You are the Reason

You are the Reason
Bab 38. Memendam rasa



Delapan tahun kemudian.


Di sebuah taman kota di tengah lapangan rumput luas yang terdapat di sana, terlihat dua orang laki-laki berbeda usia tengah asyik bermain sepak bola.


Tidak jauh dari tempat mereka bermain, di salah satu bangku panjang yang ada di pinggir lapangan, duduk seorang wanita muda yang sedari tadi terus memperhatikan keduanya sambil sesekali berteriak memberikan semangat.


Tak jarang ia menutup mulut lalu detik berikutnya tertawa geli sembari memegangi perutnya, melihat perdebatan kecil kedua laki-laki itu di lapangan setiap kali bola yang ditendang melenceng keluar dari lapangan permainan.


“Aarghh, Papa curang!” Terdengar suara protes keras Rio pada lelaki yang dipanggilnya papa itu. “Harusnya tadi tendangan penalti buat Iyo. Mana ada main sepak bola dari tadi bolanya dipegangin terus kayak gitu!”


Dengan muka cemberut lelaki itu berjalan masuk ke lapangan sambil membawa bola di tangannya tanpa menghiraukan protes Rio padanya.


“Penalti bagaimana, bukannya dari tadi Iyo nendang bolanya gak bener. Gawangnya di sini kenapa nendangnya ke sono. Papa kan capek mesti bolak-balik ngambil bolanya, mana jauh lagi.”


Dengan muka cemberut lelaki itu berjalan masuk ke lapangan sambil membawa bola di tangannya tanpa menghiraukan protes Rio padanya.


“Huh, ya udah. Kalau gitu gawangnya Papa geser lagi aja!” Rio balas mencebikkan bibirnya sambil melipat tangan di dada.


“Ish, nih bocah pakai acara ngambek segala lagi. Harusnya kan Papa yang gitu, capek mesti ngambil bola terus. Kenapa malah Iyo yang ngambek?”


Lelaki itu berjalan mendekat, lalu mengulurkan bola di tangannya pada Rio yang menerimanya masih dengan bibir manyun.


“Ini sudah yang ke tujuh kalinya Papa geser itu gawang. Tujuh kali!” Lelaki itu mengangkat kedua tangannya dan melipat tiga jari tangan kanannya ke dalam. “Kalau kali ini masih melenceng juga nendangnya, Papa bakal lipat itu gawang. Huh!”


Lelaki itu menirukan gerakan Rio melipat kedua tangan di dada dan memasang wajah masam dengan bibir mengerucut. Ia lalu berjalan kembali dan berdiri di depan mulut gawang.


Rio yang tadinya manyun langsung terkekeh melihat wajah papanya, ia kemudian menaruh bola tepat di kakinya.


“Are you ready, Papa!” serunya kemudian, sambil memasang ancang-ancang bersiap menendang bola ke gawang.


“Ready, go Rio Feriandra. Fokus, son!” teriak lelaki itu membalas seruan Rio padanya sambil mengangkat kedua tangan ke atas bersiap menangkap bola.


Seett ...


Wushh ...


“Aarrgghh!” terdengar teriakan kecewa, dan lelaki itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput tebal di bawah kakinya. “Gagal lagi.”


Bola itu kembali melenceng jauh ke samping kanan gawang, dan jatuh tepat di depan kaki wanita yang sedari tadi duduk melihat keduanya bermain.


“Mama, lempar bolanya ke sini. Kasih sama Iyo, Ma.” Rio mengulurkan tangannya sembari menunggu bola datang kembali padanya.


Mendengar ucapan Rio, lelaki itu langsung bangkit berdiri dan kembali mengungkapkan protesnya. Kali ini bukan pada Rio, tapi pada wanita yang kini berdiri menghadap mereka berdua di pinggir lapangan.


“No, Kia. Kali ini biarkan Iyo sendiri yang mengambil bolanya.”


“Mama, lempar bolanya sekarang Ma.” Suara Rio terdengar lagi.


