
Kiara berlari kecil menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah di dalam rumahnya. Saat tiba di lantai dasar ia langsung menyambar cepat kunci mobilnya yang tergantung di dekat rak buku yang berada di ruang keluarga.
Di ambang pintu hampir saja ia bertabrakan dengan Kinan yang datang dan sudah terlebih dahulu membuka pintu.
“Mbak Kia?” ucap Kinan lalu menyingkir cepat dan merapat ke dinding, memberi jalan pada Kiara yang terlihat begitu tergesa-gesa hingga nyaris menabraknya.
“Ups! Maaf Kin, Mbak buru-buru. Kalau ibu nyariin, bilang Mbak jemput Iyo di lapangan.” Kiara menggeser pintu garasi lebar, lalu membuka pintu mobilnya. Memasukkan anak kunci dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
“Mbak Kia kan lagi sakit, dan harus banyak istirahat. Jadi, biar Kinan saja yang jemput Iyo.”
Kinan berjalan mendekat, dari balik kaca mobil yang terbuka ia meminta Kiara untuk turun dari mobilnya dan membiarkan dirinya saja yang akan menjemput Rio. Karena di usianya yang hampir menginjak sembilan belas tahun ia sudah memiliki surat ijin mengemudi dan sering menggantikan Kiara untuk menjemput Rio dengan memakai mobilnya.
“Gak usah deh, Kin. Biar Mbak saja yang jemput adikmu, Iyo. Mbak gapapa, sudah baikan kok. Lagi pula Kamu pasti capek baru pulang kuliah, istirahat gih.” Kiara mengusap lengan Kinan.
“Tapi Mbak ...”
“Ssttt!”
Kinan langsung terdiam saat telunjuk Kiara bergerak cepat menutup bibirnya. “Kali ini Kamu harus turuti apa kata Mbak, dan tidak boleh membantahnya. Jangan khawatir, Mbak baik-baik saja, oke!”
Kiara membetulkan letak kaca spion depan, memutar setir mobilnya bersiap mundur. Kinan mengalah lalu melangkah mundur menjauh.
“Yo wes lah, Mbak. Kinan hanya ingin melihat Mbak cepat pulih, karena cuaca di luar sana sedang tidak bersahabat. Panas terik di lapangan, banyak debu dan kotoran juga di jalanan.”
Kiara tersenyum lebar, lalu memasang masker lapis dua menutupi bagian wajahnya. “Aman,” ucapnya kemudian seraya mengacungkan ibu jarinya. “Mbak jalan dulu,” imbuhnya lagi, lalu memutar setir mobilnya dan berlalu dari hadapan Kinan.
“Hati-hati, Mbak. Jangan ngebut nyetirnya!” ujar Kinan mengingatkan, bukan tanpa alasan karena Kiara bukan tipe orang yang suka berlama-lama menyetir di jalanan. Bisa lebih cepat kenapa jalan harus melambat.
Kiara tersenyum melambaikan tangan, masih sempat di dengarnya teriakan Kinan padanya sebelum ia berlalu pergi menuju stadion tempat putranya bertanding.
Dan sepertinya ucapan Kinan terbukti, Kiara memacu laju kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan terlihat lengang, tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang karena bukan berada di jam pulang kerja yang pastinya akan membuat macet jalan raya.
Tidak butuh waktu lama, ia sudah sampai di tempat yang dituju. Kiara lalu menepikan mobilnya tidak jauh dari pintu gerbang stadion utama karena halaman parkirnya sudah penuh dengan banyak kendaraan lainnya.
Ia turun dari mobilnya dan berjalan cepat memasuki pintu utama yang dibuka lebar untuk semua orang yang ingin datang menonton pertandingan hari itu.
Riuh suara penonton yang didominasi anak-anak sekolah dan para orang tua murid terdengar menyambut kedatangan Kiara di tempat itu.
Matanya mulai memindai sekelilingnya, lalu berhenti pada dua sosok anak manusia yang duduk di barisan tengah berada di tribune atas di antara para penonton lainnya.
Deg!
Masih berada di bawah, di dekat tangga yang menghubungkan jalan ke arah lapangan dan kursi penonton. Kiara menatap lurus pada wanita yang duduk di sebelah kanan El, yang kini terlihat menggeser tubuhnya sedikit menjauh dengan ponsel menempel ketat di telinga.
Untuk sesaat lamanya jantung Kiara berdegup lebih cepat melihat kehadiran wanita itu di sana. “Ternyata laki-laki itu tidak datang sendirian,” gumamnya dalam hati.
Berada dalam jarak begitu dekat seperti saat ini, tidak mungkin wanita itu tidak mendengar ucapan El yang berbicara padanya di telepon tadi. Raisha pasti juga sudah bertemu dengan Rio karena putranya itu meminjam ponsel milik El saat menghubungi nomornya.
Wajah Raisha terlihat tegang saat berbicara di telepon, berbisik sambil sesekali mencuri pandang pada El yang terlihat fokus melihat pertandingan yang sedang berlangsung di depannya. Tidak terusik sama sekali dengan Raisha yang sibuk menelepon seseorang di sampingnya.
Hingga teriakan nyaring penonton menyerukan nama Rio di dekatnya, mengalihkan perhatian Kiara.
Di tengah lapangan terlihat Rio yang memakai baju bernomor punggung tujuh begitu bersemangat mengejar bola meski dikawal ketat oleh pemain lawan.
Pertandingan berlangsung seru karena pemain lawan terus berusaha mencetak angka membalas kekalahan skor di babak pertama. Karena ini adalah pertandingan penentuan untuk bisa lolos ke final dan menjadi juara.
