You are the Reason

You are the Reason
Bab 23. Amnesia



Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, wajah paman memerah dan napasnya tersengal-sengal menahan batuk yang mau keluar.


Kiara bisa bernapas lega saat turun dari taksi, dan pak sopir yang baik hati itu membantunya memapah paman sampai masuk ke dalam rumah sakit.


“Kiara.”


Usapan lembut seseorang di lengannya membangunkan Kiara yang sempat tertidur sejenak. Ia mengerjapkan mata, dan menoleh ke samping. Dilihatnya ibu Lastri datang dengan membawa kotak makanan dan minuman di tangannya lalu menaruhnya tepat di samping Kiara duduk.


Ibu Lastri membuka tutup botol minuman lalu menyodorkannya pada Kiara, yang langsung meminumnya. Air sejuk membasahi kerongkongan Kiara, menawar dahaganya sejak tadi.


“Bagaimana keadaan Kinan, Bu? Maafkan Kia yang memintanya untuk menjaga paman dan membuatnya harus melihat keadaan paman seperti itu,” tanya Kiara, teringat wajah pucat Kinan.


“Kinan baik-baik saja, ia hanya sedikit terkejut. Itu saja,” jawab ibu Lastri seraya tersenyum menenangkan.


“Syukurlah,” jawab Kiara lega.


“Makanlah dulu, Ibu tahu Kamu belum makan sejak pagi tadi.” Ibu Lastri membuka kotak makan, mengambil botol minuman dari tangan Kiara lalu memberinya sendok makan yang dibawanya ke dalam tangan Kiara.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu, Kiara langsung memeluk ibu Lastri. Selama ini ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, sudah lama pula ia tidak pernah diperlakukan seperti keluarga. Perhatian dan kelembutan sikap ibu Lastri padanya, membuat Kiara menangis haru.


“Ibu baik banget sama kami. Kia gak tahu apa yang akan terjadi pada paman kalau tidak ada Ibu yang membantu merawat paman selama ini,” ucap Kiara.


“Sesama saudara sudah sepatutnya kita saling tolong-menolong. Apalagi kita sudah kenal sangat lama, bahkan jauh sebelum Kamu ada. Pamanmu orang yang baik, dulu beliau juga yang kerap membantu keluarga Ibu.” Ibu Lastri mengusap air mata di pipi Kiara.


“Paman memang baik, sangat baik malah.” Kiara tertunduk menatap kotak makan di depannya, mengingat bagaimana perjuangan pamannya merawat dan membesarkan dirinya sejak kecil hingga dewasa.


“Sekarang lebih baik Kamu makan dulu, Kamu juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu. Jangan sampai jatuh sakit, pamanmu sangat membutuhkan Kamu. Hanya Kamu satu-satunya keluarga yang beliau punya saat ini.”


Kiara menunduk semakin dalam, makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa sulit untuk ditelan. Andai ia punya orang tua yang lengkap seperti orang lain, mungkin tidak seperti ini ceritanya.


“Apa Ibu juga mengenal ayah dan ibu kandungku?” pertanyaan itu tercetus begitu saja, keluar dari mulut Kiara. “Bukankah Ibu bilang tadi sudah mengenal paman jauh sebelum Kia ada, itu artinya Ibu kenal mereka juga?” tanya Kiara lagi, seketika ia menghentikan makannya.


“Habiskan makanmu dulu, setelah itu kita bicara. Sekarang Ibu mau melihat keadaan pamanmu dulu,” ujar ibu Lastri, lalu bangkit berdiri berjalan menuju ruangan paman dirawat.


Saat dokter yang memeriksa paman dan mengatakan kalau paman sudah tenang dan tertidur, barulah Kiara bisa menarik napas lega. Dihabiskannya makannya, setelah itu Kiara menyusul masuk ke dalam ruang inap pamannya.


•••••


Winda yang baru saja tiba di rumah sakit, keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa setelah mendapat kabar kalau El sudah sadar dari komanya.


“Tas anda, Nyonya!” seru Yuda mengingatkan, melihat majikannya itu keluar begitu saja dengan tangan kosong.


Ia menoleh ke kursi belakang, lalu segera mengambil ponsel dan tas milik Winda yang tergeletak. Dengan berlari kecil, Yuda mengejar wanita itu yang telah terlebih dahulu sampai di dalam rumah sakit.


Winda menghentikan langkahnya sejenak, menunggu Yuda yang datang membawa tas miliknya dengan tidak sabar. “Terima kasih,” ucapnya kemudian.


Terlalu senang membuat wanita itu lupa dengan barang miliknya yang tertinggal di mobil. Ia kemudian mempercepat langkahnya menuju lift dan langsung menekan tombol menuju ruangan di mana El dirawat diikuti Yuda dari belakang.


