
Mobil itu memasuki halaman rumah Kiara yang berada di deretan tengah, berhenti persis di samping mobil Kiara yang terparkir di garasi. Ed mematikan mesin mobilnya, memindai sekeliling rumah.
Hari sudah menjelang senja ketika mereka sampai di sana. Lampu-lampu rumah para tetangga sebelah kiri dan kanan, depan, sudah menyala semua. Sementara lampu teras rumah Kiara masih tetap sama, padam seperti tadi siang saat ditinggalkan.
“Kiara,” panggil Ed, menepuk pelan pundak Kiara berniat membangunkannya. Namun wanita itu hanya menggeliat dan malah memalingkan wajahnya.
“Ish!”
Ed menahan senyumnya melihat tampilan Kiara, rambut pendek sebahunya terlihat berantakan dan sebagian menutupi wajahnya. Kacamata minus yang dikenakannya melorot turun dari pangkal hidungnya, dan jaket yang menutupi tubuh bagian atasnya sudah jatuh ke bawah dekat kakinya.
Untuk beberapa saat lamanya Ed terdiam, hatinya tiba-tiba menghangat. Perlahan disibaknya rambut yang menutupi wajah itu dan menyelipkannya di belakang telinga.
Ed menarik cepat jemari tangannya saat wajah Kiara bergerak dan kembali menghadap ke arahnya. Ed tersenyum lega menyadari Kiara masih terlelap. “Hem, mama sama anak kalau sudah tidur suka lupa tempat.”
Ed lalu mengambil ponselnya dan mulai mengambil gambar mereka berdua, setelah itu menyimpannya kembali dan mulai membangunkan Kiara lagi.
“Hei nyonya, bangun. Kita sudah sampai di rumahmu,” ucap Ed iseng mengulurkan satu jarinya ke dekat wajah Kiara.
Wanita itu terbangun dan mengerjapkan matanya, menoleh pada Ed dan langsung mendelik kan matanya saat ujung jemari Ed menyentuh hidungnya.
“Ish, apaan sih Mas!” protes Kiara dengan bibir manyun.
“Kamu tuh kalau tidur bisa pulas banget, dari tadi dibangunin.” Ed tersenyum, sesaat ia merasakan hatinya berdesir.
Untuk yang ke sekian kalinya ia melihat Kiara tertidur lalu terbangun di sampingnya, andai wanita itu benar miliknya akan langsung digendongnya masuk ke dalam kamar mereka tanpa harus membangunkannya seperti saat ini. Sayangnya itu hanya impian Ed seorang.
“Ngantuk Mas,” jawab Kiara dengan suara serak, “Lagi pula Mas bawa mobilnya enak banget jadi gak berasa kalau lagi tidur di mobil.”
“Siapa dulu yang nyetir, papanya Iyo.” Ed mengangkat dagunya bangga.
Jawaban itu sontak membuat Kiara langsung terdiam, dan Ed segera menyadari ucapannya. “Benarkan, Iyo panggil Aku Papa?”
“Ya ya ya,” jawab Kiara menirukan gaya bicara Ed seperti biasanya, yang sukses membuat lelaki itu tertawa.
“Ngomong-ngomong, nenek Iyo ke mana. Kok gak kelihatan?” tanya Ed melongok dari balik kaca jendela mobil, melihat rumah Kiara yang terlihat sepi.
“Tadi sore telepon, pamit mau silaturahmi ke rumah bik Inah. Sekalian jenguk saudaranya yang datang dari kampung. Paling bentar malam juga balik,” jawab Kiara teringat pada ibu Lastri yang dipanggil nenek oleh Rio.
Wanita berhati tulus yang selama ini membantu Kiara merawat almarhum paman, dan mendampingi Kiara melewati hari-harinya saat hamil hingga melahirkan Rio.
Beberapa bulan setelah kelahiran Rio, Kiara memilih pindah ke kota lain dan meminta pada ibu Lastri dan Kinan untuk tinggal bersama dengannya. Dan wanita itu setuju karena sudah terlanjur sayang pada Rio dan tidak ingin berpisah dengannya.
Ed yang turun tangan membantu kepindahan mereka semua dan mengurus rumah lama mereka untuk dikontrakkan seperti keinginan Kiara karena tidak ingin kehilangan satu-satunya kenangan peninggalan pamannya.
Mereka semua orang terdekat Kiara, yang selalu setia menemani seperti keluarga sebenarnya. Ibu Lastri sudah seperti ibu baginya, Kinan yang sudah dianggap adik olehnya, dan Ed adalah sosok kakak lelaki dan sahabat terbaik baginya.
