You are the Reason

You are the Reason
Bab 67. Menjemput pulang



El tersenyum lembut menatap Rio yang tengah tertidur pulas di atas ranjang di dalam kamarnya. Pakaian jalannya sudah berganti dengan kaos rumahan dan celana pendek sebatas lutut.


Siang itu setelah selesai menonton pertandingan sepak bola yang dimenangkan tim kesebelasan sekolahnya, Rio bersama kawan-kawannya yang lain sepakat merayakan kemenangan mereka dengan pergi beramai-ramai ke pantai.


Tentu saja atas persetujuan pelatih yang juga merangkap sebagai guru olah raga sekolah mereka, dengan tetap didampingi oleh wali dari murid masing-masing.


Hingga hari menjelang senja mereka pulang kembali ke rumah. Rio yang kelelahan tidak langsung pulang ke rumahnya dan lebih memilih untuk beristirahat bersama El di rumahnya.


“Iyo gak pulang nanti dicari nenek gimana?” tanya El yang melihat Rio berbaring malas-malasan di sofa rumahnya.


“Nenek kan tau Iyo jalan bareng sama Om. Iyo mau di sini aja, Mama juga belum datang dari luar kota. Sepi, gak enak gak ada teman main di rumah!” cetusnya menjawab pertanyaan El padanya.


“Sudah sore, apa tidak sebaiknya Iyo pulang. Mandi dulu terus ganti baju biar segar, kan tadi habis berenang di pantai.”


“Iyo mandi di sini saja ya, Om. Suka, kamar mandinya gede bisa berendam di bak tidur.”


“Memang kamar mandi di rumah Iyo gak ada bak tidurnya?”


“Ada Om, tapi gak sebesar kamar mandi di sini.”


El terkekeh mendengarnya, “Ya sudah, biar Om yang ke rumah Iyo buat minta baju ganti sama nenek. Sekarang Iyo mandi dulu sana,” perintah El pada Rio.


“Siap Om!”


Ibu Lastri yang melihat kedatangan El yang meminta baju ganti untuk Rio, hanya bisa tersenyum kecil mengetahui cucu lelakinya itu masih ingin tetap bersama dengan lelaki itu sembari menunggu kedatangan Kiara dari luar kota.


“Maafkan cucu Ibu, ya. Jadi merepotkan nak El. Seharusnya langsung pulang ke rumah sejak tadi-tadi,” ucap ibu Lastri sambil menyerahkan tas berisi pakaian ganti Rio. “Rumahnya loh dekat, lima langkah nyebrang sudah sampai.”


“Gapapa kok, Bu. Gak merepotkan, Saya justru senang Iyo mau main ke rumah Saya.”


Ucapan itu membuat ibu Lastri tercenung, apa sudah sedekat itu hubungan keduanya padahal mereka berdua baru saja saling mengenal!


El lalu berpamitan kembali ke rumahnya, dilihatnya Rio sudah selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas pinggang di dalam kamarnya.


“Ini baju gantinya Iyo.” El menyerahkan bungkusan di tangannya. “Sekarang Iyo ganti baju dulu, setelah itu kita makan.”


“Oke!” Rio mengacungkan jempolnya.


Tubuh segar setelah mandi, perut kenyang setelah terisi makanan membuat kantuk datang menyerang. Baru sebentar berbaring di sofa, Rio sudah tertidur dengan nyaman.


El tidak tega untuk membangunkan Rio, ia lalu menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamarnya dan merebahkannya di sana.


Perlahan El berbaring miring, menatap lekat wajah polos Rio yang tampak damai itu. Diambilnya ponselnya, lalu mengambil foto bersama Rio yang tertidur dalam berbagai pose.


“Maafkan Papa,” ucapnya lirih seraya mengecup pipi Rio dan mengusapnya perlahan. “Papa bersalah pada kalian berdua.”


Ada rasa yang tidak dapat diungkapkannya dengan kata-kata. Ini kali kedua El berjalan bersama Rio, dan kesempatan itu digunakan El dengan sebaik mungkin. Ia seolah ingin menebus waktu yang terbuang dengan memanjakan Rio, dan menuruti semua keinginan bocah itu.


Rio menggerakkan tubuhnya, seolah terganggu dengan apa yang dilakukan El barusan. Matanya perlahan mengerjap, ia memiringkan tubuhnya lalu kembali terpejam seiring gerakan tangannya yang menyusup masuk ke bawah bantal.


“Ish!” El tertawa kecil melihat hal itu, teringat dirinya sendiri yang suka sekali menyusupkan tangannya saat tidur.


Tiba-tiba telinganya mendengar suara derum kendaraan yang berhenti di depan rumahnya. El menatap ke arah jarum jam di dinding yang menunjukkan angka sembilan. Ia pun bangun dan melihat dari balkon kamarnya, mengernyitkan dahi saat melihat Kiara yang baru turun dari mobil.


“Gak mampir dulu, Win. Aku buatin minuman anget,” ucap Kiara.


“Sudah malam, Ra. Lain kali saja, lagi pula Kamu juga kelihatan capek gitu. Aku pamit ya,” sahut Wina berpamitan seraya mengucap salam.


Kiara masuk ke dalam rumahnya, melempar begitu saja tas kecilnya ke atas sofa. Teringat pada Rio, Kiara langsung melihat ke kamarnya. Tetapi alangkah terkejutnya Kiara melihat kamar putranya itu kosong dan terlihat masih rapi.


“Ibu, Iyo ke mana ya. Kok di kamarnya gak ada?” tanya Kiara merasa heran, tidak biasa melihat Rio keluar rumah malam hari sendirian.


“Menginap di rumah tetangga depan rumah,” sahut ibu Lastri.


“Loh kok?”


“Tadi sore El kemari, minta baju ganti buat Iyo. Malamnya datang lagi bilang kalau anaknya sudah tidur pulas gak tega mau bangunin. Terus pamit sama Ibu biar nginap di rumahnya besok pagi baru pulang lagi,” jelas ibu Lastri.


“Biar Kia yang jemput dan bawa Iyo pulang, nanti malah kebiasaan nginap di tempat orang.”


Merasa terganggu dengan perasaannya, tanpa menghiraukan waktu yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Kiara keluar rumahnya dan pergi ke rumah depan untuk menjemput Rio pulang. Tak peduli tubuhnya yang lelah luar biasa, Kiara mempercepat langkahnya menuju rumah El.


Tak sabar Kiara memijit bel di pagar rumah, lalu lelaki itu muncul membukakan pintu untuknya.


“Maaf, Aku harus jemput pulang anakku!” ucapnya tanpa basa-basi.


“Sudah malam, lagi pula anaknya juga sudah tidur nyenyak. Sebaiknya besok pagi saja, kasihan kalau dibangunkan.”


“Gapapa, biar Aku bangunkan. Di mana tidurnya?”


“Di kamarku,” sahut El yang langsung membuat Kiara terdiam. “Ikut denganku, dan Aku ingin tahu apa Kamu tega membangunkan anakmu yang sudah terlelap.”


Itulah pertama kalinya Kiara memasuki kamar pribadi El, di mana dilihatnya Rio tertidur nyaman sambil memeluk guling bergambar pemain bola kesayangannya.


••••••••