
Rio menatap tak berkedip pada dua orang lelaki yang kini duduk saling berhadapan muka di atas tempat tidur luas di dalam kamar apartemen El.
Sempat bingung mengetahui kalau papa Ed dan om El ternyata adalah dua orang sahabat dan sudah saling mengenal sejak lama, membuat Rio tak dapat menahan rasa ingin tahunya yang besar.
Ia lalu mendongak pada Kiara yang sedari tadi berdiri di sampingnya, memegang kedua bahunya. Seolah meminta persetujuan pada mamanya itu untuk bertanya langsung semua yang ingin diketahuinya pada dua orang lelaki dewasa di dalam sana.
Kiara tersenyum seraya mengusap lembut rambut kepala putranya, “Kita tunggu papa sama om selesai bicara berdua dulu ya, sayang. Setelah itu Iyo bisa menemui mereka berdua. Pasti banyak sekali yang ingin mereka bicarakan, karena sudah lama tidak bertemu.”
“Bukannya dari tadi mereka lebih banyak diam saja ketimbang berbicara, Ma? Kalau dua orang sahabat sudah lama tidak saling bertemu, setahu Iyo tuh ya mereka itu bakal saling peluk dan menepuk bahu masing-masing. Seperti teman-teman papanya Iyo yang lain, tapi kok ini enggak?” tanya Rio sambil melipat kedua tangan di dada, mengungkapkan keheranannya dengan mata terus menatap ke arah kedua lelaki yang berada di dalam sana.
Kiara langsung terdiam, dan kedua lelaki yang jadi bahan pembicaraan Rio bisa mendengar ucapannya dan langsung menoleh ke arahnya yang masih berdiri di ambang pintu kamar El.
“Ehm, mungkin masih menyusun kata-kata, sayang. Bingung kali mau bicara apa,” jawab Kiara yang sontak membuat Rio langsung menahan tawanya.
“Dih, repot amat jadi orang dewasa. Mau bicara aja harus susun kata dulu,” ujar Rio terkikik geli.
“Dah lah, yuk. Kita duduk di sini aja,” ajak Kiara lalu menghela bahu Rio membawanya duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, di mana di atas meja sudah tersedia makanan dan minuman ringan yang sengaja Seno pesan tadi untuk tamunya yang datang.
Laki-laki itu memilih untuk membereskan meja kerja tuannya dan tetap memasang mata dan telinga bila sewaktu-waktu bosnya di dalam sana memanggilnya.
Sementara itu di dalam kamar setelah merasa lebih tenang, El mulai bicara dan bertanya langsung pada Ed tentang kejadian delapan tahun lalu setelah perpisahannya dengan Kiara.
“Aku tidak pernah menyangka papa tega melakukannya pada kami, memanfaatkan kelemahanku saat itu untuk menekan Kiara dan membuat kami akhirnya harus berpisah.” El mengusap kasar wajahnya, “Amnesia yang Aku alami membuatku sedikit pun tidak bisa mengingatnya sama sekali. Aku bahkan baru mengetahui kabar kematian paman Ardian dua tahun belakangan ini. Aku benar-benar menyesal dan merasa sangat bersalah padanya.”
“Semua sudah berlalu, kita tidak dapat mengubah masa lalu. Tinggal bagaimana kita memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ujar Ed menanggapi ucapan El.
“Dan soal Rio ...” El lalu meraih berkas yang tadi dimintanya pada Seno untuk di taruh di dekat tempat tidurnya, “Aku mendapatkan bukti tentang kelahiran Rio dari rumah sakit yang menangani persalinan Kiara.”
Dengan tangan bergetar, El menyerahkan berkas di tangannya pada Ed. “Aku sangat berharap semua itu memang benar adanya, Rio adalah putra kandungku.”
Ed menghela napas, ia tidak berniat membukanya. Dari logo rumah sakit yang terdapat di kiri atas berkas yang diberikan El padanya, Ed sudah bisa menebak apa isi di dalamnya.
“Kiara baru mengetahui kabar kehamilan dirinya beberapa hari setelah berpisah denganmu. Saat itu ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit. Beruntung kandungannya kuat, Kiara dan bayinya selamat.”
“Rio terlahir sehat dan kuat, kehadirannya di dunia ini adalah anugerah buat Kiara dan keluarga. Meski hidup seadanya, Kiara terus berjuang demi anaknya. Syukurlah Rio tidak pernah rewel, ia tumbuh menjadi anak yang manis dan menggemaskan. Sikap santunnya pada yang lebih tua darinya membuat Rio jadi kesayangan semua orang.” Ed melanjutkan bicaranya.
Mendengar hal itu El langsung menangis, “Aku bersalah padanya, Aku tahu tidak mudah baginya untuk mau memaafkan semua kesalahanku padanya. Aku menyesal Ed, Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya, apalagi ada Rio anak kami.”