Kiara ikutan berteriak memberikan semangat, sambil terus berjalan memiringkan badannya berusaha menerobos masuk mengurai banyaknya penonton yang berdiri membelakanginya. “Permisi, permisi numpang lewat Bapak Ibu!”
“Mama Iyo, sini duduk dekat kita!” suara Maya, mama dari Desta rekan satu tim Iyo yang mengenali Kiara memanggil namanya. Menepuk bangku kosong di sampingnya, menyuruhnya duduk di sana.
“Gak ada yang punya ini bangku?” tanya Kiara setengah ragu mengarahkan telunjuknya sebelum menjatuhkan bokongnya di sana.
“Oh ya?” Kiara memajukan tubuhnya, lalu memalingkan wajah melihat ke arah belakang dan terkekeh seraya menutup mulutnya saat membaca tulisan tangan Rio di sana.
Bangku khusus untuk Mama Kiara, by Rio Feriandra.
“Sudah dari tadi, Mbak. Yang lain mana?” tanya Kiara melihat ke kiri dan kanan.
“Tuh pada turun ke bawah, gabung sama anak-anak yang lain.” Maya menunjuk ke arah pinggir lapangan, di sana berkumpul ibu-ibu wali murid yang menonton sambil berteriak memberikan semangat untuk anak-anak mereka.
“Kayaknya lebih seru kalau kita ikutan gabung sama mereka,” ucap Kiara menoleh pada Maya.
“Mama Iyo aja deh yang ke sana. Kalau Saya ikutan turun, ribet. Banyak bawaan, nih bekal makanan buat anak-anak pada dititipin ke Saya semua.”
Kiara melongok ke bawah, di sebelah kanan kaki Maya. Ada beberapa tas besar berisi makanan dan minuman di sana. Kiara tersenyum melihatnya, “Oke lah kalau begitu, biar kita nonton dari sini saja.”
“Siip lah!”
Kedua ibu muda itu kembali fokus melihat pertandingan di depannya, dan Kiara tak jarang langsung bangkit berdiri saat melihat Rio berlari membawa bola di lapangan.
Masih tersisa lima belas menit waktu normal, Kiara terus berteriak memberikan semangat meski suaranya terdengar serak.
Kerja sama yang baik diperlihatkan tim kesebelasan sekolah Rio, hingga satu kesempatan emas terbuka lebar untuk kembali mencetak angka.
Rio yang mendapat umpan manis dari tendangan kaki cepat Desta di kotak penalti lawan, sudah berhadapan langsung dengan kiper dan siap mengarahkan tendangan ke gawang.
Tidak terduga dari arah kiri seorang pemain lawan yang bertubuh tinggi besar menjegal kaki Rio sebelum anak itu berhasil menendang dan bola bergulir jauh keluar lapangan, sementara Rio berteriak kesakitan lalu jatuh bergulingan sambil mengerang memegangi pergelangan kakinya.
Priit! Wasit meniup peluit menunjuk pada kotak putih, dan langsung mengeluarkan kartu kuning untuk pemain lawan.
“Anakku!” Kiara menjerit kuat melihat Rio yang kesakitan di tengah lapangan, lalu secepat kilat berlari turun mendekati pinggir lapangan dan tanpa pikir panjang hendak masuk melihat Rio dari dekat.
Sebuah tangan kekar meraih tubuhnya dari belakang dan memaksanya untuk tetap diam di pinggir lapangan.
“Tetap tenang dan diam di tempatmu saat ini, ada tim medis yang akan melihat keadaan Rio putramu.” El memegang kuat bahu Kiara, wajah wanita itu terlihat pucat dan terus melihat ke arah Rio di lapangan.
“Putramu anak yang kuat. Lihat bagaimana dia bangkit dari kesakitannya dan berdiri kembali lalu bersiap menyelesaikan pertandingan ini,” ucapnya lagi menenangkan Kiara.
Kiara menatap El, lalu menoleh kembali ke arah lapangan. “Tapi dia masih terlalu muda, haruskah ia mengalami hal itu.”
“Itulah kejadian di lapangan, tidak bisa diprediksi seperti maunya kita. Meski mereka masih anak-anak tapi semangat untuk meraih kemenangan membuat mereka harus bermain seperti itu untuk menyelamatkan gawangnya dari kebobolan bola lagi.”
Dilihatnya Rio berdiri kembali dengan langkah sedikit tertatih, berjalan menuju garis putih dan siap melakukan tendangan penalti.
Priit!
Bola melesat cepat menembus jaring gawang lawan, Rio mengepalkan tangannya. Untuk kedua kalinya dalam satu pertandingan ia mencatatkan namanya di papan skor.
“Iyoo!” teriak Kiara bangga, melihat perjuangan anaknya.
“Mamaa!”
Kiara merentangkan tangannya lebar, bersiap menyambut Rio yang berlari ke arahnya. Merangkumnya dalam dekapan erat, menciumi seluruh wajahnya. “Mama bangga sama Iyo,” ucap Kiara penuh haru.
Dari pinggir lapangan El menatap keduanya sambil menyeka sudut matanya yang berair, ada rasa di mana ia ingin juga bergabung dan ikut memeluk bocah lelaki itu. Tapi sekuat tenaga ia berusaha menahannya, ia tak ingin Kiara takut dan membenci kehadirannya di dekat mereka berdua.
El menarik napas, lalu balik badan hendak meninggalkan tempat itu dan kembali ke bangku penonton bersama Raisha yang sedari tadi memperhatikan semuanya dan merekamnya dalam ponsel miliknya.
••••••••