
Pagi hari saat Kiara membuka mata, Rio masuk ke dalam kamarnya. Di tangannya terdapat buket bunga mawar besar yang hampir menutupi wajah putranya itu dari pandangan mata Kiara. Penasaran, siapa pagi-pagi yang sudah mengiriminya bunga.
“Pagi Ma,” sapa Rio.
“Ehm, pagi juga sayang. Sini peluk Mama,” balas Kiara dengan suara setengah bergumam, karena kantuk yang belum hilang.
Setelah meletakkan buket bunga di atas meja rias sang mama, Rio langsung naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Kiara. Untuk sesaat Kiara melupakan rasa ingin tahunya tentang buket bunga yang dibawa Rio, perhatiannya kini tercurah pada putranya.
“Cakep banget anak Mama hari ini, sudah mandi, sudah wangi, tapi kok masih manyun. Jadi gemas pengen tium pipina.” Kiara lalu memiringkan tubuhnya, menatap Rio yang sudah terlihat rapi pagi itu tapi raut wajahnya terlihat lesu tak bersemangat.
“Ada apa, sayang? Cerita sama Mama,” tanya Kiara, kemudian mengecup sayang pipi anaknya.
“Tadinya sih mau diajak main bareng sama Desta, tapi mendadak Desta telpon bilang gak jadi. Batal, gara-gara mamanya ngingetin kalau pagi ini mau pergi jalan ke tempat neneknya.” Rio mencebik, “Padahal Iyo sudah siap-siap, nunggu dijemput depan rumah. Eh, yang datang malah kurir bunga.”
Kiara menahan senyumnya, gemas banget lihat bibir Rio yang manyun seperti itu. “Hem, gitu ya. Tapi ada bagusnya juga sih Iyo nunggu di depan rumah. Kurir bunganya jadi gak perlu repot nunggu kita lama bukain pintu buat terima paketannya.”
“Ish, Mama!”
“Hem, pagi-pagi sudah dapat kiriman buket bunga mawar cantik. Dari mana itu sayang?” tanya Kiara, mengalihkan perhatian Rio yang sedang merajuk.
“Kiriman dari papa. Tuh, ada suratnya,” sahut Rio mengarahkan telunjuknya pada buket bunga di atas meja.
“Oh ya? Tumben papa pakai kirim bunga segala, gak biasanya. Ada apakah gerangan?” ucap Kiara lalu bangun dari tidurnya, meraih amplop yang terselip dalam rangkaian bunga tadi dan membukanya perlahan.
Detik berikutnya Kiara senyum-senyum sendiri, bibirnya bergerak membaca ulang semua kata tanpa suara.
Selamat pagi sayang, Kamu adalah hal pertama yang memasuki pikiranku saat pagi tiba. Setiap memikirkanmu, separuh kekhawatiranku mengilang. Semoga harimu menyenangkan, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. I love you more and more.
Hati wanita mana yang tidak berbunga-bunga membaca tulisan kata seperti itu dari seorang pria yang kini memiliki arti khusus dalam hatinya.
Tanpa sadar wajah Kiara pun merona, hatinya menghangat. Kejutan menyenangkan yang didapatnya pagi hari ini membuat mood-nya menjadi ceria.
“Ma, memang papa tulis apa sih kok bacanya sampai bikin wajah Mama jadi merah gitu?” tanya Rio penasaran melihat perubahan pada wajah Kiara.
“Ya?” Kiara menekan kedua belah pipinya yang memerah. “Masa sih, pipi Mama jadi merah?”
“Iyya, beneran kok. Nah kan, jadi tambah merah.” Rio memasang wajah serius, lalu sejurus kemudian terkikik geli karena telah berhasil menggoda mamanya.
“Ish, Iyo!” Kiara naik ke atas ranjang, gemas langsung menggelitiki tubuh anaknya.
“Hahaha.”
Untuk beberapa saat lamanya Rio bisa melupakan kesedihannya, Kiara mengajaknya untuk main tebak-tebakan dengan syarat siapa yang tidak bisa menjawab akan mendapat hukuman dengan coretan bedak dingin di wajah.
Bisa dibayangkan bagaimana lepasnya tawa Rio melihat banyak coretan di wajah mamanya karena tidak ada satu pun pertanyaan yang berhasil dijawab Kiara dengan tepat.
“Kalau ada papa pasti makin seru mainnya,” ujar Rio masih dengan tawanya.
“Dan Mama harus siap menerima coretan dari papa juga, yakin bukan hanya di wajah tapi ini leher juga bakal penuh dengan coretan bedak dari kalian berdua!” sahut Kiara. Meski harus coreng-moreng di wajahnya, tapi Kiara senang bisa membuat Rio kembali ceria.
