
El melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tak dipedulikannya lagi teriakan protes juga caci maki dari pengendara lain yang berhasil dilewatinya.
Tujuannya hanya satu, pergi ke apartemen dan mengambil berkas kelahiran Rio. Ia harus menunjukkan bukti itu pada Ed dan Kiara di rumahnya, kalau ia sudah mengetahui kebenaran tentang siapa papa kandung Rio sebenarnya.
“Arrghh!” jarinya mengepal meninju setang motornya, hatinya penuh sesak teringat bagaimana tadi ia melihat dengan jelas kemesraan yang ditunjukkan Kiara pada Ed.
Sepertinya keinginannya untuk dekat dengan Kiara lagi kembali mendapat hambatan, jika dulu dari papanya kali ini dari orang yang paling dekat dengannya yaitu Edgar sahabatnya sendiri.
“Edgar!” nama itu perlahan terucap keluar dari bibir tipisnya, sempat tak percaya dengan penglihatannya namun lelaki yang dipeluk Kiara itu memang benar Ed orangnya. “Jadi benar kalau lelaki yang selama ini dipanggil papa oleh Rio itu ternyata adalah Ed.”
Tanpa sadar, El yang sibuk dengan pikirannya sendiri tak melihat lampu di perempatan jalan berganti merah. Ia tetap melajukan motornya hingga nyaris menghantam kendaraan lain yang melintas di depannya.
“Woii, lo kalau bosan hidup mati aja sendiri sono. Gak usah bikin susah hidup orang laen!” cecar sopir mobil box yang berhasil menghentikan laju mobilnya dan terhindar dari kecelakaan saat motor El hampir saja menabraknya.
Lelaki itu bergegas turun dari mobilnya berjalan cepat mendekati El yang lalu berhenti dan menepikan motornya di pinggir jalan.
“Damai saja, selesaikan secara damai. Gak usah ribut-ribut!” teriak pengendara lain yang melintas di dekat keduanya berhenti.
“Maaf! Saya sedang terburu-buru tadi jadi tidak melihat lampu merah,” jawab El.
“Lo kira cuman lo doang yang punya urusan. Apa lo kira dengan kata maaf bakal selesai gitu aja urusannya?” ujar lelaki itu lagi, “Tidak mematuhi peraturan lalu lintas, menerobos lampu merah, lalai dalam berkendara dan hampir mencelakai pengendara lain. Harusnya ...”
Entah apa saja yang diucapkan laki-laki itu padanya, El tidak begitu mendengarkannya. Ia hanya ingin secepatnya pergi dari sana dan segera menyelesaikan rencananya menemui Ed dan Kiara di rumahnya.
“Oke! Sekarang Bapak maunya apa?” potong El, lalu mengambil dompet dari kantong celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam sana. “Anggap saja ini permintaan maaf dari Saya,” imbuh El lagi, lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja sopir itu.
“Bukan Saya yang minta ya, tapi karena dikasih ya Saya terima. Terima kasih!” ucapnya tersenyum menepuk bahu El, lalu berjalan kembali ke mobilnya. “Hati-hati kalau nyetir, jangan ngebut lagi. Patuhi peraturan lalu lintas!”
El hanya mengangkat tangannya dan kembali menyalakan mesin motornya, baru saja ia hendak melajukan motornya tiba-tiba saja ada mobil patroli polisi berhenti tepat di depannya.
Alhasil El kembali harus menunda perjalanannya dan berurusan dengan pihak berwajib karena kedapatan melanggar lampu merah dan terlihat oleh polisi yang melintas di sana dan melihat aksinya tadi.
Seno yang sedang duduk menunggu di sofa ruang tamu setelah menerima telepon dari bosnya itu, sudah siap sedia dengan berkas di tangannya. Untung saja dia ingat bosnya itu menyimpan berkas kelahiran Rio di dalam laci meja kerjanya hingga ia dengan mudah bisa menemukannya.
