You are the Reason

You are the Reason
Bab 80. Miss you



Hari dan minggu terus berputar silih berganti menjadi bulan, tanpa terasa satu bulan sudah berlalu sejak kepergian El kembali ke kotanya. Selama itu pula kesibukan kembali mewarnai hari-hari Kiara, demikian juga dengan Ed yang harus segera merampungkan proyek kerjanya yang berada di luar daerah yang sudah memasuki tahap akhir pengerjaan.


Hingga tanpa mereka sadari waktu kebersamaan mereka dengan Rio berkurang, dan anak itu menjadi kesepian.


Di awal minggu pertama kepergian El, tak jarang Rio terlihat melamun menatap dari balkon kamar Kiara ke arah bangunan di seberang rumahnya.


Bocah lelaki yang sebentar lagi berusia delapan tahun itu sepertinya sedang rindu pada papanya. Dan hal itu tercetus tanpa sengaja dari bibir Rio ketika mereka sedang berada di dalam kamar, saat Kiara menemani Rio belajar menyelesaikan pr sekolahnya.


“Kira-kira papa El lagi ngapain sekarang ya, Ma?” Rio bertanya dengan wajah sendu, terlihat tak bersemangat menatap ke luar jendela. Jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja, sementara sebelah tangannya menopang dagunya.


Kiara tertegun sesaat, lalu mengangkat wajahnya dari buku tebal yang sejak tadi berada dalam genggamannya, “Bukannya kemarin malam Iyo sudah telpon papa El, pasti sekarang papa lagi sibuk kerja di sana.”


“Malam-malam kayak gini, Ma. Kasihan, papa pasti kurang tidur. Kurang istirahat, harus lembur kerja tiap hari.” Rio merebahkan kepalanya di atas meja beralas kedua tangannya.


Kiara tersenyum mendengarnya, “Zona waktu kita sekarang berbeda dengan tempat tinggal papa. Kalau di sini malam tempat papa sana pagi, sayang. Papa El kan sekarang kerjanya di luar negeri, jadi kalau mau telpon sama papa harus pagi-pagi sekali setelah papa pulang kerja dan sampai di rumahnya.”


“Hem, kalau pagi banget Iyo masih tidur. Kalau telpon malam Iyo juga sudah tidur,” keluhnya sambil menghela napas dalam. “Jadinya jarang komunikasi lagi dah.”


Kiara mengusap rambut anaknya, “Kita berdoa saja semoga pekerjaan papa El juga papa Ed lancar dan cepat selesai, biar bisa segera kembali ke kota ini lagi.”


“Iya, Ma.” Rio menjawab sambil menguap, jam di dinding menunjuk pada angka 8 dan putranya itu sepertinya sudah mengantuk.


“Kalau pr nya sudah selesai, lebih baik Iyo tidur sayang. Biar gak telat bangunnya besok,” ujar Kiara sambil merapikan tas sekolah putranya itu. “Mama bantu masukkan buku pelajarannya buat besok ya.”


“Sedikit lagi, Ma. Tinggal satu soal lagi,” sahut Rio lalu segera menyelesaikan pr sekolahnya meski sesekali terlihat menguap lagi.


Drett dreet ...


Kiara menoleh, menatap ponselnya yang bergetar. “Papa Ed telpon tuh,” ujarnya tanpa berniat mengangkatnya terlebih dahulu.


Sengaja menunggu Rio yang melakukannya. Karena Kiara tahu, anaknya itu sedang kangen pada kedua papanya yang beberapa hari ini sangat sibuk hingga terkadang tak sempat menghubunginya.


Rio meletakkan begitu saja alat tulisnya dan langsung meraih ponsel Kiara, menggeser ikon hijau dan langsung menjerit senang melihat wajah papa Ed nya memenuhi layar ponselnya.


“Papa kenapa baru telpon sekarang, Iyo kangen tau. Semua pada sibuk, mama sibuk. Papa El sibuk, papa ini apalagi. Gak ada lagi yang ajak Iyo main,” rajuk Rio pada Ed, yang hanya meringis sambil mengusap rambutnya yang cepak.


“Maafin Papa, baru sekarang telpon Iyo. Cuaca di sini lagi rewel, sayang. Sinyalnya ilang-ilang terus, ngajak gelut tiap hari.”


“Dih, Papa. Ajak berantem aja sekalian, kalau masih rewel juga masukkin dalam karung. Terus iket yang kuat biar gak ilang terus!”


Ed tertawa mendengarnya, tapi sang anak masih saja terlihat manyun. Ia yang biasanya selalu rutin menelepon meski hanya sekedar menanyakan tentang kabar setiap harinya, kini harus berperang dengan sinyal di tempat kerja yang tidak bersahabat.


