
Perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi putus cinta saat lagi sayang-sayangnya. Bukan tanpa alasan, campur tangan orang terdekat dan kehadiran orang dari masa lalu pasangan acap kali jadi pemicu pertengkaran antar pasangan.
Tapi hanya segelintir orang yang menginginkannya saat merasa hubungan dengan pasangan sudah tak lagi seiring sejalan, dan perpisahan adalah jalan terbaik yang harus dilakukan. Sebagian lagi memilih untuk tetap mempertahankan hubungan lalu saling koreksi diri.
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan luka. Ketika hubungan kandas, kita butuh waktu untuk benar-benar melepaskan mantan sebelum akhirnya bertemu dengan orang baru.
Ketika akhirnya berhasil bertemu orang baru dan memulai hubungan kembali, kita mengira sudah berhasil melupakan mantan. Tapi mengapa, saat bertemu dan melihat mantan sudah move on dari kita terasa menyakitkan. Why?
El mengesah pelan, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tanpa sadar tangannya kuat mencengkeram setir mobilnya. Sepanjang jalan menuju bandara pikirannya hanya tertuju pada Kiara dan putranya.
Meski sama-sama telah memiliki pasangan, Kiara terlihat bahagia bersama keluarga barunya. Tapi tidak dengannya, dan hal itu membuat hatinya perih. Sakit, karena tidak bisa menerima kenyataan kalau Kiara telah move on dan melupakan dirinya, melupakan kisah cinta mereka.
Raisha menoleh, mengerutkan dahi lalu memiringkan wajahnya menatap pada laki-laki yang duduk diam di sampingnya itu.
“Apa tidak ada yang ingin Kamu katakan padaku?” tanyanya, lalu kembali memainkan ponselnya.
Sudah lebih dari tiga hari ia berada di kota ini, mengisi hari liburnya hanya untuk bisa bersama El sang suami. Tapi kesibukan El di kantornya ditambah pemandangan yang dilihatnya di stadion sore tadi, membuatnya harus berpikir ulang dan berencana membatalkan kepulangannya malam ini.
”Nothing!” jawab El singkat, dan kembali menghela napas dalam.
“Huuh!”
Kali ini ganti Raisha yang mengembuskan napas, ponsel di tangannya ia masukkan ke dalam tas lalu menaruhnya di bangku belakang.
“Aku batalin penerbangan pulang malam ini,” ujarnya kemudian dengan nada datar, tanpa menoleh pada El.
“What?“
“Kita kembali ke apartemenmu saja lagi,” imbuhnya lagi sembari menatap keluar kaca jendela mobil.
“Sudah sejauh ini, Sha. Kita sudah hampir sampai tujuan, dan Kamu mendadak bilang batal terbang dan meminta pulang ke apartemenku lagi?” El menggeleng tak percaya.
“Dan mulai besok pagi, Aku juga akan ikut Kamu ke kantor!”
Chiiit ...
El menginjak rem kuat, menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Raisha yang duduk di sebelahnya mendelik marah memegangi wajah dan bahunya yang nyeri terantuk kuat kaca mobil di depannya.
“Kamu apa-apaan, sih!” seru Raisha marah.
“Maksudmu apa sih, Sha. Kamu sengaja ngerjain Aku, apa Kamu gak lihat bandara sudah di depan mata?” tunjuk El pada plang nama besar bertuliskan nama bandara yang ada di hadapan mereka.
“Ck, Kamu bilang Kiara wanita masa laluku?”
“Ya! Salah kalau Aku menyebutnya seperti itu? Dia memang masa lalu buatmu, dan Aku ...” Raisha menunjuk pada dirinya sendiri. “Aku adalah wanita masa depanmu!”
“Aku pikir Kamu benar-benar sudah melupakan dia, ternyata selama ini Aku keliru. Kamu berpura-pura amnesia, mengecoh semua orang supaya bisa terus mencari keberadaan wanita itu.”
“Aku tidak berpura-pura. Aku memang mengalami amnesia waktu itu,” sanggah El cepat. “Aku memang tidak bisa mengingat satu pun kenangan masa laluku bersamanya, dan Kamu tahu bagaimana usahaku setelahnya untuk dapat mengembalikan memoriku yang hilang. Tapi kalian semua, orang-orang terdekatku malah bungkam. Seolah tak ingin Aku mengetahui fakta yang sebenarnya tentang hubunganku dengannya, sampai Aku menemukan amplop coklat berisi sobekan buku nikahku dengan Kiara malam itu.”