Sudah hampir satu jam menunggu tapi El belum datang juga hingga sekarang. Dicobanya menghubungi nomor El kembali namun telepon yang dihubunginya sedang sibuk.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara nyaring kendaraan yang berasal dari motor besar El memasuki halaman parkir gedung apartemen yang berada di lantai dasar.
“Tuan, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Tuan meminta berkas ini kembali?” Seno yang terkejut melihat kedatangan El yang terlihat kacau, berjalan masuk ke dalam dan langsung menuju meja kerjanya membongkar habis isi yang ada di dalamnya.
El tidak menggubris ucapan Seno, tangannya terus bergerak mengeluarkan isi di dalam laci meja mencari yang lain membuat ruangan yang tadinya rapi kini terlihat berantakan.
“Tuan ...”
“Berhenti bicara!” sentak El mengarahkan telunjuknya ke wajah Seno, membuat lelaki itu langsung terdiam di tempatnya berdiri saat itu. “Apa Kamu tidak melihatku sedang bekerja,” lanjut El lagi.
“Tapi Tuan ...”
El mengangkat wajahnya, menatap lurus pada Seno. Ada kilatan emosi yang terpancar jelas lewat tatapan matanya. “Ambil dan letakkan saja di atas meja sana!” perintah El kemudian.
“Baik Tuan.” Seno bergegas mengambil berkas itu kembali dan meletakkannya sesuai perintah El sambil setengah bergumam merasa heran dengan sikap bosnya itu padanya.
“Bukannya tadi dia sendiri yang menyuruhku untuk cepat-cepat menyiapkan berkas kelahiran putranya, sekarang datang malah mencari yang lain. Sebenarnya apa sih maunya, kenapa perintahnya mudah sekali berubah-ubah!” gumam Seno dalam hati, lalu ia memilih duduk diam di sudut ruangan dekat pintu keluar.
Hening, tak terdengar lagi suara ribut benda yang dijatuhkan terdengar di belakangnya. Lalu terdengar suara keras seperti sebuah sentakan pada laci meja yang ditutup paksa, dan yang terdengar kemudian malah suara isak tangis tertahan membuat Seno mengangkat wajahnya melayangkan pandangannya kembali ke meja kerja El.
Di sana dilihatnya pemandangan yang berbeda, tidak seperti biasanya. El terlihat menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menutupi bagian wajahnya, bahunya bergetar hebat. Dari sela-sela jemarinya terlihat air mata yang mengalir, lelaki itu rupanya tengah menangis.
“Tuan." Seno beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati tempat El berada. "Apa sebenarnya yang sedang terjadi, mengapa Tuan terlihat sedih dan menangis seperti ini?”
“Aku sudah kehilangan dia, No. Aku gak mungkin bisa bersamanya lagi.” El menatap sendu pada Seno, tampak kesedihan terlihat jelas dari matanya.
“Maksud Tuan, kehilangan dia siapa? Bukankah keadaan nyonya Raisha baik-baik saja di sana, apa perlu Saya menelepon nyonya dan memintanya untuk datang menemui Tuan di sini."
El menggeleng, lalu tersenyum tipis seraya mengusap pipinya. “Aku melihat mereka bersama. Aku melihat kebahagiaan terpancar di wajahnya,” ucap El terbayang bagaimana sikap Ed pada Kiara yang terlihat begitu penuh perhatian.
“Astaga, jadi benar berita yang Saya dengar selama ini kalau nyonya Raisha selingkuh?!”
El tertawa keras, hingga matanya kembali berair. “Aku tidak peduli pada Raisha, No. Aku hanya ingin dia. Dia, No. Dia ...”
“Kalau bukan nyonya Raisha, lalu dia siapa Tuan? Tuan harus bicara yang jelas pada Saya, biar Saya tahu tindakan apa yang harus Saya lakukan. Siapa dia yang Tuan maksud?” tanya Seno lagi, “Tuan!”
Detik berikutnya El ambruk ke lantai, dengan bibir masih terus meracau menyebut kata dia.
••••••••