
Move on dari orang yang pernah begitu dicintai memang bukanlah perkara yang mudah, terlebih lagi jika pernah hidup bersama dalam satu biduk rumah tangga.
Banyak hal terjadi di luar kendali, meski telah berusaha untuk menjaga semuanya tetap baik pada akhirnya perpisahan menjadi pilihan.
Seiring waktu berjalan semua akan mudah dijalani, mencoba berusaha berdamai dengan masa lalu. Jika sudah berpisah, artinya semua sudah berakhir. Semanis apa pun kenangan masa lalu kita dengan seseorang, semua sudah berakhir!
Kiara merutuk dalam hati, menyesali keputusannya untuk tetap berada di boncengan motor El. “Pengen loncat tapi takut jatuh,” ucapnya dalam hati sambil tetap menjaga posisi tubuhnya agar tidak terlalu menempel pada El.
Kiara menatap luka di lengannya lalu beralih menatap punggung lebar El di dekatnya. Ribet! Itu yang dirasakannya kini.
Kiara harus duduk miring sepanjang jalan dan terus disibukkan dengan bawahan yang dikenakannya, dan untuk yang ke sekian kalinya Kiara membetulkan letak roknya.
Meski ia memakai dalaman sebatas paha, model rok lipit yang dikenakannya itu selalu bergerak naik bila tertiup angin. Hingga mau tidak mau Kiara harus menekannya dengan tangannya.
“Jangan goyang-goyang terus Kia, lama-lama Aku ikutan oleng bawanya!” tegur El merasakan Kiara yang terus bergerak di belakangnya.
“Gimana mau duduk tenang kalau ini naik terus. Bapak gak lihat apa kalau Aku sekarang pakai rok!” sahut Kiara masih kesal.
“Apanya yang naik?” El hendak menoleh ke belakang, tapi sebelum itu dilakukannya Kiara sudah menahan kepalanya untuk tetap fokus menatap jalanan di depannya.
“Gak usah nengok belakang! Fokus Pak, fokus biar gak oleng jalannya.”
“Tadi katanya suruh lihat?”
“Aow!” seru Kiara merasakan nyeri di bagian sikunya.
El menepikan motornya di dekat apotek yang mereka lewati, lalu menyuruh Kiara untuk turun sejenak. “Tunggu sebentar di sini!” perintahnya kemudian, lalu berlari menyeberang.
Kiara berdiri di pinggir jalan memperhatikan El yang masuk ke dalam apotek dan beberapa menit kemudian keluar dengan membawa kotak obat di tangannya.
Ia lalu menghela bahu Kiara dan membawanya duduk di halte yang kosong dekat penyeberangan. Tangannya sibuk membuka kotak obat lalu mengeluarkan salep dan cairan pembersih luka dan menaruhnya di samping tempat duduk Kiara.
“Ulurkan tanganmu,” perintahnya kemudian dengan suara lebih lembut. “Biar Aku obati lukamu.”
“Terima kasih, Bapak gak perlu repot-repot. Lagi pula ini hanya luka kecil,” tolak Kiara.
“Jangan anggap remeh luka kecil, tanganmu kelihatan lebam biru seperti itu dan Kamu sedari tadi tidak berhenti mendesis kesakitan.”
“Biar Saya sendiri yang obati,” sahut Kiara lagi.
“Hem, silah kan!” El menggeser tubuhnya menjauh, dan Kiara mencoba membuka tutup botol dan salep di tangannya.
Walau rasa nyeri di tangannya makin menjadi dan kesusahan saat membukanya, Kiara berusaha untuk tetap menahannya. Terlihat bulir keringat membasahi kening dan atas bibirnya.
El tersenyum samar, lalu tangannya bergerak mengusap bulir keringat di wajah Kiara hingga tanpa mereka sadari wajah keduanya sangat dekat.
“Maaf!” El menahan tangannya bergerak, menyadari sikap Kiara yang langsung menjauhkan wajahnya.
Canggung! Itu yang dirasakan Kiara berada dalam jarak yang cukup dekat dan berhadapan muka dengan El seperti saat ini, embusan hangat napasnya terasa menyentuh wajah Kiara.
“Sudah selesai, sebaiknya Saya naik angkot saja. Terima kasih untuk obatnya,” ucap Kiara lalu berdiri dan berjalan cepat meninggalkan El di belakangnya.
“Jalan Siaga ya Pak,” ucap Kiara memberitahu alamat rumahnya.
“Siap Neng!”
Kiara melirik sekilas, dilihatnya El masih duduk diam di tempatnya sambil memegang kotak obat di tangannya. Melihatnya seperti itu membuat kenangan masa lalu saat mereka masih bersama kembali melintas dalam benaknya.
Biasanya Kiara yang mengobati luka El karena lelaki itu sering sekali mendapat luka kecil di tubuhnya, tapi sekarang malah dirinya yang sering mengalaminya. Bahkan luka bekas jahitan operasi di bagian kakinya masih berbekas hingga kini, meski mulai terlihat samar dan memudar.
Hingga angkot yang dinaikinya sampai di depan gang rumahnya, Kiara masih duduk diam di kursinya.
“Neng, sudah sampai.”
Kiara tersadar dan bergegas turun setelah terlebih dahulu membayar ongkos angkot yang dinaikinya.
Hidup di lingkungan yang sama, rumah saling berdekatan hingga bisa dihitung dengan langkah kaki saja membuat mereka berdua terus bertemu setiap saat.
Belum lagi mereka selalu bertemu saat bekerja di kantor karena sama-sama bekerja di perusahaan yang sama. Memikirkan hal itu membuat Kiara menghela napas dalam, hidupnya yang dulu nyaman kini jadi tak tenang. Apalagi anak buah Bian kembali muncul di depannya.
“Mamaa!” suara teriakan Rio dari balkon atas rumahnya mengejutkan Kiara.
Kiara menoleh ke atas dan langsung tertegun saat melihat seorang lelaki tampan dengan gaya rambut cepat berdiri setengah membungkuk di pagar rumah melambaikan tangan padanya.
“Surprise, papa pulang!” teriak Rio lagi lalu berlari turun ke bawah menyambut kedatangan mamanya.
“Miss you Mom,” ucap Ed padanya, lalu menatapnya lama.
Entah apa yang dirasakannya saat ini, tapi melihat kehadiran laki-laki itu di hadapannya lagi membuat Kiara ingin berlari masuk dalam pelukannya. Dan tanpa dapat dicegahnya lagi Kiara berhambur dalam pelukan Ed yang sudah berdiri di hadapannya kini.
“Mama kok nangis? Harusnya senang kan papa akhirnya pulang,” ucap Rio heran.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Kiara, ia hanya diam dan menganggukkan kepala.
“Mama pasti kangen berat sama papa,” ucap Rio lagi, dan Kiara kembali mengangguk.
“Terima kasih sudah kembali pulang,” ucapnya lalu melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
“Ada apa, kok jadi cengeng?” tanya Ed sambil mengusap rambut Kiara.
Kiara menggeleng, “Mas pasti lelah, mau Aku buatin kopi gak?”
“Mau banget,” jawab Ed, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
“Iyo juga mau, Ma. Sama kayak papa,” sela Rio tak mau kalah.
“Iya, Mama buatin yang sama kayak papa.”
Sementara di ujung jalan, sepasang mata menatap tajam pemandangan di depannya dengan tangan terkepal, lalu tak lama kemudian pergi meninggalkan suara raungan motor di belakangnya.
••••••••