You are the Reason

You are the Reason
Bab 24. Kedatangan Bian



Kiara membasuh tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sudah waktunya istirahat, dan hanya tinggal dia seorang saja di toko sementara rekannya yang lain sudah pada menghilang semuanya.


Ia lalu bergegas mengganti sepatu kerjanya dengan sandal yang biasa dipakainya setiap pulang bekerja. Beruntung ada ibu Lastri yang mau membantunya bergantian menjaga paman di rumah sakit, jadi Kiara bisa lebih tenang melakukan pekerjaannya.


“Kiara!” teriak Subrata memanggilnya dari dalam toko.


“Ya, Pak.” Kiara yang bersiap hendak pulang, mengurungkan niatnya dan kembali melangkah masuk ke dalam toko.


“Tolong Kamu antarkan dulu cat ini ke bengkel motor yang ada di seberang jalan sana. Bilang sama pemiliknya yang ada stok di toko dulu yang kita kirim, besok pagi-pagi baru kita kirim lagi sisanya. Ini notanya, jangan mau kalau cuma tanda tangan saja. Cash bayar di tempat ya,” perintah Subrata seraya menunjuk kotak dus sedang yang ada di atas meja pada Kiara.


“Ini diantar sekarang, Pak?” tanya Kiara sambil melihat jam tangannya.


“Iya, sekarang. Lagi ditunggu sama pelanggannya mau dikerjain sekarang.”


“Tapi kan sekarang waktu Saya istirahat, Pak. Anak buah bengkel kan juga pada istirahat.”


“Ck ck! Apa Kamu gak dengar omongan Saya?Ini barang lagi ditunggu sama orangnya, buruan antar. Telat lima menit istirahat saja Kamu sudah protes, giliran Kamu gak masuk kerja Saya tidak pernah protes. Malah gaji utuh Kamu terima, tidak sepeser pun dipotong.”


“Ya, maaf Pak.”


Tanpa banyak bicara lagi Kiara lalu mengambil dus di atas meja dan mencabut kunci motor di gantungan.


“Gak ada kurang lebih sama sekali, disuruh begitu saja sudah protes. Coba saja sekali lagi bolos kerja, Saya potong gajinya. Coba saja,” omel Subrata terdengar jelas di telinga Kiara.


“Sabar Kia, sabar. Dari pada ribut malah gak pulang-pulang.” Kiara menguatkan hati, ia lalu menghidupkan mesin motor dan melaju menuju bengkel di seberang jalan.


“Tidak sampai lima menit kan,” ucap Subrata saat melihat Kia sudah datang kembali.


Kiara hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun, ia kemudian menyerahkan uang dan nota di tangannya pada bosnya itu lalu mengembalikan kunci motor di gantungan.


Secepatnya Kia pergi dan berlari-lari kecil menyeberang jalan melewati gang sempit menuju rumah pamannya. Waktu istirahatnya hanya satu jam, dan ia sudah harus kembali berada di toko lagi lima menit sebelum jam istirahatnya berakhir.


Kiara menghentikan langkahnya, tertegun sejenak menatap dari kejauhan. Tepat di depan rumahnya, sebuah mobil mewah terparkir di sana.


“Mungkin hanya orang yang numpang parkir saja,” pikir Kiara lalu kembali meneruskan langkahnya.


Tiin tiin ...


“Astagfirullah!” Kiara terlonjak kaget, seraya memegang dadanya.


“Lagian jalan sambil melamun, di tengah pula. Bahaya Kia!” ucap Aldi, berhenti tepat di samping Kiara lalu mematikan mesin motornya. Tersenyum lebar menatap Kiara yang mendelik padanya.


Pemuda tanggung tetangga Kiara yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu sepertinya baru saja pulang dari sekolahnya. “Makin cakep kalau melotot begitu,” ucapnya sambil terus tersenyum.


“Kamu lagi!” Kiara mendelik sebal.


“Dari pada capek jalan, mending dibonceng motor sama Abang Aldi. Ayo,” ajak pemuda itu sambil menepuk jok belakang motornya.


“Gak perlu, makasih tawarannya!” sahut Kiara buru-buru melangkah pergi.


