
Tiga tahun lamanya El terus berusaha mencari tahu tentang memorinya yang hilang, menelusuri tempat-tempat yang mungkin saja bisa membuat ingatannya kembali lagi. Tak jarang ia bertanya tentang Kiara pada Bian dan orang-orang terdekatnya.
Teringat bagaimana Kiara menangis di hadapannya dan berkeras mengatakan padanya kalau ia adalah istrinya, tapi saat itu El tidak bisa mengingat hal apa pun tentang Kiara. Tak satu pun!
Ia sempat mencari tahu, siapa Kiara dan apa sebenarnya hubungan mereka berdua. Mengapa ada gambar dirinya bersama wanita itu dalam liontin emas yang sampai saat itu masih tersimpan rapi dalam saku jasnya.
Tapi semua nihil, semua pertanyaan yang berputar di kepalanya itu tidak pernah menemukan jawabannya.
Orang-orang di dekatnya tak banyak membantu dan terkesan bungkam, seolah menutupi sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya bahkan Edgar sahabatnya pun menghilang bagai ditelan bumi, tidak tahu di mana keberadaannya.
Hingga di tahun ke empat El pun pasrah dan mulai berhenti mencari. Mencoba berdamai dengan hatinya, menyibukkan diri dengan pekerjaan membantu papanya di perusahaan dan berusaha menerima semua yang terjadi padanya dengan lapang dada.
Selama itu pula Raisha terus berada di dekatnya, hingga akhirnya El memutuskan untuk menikah dengannya.
Tentu saja hal itu sangat melegakan hati Bian, terutama Raisha yang sudah bertahan dan menunggunya lama.
Hampir empat tahun usia pernikahannya dengan Raisha, selama itu El tidak pernah merasakan dadanya berdegup kencang atau jantungnya berdetak lebih cepat saat berduaan dengan istrinya itu. Semua biasa-biasa saja, tidak ada getar-getar yang menyentuh hatinya.
Terkadang El bertanya-tanya dalam hati, benarkah sebelumnya mereka berdua pernah bertunangan. Hingga suatu hari ia menemukan jawabannya saat ia mendapati amplop coklat lusuh di dalam saku jaketnya yang tersimpan dalam lemari pakaiannya.
Hal yang terus disesalinya hingga saat ini, apalagi saat mendengar kabar kalau paman Ardian meninggal dunia dan Kiara pergi meninggalkan rumah lamanya dan menghilang tanpa meninggalkan jejak apa pun. Penyesalannya kian bertambah.
“Malah melamun, mikirin apa sih?” Raisha sudah kembali duduk di depannya dengan bertopang dagu.
El tersadar, menggelengkan kepala mencoba mengusir bayangan masa lalu yang berkelebat dalam benaknya.
Ditatapnya wajah cantik itu dari dekat, tangannya perlahan terulur menyentuh dagu Raisha membuat wanita itu mengangkat wajahnya.
“Kamu tahu kedatanganku ke kota ini bukan untuk bersantai ria atau sekedar jalan-jalan, tapi ada misi yang harus Aku selesaikan berkaitan dengan urusan pekerjaan dan juga demi kemajuan perusahaan. Aku hanya punya waktu satu bulan, sebelum papa kembali dari luar negeri. Bukan maksudku mengabaikan kehadiranmu di sini, Aku harap Kamu mengerti posisiku saat ini.”
Raisha mendengkus kesal, bibirnya mengerucut tak suka mendengar ucapan El barusan padanya.
“Selalu seperti ini, jadwal kita tidak pernah klop. Setiap ada kesempatan mendapat libur, Aku berharap bisa bertemu dan menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Aku bahkan rela berangkat seorang diri dan berharap melihatmu datang menjemputku, tapi sepertinya itu hanya anganku saja. Kamu suamiku bukan sih, mengapa tidak ada sedikit pun perhatianmu tertuju padaku?” ungkap Raisha panjang lebar, ada rasa kecewa terdengar jelas dari nada bicaranya.