Mata yang tadinya meredup seperti kehilangan sinarnya kini perlahan kembali bersinar setelah teringat pada sosok bocah lelaki yang menjadi putranya itu.
“Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang kalian sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, dan Kau pun sudah menikah lagi dengan Raisha. Hubunganmu dengan Kiara sudah berakhir, jika masih ada yang tersisa itu hanya karena kehadiran Rio di antara kalian. Biarkan Kiara menjalani kehidupannya yang sekarang,” ujar Ed lagi mengingatkan.
“Aku tidak mencintai Raisha, pernikahan kami tidak berjalan dengan baik. Ada banyak ke tidak cocokkan yang terjadi di antara kami selama ini.”
“Lalu Kau pikir Kiara masih mencintaimu dan berharap kembali padamu, setelah semua yang terjadi padanya selama delapan tahun ini?”
El tercenung sesaat lalu berbisik perlahan, “Aku tahu itu, tapi apa salahnya mencoba. Apalagi ada anak di antara kami berdua.”
“Jangan hanya memikirkan kepentingan dirimu saja, sadarlah kawan. Kau sudah memiliki Raisha, apa Kau tidak memikirkan perasaan istrimu itu. Apa Kau pikir Kiara bakal senang mendengar ucapanmu tadi?”
“Biar Kiara yang memutuskan semuanya, Aku tahu dia masih sangat mencintaiku. Bukankah sampai detik ini ia masih sendiri?”
Di ambang pintu Ed menghentikan langkahnya, dilihatnya Rio tengah membaringkan kepalanya di paha Kiara sambil memainkan ponselnya.
“Papa.” Rio mengangkat kepalanya, tersenyum melihat Ed yang berjalan menghampirinya.
“Iyo main hpnya jangan sambil tiduran gitu, sayang. Kasihan matanya. Kalau memang sudah ngantuk mending diistirahatkan matanya,” tegur Ed, berjongkok di hadapan Rio. Tersenyum melihat Rio menguap lebar tanpa berusaha untuk menutupinya.
“Iyo ngantuk, Pa.” Rio merentangkan tangannya ke atas.
“Sini, kasih hpnya sama Papa.” Ed mengulurkan tangan meminta ponsel di tangan Rio. “Iyo bobok sama Papa, biar Mama pamit sama om El dulu.”
“Memang harus ya Aku pamit sama dia?” tanya Kiara.
Ed mengangguk pada Kiara, “Kita datang baik-baik, pulangnya ya harus baik-baik juga sayang.”
Kiara tersipu malu mendengar kata sayang terucap dari bibir Ed, “Oke!” jawabnya sambil memegang kedua pipinya yang memerah.
Ed lalu mengajak Rio untuk menunggu di mobil, dilihatnya El sudah berjalan keluar mendatangi Kiara yang berdiri menunggunya di ruang tamu.
“Sudah malam, kami pamit pulang.” Tanpa basa-basi Kiara berujar cepat. “Cepat sembuh,” imbuh Kiara lagi, lalu balik badan menyusul Ed dan Rio yang sudah menunggu di dalam mobil.
“Kiara, Aku ...”
“Ya?” Kiara berdiri menunggu.
“Mama, ayo pulang!” teriak Iyo dari balik kaca jendela mobil yang terbuka.
“Iya,” jawab Kiara menoleh pada Rio. “Lima menit lagi,” ucapnya tanpa suara, mengangkat telapak tangan menunjukkan lima jarinya pada Rio untuk bersabar meminta waktu menunggu lima menit lagi.
“Aku hanya punya waktu lima menit, silah kan Bapak bicara.”
“Aku minta maaf untuk semua yang terjadi padamu d masa lalu. Andai waktu bisa kuputar kembali, Aku tidak akan pernah meninggalkan Kamu sendirian lagi. Maaf.”
Mata itu terlihat letih, Kiara tahu lelaki itu masih ingin bicara banyak padanya. Tapi Kiara harus bersikap tegas, tak ingin El berharap lebih padanya lagi.
“Sudah sejak lama Saya telah memaafkan Bapak,” ucap Kiara tanpa mengubah panggilannya pada El, mengingatkan laki-laki itu kalau kini hubungan di antara mereka hanya terkait hubungan pekerjaan saja.
“Kamu tidak akan melarangku untuk bertemu dengan Rio, kan?”
Kiara menggeleng kuat, “Tidak akan, biar bagaimanapun juga Bapak adalah ayah kandung Rio. Dan Saya akan bicara pada Rio siapa Bapak sebenarnya.”
“Terima kasih, Kiara. Setidaknya Aku masih bisa melihatmu dari dekat, meski tak lagi bisa memilikimu di sisiku.”
“Kenapa tidak mencoba memperbaiki hubungan dengan istri Bapak yang sekarang?”
“Aku ...”
“Sudah lima menit, Saya harus pulang.” Kiara balik badan, berlari kecil menuju mobilnya diiringi tatapan mata El yang tak lepas memandangnya.
••••••••