
“Bagaimana ini?” Seno kebingungan melihat El yang tiba-tiba saja ambruk ke lantai. “Tuan, sadar Tuan!” Seno menepuk pelan pipi El, tapi laki-laki itu bergeming lalu dari bibirnya mengucap nama Kiara.
“Kiara, maafkan Abang sayang. Maafkan Abang, Abang bersalah padamu.” El terus meracau menyebut dan meminta maaf pada Kiara.
Seno tertegun sesaat lamanya melihat keadaan bosnya itu, lalu menjerit tertahan saat merasakan hawa panas dari tangan El menyentuh wajahnya. “Astaga, Tuan. Kenapa jadi tiba-tiba panas begini badannya!”
Seno membantu memapah El yang sudah setengah tak sadar itu untuk naik ke atas tempat tidurnya. Lelaki muda itu mengalami demam, suhu tubuhnya meningkat tinggi.
“Tuan harus bertahan, Saya panggilkan dokter sekarang.” Seno mengambil ponselnya dan langsung menghubungi dokter yang sudah ditunjuk oleh perusahaan.
“Aku belum mau mati, No. Aku harus bertemu Kiara, Aku mau Kiara!” tangan El menarik lengan Seno yang sedang berbicara dengan dokter Rendra di telepon, hingga ponsel Seno terlepas dari genggaman tangannya.
“Astaga, Tuan. Saat ini yang Tuan butuh kan itu dokter Rendra, bukan nona Kiara!” Seno menghela napas dalam, merendahkan tubuhnya mengambil ponsel miliknya yang terjatuh di atas lantai dan menyimpannya kembali dalam saku celana panjangnya.
“Aku mau Kiara yang datang melihatku di sini, Aku mau Kiara!” El terus mengulang kata-katanya.
“Kenapa sikapnya jadi kolokan begini, seperti anak kecil saja!” rutuk Seno dalam hati. “Sabar Tuan, dokter Rendra sebentar lagi datang melihat keadaan Tuan di sini,” sahut Seno kemudian.
Tapi El terus menyebut nama Kiara dan ingin wanita itu yang datang melihatnya. Seno memijat keningnya, bingung menghadapi sikap El yang tidak seperti biasanya. “Baiklah, Saya akan coba menghubungi nona Kiara sekarang!” ucap Seno akhirnya mengalah, dan dilihatnya El menjadi lebih tenang.
Seno lalu mengambil ponsel milik El yang ada di atas meja kerjanya, berniat melihat nomor Kiara dan langsung mengembuskan napas lega mendapati ponsel milik bosnya itu tidak terkunci dan secepatnya menghubungi nomor Kiara yang tertera di sana.
Sementara Kiara yang sedang duduk di sofa ruang keluarga tengah menonton Ed dan Rio yang asyik bermain game bersama, terkejut melihat nomor El menghubunginya. Hingga panggilan ketiga berbunyi, Kiara belum juga menjawabnya.
Ed mengernyitkan kening mendengarnya, “Ada apa, Ma. Siapa yang menelpon, kenapa gak diangkat. Kalau penting gimana?” tanya Ed kemudian, melihat Kiara hanya diam saja.
Rio melepas stik ps dari tangannya lalu beranjak berdiri dan berjalan mendekati ponsel Kiara yang berada di atas meja.
“Hem, nomer yang telpon di hp mama namanya Pak Bos, Pa.” Rio memberitahu Ed, lalu berpaling menolehkan wajahnya pada Kiara. “Pasti bos tempat Mama kerja yang telpon barusan. Tapi kok gak dijawab, Ma?” tanya Rio penuh rasa ingin tahu.
Kiara berusaha tersenyum, lalu menatap Ed sekilas. “Sayang, Mama mau bicara sebentar sama papa. Iyo main sendiri dulu gapapa ya,” pinta Kiara seraya mengusap rambut anaknya.
“Iya, Ma.”
“Sebaiknya Kamu angkat dulu telponnya, Ma. Mungkin penting sekali dari tadi bunyi terus. Setelah itu baru kita bicara,” ujar Ed lalu beranjak berdiri, berjalan ke ruang tamu menunggu Kiara di sana.
Kiara mengangguk mengiyakan, menahan napas sesaat lalu mengangkat panggilan telepon dari El. “Halo.”
“Syukurlah Nona mau segera menjawab telpon dari Saya,” ucap Seno lega setelah sambungan teleponnya terhubung dengan Kiara.
“Pak Seno?” Kiara menjauhkan ponselnya lalu membaca ulang nama yang tertera di layar. “Bukannya ini nomor Pak Elvan, kenapa bisa ada sama Bapak?”
“Ceritanya panjang, Nona. Tapi intinya Saya mau kasih tau kalau sekarang tuan El sedang sakit. Badannya demam dan panas tinggi. Saya sudah panggil dokter Rendra untuk datang kemari, tapi tuan mau Nona yang datang melihat tuan di sini. Dari tadi tuan terus meracau menyebut nama Nona,” jelas Seno.
“Kok gitu? Kenapa Saya harus datang melihatnya, bukankah sudah ada dokter yang datang menanganinya?”
Seno lalu mendekatkan ponselnya pada El yang sedang terbaring tengah ditangani dokter Rendra, tak lama kemudian terdengar suara lemah El yang meminta Kiara datang padanya.
“Dari tadi tuan terus bicara seperti itu, meminta bertemu dengan Nona segera.”
