You are the Reason

You are the Reason
Bab 70. Jatuh



El membuka berkas di dalam amplop yang diserahkan Yuda padanya. Kerutan di keningnya makin dalam saat menatap gambar yang terpampang di depannya.


“Saya pikir laki-laki yang sedang bersama dengan nyonya di tempat ini adalah orang yang sama dengan lelaki yang selama ini menemani nyonya di setiap pemotretan di luar kota,” jelas Yuda menunjuk ke arah foto seorang lelaki yang tersebar di atas meja.


“Kamu yakin dia orangnya, Yud?” sahut El mengambil salah satu foto dan membandingkannya dengan foto lainnya.


“Coba Tuan cermati foto ini, bukankah itu dia. Lelaki ini mencoba menutupi kehadiran dirinya di tempat itu dengan memakai jaket dan topi lalu masker untuk menutupi wajahnya supaya tidak dikenali kru yang ada di sana dan tertangkap kamera wartawan.”


“Hem!” El menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya sesaat seraya memijit keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


“Kecurigaanku selama ini sepertinya mulai terbukti. Tidak mungkin wanita itu mau bertahan hidup denganku selama ini kalau tidak ada sesuatu yang dia inginkan.”


Bagi orang awam hubungan rumah tangga El dengan Raisha memang terlihat baik-baik saja, meski mereka berdua jarang tampil bersama di tempat umum. Tapi tidak bagi mereka yang mengenal baik keduanya, bukan rahasia lagi kalau El sebenarnya tidak pernah mencintai istrinya, apalagi sampai saat ini pernikahan keduanya belum juga di karuniai seorang anak.


Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, dan Raisha lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kota ketimbang tinggal bersama suaminya. El tidak pernah mengekang Raisha dan memberi kebebasan penuh padanya untuk berkarier.


“Tuan, apa sebaiknya kita beritahu tuan besar tentang masalah ini.”


El membuka matanya, duduk dengan punggung tegak menatap lurus pada Yuda. “Jangan dulu, selidiki terus sampai kita dapat bukti kuat dan menangkap basah mereka berdua.”


“Apa Tuan baik-baik saja?”


El tersenyum tipis, bayangan wajah Rio tiba-tiba saja melintas di benaknya. Senyumnya melebar, air mukanya berubah cerah. “Aku baik-baik saja, terlampau baik malah.”


“Tuan, Saya dengar Tuan tidak tinggal di apartemen lagi. Apa ada sesuatu yang bisa Saya lakukan untuk membantu mengatasi masalah Tuan saat ini?” tanya Yuda hati-hati, ia tidak ingin El menaruh curiga padanya karena sampai saat ini ia masih terus mendapat perintah dari Bian untuk tetap memantau tuan mudanya itu.


“Tidak ada masalah yang berarti, Aku hanya ingin perubahan suasana.”


“Tuan terlihat bahagia, sepertinya kepindahan Tuan membawa pengaruh baik untuk suasana hati Tuan saat ini.”


“Oh ya, Kamu melihatku bahagia. Benar seperti itu, Yud?”


Yuda mengangguk cepat, balas tersenyum. Apa semua karena hadirnya kembali wanita masa lalu tuannya itu.


Sepertinya rasa penasaran Yuda membuatnya ingin mengetahui semua hal yang terjadi pada El selama kedatangannya di kantor cabang perusahaan Abian Grup, tanpa menimbulkan kecurigaan lelaki muda di depannya itu padanya.


•••••


Tap tap tap ...


Kiara berjalan tergesa-gesa, bunyi langkah kakinya terdengar keras dan jelas. Ia hanya mengangguk sekilas pada mereka yang bertemu dan menyapanya saat berpapasan. Pikirannya masih berkutat pada sosok Yuda, penasaran dan rasa ingin tahunya mengenai maksud kedatangan lelaki itu di kantor ini membuatnya hilang fokus.


Bruakk!


Di sudut ruangan lantai 2 saat hendak berbelok arah, Kiara jatuh terjengkang menabrak seseorang yang berjalan ke arahnya dengan membawa tumpukan berkas di tangannya. Alhasil, semua berkas jatuh berhamburan ke lantai, sebagian malah ada yang tercecer dan jatuh ke bawah tangga.


“Aoww!” Kiara mengaduh kesakitan, siku tangannya terluka dan berdenyut nyeri saat lengan kanannya itu terantuk mengenai dinding tembok di sampingnya.


“Udah, gapapa. Aku bisa bangun sendiri kok Yun,” tolak Kiara halus, menepis pelan tangan Yuni di lengannya.


“Tapi Mbak, tangan Mbak Kiara berdarah. Dan kening Mbak itu ... Ya Allah, Saya benaran minta maaf.”


Yuni terlihat panik melihat kening Kiara juga terluka, berdarah tergores ujung file yang tajam.


“Memang kening Aku kenapa, Yun?” Kiara lalu meraba keningnya, menatap ujung jarinya yang terkena noda darah.


“Mbak, bagaimana ini?”


“Oh ini.” Kiara mengambil sapu tangan dari dalam saku bajunya, lalu menekan luka di keningnya. “Beres kan,” ucapnya kemudian.


“Maafkan Saya ya, Mbak.”


“Ish, dari tadi minta maaf terus. Udah gapapa, cuman luka kecil gini biasalah.” Kiara tersenyum menenangkan, meski lengannya terasa ngilu dan keningnya berkedut perih ia berusaha menahannya.


“Harusnya Aku yang minta maaf, jalan buru-buru sampai gak lihat kalau ada Kamu lewat di depanku.”


“Lengan Mbak Kiara juga berdarah,” tunjuk Yuni pada luka di lengan Kiara.


“Bentar dikasih betadine sama plester juga beres,” sahut Kiara, lalu berjongkok mengumpulkan kembali berkas yang tercecer di lantai.


“Biar Saya saja yang beresin, lebih baik Mbak Kiara obati saja lukanya.”


“Udah gapapa Aku bantu kumpulin, berhamburan kayak gini kan juga gara-gara Aku nabrak Kamu Yun.”


Kiara terus berjongkok memunguti kertas di dekat kakinya. Hanya butuh beberapa menit saja berkas itu telah terkumpul kembali, Kiara tersenyum lega berjalan menaiki anak tangga. Tangannya memegang kertas terakhir yang baru saja diambilnya dari bawah tangga.


“Selesai!” ucapnya seraya melambaikan kertas di tangannya. “Akhirnya beres ...”


Ucapannya tertahan ketika melihat pintu ruang kerja El terbuka dan lelaki itu berjalan keluar bersama Yuda.


Saat melewati Kiara sepertinya lelaki itu ingin bicara sesuatu padanya, sementara Yuda hanya diam. Ekor matanya saja yang terlihat terus mengawasi Kiara.


Terlihat jelas wanita itu gelisah dan tidak nyaman dengan kehadirannya di kantor itu, apalagi saat berpapasan langsung seperti ini. Kiara langsung berpaling dan tak mau melihat ke arah mereka.


“Satu jam lagi kita kembali,” ucap El sengaja mengeraskan suaranya di dekat Kiara.


Kiara lalu menggamit lengan Yuni dan membantunya membawa sebagian berkas, lalu berjalan menjauh.


Setelah mendengar suara pintu keluar telah tertutup kembali dan dua orang lelaki itu sudah tidak terlihat di lantai itu lagi, Kiara mengembuskan napas lega.


••••••••