You are the Reason

You are the Reason
Bab 26. Emosi



Wajah Kiara memucat mendengar ucapan Bian tentang El, bagaimana pun juga ia tidak bisa percaya begitu saja sebelum bertemu dengan suaminya dan mendengar langsung darinya.


Deg!


Jantung Kiara benar-benar diuji kekuatannya, andai saja buatan manusia sudah pasti hancur lebur sejak tadi.


Beberapa lembar kertas tebal bergambar foto diri El tersenyum lebar bersama seorang wanita cantik di atas ranjang, jatuh berhamburan terlepas dari tangannya saat ia membuka amplop yang berada di bagian paling bawah.


“Siapa wanita ini?” tanya Kiara dengan wajah pucat pasi, tangannya bergetar hebat saat menunduk berusaha menggapai salah satu gambar yang tercecer di lantai.


“Dia tunangan El,” jawab Bian singkat.


Lembar foto di tangannya terlepas begitu saja, Kiara mengangkat wajahnya menatap Bian dengan sorot mata terluka. “Tunangan?”


“Ya, wanita di dalam foto itu adalah tunangan El. Dan mereka akan segera menikah,” ucap Bian tak peduli bagaimana Kiara akan terluka mendengarnya.


Ia harus melakukan hal ini karena wanita di depannya itu sepertinya tidak mudah percaya begitu saja padanya.


Kiara memalingkan wajahnya sesaat, dan matanya mulai menghangat. Ia berusaha menahan diri, meski dadanya serasa mau pecah.


“Bagaimana dia bisa bertunangan dengan wanita lain sementara dirinya masih sah sebagai suami Kiara. Tidak mungkin abang melakukan hal itu, Papa pasti bohong kan. Iya, kan?”


“Jadi Kamu menuduhku berbohong dalam hal ini. Wanita itu memang tunangan El, jauh sebelum Kamu mengenalnya.” Bian menegakkan tubuhnya, matanya nyalang menatap marah pada Kiara.


“Kamu yang sudah menghancurkan pertunangan mereka, menginginkan sesuatu yang bukan milikmu. Sekarang saat El menyadari kebenarannya, Kamu tidak terima dan mengatakan kalau kami berbohong padamu. Harusnya Kamu sadar diri kalau niat burukmu untuk menguasai harta kami sudah tercium sejak lama!”


Air mata yang sedari tadi ditahannya kini keluar begitu saja, Kiara mengepalkan tangan kuat berusaha menahan isaknya. Ia tidak menyangka begitu rendah dirinya di mata Bian, ia tulus mencintai El bukan seperti yang dituduhkan laki-laki itu padanya.


Dreet dreet ...


Kiara tidak menjawab ucapan Bian padanya, ia langsung saja menyambar ponselnya tanpa melihat lagi siapa yang menghubunginya. Yang terbayang di kepalanya adalah sosok Subrata yang memintanya untuk segera kembali bekerja.


Dengan suara bergetar menahan emosi, Kiara langsung saja menjawab dengan nada keras. “Sudah saya bilang, sebentar lagi saya datang. Apa bapak tidak bisa mengerti ucapan saya, apa bapak tidak ...”


“Kiara. Ini ibu, nak.” Suara di seberang telepon menyadarkan Kiara.


“Ibu?” Kiara langsung terduduk lemas.


“Kiara, dengarkan ibu baik-baik.”


Kiara menoleh pada Bian, ia lalu berdiri dan berjalan menjauh. Lelaki itu masih saja duduk dengan wajah kaku, menatapnya tajam dan sepertinya tengah memasang telinga mendengar setiap pembicaraan Kiara di telepon.


“Maafkan Kia, bu. Nanti malam Kia ke rumah sakit, bagaimana keadaan paman saat ini. Paman baik-baik saja, kan?” tanya Kiara setengah berbisik agar tak terdengar oleh Bian.


“Baiklah, secepatnya Kiara akan cari. Ibu tolong tenangkan paman, ya.” Kiara mengakhiri teleponnya, menunduk dalam dengan kedua kaki menekuk di lantai.


“Ya Tuhan, hanya padamu aku meminta pertolongan. Kuatkan aku dalam menghadapi segala ujian ini,” pintanya dalam hati.


Dengan tubuh gemetar, Kiara bangkit dan berjalan ke arah Bian yang terus memperhatikan dirinya.


“Maaf, Saya harus secepatnya ke rumah sakit.”


Tanpa menunggu jawaban Bian, Kiara lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu rapat-rapat, menangis tanpa suara. Sesak mengimpit dadanya, tidak ada tempat untuk mengadu.


Setelah merasa lebih tenang, Kiara berganti pakaian lalu menjalankan kewajibannya terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian Kiara bergegas keluar dari kamarnya dan bersiap hendak menuju rumah sakit.


Jam istirahat kerjanya sudah lama berakhir, tapi sampai detik ini ia bahkan belum makan sama sekali. Kiara meneguk minuman dalam gelas di atas meja, dilihatnya Bian sudah tidak berada di sana. Sepertinya lelaki itu sudah pergi.


Kiara mengunci pintu rumahnya, lalu berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat di depannya.


Sudah lebih dari sepuluh menit Kiara menunggu, namun sepertinya taksi yang ditunggunya tidak lewat juga. Matanya menangkap mobil mewah milik Bian yang bergerak dan berhenti di dekatnya, dilihatnya Yuda keluar dan berjalan menghampirinya.


“Silah kan ikut bersama kami, biar kami yang akan mengantar Nona ke rumah sakit.”


“Tidak perlu, terima kasih sebelumnya. Biar Saya naik taksi saja,” tolak Kiara, lalu berjalan menjauh dari hadapan Yuda.


“Akan lebih baik jika Nona berangkat bersama kami,” bujuk Yuda lagi. “Bukankah Nona ingin secepatnya sampai di rumah sakit dan bertemu dengan paman Anda.”


Kiara mengesah pelan, kepalanya mendadak pusing. Ya, ia memang harus secepatnya berada di rumah sakit. Bayangan kata operasi berputar-putar di kepalanya. Bagaimana ia bisa mendapatkan uang cepat untuk biaya operasi pamannya.


Dreet dreet ...


Ponselnya kembali berbunyi. Tak ingin salah bicara lagi, Kiara melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Subrata!


Perut lapar, tubuh yang lelah luar biasa, ditambah lagi pikiran yang sedang kalut, membuat emosi Kiara memuncak. Ia tidak lagi dapat menahan diri, terlebih saat melihat nama bosnya itu.


“Kiara! Apa kamu mau saya pecat. Sampai jam segini belum juga kembali!” suara lantang Subrata memekakkan telinga Kiara.


“Kalau bapak mau pecat saya sekarang, silah kan. Pecat saja! Karena saya tidak akan kembali dan bekerja lagi untuk bapak!” balas Kiara tak kalah lantangnya dan langsung menutup teleponnya.


“Wow!” Yuda tersenyum tipis melihat pada Kiara, tidak mengira wanita itu bisa meledak emosinya seperti itu.


“Saya ikut bersama kalian,” ucap Kiara tanpa menoleh lagi, lalu berjalan cepat menuju mobil Bian diikuti Yuda dari belakang.


••••••••