Puas bercanda bersama putra tercinta, siang harinya Kiara mengajak Rio dan orang di rumahnya untuk jalan-jalan ke mall mengisi hari libur mereka yang kebetulan sekali bertepatan dengan hari Jumat. Rencananya mereka akan pergi setelah selesai salat Jumat.
Tak terlihat lagi mendung di wajah Rio, kini berganti menjadi senyum cerah. Meski batal main bareng dengan Desta, tapi ia masih bisa jalan-jalan bareng dengan mama dan kakak perempuannya.
“Gapapa, kalau Kinan mau bareng biar sorenya Mbak yang anter ke rumah temannya. Gimana?”
“Gak usah, Mbak. Biar Kinan bawa motor sendiri saja, kasihan Mbak Kia harus bolak-balik antar jemput nantinya.”
“Ya udah deh, tapi kalau Ibu bisa kan hari ini full jalan bareng kita?” tanya Kiara pada ibu Lastri yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piring Rio.
“Bukannya Ibu gak mau jalan bareng kalian, tapi jam tiga nanti Ibu ada undangan pengajian di rumah ibu Aska. Mepet kan waktunya,” ucap ibu Lastri membuat Rio yang mendengarnya langsung menghentikan makannya, dan tertunduk lesu.
Sepertinya rencana pergi jalan-jalan bersama keluarga pun bisa terancam gagal karena masing-masing sudah memiliki acara sendiri-sendiri.
“Jangan sedih begitu dong, sayang. Lain waktu kita bisa jalan bareng lagi sama-sama. Bagaimana kalau hari Minggu besok, Nenek bisa temani Iyo main. Mbak Kinan juga kan pasti libur,” ucap ibu Lastri berusaha membuat Rio kembali ceria.
“Iya, Minggu besok Mbak bebas tugas kuliah. Jadi punya waktu banyak buat main bareng Iyo,” timpal Kinan membuat Rio kembali bersemangat mendengarnya.
“Beneran ya, Nek. Janji ya, Mbak!”
Ibu Lastri dan Kinan mengangguk bersamaan, membuat Kiara akhirnya bisa menarik napas lega. “Hari ini kita jalan bareng sama mbak Kinan, ya. Tapi Iyo dengar kan barusan, sorenya mbak Kinan harus pergi buat selesaikan tugas kuliahnya.” Kiara mengingatkan.
“Iya, Ma.”
“Ya sudah, sekarang habiskan makannya dulu, setelah itu istirahat sebentar baru kita jalan.”
“Deal Ma!”
Dan di sinilah mereka kini berada, di mall terbesar di kotanya yang memiliki segudang tempat untuk wahana bermain anak-anak yang terletak di lantai dua.
Seperti tak ada lelahnya, hampir semua permainan dicoba Rio. Kegembiraan terlihat jelas di wajahnya, tiba-tiba saja perasaan bersalah timbul di hati Kiara mengingat bagaimana akhir-akhir ini dirinya lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan sehingga kurang perhatian pada putranya itu.
Melihat keceriaan di wajah Rio, Kiara berjanji dalam hati untuk sering mengajak putranya itu jalan-jalan lagi.
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, Kiara mengajak Rio untuk beristirahat dan makan di cafe yang ada di sana.
“Mama mau ke toilet dulu. Iyo tunggu di sini bentar ya,” pinta Kiara pada putranya yang hanya menganggukkan kepala karena tengah asyik menikmati minuman dinginnya.
Beruntung di dalam sana keadaan tidak terlalu ramai, Kiara tidak perlu menunggu lama. Sambil membetulkan letak baju yang dikenakannya dan merapikan sedikit riasan wajahnya, Kiara bergegas hendak keluar karena tak ingin Rio menunggunya terlalu lama.
Brukk!
Aarghh!
Baru saja beberapa langkah berjalan, Kiara mendengar suara keras yang berasal dari dalam salah satu kamar toilet yang ada di sana. Kiara celingukan, tak ada orang lain di sekitarnya, lalu tak lama terdengar suara rintihan seperti menahan sakit dan tidak lama kemudian suara itu menghilang.
Hening kemudian, Kiara bergidik dan serta merta mengusap pelan tengkuknya. Suara air yang mengalir deras mengalihkan perhatiannya. Dengan memberanikan diri, Kiara mendekat dan menempelkan telinganya pada daun pintu.
Suara rintihan itu terdengar lagi, dengan tangan gemetar seraya membaca doa dalam hati Kiara memegang erat gagang pintu dan kemudian membukanya.
Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat, dilihatnya seorang wanita tua terjatuh dengan posisi terduduk di lantai kamar mandi dalam keadaan tak sadarkan diri dengan satu tangan masih berpegangan pada sisi bak air yang ada di dalam sana.
“Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi dengannya!”
••••••••