,” gerutu Kinan yang dibalas dengan tawa riang Rio.


Sementara itu di sebuah apartemen mewah, El sedang berbaring di kamarnya. Beristirahat sejenak meluruskan badan setelah hampir 4 jam lamanya duduk dalam perjalanan, dan tiba di kota Sola ini untuk mengurus cabang perusahaan milik keluarganya.


Tok tok, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya yang sengaja dibiarkan El terbuka.


El membuka matanya perlahan, merentangkan kedua tangan ke atas lalu bangun dan duduk melipat kaki di atas ranjang besar dalam kamarnya. Dilihatnya, Seno sang asisten berdiri di ambang pintu kamar dengan tumpukan berkas di tangannya.


“Tuan, Saya sudah bawakan semua file perusahaan seperti yang Tuan minta.”


“Taruh di atas meja saja, No. Sebentar Aku keluar,” ucap El lalu beranjak dari atas tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.


“Siap Tuan.”


Beberapa saat kemudian, El keluar dan sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Mengambil minuman di dalam lemari pendingin dan memberikannya satu pada Seno.


Hingga menjelang sore keduanya masih asyik memeriksa berkas laporan evaluasi kinerja perusahaan selama satu tahun terakhir. Tidak ada yang salah, semua sesuai dengan catatan dan hasil yang diraih terbilang cukup memuaskan.


“Besok kita bisa langsung datang ke perusahaan, malam ini Aku ingin jalan-jalan dulu.”


“Apa perlu Saya temani, Bos?”


“Gak perlu, Aku mau jalan sendiri No. Kamu istirahat saja di sini, kamarmu ada di sebelah.”


“Siap Tuan, terima kasih.”


•••••


Sore harinya di kantor Abian Grup, Kiara tengah membereskan meja kerjanya. Sepuluh menit lagi jam kerjanya berakhir.


“Winn!” seru Kiara lantang memanggil sahabatnya Wina.


Tangannya bergerak cepat menarik tasnya yang tergantung di belakang kursi, lalu berjalan memutar mendekati meja kerja Wina.


“Appaa?” balas Wina tak kalah nyaring, bersiap mengambil tasnya pula.


Meja kerja keduanya sebenarnya bersebelahan dan hanya dibatasi sekat dinding setinggi satu meter, tapi sudah jadi kebiasaan setiap hari menjelang waktu kerja berakhir keduanya saling berteriak mengajak pulang bareng.


“Pulang yuk,” ajak Kiara, lalu menggandeng tangan Wina keluar.


Wina terkekeh, “ Kemon besti.”


Keduanya berjalan beriringan keluar sambil terus bercanda, sesekali Kiara memekik geli dan ganti menepuk bahu sahabatnya itu yang suka sekali melontarkan gurauan lucu berbau dewasa.


“Udah Win, cukup. Gara-gara Kamu, pikiran Aku yang masih polos ini jadi tercemar!”


“Dih, polos apaan. Bukannya dirimu yang lebih berpengalaman, tuh buktinya dah jadi bocil satu di rumah.”


Kiara memutar bola matanya, “Itu kan beda, waktu itu Aku asli masih orisinil gak tau yang begituan. Sekarang juga masih tetap sama, polos-polos ajah!” imbuh Kiara memainkan matanya.


Keduanya sudah sampai di parkiran belakang kantor, dan siap dengan kendaraan masing-masing.


“Aku mau mampir belanja dulu buat Rio, mau ikutan gak?” tanya Kiara sembari menghidupkan mesin mobilnya.


“Lo duluan aja deh, ntar kemalaman kasian anak lo nunggu. Gue juga mesti mampir tempat lain buat ambil pesanan nyokap dulu.”


“Kan bisa barengan, Win. Memang mampir di mana sih?” tanya Kiara.


“Beda tempat beda tujuan juga, lo mau belanja makanan. Lah gue, mau ambil jahitan pesanan baju nyokap.”


“Ya udah, kalau gitu Aku duluan ya Win.”


“Oke, hati-hati.”


Kiara melambaikan tangannya, melaju meninggalkan halaman parkir kantornya menuju mall terdekat.


Setibanya di sana, dilihatnya area parkir di luar gedung telah penuh sesak. Syukurlah masih tersisa tempat di bagian paling ujung, dan Kiara harus rela berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di stan makanan yang ada di bagian bawah mall.