Kiara menoleh, menggelengkan kepala menatap pada dua lelaki yang kini tengah berdiri menunggunya. Bola sudah berada di tangannya, hanya tinggal menunggu keputusan darinya. Melemparnya ke tengah lapangan atau membiarkan Rio mengambilnya sendiri di pinggir lapangan.


“Ayo lah, Ma. Kasih bolanya sama Iyo.”


“Kalian berdua, ya. Dari tadi main bola ribut terus!” ucapnya menatap pada keduanya.


“Iyo! Ambil bolanya sini sayang,” ucap Kiara mengulurkan bola di tangannya.


Kiara tersenyum lebar melihat wajah anak lelakinya itu yang kini berlari ke arahnya. Rio yang suka sekali dipanggil dengan nama Iyo, usianya kini genap delapan tahun. Tubuhnya yang sehat berisi terlihat begitu menggemaskan saat berlari padanya.


“Mas Ed, ih. Biarkan Iyo yang ambil bolanya!” seru Kiara ikutan berkacak pinggang.


Baru saja setengah berlari, lelaki itu menangkap tubuh Rio dan memeluknya dari belakang.


“Dapat!” teriaknya girang lalu mengangkat tinggi tubuh Rio.


“Papa, Papa geli. Hahaha!”


Ed membawa Rio berputar di udara, memeluknya dan menciumi lehernya dengan gemas. “Bau acem, tapi Papa suka.”


“Mas! Sudah, turunkan Iyo. Diputer- puter gitu nanti pusing yang ada malah muntah lagi,” protes Kiara lagi.


Lelaki itu menghentikan gerakannya dan perlahan berjongkok menurunkan Rio dari pelukannya, dan bocah lelaki itu masih saja tertawa saat mendengar teriakan khawatir mamanya.


“Memang Iyo masih suka muntah kalau lagi pusing?” tanyanya pada Kiara, lalu beralih menatap Rio yang masih memeluk lehernya.


“Iya,” jawab Kiara. “Iyo pusing gak kepalanya sekarang?” tanya Kiara pada anak lelakinya itu.


“Kalau Mama bilang boleh, Papa bakal belikan semua es krim apa saja yang Iyo suka.” Ed mengedipkan matanya pada Rio.


“Semua yang Iyo suka?” Rio menjilat bibirnya dengan wajah berbinar, yang langsung diangguki Ed.


Rio melepaskan pelukannya di leher Ed, lalu beralih memeluk pinggang Kiara. “Boleh ya, Ma.”


Kiara kembali menatap keduanya, lalu tersenyum mengangguk. “Boleh.”


“Yess!” seru keduanya bersamaan.


Kiara terkekeh melihatnya, “Sudah sore juga, sekalian kita pulang saja Mas.”


Kiara membereskan tas Rio yang ada di samping tempat duduknya, lalu membawanya di bahunya.


“Iyo tunggu di sini sama mama dulu, ya. Biar Papa beresin dulu gawangnya,” ucapnya pada Rio yang langsung diangguki Rio.


Kiara tersenyum, “Kita duduk di sini sayang, sambil tunggu papa Ed beres-beres.”


Rio mandah saja, duduk di samping mamanya sambil memperhatikan papanya membereskan perlengkapan bola miliknya. Melipat gawang yang terbuat dari plastik dan memasukkannya ke dalam tas besar di sampingnya lalu membawanya ke mobil.


“Selesai,” ucap Ed lalu meraih tangan Rio dan menggandengnya menuju kafetaria terdekat di sana, menikmati es krim pilihan Rio.


Senyum mengembang di bibir Kiara kala melihat anaknya yang begitu bersemangat saat menghabiskan waktu bersama dengan Ed yang sejak kecil dipanggilnya papa.


Lelaki baik hati yang selama ini selalu ada buat Kiara, yang begitu menyayangi Rio putranya seperti anak kandungnya sendiri.


Teringat bagaimana di awal kehamilannya, Kiara harus kehilangan pamannya untuk selamanya. Kesehatan paman kembali drop saat mengetahui semua yang telah dilakukan Kiara untuknya.


