
DUA PULUH SATU
●○•★•○●
Kringg.. Kringg..
Bel sekolah berbunyi dua kali pertanda jam pembelajaran pertama telah usai yang artinya waktu istirahat telah tiba. Namun, siswa 11 IPA 4 yang berniat ingin membubarkan diri menuju kantin mendadak menghentikan aksinya saat Ramli—ketua kelas—maju ke depan dan mengumumkan tugas.
"Oke, mohon perhatiannya sebentar guys! Disini gue dapat tugas dari Bu Nurul, kita disuruh buat poster masing-masing dan temanya itu bebas. Nanti, untuk beberapa poster yang menarik, karyanya akan dipajang diseluruh mading yang ada disekolah dan akan ada hadiah menariknya. Oh iya, untuk pengumpulan posternya terakhir besok ja—"
"HAH?! BESOK?!"
Ramli tergelak, melihat teman satu kelasnya yang mendadak kompak memprotesnya. Padahal ia belum selesai bicara.
"Sabar dulu guys, gue belum selesai ngomong. Karena kelas kita telat banget dikasih taunya, nggak kayak kelas yang lain. Jadi, kita diberi keringanan. Yang seharusnya poster ini dibuat masing-masing perorang, khusus kelas ini bisa berkelompok tapi maksimal dua orang"
"Empat orang ga bisa, Ram?"
"Yeh nih anak, dikasih hati minta jantung,"
Gelak tawa mulai terdengar diantara mereka saat mendengar sang Ketua kelas mengumpat dengan begitu jelasnya. Beberapa dari mereka pun langsung memilih pasangan kelompok dan mulai membicarakan konsepnya.
"Bintang, Bintang, lo mau sekelompok sama siapa?"
"Bintang, sama gue aja mau? Gue udah nemu konsep bagus nih,"
Bima yang melihat beberapa siswi mendekati Bintang, tertawa remeh. Tak heran jika mereka melakukan demikian, karena seorang Bintang memang sudah dikenal pintar menggambar.
"Ngapain lo pada disini, kalian semua pasti ditolak karena yang akan sekelompok sama Bintang itu gue!" kata Bima dengan sangat pede.
"Kapan gue bilang mau sekelompok sama lo?" ujar Bintang, dia tiba-tiba merangkul Ailen yang sejak tadi duduk disebelahnya. "Gue bakalan sekelompok sama teman sebangku gue sendiri, Ailen."
Ailen mendadak kaku saat mendapat perlakuan seperti itu dari seorang Bintang. Gadis itu bahkan sempat mengira jika Bintang tidak akan mau sekelompok dengannya.
'Tapi baguslah, mungkin suasana hatinya sedang baik dan Bintang udah mulai maafin aku.'
Bintang tersenyum pada Ailen, yang kini sedang menatapnya bingung.
'Gue bakalan manfaatin momen ini buat lebih deket sama Ailen, dengan gitu gue bisa lebih gampang ngerebut Ailen dari Lintang.'
***
"Bintang, kita jadi kerja kelompokan sekarang?"
"Ailen, lo ditungguin Lintang tuh," kata Livia diambang pintu.
Ailen menepuk dahinya, ia lupa tentang Lintang. Dengan cepat, Ailen menenteng tasnya dibahu dan berniat keluar kelas. Tapi, gerakannya terhenti saat Bintang meraih pergelangan tangannya.
"Tungguin gue," ucap cowok itu.
Setelah selesai memasukkan semua bukunya, Bintang mulai berjalan keluar diikuti oleh Ailen.
Di luar kelas, Lintang sedang menunggu Ailen sambil memainkan ponselnya. Cowok itu segera memasukkan benda kotak itu saat melihat Ailen keluar bersama dengan saudara kembarnya, Bintang.
Bintang menghentikan langkahnya saat menatap Lintang, sedetik kemudian tatapan cowok itu beralih pada Ailen yang berada disampingnya.
"Aku mau bilang sama Lintang dulu ya,"
Bintang mengangguk, cowok itu tersenyum simpul. "Kalo gitu gue duluan, kita ketemu dilapangan basket nanti."
Ailen mengangguk.
Bintang mendadak mendekatkan kepalanya. "5 menit, jangan sampe telat. Gue tunggu," bisiknya.
Cowok itu mulai melangkah ke arah lapangan basket, Bintang sengaja menabrakkan bahunya saat melewati saudara kembarnya itu. Netra mereka bertemu beberapa detik, hingga Bintang memutuskan untuk melanjutkan langkahnya semula.
"Maaf Lintang, kita nggak bisa pulang bareng hari ini. Ailen ada kerja kelompok bareng Bintang sekarang, Ailen minta maaf banget ya?"
"Lo nggak perlu minta maaf, Len."
"Bagi Ailen perlu, Lintang 'kan udah nunggu lama karena aku"
Lintang hanya tersenyum melihat ekspresi Ailen seperti itu.
"Lo pulang naik apa nanti?"
"Lintang ga usah khawatir, nanti aku bisa pesen ojek online kok,"
Lintang mengangguk.
"Yaudah, Ailen duluan ya kasian Bintang nunggu disana"
Lagi, Lintang hanya merespon ucapan Ailen dengan anggukan kepala. Cowok itu mulai memperhatikan tubuh gadis itu yang kini sedang berjalan di tengah koridor sepi dan perlahan mulai menjauh darinya.