
Rasanya tidak ada hari lain yang lebih menegangkan untuk Kiara seperti saat menunggu hari Minggu besok tiba, di mana El sudah berjanji pada Rio untuk menemaninya menonton pertandingan final sepak bola tim sekolahnya.
Wajah yang tadinya terlihat murung sudah kembali ceria hari ini, dan celoteh riangnya sudah kembali memenuhi seisi rumah. Meski jalannya sedikit tertatih karena perban yang menutupi sebagian kakinya, tak menyurutkan keinginan Rio untuk datang dan bertemu dengan El yang semalam sudah resmi menjadi tetangga barunya.
“Hei nyonya, gak lihat jam apa ya sudah malam masih aja nelpon!” suara cempreng Wina menyambut panggilan teleponnya.
“Win, bisa gak sih berangkatnya dimajukan Sabtu ini aja, jadi besok Minggunya kita bisa ada di rumah.”
Kiara langsung menghubungi Wina semalam, setelah ia tahu bahwa di seberang rumahnya kini tinggal seorang lelaki yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya yang besok Minggu akan pergi berdua bersama Rio putranya.
“Gak bisa, Ra. Aku dah janjian sama si pemilik rumah datang ke sana hari Minggu, karena banyak orang yang mau beli itu rumah dan dia ada waktu luang ketemu kita itu hari Minggu. Kalau tiba-tiba kita ubah jadwalnya hari Sabtu besok ke sananya, bisa-bisa malah dia batalin ketemuannya. Ih, jangan sampai dah. Mana Aku sudah terlanjur suka lagi sama itu rumah,” jelas Wina.
“Hem, kirain bisa hari Sabtu ini. Mumpung kita lagi libur kerja juga,” balas Kiara pasrah.
“Lagian Kamu kenapa, sih dadakan gitu mintanya. Kalau kemarin-kemarin ngomongnya mungkin Aku masih bisa nego sama yang punya rumah.”
“Ya gapapa, sih. Kali aja bisa dirubah gitu ketemuannya.” Kiara tidak menyampaikan alasannya.
“Kamu ada acara hari Minggu?” tanya Wina lagi, “Kalau memang mendesak, Aku bisa kok berangkat sendiri. Cuman dua jam perjalanan, it’s oke buat Aku.”
“Gak! Kita tetap berangkat hari Minggu, jemput Aku jam tujuh pagi di rumah. Jangan sampai telat biar bisa pulang lebih cepat!”
“Oke.”
Malam itu Kiara memilih tidur bersama dengan putranya, dan ia tidak dapat tidur dengan nyenyak seperti biasanya. Bayangan kebersamaan Rio dan El menghantui pikirannya.
Lebih-lebih saat melihat Rio yang sudah terlelap tidur dengan senyum di wajahnya, ia tak tega merusak kebahagiaan putranya itu alih-alih membatalkan keberangkatannya bersama Wina hanya karena tidak ingin melihat El yang akan menemani Rio menonton bola.
Akibatnya keesokan harinya Kiara bangun pagi telat karena dini hari ia baru bisa tertidur lelap. Dilihatnya Rio sudah rapi dan sedang menyantap sarapan paginya ditemani sang nenek di meja makan.
“Pagi sayang,” sapa Kiara mencium pucuk kepala putranya, lalu menunjuk ke arah pipinya pada Rio.
“Pagi Ma,” jawab Rio membalas mencium pipi Kiara.
“Tumben baru bangun, Nak?” tegur ibu Lastri tersenyum lebar melihat Kiara yang masih menguap tanpa berusaha menutupinya, lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Iya Bu, susah tidur semalam jadi telat bangunnya.” Kiara menuang teh panas ke dalam gelas, lalu menyesapnya perlahan.
“Mau sarapan sekalian biar Ibu ambilkan,” ucap ibu Lastri. “Tadi Ibu masak nasi goreng buat sarapan pagi Rio, masih ada di dapur."
“Gak usah, Bu. Biar Kia ambil sendiri aja nanti,” jawab Kiara tersenyum lalu beralih memperhatikan penampilan Rio yang hari itu memakai celana panjang dan kemeja jalannya.
“Kayaknya ada yang beda deh hari ini, anak Mama kelihatan ganteng banget hari ini. Memang Iyo mau jalan ke mana, rapi banget?” tanya Kiara mengomentari penampilan putranya.
Rio meringis mendengarnya, ia lalu menyelesaikan suapan terakhirnya. Menyorong alat makannya yang telah kosong ke tengah meja, lalu meminum coklat hangatnya hingga tandas tak bersisa.
“Alhamdulillah,” ucapnya kemudian lalu mengusap bibirnya dengan selembar tisu. “Iyo pamit ya, mau tempat Om El. Tadi malam dah janjian mau temani Om jalan-jalan beli makanan pagi ini,” pamit Rio lalu mencium punggung tangan neneknya.
“Uhuk!” Kiara tersedak, lalu cepat-cepat menaruh minuman di tangannya ke atas meja. Setengah tak percaya mendengar anaknya itu sudah mengubah panggilan namanya pada El.