“Kenapa tidak menghubungi istrinya. Bukankah dia lebih berhak ada di sana dan harus tahu keadaan suaminya sekarang. Maaf, Saya tidak bisa datang ke sana.”
“Tunggu sebentar, jangan ditutup dulu telponnya Nona.”
“Apa sih!” sahut Kiara tiba-tiba saja jadi kesal.
“Ya Dok.”
Lima menit berlalu, Kiara menutup telponnya. Untuk sesaat lamanya ia termangu, merenungi ucapan dokter Rendra padanya.
Tidak ada penyakit serius yang terjadi pada El, kelelahan fisik, pikiran, penyesalan dan rasa bersalah pada seseorang di masa lalunya yang membuatnya stres hingga menyebabkan lelaki itu menjadi lemah seketika. Mungkin kehadiran seseorang yang berarti dalam hidupnya bisa membuat keadaannya jadi lebih membaik.
“Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu belakangan ini, Kamu terlihat lebih pendiam dari biasanya tidak seceria dulu lagi. Ada apa?” suara Ed menyadarkan Kiara, lelaki itu kini duduk di depan Kiara saling berhadapan hanya terhalang meja panjang.
“Kami sudah bertemu kembali dengannya,” ucap Kiara pelan.
“Maksudmu?”
Kiara menghela napas dalam lalu menceritakan semuanya, awal pertemuannya dengan El hingga sekarang lelaki itu menjadi tetangga depan rumahnya tanpa ada satu pun yang disembunyikannya.
Bagaimana El yang sudah sembuh dari amnesianya dan kini menjadi lebih dekat dengan Rio, lalu keadaan El sekarang yang sedang sakit dan ingin bertemu dengannya.
Kiara juga tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya kalau sewaktu-waktu El merebut Rio darinya, bukan perkara sulit untuknya karena ia memiliki keluarga dan kekuasaan untuk melakukan hal itu padanya.
“Apa Rio sudah mengetahui kalau om El tetangga barunya itu sesungguhnya adalah papa kandungnya? Dan Pak Bos yang baru menghubungi nomor telepon mamanya adalah om tetangga depan rumahnya yang ternyata adalah bos baru di tempat kerja mamanya?”
Kiara menggelengkan kepalanya, dan hal itu sudah cukup menjawab semua pertanyaan Ed padanya.
“Biar bagaimana hal ini pasti akan terjadi, hanya soal waktu saja. Lambat laun kebenaran akan terkuak, dan Rio harus mengetahui kebenaran kalau El adalah papa kandungnya.”
“Tapi Mas, Aku belum siap melihat Rio harus kecewa mengetahui bagaimana sikap keluarga El pada kami. Bagaimana perlakuan mereka dulu padaku di awal pernikahanku dengan papanya, bagaimana mereka terus berusaha memisahkan kami,” sahut Kiara.
“Semua sudah berlalu dan pada kenyataannya tak satu pun dari mereka mengetahui soal kehamilanmu hingga Rio lahir, Kamu memang berusaha menutupinya dan tidak ingin mereka tahu soal ini. Sekarang saat El mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya, penyesalan itu terus menghantuinya dan ia melakukan berbagai cara agar bisa mendekati kalian untuk menebus rasa bersalahnya selama ini.”
Respons Ed yang tenang saat menanggapi cerita Kiara membuat wanita itu menjadi lebih tenang pula hatinya.
“Lagi pula jika kalian masih bersama, bagaimana Aku bisa sedekat ini dengan kalian.” Ed menatap Kiara intens. “Habiskan minumanmu, biar Aku temani Kamu ke sana melihatnya. Anggap saja kita sedang menjenguk saudara yang sakit, bukankah benar sekarang El sedang sakit dan dia ingin Kamu membesuknya.”
“Tapi Mas, bagaimana kalau ia tiba-tiba berkeras meminta Rio untuk tinggal dengannya?”
“Aku percaya El tidak akan melakukan hal itu, memaksakan kehendak yang hanya akan membuat Rio menjauh darinya. Dia sahabat baikku dan Aku mengenalnya sejak lama. Lagi pula kita tau bagaimana sikap Rio selama ini, meski dia masih kecil tapi dia paling tidak suka jika ada orang lain yang memaksakan kehendak padanya sekalipun itu orang terdekatnya.”
“Iya, Aku tahu itu.”
“Sama seperti Kamu. Kalian berdua itu memiliki karakter sifat yang sama, semakin dipaksa semakin menjauh.”
“Masa sih?”
“Perlu bukti? Aku bisa buktikan sekarang,” tantang Ed.
Kiara terkekeh, “Gak perlu,” jawabnya dengan tersenyum, kini hatinya jauh lebih ringan setelah berbicara dengan Ed.
“Terima kasih sudah menemaniku selama ini, selalu ada saat Aku butuh semangat untuk menguatkan langkahku. Entah apa yang terjadi pada kami semua jika tidak ada Mas di sini,” ucap Kiara tulus.
"Karena kalian berdualah alasanku ada di sini." Ed mengulurkan tangannya pada Kiara, “Kita berangkat sekarang, sebelum terlalu malam. Biar Rio bisa ikut menengok papanya yang sedang sakit.”
Kiara mengangguk menyambut uluran tangan Ed, dan menggenggamnya erat. Hatinya tiba-tiba menghangat merasakan kedamaian saat tangannya bertaut.
••••••••