Cuaca yang setiap hari di guyur hujan deras dan angin kencang membuat koneksi internet di lokasi kerja terhambat.


Tahu kalau sang jagoan sedang merajuk, Ed memberi kode meminta bantuan pada Kiara yang berada di samping Rio sedari tadi hanya mengulum senyum melihat keduanya berbicara di telepon.


“Ma, bola apa yang bikin bingung. Papa lupa jawabannya,” tanya Ed sambil mengedipkan matanya pada Kiara.


“Ehm, bola apa ya.” Kiara pura-pura berpikir, padahal memang belum tahu jawabannya.


“Dih, Papa. Gitu aja gak tahu, bolak-balik!”


Ed tertawa, “Gantian deh, sekarang giliran Iyo yang kasih pertanyaan.”


“Ehm, giliran Iyo ya. Bel apa yang bikin bingung? Ayo Ma, Mama juga ikutan jawab.”


“Belanja ke pasar lupa bawa dompet!” jawab Kiara cepat.


“Hahaha, salah! Mama ih, kok bisa langsung inget belanjaan.”


“Namanya juga emak-emak, tapi kalau dicocok-cocokkin kayaknya jawaban Mama gak salah-salah banget. Masih bisa diterima deh,” ujar Kiara tersenyum lebar. “Pa, bantu jawab dong.”


“Tuh Papa dah jawab barusan!” sahut Rio.


“Kok bisa? Emang Papa jawab apa barusan?” tanya Ed mengerutkan keningnya.


“Belum tahu, Pa. Itu jawabannya,” sahut Rio.


“Oh itu jawabannya. Hahaha!”


“Ayo tebak-tebakan lagi!”


Dan pada akhirnya Ed bisa membuat Rio kembali tertawa, lupa dengan kesedihannya karena lama tidak bertemu langsung dengan papanya itu. “Sudah malam, sekarang Iyo tidur ya. Besok Papa telpon lagi.”


“Janji ya, Pa.”


“Iya, Papa janji. Kan sinyalnya sudah Papa karungin, jadi aman dah.”


Rio tergelak, “Bye Papa, miss you.”


“Miss you too son,” jawab Ed sembari melambaikan tangannya, dilihatnya Rio sudah berbaring miring sambil memeluk guling kesayangannya.


“Kapan balik ke sini, sudah hampir satu minggu Mas di sana?” tanya Kiara setelah memastikan Rio tertidur di kamarnya.


“Mungkin minggu depan baru balik, kenapa? Kangen ya,” tanya Ed yang langsung membuat pipi Kiara merona.


“Aku sih gak kangen, anakmu tuh yang suka nanyain. Papa kapan balik,” elak Kiara, meski dalam hati ia yang merindu pada laki-laki itu.


“Yakin cuman anakku yang kangen, Mamanya enggak?”


“Kangen dikit sih, dikiiit aja.” Kiara tersipu malu.


Ya Tuhan, kenapa jadi kayak anak abg gini sih!


Ed tertawa di seberang sana, “Aku juga kangen kalian, kangen banget terutama sama Kamu. Aah, gak sabar rasanya pengen cepat-cepat terbang ke sana terus peluk Kamu.”


Ed merentangkan tangannya bersikap seolah sedang memeluk Kiara.


“Miss you too, Pa.” Kiara berkata lirih.


“Apa? Gak dengar!” Ed mengusap telinganya. “ Beneran gak dengar, coba diulang lagi. Ini sinyal memang ngajak berantem!”


“Udah ah, sudah malam. Ngantuk,” sahut Kiara cepat.


“Ish, jangan tidur dulu. Ulang tadi bilang apa, serius Papa gak dengar.”


Kiara memutar bola matanya, tapi melihat sorot mata yang menunggu jawabannya tak urung Kiara akhirnya kembali mengulang kata-katanya.


“Miss you too, Pa!”


“Aarghh!” Ed menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang di belakangnya, lalu secepatnya bangkit kembali saat menyadari Kiara sudah menutup sambungan telepon darinya.


Sambil tersenyum lebar Ed mengambil foto dirinya dan mengirimkannya pada Kiara. “Lopeyu puol, Ma. Misyusomach 😍”


Kiara hanya menggelengkan kepala, senyum-senyum sendiri membayangkan kelakuan mereka berdua.


Ternyata memilikimu membuat hariku lebih berwarna, mencintaimu membuat hidupku lebih bermakna. Kamu memang bukan yang pertama tapi pasti yang terakhir untukku, bisik Kiara dalam hati sebelum akhirnya memejamkan matanya hanyut dalam mimpi indah yang tercipta dalam tidur malamnya.


••••••••