“Ish, galak amat jadi cewek. Tolak aja terus, bentar juga capek sendiri.” Aldi berteriak sambil terkekeh, memandang punggung Kiara yang berjalan cepat meninggalkannya.


“Bodo amat!” sahut Kiara kesal.


Aldi secara terang-terangan bilang kalau menyukai Kiara, ia bahkan rela terlambat ke sekolahnya agar bisa mengantar Kiara ke tempat kerjanya. Menawarkan diri menjemput Kiara setiap jam istirahat kerja, yang bertepatan dengan jam pulang sekolahnya.


Tapi Aldi tidak percaya begitu saja, baginya itu hanya alasan Kiara saja untuk menjauhinya. Lagi pula mana ada sih suami tega meninggalkan istrinya tinggal bersama pamannya dan membiarkan seorang istri bekerja keras sendirian sementara dirinya tidak pernah kelihatan batang hidungnya, itu pikiran Aldi pada Kiara.


“Masih bocah juga. Mending sekolah yang benar,” rutuk Kiara dalam hati.


Tiin tiin ...


Suara itu terdengar lagi, Kiara kembali terlonjak dan spontan menoleh pada Aldi.


Pemuda itu terlihat masih duduk santai di atas motornya, mengangkat bahunya seraya mengacungkan kunci motor di tangannya. Seolah mengatakan bukan dia pelakunya.


“Apa mobil di depan itu yang melakukannya?” gumam Kiara dalam hati, sebelum kembali melangkah.


Deg!


Jantung Kiara berdegup kencang dan tangannya mulai berkeringat, saat melihat seorang lelaki dengan tubuh kekar keluar dari dalam mobil. Ia berdiri tegap dengan kedua tangan di pinggang, menatap tajam ke arah Kiara.


Astaga! Bagaimana kalau pamannya memiliki hutang dan laki-laki kekar itu datang menagih uang padanya? Kiara lalu teringat pada pamannya.


“Ck, kenapa lama sekali jalannya!” ucap seseorang dari dalam mobil, terdengar mulai tidak sabar.


Sedari tadi ia terus menoleh, melihat Kiara dari balik kaca mobil di belakangnya.


“Tuan, biar Saya yang ke sana menjemputnya.” Lelaki itu lalu berjalan mendekati Kiara.


Haduh! Kiara mulai panik saat melihat lelaki itu berjalan makin dekat ke arahnya.


“Kia, perlu bantuan?” Aldi tahu-tahu sudah berada di sampingnya lagi, sepertinya ia melihat gelagat tidak baik yang akan terjadi pada Kiara.


Tanpa banyak bicara lagi, Kiara langsung naik ke boncengan motor Aldi. “Cepetan jalan,” ucapnya menepuk keras bahu Aldi.


“Nona Kiara!” Lelaki kekar itu menahan motor Aldi dan dengan gerakan cepat langsung mencabut kunci motornya. “Silah kan ikut dengan Saya,” perintahnya lagi pada Kiara.


“Woi Om! Jangan main cabut kunci sembarangan gitu dong!” protes Aldi tak suka dan berusaha mengambil kunci motornya kembali, tapi laki-laki itu berkelit dan berhasil menghindar.


“Kenapa Saya harus ikut dengan Anda?” Kiara turun dari motor.


“Kamu kenal sama Om ini, Kia?” tanya Aldi menatap keduanya bergantian.


“Gak! Lihat juga baru kali ini.” Kiara menggeleng kuat. “Aku gak kenal sama sekali.”


“Tapi kok dia tahu nama Kamu?”


“Ya mana Aku tahu.”


Tidak berapa lama kemudian, dari dalam mobil itu keluar sosok laki-laki setengah baya yang masih terlihat gagah, berdiri menatapnya tak berkedip dari ujung rambut hingga kepala.


“Yang ini gak kenal, kalau sama om yang satu itu apa Kamu juga tidak mengenalnya?” tanya Aldi lagi.


Kiara menelan ludah dengan susah payah, menundukkan pandangannya seketika. Tangannya mencengkeram kuat ujung kemeja lusuh yang dikenakannya.


“Pa-papa,” bisik Kiara lirih, namun masih terdengar cukup jelas di telinga mereka yang ada di dekatnya.


••••••••