You are the Reason

You are the Reason
Bab 78. Lagu untukmu



Kiara memilih untuk duduk menunggu Wina saja yang tengah mengambil makanan, sambil menikmati es krim sundae di meja terpencil yang ada di sudut ruangan jauh dari keramaian tamu lainnya yang tengah asyik menikmati makan malam yang telah disiapkan oleh pihak panitia acara.


Di tengah ruangan yang luas itu tersedia panggung kecil bersama dengan grup musik yang sedang memainkan berbagai macam jenis lagu memenuhi beberapa permintaan para tamu undangan.


“Kamu gak makan, Ra?” tanya Wina yang datang dengan sepiring penuh makanan dan segelas minuman jus di tangan, menjatuhkan bokongnya tepat di kursi saling berhadapan dengan Kiara.


Kiara meringis sambil memandangi es krim yang menggunung di sendoknya, bersiap menyantapnya.


“Lagi diet,” jawabnya seraya memejamkan mata meresapi kenikmatan cita rasa coklat dingin yang meluncur masuk ke dalam mulutnya.


Wina mencebik, “ Dietmu akan sia-sia,” ujarnya sambil mengarahkan sendok di tangannya pada minuman di tangan Kiara, “Pasti banyak sekali kalori di dalamnya.”


“Aku tahu,” jawab Kiara membuka mata. “Tapi menurutku tak akan ada seorang pun di tempat ini yang mampu menolak untuk menikmati hal yang satu ini,” imbuhnya lagi.


Ucapan Kiara memang benar adanya, hampir di setiap meja semua tamu menikmati hal yang sama seperti dirinya. “Tapi sebaiknya, Kamu juga mengisi perutmu dengan makanan lainnya.” Wina mengingatkan Kiara.


“Nanti saja, Win. Lagi pula Aku masih kenyang,” sambung Kiara lagi.


“Ya udah, nyanyi saja kalau begitu.” Wina balik badan lalu mengangkat tangannya ke arah pembawa acara sebelum Kiara sempat memprotes tindakannya.


“Win, apa-apaan sih. Kamu mau bikin Aku malu?” desis Kiara mendelik sebal pada Wina yang terkekeh di kursinya.


“Aku kangen dengar Kamu nyanyi, Ra. Yah, itung-itung hadiah perpisahan buat mantan di sana.” Wina mengarahkan dagunya ke arah El yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk memperhatikan mereka berdua.


“Tapi gak harus Aku yang maju ke sana kan, Win?”


Saat sang pembawa acara berjalan mendatangi meja mereka, Kiara dibuat tak berkutik oleh ucapan Wina yang mengatakan pada wanita pembawa acara itu kalau Kiara akan menyumbangkan suaranya sebagai hadiah perpisahan untuk bos mereka.


Kiara hanya bisa pasrah, dilihatnya tamu belum banyak yang berdatangan. Dengan sedikit berdebar karena banyak mata yang mengawasi Kiara melangkah pelan ke atas panggung diikuti siulan usil Wina yang berteriak sembari memberikan semangat.


Di atas panggung setelah berbicara sedikit pada pemain musik, Kiara mencoba mengatur napas karena jantung yang terasa berdebar lebih keras.


“Maaf jika suaraku ini membuat kalian harus menutup telinga. Tapi Aku mohon tolong dengarkan sebentar saja,” ujar Kiara sebelum mulai bernyanyi, yang langsung mendapat tepukan riuh tamu yang ada di sana.


“Dan buat Bapak Elvan, terima kasih telah bersedia memberikan kesempatan pada Saya untuk memberikan sedikit kenang-kenangan sebagai hadiah perpisahan.”


El mengangguk dan mengangkat ibu jarinya, dengan antusias berjalan mendekat dan berdiri di barisan depan panggung bersama yang lain.


Di dunia tipu-tipu


Kamu tempat Aku bertumpu


Baik jahat abu-abu


Tapi warnamu putih untukku


Hanya Kamu yang mengerti


Gelombang kepala ini


Puja-puji tanpa kata


Mata kita yang bicara


Selalu nyaman bersama


Janji takkan ke mana-mana


Di dunia tipu-tipu


Ku bisa rasa nyata denganmu, oh hm mm


Tanpa banyak una inu


Ku bisa rasa aman selalu


Hanya Kamu yang mengerti


Gelombang kepala ini, ih ih ih


Lelucon aneh setiap hari


Ku tertawa tanpa tapi


Tetaplah seperti ini


Puja-puji tanpa kata


Mata kita yang bicara


Selalu nyaman bersama


Janji takkan ke mana-mana


“Terima kasih!” Kiara menyudahi lagunya, merendahkan sedikit tubuhnya sebelum kembali berjalan ke tempatnya semula.


“Kia Rara!” Wina menyambutnya dengan pelukan, “Akhirnya Aku bisa melihat Kamu kembali bernyanyi lagi seperti dulu,” ucapnya tulus.


“Ish, Kamu berhasil bikin Aku sport jantung tau!” bisiknya setelah melepaskan pelukan Wina di tubuhnya, yang membuat sahabatnya itu tertawa lepas.


“Kali ini Kamu pasti tidak akan menolak tawaranku untuk makan. Lihat, Aku sudah siapkan buat Kamu,” ujar Wina menghela bahu Kiara untuk duduk kembali.


“Fiuh, untung saja Aku gak lupa lirik. Grogi tau tampil gak siap kayak tadi,” rajuk Kiara.


“Yang terpenting Kamu berhasil menyelesaikan tugasmu, top dah!”


“Ish!”


“Ayo makan,” ucap Wina lagi, dan tanpa banyak bicara Kiara pun mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Lalu dialihkannya pandangannya ke arah lain, tamu-tamu di sekitar mereka ramai tertawa dan berbicara riuh rendah. Suasana di tempat itu ramai sesak oleh para tamu undangan yang terus berdatangan.


Saat terdengar suara pembawa acara meminta para tamu undangan untuk memberikan tepuk tangan yang meriah pada seseorang yang kini duduk di balik piano, Kiara pun menolehkan wajahnya lagi.


Tangan yang tadinya bersiap untuk bertepuk tiba-tiba tertahan di udara.


Di sana El sedang duduk siap memainkan jemarinya di atas tuts piano, lalu tak lama kemudian terdengar nada lembut keluar dari gerakan jemari tangannya.


Lelaki itu menyanyikan sebuah lagu yang hingga saat ini menjadi lagu kesukaannya, membuat Kiara terpaku diam di tempatnya.


“Lagu ini Saya persembahkan buat seseorang yang paling berarti dalam hidup Saya. Teriring ucapan maaf Saya untuknya,” ucap El sebelum memulai lagunya.


There goes my heart beating


‘Cause you are the reason


I’m losing my sleep


Please come back now


And there goes my mind racing


And you are the reason


That I’m still breathing


I’m hopeless now


I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I’ve broken


Oh, ‘cause I need you to see


That you are the reason


There goes my hands shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding


I need you now


And if I could turn back the clock


I’d make sure the light defeated the dark


I’d spend every hour, of every day


Keeping you safe


And I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I’ve broken


Oh, ‘cause I need you to see


That you are the reason


I don’t wanna fight no more


I don’t wanna hide no more


I don’t wanna cry no more


Come back I need you to hold me (you are the reason)


Be a little closer now


Just a little closer now


Come a little closer


I need you to hold me tonight


I’d climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I’ve broken


‘Cause I need you to see


That you are the reason


••••••••