Ketika sampai di sana, dokter Reyhan sudah selesai memeriksa El dan tengah berbincang dengan Bian suaminya. Winda menunggu sesaat sebelum melangkah menghampiri suaminya.


“Pa!” panggilnya dengan suara bergetar, setelah melihat Bian selesai berbicara dengan Rey.


“Terima kasih, Rey.” Bian menjabat erat tangan Rey diikuti tepukan tangan Rey di bahunya.


Rey hanya tersenyum tipis, “Mbak,” sapanya pada Winda seraya menganggukkan kepala sebelum meninggalkan mereka semua di sana.


“Apa kata Rey, Pa?” tanya Winda pelan.


Bian menghela napas sesaat, menoleh pada El yang tengah tertidur. Ia lalu menarik pintu dan menutupnya rapat.


“Tidak ada luka serius di tubuhnya, hanya saja ...” Bian terdiam sesaat, lalu menatap istrinya itu yang menunggu jawaban darinya dengan wajah cemas.


“Kecelakaan yang dialami El membuatnya harus kehilangan sebagian memorinya. Ia tidak bisa mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi,” jawab Bian.


“Amnesia? Apa itu artinya ...” Winda mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, pikirannya langsung tertuju pada Kiara.


“Ya! El bahkan tidak ingat kalau ia mengenal wanita itu dan sudah menikah dengannya,” ucap Bian seolah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Winda.


“Akhirnya keinginanmu tercapai tanpa harus bersusah payah memisahkan mereka lagi,” ujar Winda sengit.


“Ma, mereka bahkan belum lama menikah.” Bian menatap gusar Winda. “Lebih baik sekarang kita fokus pada pemulihan kesehatan El daripada harus disibukkan dengan urusan yang tidak penting tentang wanita itu “


“Pa, Kiara istri sah putra kita. Mereka berdua sudah menikah, tidak mungkin kita membiarkan El lepas tanggung jawab dan meninggalkannya begitu saja. Biar bagaimana pun juga dia harus tahu keadaan suaminya,” ucap Winda mengingatkan.


“Tidak lagi! Setelah hari ini, Aku pastikan mereka berdua akan segera berpisah. Secepatnya!” ucap Bian dengan nada penuh penekanan, wajahnya kaku seketika.


Winda tidak mampu membayangkan rencana apa yang akan dilakukan suaminya itu pada Kiara.


“Kamu!” tunjuk Bian pada Yuda yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran mereka berdua. “Ikut denganku sekarang!” perintahnya dengan nada yang sulit untuk dibantah.


“Siap Tuan!” Yuda menundukkan kepala pada Winda, lalu bergegas mengikuti Bian dari belakang.


Winda menatap punggung keduanya menjauh, sejenak menghela napas dalam. Ia memang belum sepenuhnya bisa menerima pernikahan El dan Kiara, tapi ia juga tidak bisa membenarkan tindakan suaminya yang berusaha keras memisahkan ikatan pernikahan yang sah dalam kondisi El seperti saat ini.


Kiara bahkan tidak tahu bagaimana keadaan El sekarang setelah semua akses untuk bertemu dengan El dihalangi Bian.


Perlahan Winda berbalik, membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan El dirawat. Duduk di tepi ranjang seraya mengusap wajah anaknya.


Tanpa sadar ia bergidik membayangkan kejadian malam itu saat melihat El berlari menariknya hingga ia selamat dan El yang menjadi korbannya.


Merasakan ada tangan lembut yang menyentuh wajahnya, mata El mengerjap. Saat ia memicingkan mata menyesuaikan pandangannya karena cahaya lampu kamar yang menyala terang. Matanya berputar memindai sekelilingnya, lalu terpaku pada satu wajah yang menatapnya lekat.


“Mama.”


Satu kata terlontar dari bibir pucat El, ia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi dengan cepat Winda menahan lengannya.


“Jangan banyak bergerak dulu, Kamu baru saja siuman. Tetaplah berbaring,” ucapnya sambil membetulkan letak bantal El dan menarik selimut hingga menutupi pinggangnya.


“Kepalaku sakit sekali!” El meringis menahan nyeri sambil memegangi kepalanya. “Apa yang terjadi padaku, Ma. Kenapa Aku tidak bisa mengingat apa pun?”


“Tenanglah El, jangan terlalu banyak berpikir keras. Tenanglah,” ucap Winda mengusap rambut El.


El memejamkan matanya kuat, mencoba mengingat sesuatu. Tapi, semakin ia mencoba rasa sakit di kepalanya semakin bertambah.


••••••••