“Ka-kamu menemukan bukti pernikahanmu dengannya?” tanya Raisha terbata.
El mengangguk lemah, “Saat itu juga semua kenanganku dengannya terpatri jelas dalam ingatanku. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, Sha?” tanya El dengan suara bergetar.
Raisha terdiam, menunggu El melanjutkan bicaranya. Selama ini mereka tidak pernah bicara berdua dalam waktu lama seperti saat ini. Masing-masing selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, dan El juga bukanlah lelaki romantis yang pandai mengumbar kata rayuan untuk memikat hati wanitanya.
Dan Raisha mencoba menerima semuanya, walau pada awalnya dirinya juga tidak mencintai El dan hanya menuruti keinginan papa Bian untuk membantu memisahkan El dan Kiara dengan mengakui El sebagai tunangannya hanya karena beberapa lembar foto dan itu sudah cukup membuat El percaya ucapan papanya yang kala itu mengalami amnesia.
Raisha menyadari kesalahannya, lambat laun seiring kebersamaan mereka Raisha benar-benar jatuh cinta pada suaminya itu. Sayang saat perasaan itu datang, El sudah mendapatkan ingatannya kembali dan ia harus menerima kenyataan kalau suaminya itu selalu menjaga jarak dengannya.
Meski terdengar menyakitkan, Raisha harus bersabar menunggu El mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dipendamnya.
“Aku menyesal, Sha. Aku menyesal tidak mempercayai ucapannya padaku waktu itu, dan lebih mempercayai ucapan papaku. Aku menyesal tidak mau mendengar ucapan sahabat baikku tentangnya. Aku menyesal membuatnya harus menderita dan kehilangan keluarga satu-satunya. Aku menyesal tidak bisa mendampinginya melewati hari-harinya yang sulit. Aku menyesal ...”
“Cukup! Hentikan,” ucap Raisha dengan sorot mata memohon. “Cukup! Aku tidak ingin mendengar semua penyesalanmu tentangnya lagi.”
“Aku tahu Kamu kecewa dan terluka dengan semua kenyataan yang terjadi padamu, Aku juga tahu kalau Kamu masih sangat menyayanginya. Tapi Kamu juga harus tahu, kalau semua yang Kamu katakan barusan itu juga menyakiti hatiku dan membuatku terluka.”
Dua pasang mata itu saling bertatapan dalam waktu lama, tak ada yang bersuara. Hening, hanya suara desau angin yang terdengar dari luar kaca jendela mobil yang terbuka.
“Tak bisakah Kamu melupakan masa lalu dan melihatku sekali saja. Aku tahu sejak awal pernikahan kita, Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Bukankah hidup akan terus berlanjut, tak bisakah Kamu berdamai dengan masa lalumu yang sudah lama berlalu dan menerima cinta yang baru. Mungkin masih ada rasa sakit yang tersisa dalam hatimu, tapi tak bisakah Kamu membuka hatimu pada perasaan lain untukmu yang hadir saat ini?"
Tak ada kata yang terucap dari bibir El untuk membalas ucapan Raisha padanya, ia memang belum bisa sepenuhnya melepaskan perasaannya pada Kiara apalagi setelah tahu alasan perpisahan mereka berdua. Hanya penyesalan yang kini terus menghantui pikirannya, membuatnya melakukan segala cara untuk bisa mendekati Kiara lagi.
Bukan berniat ingin merebut wanita itu atau ingin kembali hidup bersamanya. Bukan! Karena El cukup tahu diri, kesalahannya sangat fatal dan tidak mudah untuk dimaafkan. Apalagi saat ini mereka sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri, Kiara pun sudah memiliki seorang putra dari pasangan barunya meski sejujurnya ia tidak mencintai Raisha istrinya, bukan berarti ia akan meninggalkan wanita itu begitu saja.
El sadar, ia bukan lagi anak remaja yang dikuasai emosi tanpa memikirkan perasaan Raisha yang menjadi istrinya. Kadang terbersit keinginan untuk memiliki seorang anak apalagi setelah bertemu dengan Rio, bocah lelaki putra Kiara yang sudah mencuri hatinya sejak pertama berjumpa. Mampukah ia melakukannya dengan Raisha bila gairah itu seolah mati dan enggan hadir saat bersamanya.
••••••••