“Oh.” Ed tersenyum seraya menoleh, melihat pada Rio yang masih terlelap di bangku belakang.
“Masih belum bangun juga rupanya jagoan kita,” ucap Ed lalu melepas sabuk pengaman di tubuhnya.
“Kecapaian kayaknya, Mas. Pulas banget tidurnya,” sahut Kiara balas tersenyum.
“Kayak siapa coba?”
Kiara langsung tersenyum malu. “Nyindir ih.”
“Oke,” sahut Kiara cepat.
“Makin hari makin berisi saja badannya,” gumam Ed pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Kiara.
Kiara meringis mendengarnya, ia memutar kunci dan membuka pintu lebar memberi jalan pada Ed yang langsung berjalan masuk menuju kamar Rio.
“Makannya banyak, minum susunya kuat. Sekarang malah bisa bikin sendiri, gak minta dibuatin lagi.”
Ed terkekeh mendengarnya, “Rasanya masih baru kemarin melihatnya tertidur dalam ayunan,” ucap Ed lagi sambil mencium sayang pipi gembul Rio dan merebahkannya di atas ranjang beralas seprai gambar klub sepak bola kesayangannya.
“Aku akan mengganti pakaian Rio dulu, biar tidurnya lebih nyaman.”
Kiara mengambil pakaian ganti untuk Rio di dalam lemari, dan menaruhnya di atas ranjang.
“Kia,” panggil Ed.
“Ya, Mas.” Kiara menghentikan kegiatannya sesaat, dan menoleh pada Ed yang berdiri di dekat pintu.
“Ehm.”
“Ada apa?” tanya Kiara menatap pada Ed yang sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu padanya. "Apa ada yang ingin Mas katakan padaku?"
“Aku mungkin tidak dapat menemani kalian lagi untuk sementara waktu,” ucap Ed kemudian, lalu berjalan mendekati tempat tidur Rio, duduk di sampingnya sambil mengusap rambut tebalnya. “Tapi Aku akan terus menghubungi kalian lewat telepon, dan kita bisa vcall bareng seperti biasa.”
Kiara tersenyum maklum, “Oh, jadi Mas mau pergi ke luar negeri lagi?”
Ed menganggukkan kepalanya sambil terus mengusap rambut Rio, “Dua bulan,” gumamnya. “Oh God! Aku pasti sangat merindukan kalian di sana.”
Kiara kembali tersenyum, melihat Ed menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Tumben lama, apa ada masalah di sana sampai Mas yang harus turun tangan langsung?”
“Pergantian direksi. Dan papa memintaku untuk hadir langsung sekaligus menyelesaikan pekerjaan di sana,” jelas Ed.
“Ya sudah, berangkat gih.”
Ed mengangkat wajahnya, menatap Kiara lama. “Kok gitu bicaranya?”
“Lah, terus Aku mesti bicara bagaimana? Melarang Mas pergi, nangis kejer gitu biar Mas tetap bersama kami di sini?”
“Ya gak gitu juga kali,” sahut Ed terlihat salah tingkah.
Walau dalam hati ia berharap setengah mati Kiara mau melakukan untuknya, hal seperti yang diucapkannya barusan. Tapi Ed tahu pasti hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.
“Aku gak mungkin melakukan hal itu, Mas. Menghalangi pekerjaan Mas apalagi sampai melarang Mas untuk bertemu dengan orang tua sendiri.” Kiara menggeleng kuat, ia tidak ingin membuat lelaki itu menjauh dari keluarganya sendiri. “Berangkatlah, Mas. Kami akan baik-baik saja di sini.”
Kiara tersenyum meyakinkan, meski ia sebenarnya masih trauma mengingat perlakuan orang tua El padanya yang tidak bisa menerima dirinya sebagai menantu mereka dan menganggap ia sebagai penyebab El menjauh dari keluarganya.
Meski Kiara tidak pernah bertemu langsung dengan orang tua Ed, tapi selama ini mereka selalu bersikap baik padanya dan tahu kalau putra mereka sangat dekat dengannya terutama dengan Rio.
Tapi Kiara tahu dibalik sikap baik yang ditunjukkan mereka padanya, mereka tahu anaknya menaruh hati padanya dan tidak berharap Ed akan menjadikan Kiara sebagai bagian dari keluarga mereka. Kiara tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya, dan kembali mengalami hal yang sama.
••••••••