“Iyo kok gak bilang semalam sama Mama mau jalan bareng om Doger?”
“Namanya om Elvan, Ma. Jangan panggil om Doger lagi ih!” koreksi Rio yang sukses membuat sang nenek tertawa mendengarnya.
“Iya, maksud Mama itu. Kenapa Iyo baru bilang sekarang?” tanya Kiara lagi.
“Waalaikum salam,” jawab Kiara dan ibu Lastri bersamaan.
Kiara lalu bangkit berdiri, bergegas melihat Rio yang berjalan perlahan dari balik tirai korden jendela rumahnya. Menyeberang ke rumah El, perban di kakinya sudah tidak ada lagi.
Dilihatnya El yang sudah siap dengan kemeja panjang polos senada dengan warna celana jeans yang dikenakannya, tersenyum menyambut kedatangan Rio.
Bertanya sesuatu pada Rio yang langsung dijawab dengan anggukan kepala, lalu ia mengambil kaca mata hitam dari balik saku kemejanya dan memasangkannya di hidung mancung Rio. Selanjutnya El melakukan hal yang sama pada dirinya.
Argh! Kiara menatap gemas keduanya. Putranya itu terlihat semakin tampan saat memakai kacamata hitam, begitu pula dengan lelaki dewasa di sampingnya itu.
Setelah itu El merangkul bahu Rio, berjalan memutar lalu membukakan pintu mobilnya yang sudah terparkir di luar pagar rumahnya sejak pagi tadi.
El berdiri sejenak, menatap ke arah rumah Kiara yang sudah tertutup pintunya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Kiara. Namun tidak ada jawaban, ia lalu mengetik pesan singkat di ponselnya.
“Iyo tunggu sebentar di mobil ya. Om mau pamitan sama mama juga nenek di rumah,” ucapnya pada Rio yang dijawab dengan anggukan kepala bocah lelaki itu.
“Siap Om!”
El tersenyum lebar seraya mengusap rambut kepala Rio, ia pun berjalan menyeberang mendatangi rumah Kiara untuk sekedar berpamitan.
Kiara yang melihat El datang langsung menutup korden, balik badan dan berlari naik kembali ke kamarnya. Ibu Lastri yang sedang membersihkan sisa sarapan di meja tersenyum melihat tingkah Kiara dan menggelengkan kepalanya.
“Mau ke mana, kok lari-lari seperti itu?” tanyanya kemudian.
“Kia mandi dulu ya, Bu. Gak enak gerah,” jawab Kiara tanpa menoleh lagi. Sempat didengarnya suara ketukan di pintu diiringi ucapan salam, lalu dilihatnya ibu Lastri berjalan keluar.
Saat tiba di kamarnya Kiara segera mengambil ponselnya, jantungnya berdegup cepat saat membaca pesan singkat El padanya.
“Aku tahu Kamu dari tadi lihat kami dari balik korden, maaf belum sempat bilang sama Kamu semalam kalau Aku mau ajak Rio jalan pagi ini. Tenang saja, gak sampai siang kami pasti balik ke rumah dan Aku pastikan akan menjaga putramu dengan baik.”
“Ish, bikin malu aja. Jadi dari tadi dia tahu kalau Aku ngintip dari balik korden,” dengus Kiara melempar begitu saja ponselnya ke atas ranjang, lalu mengambil handuk dan berjalan cepat memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Setengah jam kemudian Kiara sudah berada di meja makan, bersiap untuk sarapan.
“Tadi El datang untuk berpamitan,” ucap ibu Lastri yang duduk menemani Kiara makan.
“Apa Ibu sudah tahu kalau tetangga baru di seberang rumah kita itu dia?” tanya Kiara menatap wajah wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri.
Ibu Lastri mengangguk, “Ia datang kemari sore hari saat Kamu sedang sibuk membujuk Rio untuk makan, dan Ibu belum sempat kasih tahu Kamu karena Rio keburu melihatnya semalam.”
“Iya Bu.”
“Lambat laun hal ini pasti akan terjadi juga, Rio bertemu dengan papa kandungnya. Dan Kamu harus siap menghadapinya dan menjelaskan pada Rio siapa sebenarnya El,” imbuh ibu Lastri lagi.
Kiara terdiam sesaat lamanya, ia tidak menyangka kalau Rio akan bertemu dengan El dengan cara seperti ini, keduanya terlihat begitu akrab namun sama-sama belum mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.
“Ibu, apa yang harus Aku katakan pada mas Ed, dan bagaimana Aku harus menjelaskan semuanya pada Rio tentang siapa El sebenarnya?”
“Lakukan yang terbaik menurutmu, jangan sampai ada hati yang tersakiti. Ibu tahu Kamu mampu melakukannya dan Ibu akan selalu berada di dekatmu mendukung semua keputusanmu,” ucap ibu Lastri menggenggam tangan Kiara.
Kiara menyandarkan kepalanya di bahu ibu Lastri, “Tuhan tolong beri Aku kemudahan untuk menyelesaikan masalah ini,” bisiknya dalam hati.
••••••••