“Astaga, hujan lagi!” Kiara mengesah lirih, menatap langit senja. Ia telah selesai berbelanja dan bersiap untuk pulang ke rumahnya.


Tangan kirinya memegang plastik besar penuh berisi makanan. Untuk beberapa saat lamanya Kiara memilih menunggu bersama pengunjung lainnya hingga hujan sedikit mereda.


Mendung tebal masih menggelantung di langit, tampaknya hujan belum akan berhenti. Hampir satu jam menunggu, Kiara mulai gelisah sementara hujan turun semakin deras.


Tidak ada pilihan lain selain menerobos hujan, kecuali ia ingin berdiam diri lama dan terus menunggu di sana.


Tak dihiraukannya cipratan air hujan yang mengenai kakinya dan guyuran air hujan yang membasahi pakaian yang dikenakannya. Tangannya semakin kuat menggenggam kantong plastik makanannya, dan Kiara sudah hampir sampai ke mobilnya.


Baru saja Kiara hendak menyeberang, tiba-tiba dari arah sebelah kanan sebuah mobil mewah melaju kencang ke arahnya.


Kiara menghentikan langkahnya dan merapatkan tubuhnya pada kendaraan lain di sampingnya.


“Aargghh!” teriaknya seketika.


Kiara memalingkan wajahnya, terkejut saat genangan air yang dilewati mobil itu mengenai pakaiannya dan kantong plastik di tangannya terlepas jatuh tepat di bawah kakinya.


Kiara langsung berjongkok dan bergegas menyelamatkan barang belanjaannya, sementara mobil itu berhenti tidak jauh darinya.


Sepasang kaki memakai sepatu kulit mengkilap keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya. Orang itu ikutan berjongkok, membantu Kiara memasukkan barang belanjaannya.


“Maaf, Aku tidak melihatmu saat mobilku melewati jalan ini.”


Deg!


Suara itu, meski sudah lama tidak pernah mendengarnya tapi Kiara tidak pernah bisa melupakan suara itu. Walau terdengar lebih berat dan dewasa, tapi cara berbicaranya tidak berubah.


Kiara mendongak menatap lelaki di hadapannya itu. Tubuhnya menggigil seketika, air hujan semakin deras mengguyur tempat itu.


Kiara berdiri, memejamkan matanya sesaat lalu menunduk menatap tampilan dirinya yang terlihat kacau. Rambut lepek, baju basah kuyup, sepatunya kotor dan basah terkena cipratan air hujan.


“Ya Tuhan! Semoga saja ia tidak mengenaliku lagi,” bisik Kiara dalam hati.


Lelaki itu pun berdiri dan mengulurkan plastik belanja Kiara, tangan mereka saling bersentuhan.


“Terima kasih,” ucap Kiara tidak dapat menahan suaranya yang bergetar.


Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi dari hadapan laki-laki itu.


“Kiara, Kamu Kiara kan?” suara berat itu terdengar lagi menghentikan langkah Kiara.


Kiara membeku di tempatnya, detak jantungnya bergerak lebih cepat. Lidahnya tiba-tiba kelu, apa yang harus dilakukannya. Ia tak mungkin berbalik dan mengenalkan dirinya.


“Maaf, sepertinya Anda salah mengenali orang.” Kiara akhirnya bisa bersuara, lalu dengan tubuh gemetar ia berjalan cepat menuju mobilnya.


“Bagaimana mungkin Aku salah mengenali orang, meski rambut panjangmu sudah berubah. Tapi Aku masih mengingat jelas wajahmu. Aku hanya ingin mengembalikan barang milikmu yang Kau tinggalkan di rumahku waktu itu.”


El menghadang langkah Kiara, mengambil sebuah kalung dari saku jasnya lalu dan memberikannya pada Kiara.


“Ini milikmu, sudah terlalu lama barang ini ada bersamaku. Sekarang Aku lega, karena sudah bertemu dan mengembalikan pada pemiliknya.” El lalu berbalik dan berlalu meninggalkan Kiara yang termangu di tempatnya.


Kiara menggenggam kuat liontin kalung di tangannya. “Ternyata ia masih belum sepenuhnya mengingatku, syukurlah. Setidaknya Aku tidak perlu repot lagi mengenalkan namaku lagi saat bertemu denganmu nanti!”


••••••••