“Bukankah Kamu sudah tahu jawabannya,” gumam El mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba saja matanya menangkap bayangan Kiara yang melintas di depan ruang kerjanya, berjalan cepat sambil membawa berkas di kedua tangannya. E
El melirik arloji di tangannya, masih tersisa waktu dua jam lagi sebelum jam kantor berakhir, dan ia tidak yakin Raisha mau berlama-lama lagi menunggu ia selesai dengan pekerjaannya.
“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku,” ucap El lalu mengambil kunci apartemennya dan memberikannya pada Raisha.
“Kamu bisa istirahat dan menungguku di sana, biar sopir kantor yang mengantarmu. Setelah semua pekerjaanku selesai Aku akan segera pulang menemuimu,” imbuhnya lagi.
“Hem, baiklah. Aku juga lelah dan ingin cepat beristirahat,” sahut Raisha menyetujui saran El dan langsung memasukkan kunci ke dalam tasnya.
Tidak berapa lama sopir yang diminta El mengantar Raisha pun datang, dan dengan segera membawa koper Raisha menuju mobilnya diikuti wanita itu dari belakang.
Sepeninggal Raisha dari kantornya, El kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Hanya tinggal menunggu laporan terakhir dari divisi pemasaran yang masih belum menyelesaikan laporannya, karena ada yang harus di revisi ulang.
El segera menghubungi kepala bagian divisi tersebut, menekan tombol angka 8 pada telepon di atas meja kerjanya yang langsung terhubung ke bagian pemasaran.
“Segera ke ruangan Saya sekarang,” perintahnya tanpa menunggu jawaban dan langsung menutup teleponnya, tersenyum samar sembari memutar kursi membelakangi meja kerjanya.
“Ish, belum juga dijawab main tutup aja!” rutuk Kiara sesaat setelah menerima telepon dari bosnya.
“Kenapa Ra?” tanya Wina menoleh pada Kiara yang langsung membereskan berkas laporan minggu terakhir yang diminta El.
“Dipanggil bos ke ruangannya sekarang!”
“Dih, kalem Non. Menghadap atasan kayak orang mau ngajak tawuran gitu, senyum ih.” Wina menyerahkan berkas yang sudah selesai ia revisi.
Kiara melengkungkan bibirnya, mengulas senyum dengan mata setengah terpejam.
“Dah lah, yang penting kerjaan kita beres. Bagianmu sekarang buat serahkan laporan itu lagi,” ujar Wina lega sambil merentangkan tangan lebar, meringis sesaat teringat bagaimana tadi El menolak laporan yang mereka buat.
El tidak menunjukkan pada Wina yang datang pertama ke ruangannya bagian mana kesalahannya, ia hanya berucap perhatikan hal dalam penulisan item barang.
Alhasil Wina kembali sibuk bahkan sampai harus melotot di depan layar monitor dan berakhir dengan menepuk keningnya sendiri saat menyadari kesalahannya.
“Astaga, teliti amat. Gak nyangka salah nulis gini doang sampai laporan kita ditolak,” ucap Kiara geleng kepala.
“Kamu tau apa kata bos di dalam tadi, Ra? Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal buat perusahaan ke depannya, gitu.” Kiara lagi-lagi menggelengkan kepala.
“Ya udah, Aku ke ruangan bos dulu. Bye Win,” pamit Kiara lalu bergegas menuju ruang direksi.
“Semangat Ra!” Wina cekikikan seraya mengepalkan tangannya. Ia yakin sebentar lagi bakal melihat pemandangan yang berbeda saat Kiara keluar dari dalam ruangan bos barunya.
Tok tok!
“Masuk!”
Kiara membuka pintu perlahan, melangkah masuk menuju meja kerja bosnya yang tengah berdiri membelakanginya.