Perpisahan Kiara dengan El lalu kehamilan Kiara tanpa suami yang mendampinginya, membuat paman merasa bersalah padanya. Meski Kiara sudah menjelaskan berulang kali pada pamannya kalau semua itu bukan kesalahannya, tetap saja paman tidak dapat menerimanya.


Sampai di akhir hidupnya, paman meminta maaf padanya. Kiara sempat down untuk beberapa waktu lamanya setelah kepergian pamannya. Dan Ed hadir di sana membantunya bangkit, memberinya semangat, melanjutkan hidupnya demi anak yang ada dalam kandungannya.


Perlahan tapi pasti, Kiara bisa kembali tegar. Satu tahun setelah kelahiran Rio, Kiara melanjutkan pendidikannya kembali hingga berhasil meraih gelar sarjana dan kini ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di kotanya. Dan semua itu tidak lepas dari bantuan Ed padanya.


“Terima kasih,” ucap Kiara terlontar begitu saja saat mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang menuju rumah Kiara.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Ed.


“Untuk semua yang sudah Mas lakukan pada kami selama ini. Pada Rio, juga pada almarhum paman. Entah apa jadinya hidup kami jika tak ada Mas di sisi kami. Terima kasih,” ucap Kiara tulus.


“Ya ya ya.” Ed tersenyum mendengarnya, entah sudah berapa kali ia mendengar ungkapan itu dari mulut Kiara.


Ia menyayangi mereka berdua, terutama Rio yang sudah merebut hatinya sejak pertama kali melihatnya lahir ke dunia ini.


Anak itu tumbuh besar dan suka sekali bermanja padanya, tingkahnya yang menggemaskan, meski di setiap kali pertemuan mereka tak jarang sering terjadi perdebatan kecil. Dan Ed sangat menghargai waktunya bersama dengan Kiara dan Rio. Hidupnya jadi lebih berwarna.


“Lihat bagaimana bersemangatnya Rio saat bermain bola tadi. Perut Aku sampai keram terus tertawa melihat perdebatan kalian berdua,” ucap Kiara yang dibalas dengan senyum lebar Ed.


“Putramu memang menggemaskan,” ujar Ed menanggapi ucapan Kiara.


Keduanya lalu mengalihkan pandangannya pada Rio yang sudah tertidur pulas di kursi belakang.


Wajah polos itu tersenyum bahagia dalam tidurnya. Selama ini Rio tidak pernah bertanya pada Kiara siapa ayah kandungnya, karena sosok Ed yang selalu ada untuknya. Meski Kiara selalu mengingatkan pada Rio kalau Ed adalah sahabat terbaiknya, tapi Rio sepertinya tidak peduli dan tetap saja memanggil dan menganggap Ed adalah papanya.


Ed tersenyum tipis, kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Andai Kamu tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya padamu, aku mencintaimu lebih dari apa yang kamu pikirkan tentangku. Aku bahkan tidak peduli dirimu yang dulu, yang aku tahu aku hanya ingin selalu ada di dekat kalian berdua.”


Ed mencengkeram kuat setir mobilnya, sudah cukup lama ia memendam rasa pada Kiara dan selalu menekan perasaannya. Ia tak ingin membuat wanita itu menjauh darinya jika ia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, karena Ed tahu wanita itu masih belum bisa melupakan mantan suaminya.


“Mas,” panggil Kiara yang membuat Ed langsung menoleh padanya.


“Ya?”


“Aku ngantuk,” ucap Kiara sambil meringis, menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Tidurlah, buat dirimu senyaman mungkin. Pakai jaket ini biar tubuhmu lebih hangat.” Ed menepikan mobilnya, menurunkan bangku yang diduduki Kiara lalu melepas jaket yang dikenakannya dan memberikannya pada Kiara.


“Terima kasih,” ucap Kiara lalu menutupi tubuh bagian atasnya dengan jaket milik Ed, mulai memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke samping dengan nyaman.


“Tidurlah Kiara, berbaringlah dengan nyaman. Aku akan tetap terjaga di sini untuk kalian,” bisik Ed dalam hati memandang lembut wajah wanita yang sudah mencuri hatinya itu.


••••••••