“Sore Pak, ini berkas laporan yang Bapak minta tadi dan sudah kami revisi. Silah kan diperiksa ulang,” ucap Kiara sembari meletakkan berkas laporan ke atas meja.
El yang sedang menggantung jasnya pun berbalik, lalu berjalan ke mejanya. Tersenyum saat melihat kehadiran Kiara di ruangannya.
“Saya akan duduk di sofa sana sambil menunggu Bapak selesai memeriksanya. Kalau masih ada yang kurang menurut Bapak, secepatnya akan langsung kami revisi ulang lagi.”
Kiara bicara sambil menundukkan wajahnya, hingga ia tidak menyadari El yang kini sudah berdiri di dekatnya.
“Silah kan duduk, Kamu bukan tamu Saya. Jadi duduklah di bangku yang ada di depan meja Saya,” sahut El berjalan memutar, menarik kursi yang ada di depannya lalu memberi kode pada Kiara untuk duduk di sana. “Silah kan.”
“Eh!” Kiara terkesiap, menatap tak percaya pada laki-laki yang kini tersenyum menatap ke arahnya.
“Kamu, lagi! Eh ... Ba-pak.” Kiara mendekap mulutnya rapat. Lalu sedetik kemudian ia berkata, “Maaf.”
“Duduklah!” perintah El lagi.
“I-ya, terima kasih.” Kiara menatap nama yang tertera di atas meja kerja El, bibirnya bergerak perlahan membaca tanpa suara.
“Bodoh, dasar bodoh!” rutuknya dalam hati. “Kenapa Aku tidak menyadarinya kalau nama tengah dia Aksa.”
Kiara merutuki kebodohannya mengingat nama panjang El yang hanya ditulis singkat E Aksa AP, sama sekali tidak menyangka kalau bos barunya itu adalah El mantan suaminya.
Teringat beberapa waktu lalu nama perusahaan tempatnya bekerja itu yang telah berganti nama menjadi Abian Grup karena berganti kepemilikan, lalu mencoba menghubungkannya dengan nama orang tua El dan keberadaan lelaki itu di kantornya. Untuk kedua kalinya Kiara mendekap mulutnya.
El menahan senyum melihat reaksi spontan Kiara melihatnya saat itu, sepertinya kini saatnya ia menikmati momen di mana Kiara tidak lagi bicara ketus padanya.
“Apa tidak sebaiknya Saya kembali ke meja kerja Saya saja, Pak. Masih ada pekerjaan yang harus Saya selesaikan. Dan Bapak bisa panggil Saya lagi kalau memang ada laporan yang harus kami revisi ulang lagi,” tawar Kiara.
“Tetap duduk dan diam di tempatmu saat ini, Aku hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk melihat berkas laporanmu. Tidak lebih, dan jangan merasa sungkan berbicara denganku.”
Fiuhh, sungkan apaan! Kiara merapatkan bibirnya dan menahan diri untuk tidak membuka mulut dan berbicara lagi. Lelaki di depannya itu sudah mulai ber-aku dan kamu padanya.
Ya Tuhan, berlama-lama dalam satu ruangan dengan laki-laki ini bisa-bisa membuat sakitnya bertambah parah.
Mendadak tubuhnya berkeringat dingin, dan hawa panas mulai terasa. Ditambah lagi hidungnya mendadak mampet dan napasnya terasa sesak. Ia butuh asupan udara segar yang menurutnya hanya bisa ia dapatkan bila ia berada di luar ruangan lelaki itu.
Waktu sepuluh menit terasa begitu lama sekali, Kiara duduk diam dengan punggung tegak menunggu El selesai memeriksa laporannya.
“Good!” El tersenyum menutup berkas laporan di tangannya, tersenyum lalu mengangkat ibu jarinya.
Akhirnya, Kiara menarik napas lega dan bergegas keluar dari ruangan El dengan kaki terasa lemas tak bertenaga.
••••••••